Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
52


__ADS_3

Hampir 1 minggu berlalu dari aksi nembak Aldi di bandara yang sukses membuat Sari mematung saat itu.


Di satu pagi di kediaman rumah Bupati, Aldi tengah menikmati sarapan paginya bersama Sifa.


Aldi terlihat tak bersemangat menyentuh sarapannya pagi ini. Ia termenung memandang layar handphone.


"Sudah 1 minggu" bisik batin Aldi. Ia terus memandang layar handphone yang tak terlihat tanda-tanda akan masuk sebuah pesan atau pun telfon.


"Papa???"


Aldi tersadar.


"Hm? ya Sifa"


Wajah Sifa terlihat ragu.


"Hmm, kapan yaa Sifa bisa dapetin oleh-oleh kemarin??" tanya Sifa cemberut.


Seketika Aldi berpikir keras. Ia harus memberi jawaban yang masuk akal pada Sifa. Karena ia sudah berbohong cukup lama soal oleh-oleh yang di janjikan.


Sifa yang tengah mencomot sereal pun terlihat tak bersemangat. Wajar Sifa berharap pada oleh-oleh yang sudah di janjikan Aldi, karena salahnya yang sudah mengatakan akan tiba oleh spesial yang bisa menemani Sifa bermain.


Jadi wajar saja jika Sifa dengan sabar menunggu oleh-oleh spesial itu tiba.


Namun dari penantina Aldi yang sudah hampir 1 minggu, tampaknya oleh-oleh Spesial itu tak kunjung menampakkan dirinya.


Aldi menghela nafas panjang.


"Sini Sifa sama papa"


Sifa pun beranjak bangun dari duduk kursinya, lalu menghampiri sang Papa yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Lalu Aldi seketika membawa Sifa keatas pangkuannya.


Tatapan Papa dan anak itu bertemu, Aldi mengusap wajah cantik Sifa.


"Hmm, Papa minta maaf sama Sifa.."


Sifa terteguh.


"Sepertinya oleh-oleh yang Papa harapan bisa datang tapi.. sepertinya tidak akan pernah datang" ucap Aldi dengan nada tenang.


Wajah Sifa seketika cemberut.


"Kenapa Papa??"


"Mungkin ada satu dan lain hal yang membuat oleh-oleh itu susah untuk di datangkan.. Maaf yaa sayang" ucap Aldi dengan wajah sedih memandang wajah sang putri.


Wajah Sifa kian lesu, wajar ia sudah berharap banyak pada oleh-oleh yang di iming-imingi oleh sang Papa.


"Apa papa gak bisa pesan lagi oleh-oleh itu??"


Sejenak Aldi berpikir. Namun sepertinya tak akan ada lagi wanita yang dapat mengisi hati putrinya selain wanita itu.


"Maaf sayang.." ucap Aldi berbisik.


Wajah Sifa sedih.


Aldi memeluk Sifa dengan penuh sayang.


"Maafin Papa Sayang" ulang Aldi dengan penuh sesal karena telah membuat Sifa berharap dan menunggu lebih lama akan hadirnya sosok wanita itu.


***


Aldi keluar dari rumah dinasnya menuju mobil yang telah siap menunggu sang Bupati untuk bekerja hari ini.


"Pagi pak" sapa Sopir.


Aldi menangguk.


"Pagi pak" seru Rio yang sudah hadir disana dengan sigap.


Aldi menangguk sembari hendak masuk kedalam mobil. Namun seketika ia mengurungkan niatnya dan menoleh pada Rio.


"Kamu pernah melamar seoang perempuan??" tanya Aldi tiba-tiba pada Rio.


Rio terkaget dan seketika ia tampak bingung.


"Berapa lama yang di butuhkan perempuan untuk mempertimbangkan lamaran itu??" tanya Aldi pada Rio yang tampak kian kaget dengan pertanyaan sang Bupati.


