Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
64


__ADS_3

Di satu rumah sakit, ruang IGD itu menjadi gaduh ketika sosok pak Bupati berada di sana dengan wajah gusar dan kalut.


Sejumlah dokter terbaik langsung meluncur untuk memeriksa keadaan ibunda Aldi yang kini tak sadarkan diri dengan luka berdarah di kepalanya.


Beberapa perawat berlalu silih berganti dengan membawa beberapa alat medis yang di butuhkan.


Dan seorang senior pun berjalan menghadap sang Bupati yang berwajah cemas.


"Bagaimana dokter?? bagaimana kondisi ibu saya??"


"Ibu anda.. baik.." ucap dokter tergantung ragu.


Aldi menatap serius pada dokter senior itu.


"Kami masih butuh waktu untuk memastikan lagi kondisi ibu anda setelah sadar... Dan kami harap dugaan kami..salah"


Aldi tak paham maksud dokter yang tak terbuka tentang kondisi sang ibu.


Dokter itu pun terlihat pamit untuk kembali pada pasien lagi.


Aldi kian di buat khawatir dengan penjelasan dokter yang ambigu tentang kondisi sang ibu.


Tak beberapa lama, terdengar suara nada dering dari handphone Aldi. Ketika Aldi meraih handphonenya terlihat nama calon sang istri disana, Aldi pun segera menjawab telfon tersebut.


"Hallo??" seru Aldi.


"Mas?? bagaimana kondisi ibu??" tanya Sari di sela-sela terdengar suara tangisan yang masih belum berhenti.


Aldi hanya menghela nafas berat.


"Masih seperti tadi, ibu masih pingsan.. tapi dokter sedang menangani ibu" jawab Aldi gusar.


Sari terdiam dari sebrang telfon dan hanya terdengar suara tangisan Sifa yang masih belum berhenti.


"Apa dari tadi Sifa tidak berhenti menangis??" tanya Aldi khawatir pada sang putri.


"Iya.. dia terus menangis mas, Sari sudah mencoba menenangkan Sifa tapi ia masih terus menangis.. sepertinya dia merasa bersalah dan menyesal" jelas Sari yang terdengar ikut gusar.


Aldi kembali menghela nafas panjang, sesak di dadanya kian bertambah dengan mendengar suara tangisan sang anak. Sifa sudah di luar kendali, perbuatannya tadi sudah mencelakai ibu.


"Ya sudah mas, Sari akan temani Sifa terus.. dan kabari Sari jika ibu sudah siuman"


"Ya.." jawab Aldi berat. "Terima kasih Sari dan.. maafkan ibu ku" ucap Aldi menyesali perbuatan sang ibu yang sudah berlaku kasar menampar sang calon istri.


Sari tak menjawab, namun komunikasi itu pun terputus begitu saja.


Aldi kembali menyimpan handphonenya di saku celana PNS itu. Sekilas ia melihat wajah sang ibu yang kini terbalik perban di kepalanya karena bekas luka yang di timbulkan oleh benturan tadi.


Ada rasa sesak di dada Aldi, ia sedih mengingat perlakuan sang ibu yang ternyata begitu kejam. Selama ini ia tak pernah melihat kekejaman ibunya.


Namun kini Aldi hanya bisa menatap kecewa pada ibunya yang terbaring di tempat tidur pasien.

__ADS_1


***


Di sisi lain, dirumah kediaman Bupati.


Terlihat akhirnya Sari dapat menenangkan Sifa yang tertidur karena lelah menangis.


Tatapan Sari terlihat kosong, ia masih syok dengan kejadian tadi dan masih tak percaya pada Sifa yang diluar kendali.


Sari menghela nafas berat, sekilas ia kembali mengingat ucapan Sifa ketika masih menangis tadi.


"Nenek jahat.. Nenek benar-benar jahat, Nenek sering pukulin mama bahkan Nenek pernah mendorong mama Sifa, hingga berdarah" kenang Sifa dengan tangis yang kian terisak pilu.


Sari yang mendengarkan cerita Sifa itu tak dapat membayangkan begitu beratnya penderita mama kandung Sifa yang di benci oleh ibu mertuanya.


Sari kembali berpikir, jika ia menikah dengan Aldi maka ia juga akan di hadapan pada ibu aldi yang akan mengusik rumah tangganya. Pikiran itu seketika mengusik hatinya dan membuatnya dilema.


"Ya Tuhan??? aku harus bagaimana?? aku tak ingin ada kebencian dan hinaan dalam pernikahan nanti.. Tolong aku Tuhan" bisik batin Sari yang berdoa karena bimbang dengan pernikahan yang tak akan lama lagi di gelar.


