Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
58


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju tujuan, Aldi sendiri yang menyetir mobil dan hanya berdua dengan sang putri.


Sifa masih saja merasa heran dengan tingkah sang Papa hari ini. Adaapakah gerangan?? mengapa om Rio dan pak Slamet supir tak ikut.


Kalau Sifa bertanya lagi pasti jawabannya tetap sama, Papa Aldi akan menjawab dengan senyum lebar.


"Nanti kamu harus duduk manis yaa, dan harus terus senyum" pesan Papa di tengah-tengah fokus nya membawa mobil sedan mewah itu.


"Coba, Sifa praktekin sama papa sekarang.. Papa mau liat senyum manis anak papa" pinta sang Papa yang sedikit memelankan laju mobil karena lampu merah.


Sifa terheran.


"Ayo, coba Papa mau liat senyum manis anak papa" pinta mengulang Aldi.


Sifa dengan terpaksa tersebut dan memperlihatkannya pada sang Papa.


"Hm, kurang manis.. lagi lebih manis lagi" pinta sang Papa.


Sifa kian tercengang.


"Ikh, Papa centil banget sih" protes Sifa tak suka.


"Yaa, biar nanti kamu keliatan cantik sayang" jelas Aldi memberi pengertian.


Kening Sifa kembali berkerut, lalu melihat jalanan yang ternyata melewati pertokoan milik butik galery tante Sari.


Sifa menatap serius pada toko yang ia lewati itu.


Wajahnya berubah sedih, sudah lama ia tak melihat tante Sari. Ada rasa rindu di peluk wanita hangat itu.


Namun seketika Sifa kembali melihat jalan depan, dan sekilas ia mengingat moment wajah tante Sari yang menatapnya dengan wajah tegas.


"Tante bukan mama kamu, Sifa.." ucapan tante Sari begitu membekas di benak Sifa. Sakit, namun ia harus melepaskan wanita itu.


Sifa menoleh melihat wajah sang Papa yang bahagia pagi ini. Ia kesal, kenapa sang Papa tak menikah saja dengan tante Sari. Ia ingin mengatakan hal itu, namun itu pasti akan hal yang sia-sia saja.


Memang ucapan Miss Diana sangat benar, guru lesnya itu sayang pada dirinya.


"Pikiran orang dewasa itu memang sangatlah rumit, nak.. sangking rumitnya terkadang mereka juga bingung dengan pikiran mereka sendiri.. jadi Sifa sekarang nikmati saja jadi anak kecil yang hanya berpikir tentang bermain, belajar dan makan yang enak-enak.. nanti, jika sudah tiba masanya kamu pasti akan paham, ya sayang.." ucap miss Diana dengan bijak dan lembut.


Sifa menghela nafas panjang.


"Kenapa yaa jadi orang dewasa itu rumit banget, padahal Sifa udah berapa kali bilang sama papa.. kalau Sifa mau tante Sari jadi mama Sifa.. Ya Allah, tolong buat Papa ngerti.. sekaliiiii aja!! Sifa janji bakal lebih rajin dan jadi anak yang lebih baik, Amiin" doa tulus dari batin Sifa yang terus menatap sang Papa.


Lalu gak lama, ia pun kembali melihat jalan yang terus di lewati. Jalan yang asing dan tak pernah ia lewati.


"Masih jauh gak pah??" tanya Sifa.


"Dikit lagi.. sabar ya, sayang" jawab Papa Aldi yang tetap tersenyum cerah sedari tadi.


Sifa hanya bisa menghela nafas panjangnya.


***


Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya roda mobil sedan milik Aldi pun berhenti.Tepat di depan pagar rumah yang sangat-sangat sederhana itu.


Wajah Sifa tampak heran. Namun sang Papa terlihat antusias dan bergegas untuk turun.


"Ayo, Sifa.. turun" ajak Aldi yang telah membuka pintu mobil.


Sifa mengikuti perintah sang Papa dengan wajah heran sekaligus bingung. Sifa sempat berpikir jika ia akan pergi ke pesta teman Papa atau ke tempat acara peresmian yang biasa Papa Aldi lakukan sebagai pejabat pemerintah.


Tapi, ini bukan tempat biasa. Setelah menutup pintu Sifa menunggu sang Papa yang ternyata tengah mengambil sesuatu di dalam mobilnya.


"Ayo, kita masuk ke sana.." ajak Papa yang tiba-tiba datang ke samping Sifa dengan membawa semacam buah tangan yang cukup besar.

__ADS_1


Langkah kaki Sifa seirama dengan sang Papa yang akhirnya masuk kedalam pekarangan rumah sederhana itu.


Mata Sifa sekilas melihat mobil mungil dengan stiker yang tak asing, stiker galery milik tante Sari.


"Assalamualaikum.." seru Aldi.


Sifa melihat sekitar rumah yang terlihat memiliki beberapa pot bunga yang tersusun rapi. Terlihat ada beberapa sendal sepatu di luar teras dengan pintu terbuka.


Dan tak lama seorang pria paruh baya keluar dari sana.


"Wa'alaikumsalam" sahut kakek yang bertubuh gemuk itu dengan wajah terkejut dan tersenyum cerah.


"Masuk.. masuk silahkan masuk pak.." sambut kakek tersebut dengan sopan.