"Sa-saya tidak tau pak, karena saya belum pernah melamar seorang wanita, tapi menyatakan cinta pernah"


"Lalu..."


Rio sedikit ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Di tolak, pak" jawab Rio pelan.


"Di tolak??" ulang Aldi kaget. "Bagaimana bisa?? apa dia gak tau kamu ini Ajudan Bupati???" ujar Aldi sewot.


"Yaa sayang juga gak tau, alasan apa dia nolak saya pak" jawab Rio.


Aldi menghela nafas tak percaya. Rio adalah Ajudang dengan prestasi yang baik, selain itu Rio adalah Ajudan tertampan di daerahnya.


"Ya sudah, cari lain saja, toh kamu masih muda dan bujang, pasti banyak wanita yang suka sama kamu" nasehat Aldi.


"Tapi saya gak suka yang lain pak, yang lain mata duitan dan matre, wanita ini beda sederhana dan apa adanya"


Deg... Aldi terpaku mendengar deskripsi sosok wanita yang di jelaskan Rio. Sosok itu juga yang membuat Aldi jatuh hati pada Sari.


Aldi menghela nafas.


"Ya sudah, banyak berdoa saja, semoga dia mau sama kamu" ujar Aldi sembari masuk kedalam mobil dinasnya.


Rio pun menutup pintu mobil itu, ia pun berlari kecil menuju sisi depan untuk masuk kedalam mobil. Tak lama mobil pun melaju meninggalkan kediaman dinas Bupati.


Tak lama, sayup-sayup terdengar lagu yang sudah hampir 1 minggu di dengar oleh Aldi. Tengah mengapa tiap mendengar lagu ini, membuatnya membayangkan sosok Sari.


Jab se mera dil tera hua


~Karena aku telah kehilangan hatiku padamu


Pucho na mujhko mujhe kya hua


~jangan tanya apa yang terjadi padaku


Ab teri baahon mein jeena mujhe


Warna hai marr jaana


~Sekarang aku harus hidup dalam pelukanmu atau aku akan mati.


Dan tanpa sadar sosok itu muncul di sisi samping Aldi dengan tersenyum manis.


"Kau?" bisik Aldi dengan menatap bayangan Sari di sampingnya yang sukses membuatnya kian gelisah.


Sang supir dan Rio pun mendengar dengan aneh, hingga keduanya saling menatap satu sama lain.


"Kau membuat aku gelisah, cepatlah beri jawaban, seburuk apa pun, aku akan menerima jawaban itu" ujar Aldi pada bayang Sari yang tersenyum manis padanya.


"Bapak ngomong sama siapa??" tanya Supir berbisik.


Rio mengangkat bahu dengan wajah bingung.


Dan mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor Bupati. Seiring dengan lagu itu terus terdengar di sepanjang jalan.


Jab se mera dil tera hua


~Karena aku telah kehilangan hatiku padamu


Pucho na mujhko mujhe kya hua


~jangan tanya apa yang terjadi padaku


Ab teri baahon mein jeena mujhe


Warna hai marr jaana


~Sekarang aku harus hidup dalam pelukanmu atau aku akan mati.


****


Siang harinya di butik Galery Sari. Terlihat ia tengah termenung memandang sebuah surat kabar yang terpasang foto sang Bupati. Pikirannya kembali mengingat ucapan Aldi saat di bandara.


"Apa kamu mau menjadi istri seorang Aldi Munandar?? dan menjadi ibu dari anak-anak saya??"


Sudah 1 minggu lamanya ia mengantungkan jawaban lamaran sang Bupati. Hatinya bimbang, bimbang karena ia tak mencintai pria nomor 1 itu.


Lisa yang tengah memberekan jadwal make up di buku janji pun sesekali menatap curiga pada Sari.


Ia dapat melihat sudah beberapa menit Sari menatap foto di surat kabar itu. Foto sang Bupati yang sudah membuat temannya itu termenung sekian lama.


"Heem.. jangan lama-lama, tar lo bisa jatuh cinta sama pak Bupati" sindir Lisa dengan sengaja.