"Ma-maah.." panggil Sifa membuyarkan lamun Sari.


Sari terjaga dan reflek menyentuh jemari putri tirinya.


"Mama.. Nenek jahat" ucapnya dengan bening air mata yang kembali tumpah.


Sari terteguh, begitu dalam luka batin Sifa. Sari dengan cepat membelai Sifa dan mencoba membuatnya tenang.


"Tenang sayang ada mama disini.. ayo tidur lagi" bisik Sari pelan.


***


"Ibu anda, memiliki penyakit kanker otak.."


Bak petir di siang hari, Aldi merasakan dunianya terbalik.


"Kan-ker Otak?" ulang Aldi tak percaya.


Dokter mengangguk dengan wajah murung.


"Kami melihat ada benjolan dibelakang telinga ibu anda.. awalnya saya tidak begitu curiga, namun setelah kami ulang pemeriksaan.. dan hasilnya ibu anda memiliki kanker otak dengan sudah menjalar hingga bagian belakang kepala" jelas dokter lebih lanjut.


Aldi terpaku, sesaat ia merasakan jika oksigen di otaknya berkurang.


Aldi mencoba untuk berpikir cepat dan mencoba menenangkan dirinya di depan dokter.


"Lalu..lalu tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk menolong ibu??"


Dokter seketika tertunduk lalu perlahan menggelengkan kepalanya.


"Sangat riskan jika ingin mengambil tindakan operasi, karena kanker sudah menyelimuti otak kecil ibu anda.."


"Jadi tidak ada tindakan apa pun??" seru Aldi bertanya hal yang pasti.

__ADS_1


Dokter kembali menggeleng pelan.


"Ya Tuhan.." lirih Aldi merasa darahnya turun lebih rendah, sehingga ia harus bertopang pada dinding agar bisa berdiri.


***


Sekitar pukul 11 malam, setelah menidurkan Sifa, Sari pulang dari rumah Bupati. Namun belum sempat tiba di rumahnya ia mendapat pesan dari sang calon suami.


Aldi ingin bertemu dengan dirinya di rumah sakit. Sehingga Sari pun mengubah haluan mobilnya menuju rumah sakit tempat ibu Aldi di rawat.


Setiba di rumah sakit, langkah Sari pun menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar VIP ibu Aldi.


Dan setiba di sana, langkah Sari pun berubah pelan. Ia mendapatkan Aldi tengah duduk sendiri dengan tatapan kosong natap dinding didepannya.


Sari menghela nafas pelan dan akhirnya menghampiri sang Bupati yang terlihat bersedih.


Langkahnya kian dekat, dan Aldi pun menoleh pada Sari yang kini berada di hadapannya.


Aldi bangun menyambut Sari.


"Sari???"


"Bagaimana mana ibu mas??" tanya Sari langsung to the poin.


Seraut wajah kalut pun terlihat di wajah Aldi. Dan ekspresi wajah sedihnya terlihat jelas.


"I-bu.." ucap Aldi tergantung berat.


Sari menunggu dengan gundah.


"Ternyata punya penyakit kanker otak.." sambung Aldi berat.


Sari mematung, mulutnya mengatur rapat karena syok mendengar ucapan Aldi.


Aldi menghela nafas berat di hadapan calon istrinya.


"Ibu bahkan tak bisa di sembuhkan lagi" timpal Aldi yang kian terpukul sehingga wajahnya tertunduk sedih di hadapan Sari.


Sari tak bisa menjelaskan bagaimana perasaan yang ia rasa setelah mendengar berita ini.


Ia tidak menyangka jika Tuhan menjawab doanya dengan berita seperti ini. Lantas apa yang harus ia lakukan??


Aldi mendekat dan dengan memeluk Sari, ia butuh tempat bersandar yang dapat membantunya untuk bisa sedikit bernafas.


Sari terjegat kaget ketika merasakan tubuhnya dalam pelukan sang Bupati.


"Mass??" lirih Sari dengan dapat merasakan tubuh Aldi yang berat.


"Sebentar.. aku butuh ketenangan dari dirimu Sari, sebentar saja" pinta Aldi tergantung berat.


Terlihat jelas jika Aldi tak kuasa menahan syoknya dengan sakit sang ibu. Perasaan yang pernah Sari rasakan dulu ketika mendengar sang Papa tercinta mengindap penyakit kanker usus hingga nyawanya tak dapat di selamatkan.

__ADS_1


__ADS_2