Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
29


__ADS_3

Kamar super VIP itu seketika terlihat penuh dengan hadirnya para dokter dan perawat yang dengan cepat menangani Sifa.


Dan berselang 2 jam. Ruangan yang tadinya sempat tentang kini kembali tenang.


Sari melihat Sifa yang telah tertidur dengan selang oksigen terpasang di wajah kecilnya itu. Beberapa alat medis pun sudah berada di tubuh Sifa.


Sari melihat dengan gundah, bagaimana mungkin kondisi Sifa bisa begitu drop dalam hitungan menit.


Seorang dokter datang mendekat dengan wajah bingung.


"Siapa wali Sifa??"


Sari terkaget dan ingin bersuara. Namun suara Liana dengan cepat menyahut.


"Kami dokter, saya tante Sifa dan ini adalah neneknya"


Wajah dokter telihat sedikit gusar.


"Sifa drop, kita akan tunggu beberapa setengah jam setelah obat di masukkan, semoga itu akan bereaksi baik untuk tubuh Sifa"


Sari mendengar dengan wajah penasaran.


"Mengapa Sifa bisa drop dokter? tadi.. tadi dia kelihatan baik-baik saja" tanya Sari.


"Pneumonia Sifa cukup berat, serangan sesak tadi bisa membuatnya kehilangan nyawa"


Deg.. Sari terhenyak mendengar jawaban sang dokter.


"Ya Tuhan" seru Sari terkejut.


"Apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit itu"


"Ada, tapi.. tiap anak terkadang imunitas nya rendah sehingga butuh waktu untuk bisa cepat pulih" jelas dokter sekilas.


"Dan kebetulan Sifa memiliki imunitas yang cukup rendah dengan gizi yang buruk?"


Sari kian terkagut mendengar fakta sakit Sifa.


Kedua matanya reflek menatap Sifa yang tertidur tenang. Ada rasa kasian dan sedih melihat gadis kecil itu.


"Pak Aldi sudah mengetahuinya, beliau sama syoknya dengan anda mbak.. maka dari itu, kami tim dokter sengaja berjaga untuk Sifa" tutur sang dokter pelan.


"Makasih ya dokter" sela Liana memotong pembicaraan Sari dan dokter.


Dokter menoleh pada Liana.


"Sama-sama Mbak, kami permisi dulu, setengah jam lagi kami akan kembali untuk mengecek kondisi Sifa"


Sari hanya menangguk pelan. Dan sang dokter pun pergi meninggalkan kamar super VIP itu.


Liana menghela nafas lega.

__ADS_1


"Mas Aldi pasti panik jika tau hal ini, ah.. mana dia lagi pelantikan lagi" seru Liana gusar.


"Biarkan saja mas Aldi, kamu jangan beri tau dia tentang Sifa" sela sang ibu dengan khawatir.


Sari mendengar dengan heran. Bagaimana mungkin pak Aldi tidak di beri tau, sedangkan sang anak tengah sakit parah.


Sari pun mengambil inisiatif untuk mengirim pesan pada Aldi. Orang nomor satu itu harus tau kondisi sang putri yang tengah drop.


Namun tanpa di duga pintu kamar super VIP itu terbuka. Terlihat sosok pria yang masuk dengan membawa platik di tangannya.


"Mas Bayu" seru Liana dengan menyambut sang suami.


Sontak Sari menoleh.


Bayu yang baru saja masuk pun seketika terkaget ketika melihat sosok Sari disana.


"Mas kok telat banget sih??" tanya Liana manja.


"Ah, hm.. ya maaf ya.. tadi macet banget di depan kantor Bupati" jawab Bayu.


"Ooh, pasti heboh yaa pelantikan Mas Aldi"


"Hm" gumam Bayu menjawab. Namun pandangan Bayu kembali menatap Sari.


Liana yang menyadari reaksi Bayu pun dengan cepat mererai pelukannya.


"Itu pengasuh Sifa" terang Liana dengan nada ketus.


"Tapi pengasuhnya ini kurang ajar banget dan gak sopan, nanti aku harus ngomong sama mas Aldi" ujar Liana.


Lalu ia melihat tangan sang suami yang masih membawa bungkusan makan.


"Mas, makan yuk? aku dan mama udah laper banget" rengek Liana. Dan wanita paruh baya itu pun ikut mengangguk.