Sari tersadar, lalu reflek menutup surat kabar itu dan meletakkan sembarang.


"Asal aja lo" celetuk Sari protes.


"Ya, habis lo mandang foto pak Bupati gitu banget, kenapa?? apa doi ada utang sama lo, kayak si Bayu itu??"

__ADS_1


"Utang?? ya enggak lah, gue cuma lagi baca aja kok, siapa juga yang mandang foto pak Bupati" elak Sari.


Lisa kian tertantang dengan kebohongan Sari.


"Memang lo baca berita apa??" tanya Lisa sengaja.


Sari terjegat kaget.


"Hm.. itu" jawab Sari serba salah.


"Benerkan, gue tebak juga apa, memang gak ada yang penting di koran selain wajah pak Bupati" tuding Lisa tersenyum licik.


Sari menghela nafas panjangnya.


"Gue..gue dilamar pak Bupati" jujur Sari yang akhirnya tak bisa jika tak memberi tau Lisa.


Lisa terkaget.


"Di..dilamar? serius lo? kapan? dimana??? kok gue gak tau?? lo jawab apa?? iya kan?? iya??" cecar Lisa dengan membenarkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Sari.


Sari sudah menduga Lisa aja merespon dengan sekaget itu.


"Gue belum jawab apa pun" jawab Sari datar pada Lisa.


Lisa terhenyak.


"Kenapa??" tanya Lisa merendahkan nada suaranya. "Apa lo gak suka sama pak Bupati??"


Sari hanya diam dan terus berpikir.


Lisa pun menghela nafas pelan.


"Jika lo percaya ada pelangi setelah hujan, harusnya lo juga percaya adanya kebahagiaan setelah perjuangan" ujar Lisa menatap Sari.


"Gue percaya, Tuhan tunjukkan mas Bupati sebagai pria yang tepat mendampingi hidup lo"


Sari diam menatap Lisa, ia mencerna ucapan Lisa.


"Lo pernah dengan ini gak???" tanya Lisa pada Sari.


Alis Sari terangkat.


"Setinggi apa pun standar mu tentang calon pasangan mu nanti, akan kalah sama seseorang yang menerima kamu apa adanya, tanpa syarat apa pun, selain mencintai kamu dan membahagiakan kamu" tutur Lisa bernada serius.


Sari mematung mendengar ucapan Lisa.


"Mungkin lo mau berpikir lebih baik lagi, tapi.. lo harus tau.. seseorang yang baik gak akan pernah datang dua kali" ujar Lisa dengan tersenyum kecil sembari merapikan buku jadwal make up.


Sari masih diam.


"Gue balik yaa" ujar Lisa yang menyadarkan Sari.


"Hm, lo mau balik?"


"Iya, badan gue gak enak banget nie.. semenjak hamil mudah banget masuk angin"


"Oh.. ya udah, gue juga mentar lagi balik"


"Oke.." sahut Lisa menyetujui.


***


Selang beberapa menit, setelah Lisa pulang di jemput oleh sang suami.


Kini Sari pun bersiap untuk pulang. Ia sedikit membereskan ruangan sofa yang terdapat beberapa majalah dan koran di sana.


Sari tanpa sengaja kembali meraih koran yang terpampang wajah sang Bupati.


"Apa lo gak suka sama pak Bupati??" pertanya Lisa yang kembali mengiang di benak Sari.


"Suka??" bisiknya bertanya pada dirinya sendiri.


Namun tak lama terdengar pintu gallery dibuka kasar.


BRAAAKKKK..


Sontak Sari terkaget hingga menurunkan koran di tanya itu.


Dan terlihat kini Liana datang dengan wajah penuh amarah. Ia datang mendekat dengan langkah pasti kehadapan Sari lalu tanpa sempat Sari bertanya.


PLAKKK..


Sebuah tamparan panas mendarat di wajah Sari.

__ADS_1


__ADS_2