
Selang dua hari.
Sifa pun telah pulang dari rumah sakit. Namun sampai dengan hari ini, Sari tak menampakkan diri di hadapan Sifa.
Ia malah duduk menatap Lisa yang tengah menerima job make up maternity. Seoang wanita muda yang terlihat tengah hamil tua dan mungkin tengah menghitung hari menuju kelahiran buah hati.
Terlihat Lisa memberi sedikit aksesori di pinggiran jilbab agar terlihat cantik.
"Oke, gimana mbak?? kira-kira suka begini? atau mau saya tambah lagi??"
Wanita hamil itu melihat pantulan diri dikaca dengan memperhatikan riasan dan jilbab yang telah di pasang.
"Hm, oke mbak.. ini jilbabnya juga enak.. gak bikin sesak"
Lisa tersenyum lega ketika wanita hamil itu merasa puas dengan karyanya.
"Waah, syukurlah.." sahut Lisa senang.
Wanita hamil itu pun bangun dengan sedikit bersusah payah dengan perut gendut yang kian berat.
"Hati-hati mbak" seru Sari yang akhirnya ikut membantu memegang juntaian dress yang di kenakan ibu hamil ini.
"Makasih ya mbak, makasih ya mbak Lisa.. saya puas banget"
"Syukurlah mbak, semoga hasil foto juga bagus yaa"
"Aaamiin,.." sahut wanita hamil itu cepat sembari mengeluarkan uang 300 ribu dan memberikannya pada Lisa.
"Makasih ya mbak" ujar wanita itu dengan mengangkat gaun yang ia kenakan untuk berjalan keluar dari toko.
"Sama-sama Mbak, hati-hati dan semoga lancar lahirannya" timpal Lisa.
Wanita itu ternyata di sambut oleh sang suami yang sudah siaga membantu sang istri.
Sari dan Lisa tersenyum bersamaan.
"Bahagia banget ya" seru Sari spontan.
Lisa menoleh dengan heran.
"Makanya nikah, buk.. biar tau rasanya punya suami dan bisa ngerasain hamil kayak mbak itu" seru Lisa dengan menyikut pinggang Sari.
Sari terkaget mendengar ucapan Lisa yang berbalik menuju meja rias untuk menyusun kembali alat-alat rasanya.
"Ikh, siapa sih yang gak mau nikah,.masalahnya gak ada yang mau sama gue" balas Sari ketus.
"Ah masa?? itu pak Bupati kali udah suka sama lo"
Sontak Sari kaget.
"Pak Bupati??? ikh lo jangan garang-garang lo, jatuh-jatuhnya gosip, ghibah, dosa loh" seru Sari.
Lisa menoleh dengan heran.
"mohon maaf yaa, gue gak gosip atau ghibah.. jelas-jelas gue bisa liat lah itu pak Bupati pasti suka sama lo.."
"Suka dari mana??"
"Yaa dari cara lo sayang sama Sifa"
Sari menghela nafas.
"Semua juga pasti sayang Sifa.. dia anak yang pintar dan pengertian"
"Iya tapi tetap aja yang di cari kasih sayangnya cuma dari lo, bukan dari yang lain" balas Lisa.
"Ck, udah ah, debat sama lo gak ada habisnya.. cape malah jadi laper" jawab Sari dengan kesal ikut membantu Lisa merapikan alat make up.
Lisa tersenyum tipis.
"Jadi, ini hari lo gak pergi liat Sifa lagi??? udah dua hari lo??"
__ADS_1
Sari menggeleng.
"Enggak, gue mau disini aja, job gue banyak yang udah lo ambil karena minggu kemarin gue banyak jaga Sifa..bisa minus nie pendapatan gue bulan ini" tutur Sari dengan menyusun kuas di tempatnya.
"Yakin?? tar kalau tiba-tiba di jemput paksa gimana??"
Kening Sari berkenyit.
"Ya gak mungkin laah, siapa si gue sampek di jemput paksa begitu.. lagian pak Bupati apa gak ada kesibukan lain selain jemput gue??"
Tiba-tiba terdengar pintu gallery dibuka.
Sari dan Lisa reflek menoleh.
"Sari???" seru suara pria yang belakangan sering memanggil namanya itu.
Kedua bola mata Sari melebar.
"Pak Bupati??" serunya tak percaya melihat pria nomor 1 itu kini berada di butiknya.
Lisa menyikut lengan Sari.
"Mampus lo, apa gue bilang, di jemput kan??"
Sari menoleh kesal.
"Ssstt.."
"Sari??" panggil Aldi dengan berjalan masuk kedalam galery.
Sari pun menghampiri Aldi.
"Pak?? ada apa bapak datang kemari??"
"Kamu?? kenapa tidak mengangkat telfon??" tanya Aldi.
"Ah, itu.. maaf pak, saya saat itu lagi make up pelanggan.."