Bayu pun dengan cepat mengubah perhatiannya pada sang istri dan memberikan kantong plastik tersebut ke tangan Liana.


"Yuk, mah kita makan.. Mumpung Sifa tidur dan ada si pengasuh yang jaga"


Sari hanya mendengar dengan tidak peduli. Ia pun berbalik untuk melihat kondisi Sifa yang masih tertidur.


Sari menatap nanar Sifa, ia merasakan tekanan yang besar yang berasal dari keluarga pihak sang Papa.


Secara naluri Sari menyentuh wajah Sifa, dan ia pun menjatuhkan satu kecupan sayang di kening sifa.


"Mama Sari akan disini, sampai Papa kamu kembali" bisik Sari lembut. Lalu ia memegang jemari lembut Sifa yang lemah dengan tertangkap jarum infus.


Tak lama, Sari pun melihat layar handphonenya, orang nomor satu itu belum melihat pesan yang baru saja ia kirim.


Sari sudah dapat membayangkan jika orang nomor satu itu pasti tengah sibuk dengan berbagai acara yang telah menyambutnya.


Wajah Sari kian sedih ketika menatap Sifa.

__ADS_1


"Kasian kamu Sifa" bisik Sari pelan.


Dan tanpa terduga ucapan itu mendapat reaksi dari jemari Sifa yang membalas genggaman jemari Sari.


Sari terkejut ketiak merasakan reaksi jemari Sifa. Walau dengan mata terpejam, namun ternyata Sifa bisa mendengarkan ucapannya.


"Kamu harus sehat dan ceria kembali sayang" ucap Sari memberi semangat pada Sifa.


***


Namun di sisi lain, Bayu kian tak bisa mengalihkan rasa penasarannya pada Sari. Bagaimana bisa mantan kekasihnya itu kini berada dekat dengan anak orang nomor 1 itu.


Dan Bayu tak habis pikir pekerjaan baru Sari adalah seorang pengasuh.


Bayu terus berspekulasi dalam pikirannya. Lalu sekilas ia melihat sang istri, Liana yang terlihat menikmati makanan yang ia bawa bersama sang Mama mertua.


Ada rasa gundah, ia khawatir bagaimana jika Liana mengetahui jika Sari adalah mantan kekasihnya dulu.


"Mas gak makan?" tanya Liana yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Bayu.


"Ah?? oh.. enggak sayang, mas udah makan tadi sebelum kemari" jawab Bayu dengan wajar.


"Oooh, oia.. Mas sempat ketemu masa mas Aldi?"


Bayu menggeleng dengan cepat.


"Enggak, tadi pas mas mau nyamperin mas Aldi, kata pengawalnya dia pergi kesatu tempat"


Kening Liana berkerut heran.


"Tempat??"


"Iya, katanya mas Aldi mau jemput orang"


"Hah? siapa?"


Bayu relfek mengakat bahunya.


"Gak tau, tapi tadi mas Aldi malah gak naik mobil dinas dan Ajudan yang biasa juga gak ikut rombongan Aldi"


Wajah Liana sejenak berpikir.


"Hm, semoga pelantikan Mas Aldi lancar.. dan kamu bisa dapat job dari mas Aldi" ujar Liana senang.


"Iya, mama bakal ngomong sama Aldi, biar kamu dapat jatah juga di kantor" timpal sang ibu mertua.


Bayu hanya tersenyum simpul mendengar ucapan istri dan ibu mertua nya itu. Niat mereka berdua yang pagi-pagi sekali menerima tawaran mas Aldi untuk menjaga Sifa adalah untuk dirinya Agar mudah mendapatkan kontrak proyek pemerintah.


Walau terdengar licik, tapi Liana berkeras bahwa ini bukan licik, ini hanya kesempatan karena Aldi adalah saudara dekat mereka. Jadi Aldi pasti akan memberi paket pekerjaan lebih bernilai pada adik ipar saudaranya ini.


Bayu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika mendengar ide sang istri dan ibu Mertuanya itu.

__ADS_1


Padahal Bayu sendiri merasa mampu mendapatkan pekerjaan proyek pemerintah walau dengan skala kecil. Dia ia sudah terbiasa melakukan proyek-proyek itu selama ini.


__ADS_2