Sari kelabakan.
"Hm, i-ya.. karena ada dua pelanggan yang harus saya kerjakan riasannya" jawab Sari ragu.
"Yaa, tapi kan kamu bisa telfon balik saya??"
Deg.. mendengar ucapan Aldi saliva Sari turun dengan kasar.
"Gue telfon balik pak Bupati?? Hello saya bukan pejabat penting pak?? gimana saya berani telfon balik bapak??" seru batin Sari jawab.
Sari berdiri dengan serba salah di hadapan orang nomor 1 itu.
"Ya sudah.." ujar Aldi dengan meraih handphonenya lalu mengetik nomor dan menghubungi. Lalu tak lama handphonenya Aldi berikan pada Sari.
Sari bengong.
"Bicara pada Sifa, jika dia tidak mendengar suara kamu maka putri saya tidak mau makan!!" ujar Aldi penuh penekanan.
Sari menatap handphone yang di berikan oleh Aldi.
"Duh, kenapa jadi begini??" bisik batin Sari yang merasa serba salah.
"Ayo, ambil" paksa Aldi.
Dengan sungkan, Sari akhirnya mengambil handphone Aldi tersebut dan membawanya kesini telinga sebelah kanan.
"Ha-hallo??" seru Sari.
"Mamaaaa!!" sambut Sifa yang terdengar senang.
"Ya, sayang??"
"Mamaaaa" seru Sifa kian riang. "Mama, mama dimana?? kok mama enggak datang-datang kerumah?? Sifa rindu mama" ujar Sifa bertubi-tubi pada Sari yang terlihat tak bisa menjawab setiap pertanyaan putri pak Bupati itu.
__ADS_1
"Hmm, maaf ya sayang.. mama.." ucap Sari tergantung.
"Mama sibuk yaa??"potong Sifa bernada sedih.
Sari tak berkutik ketika mendengar pertanyaan sedih Sifa. Sorot mata Aldi menatap ekspresi wajah Sari.
"Sifa, rindu mama" ujarnya lagi dengan sedih.
Sari kian tak bisa menutupi jika ucapan Sifa mengoyangkan pendirian.
"Ma-ma.. mama akan ketempat Sifa, siang ini.." jawab Sari yang akhirnya mengikuti nalurinya.
"Iyeeeee.." sahut Sifa yang seketika bersorak riang. "Yeye, mama datang..mama datang.. Bibik, mama mau datang" seru Sifa bersenandung bahagia.
Sekilas tatapan Sari terpaku ketika Aldi mengubah raut wajahnya menjadi senyum yang begitu manis.
"Ya Tuhan!!"pekik batin Sari yang kian tarpersona dengan sang Bupati.
"Sifa tunggu ya, mah" ujar Sifa dari sebrang telfon.
"Ya, sayang.."
"Love you mama" seru Sifa riang.
Deg.. Sari terpaku mendengar ucapan tulus dari seorang anak yang begitu mencintainya.
"Love you too, sayang" jawab Sari tanpa sadar.
Dan komunikasi itu pun terputus dengan meninggalkan rasa berbeda di hati Sari.
Perlahan Sari mengembangkan handphonenya pada Aldi.
Aldi menyambutnya dengan senyum.
"Terima masih, Sari.. Sifa pasti senang bisa bertemu dengan kamu hari ini"
Sari tak menjawab, ia hanya bisa mengembangkan senyum bias. Karena sejatinya ia tak tau harus menjawab di posisi mana harus menjawab. Sebagai rakyat yang patuh atau sebagai ibu khayalan Sifa.
"Kabari saya, jika kamu sudah mau jalan kerumah.."
"Ba-ik, pak.."
"Kamu tau rumah dinas wakil Bupati kan??"
Sari mengangguk pelan.
"Saya masih di sana, belum pindah kerumah dinas Bupati.."
"Ba-ik, pak.." sahut Sari yang lagi-lagi patuh.
"Sekali lagi terima kasih, Sari.." ujar Aldi sembari tersenyum dan perlahan berlalu pergi meninggalkan Sari dan galerynya.
Dan lagi-lagi hal itu sukses membuat Sari serba salah. Salah karena Aldi adalah pemimpin nomor 1 dan ia hanyalah rakyatnya.
Tak lama setelah Aldi pergi, Lisa mendekat.
"Apa gue bilang, lo memang gak akan bisa jauh dari lingkaran pak Bupati dan anaknya"
Sari melirik sinis pada Lisa.
"Ck.. mulut lo itu bisa gak si jangan mancing keadaan.."
"mancing keadaan??"
"Iya, gara-gara omong lo nie, makanya pak Bupati datang.."
Lisa terheran.
"Memang gue dukun apa sampai bisa manggil tuh orang??"
Sari cemberut dengan melewati Lisa dan melanjutkan membereskan meja make up yang masih berantakan.
__ADS_1