Papa Aldi pun terlihat sungkan dan mencoba santun dengan menyalami tangan kakek itu.


"Saya, Paman Sari.. mari pak, silahkan masuk" ulangnya lagi dengan cepat. Papa Aldi mengangguk dengan sopan dan di turun untuk masuk kedalam.


Sifa membuka sepatu flatnya dan mengekori sang Papa dari belakang.


Dan ternyata di dalam sana terlihat ada beberapa orang yang telah menunggu.


Seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyum dan bersalaman dengan Papa Aldi.


"Saya.. ibu kandung Sari" ucap nenek itu ramah pada Papa Aldi.


Papa Aldi menyalami dengan santun dan ada dua orang nenek lain yang ikut di salami oleh Papa Aldi.


Dan ketika Sifa tak sengaja berpas-pasan dengan nenek itu.


"Assalamualaikum, anak cantik.. siapa namanya??" tanya sang nenek lembut.


"Wa'alaikumsalam, Sifa, nek.." jawab Sifa singkat dan menyalami nenek itu.


Namun Sifa hanya mengekor sang Papa dari belakang.


Dan tak lama obrolan pun terjalin. Sifa tidak tau apa pun, ia bahkan tidak ingat jika ada sanak saudara yang tinggal di sini.


"Jadi.. saya dengan serius ingin meminang putri ibu, Sari.."


Sifa mendengar dengan heran, kenapa sedari tadi nama tante Sari di sebut-sebut.


Dua orang kakek dan nenek itu sedikit menyambut dengan saling berdiskusi.


"Saya, sebagai ibu Sari menerima dengan senang hati, tapi.. bagaimana dengan keluarga pak Aldi sendiri?? terus terang.. kami bukan keluarga kaya.. Bapak bisa lihat sendiri rumah kami seperti ini.." ujar nenek itu dengan wajah yang tenang.


Sifa melihat ekspresi sang Papa.


"Saya tidak menilai dari harta, karena saya juga bukan dari orang kaya.. dan tentang keluarga saya sendiri.. Saya memiliki seorang ibu, mungkin saat ini beliau tidak tau, namun akan saya pastikan jika ibu saya juga akan menerima Sari apa adanya" jawab Aldi yakin.


Kening Sifa berkerut heran.


"Tuh!! kok lagi-lagi nama tante Sari sih??" gumam batin Sifa bertanya-tanya dengan penasaran akan pembicaraan orang dewasa ini.


Ibu Sari terlihat menimbang dengan keseriusan ucapan sang Bupati.


"Baiklah, saya percaya dengan ucapan anda pak Aldi, sebagai orang tua saya hanya berharap kebahagiaan dan kebaikan untuk putri saya"


Kakek dan nenek yang berada di sana saling melempar tatapan lega, seiring wajah Papa Aldi yang ikut tenang.


Tiba-tiba seorang nenek yang bertubuh sama gemuk dengan kakek tadi menatap Sifa dengan wajah tersenyum.


"Sifa, mau punya mama baru yaa?"


Sifa diam dan bingung dengan melirik wajah sang Papa yang melepaskan senyum pada dirinya.

__ADS_1


"Sifa mau liat mama barunya kan?? nenek panggil dulu yaa" ujar nenek berbaju putih yang kemudian beranjak dari duduknya menuju dalam rumah.


Sifa meringkus di samping Papa dengan wajah dibenamkan di pangkuan sang papa. Ia bete dengan hal ini, bosan dan aneh menurut Sifa.


Tak lama, sosok nenek itu kembali dengan menarik seseorang di belakang nya.


Aldi menoleh pada Sifa.


"Coba Sifa lihat, apa itu mama yang Sifa mau??" bisik Aldi pada sang putri yang sudah cemberut dan membuang muka.


Sifa masih menolak dengan masih membenarkan wajah di pangkuan sang papa.


"Ayo, liat dulu dong.." bujuk sang Papa.


Terdengar tawa kecil dari kakek nenek itu melihat tingkah Sifa.


"Sifa???" panggil sebuah suara lembut dari suara yang sangat Sifa kenal.


"Sifa???" panggil suara itu kembali dan akhirnya Sifa mengangkat kepalanya dan menatap pada sumber suara.


Kedua bola mata Sifa menangkap sosok yang sangat ia rindukan.


"Tante Sari???"


"Apa kabar sayang??" sapa Sari tersenyum hangat pada anak tirinya itu.


Tanpa pikir panjang Sifa bangun dengan langsung memeluk tubuh wanita yang ia rindukan.


Grepp..


"Tante Sariii" serunya manja.


Suasana pun tergambar jelas jika hubungan keduanya begitu dekat.


"Bukan tante Sari.." sela kakek gemuk itu.


Sifa menoleh heran.


"Panggil mama Sari" ujar kakek itu dengan gelak tawa yang di ikuti dengan para keluarga disana.


"Mama Sari???" ulang Sifa tak percaya dengan menatap wajah sang Papa.


Aldi membalas dengan anggukan pada Sifa, jika ucapan kakek itu adalah kenyataan.


Sifa pun memeluk erat mama yang ia impiannya itu, kini benar-benar menjadi kenyataan bukan khayalannya lagi.


Aldi menatap bahagia pada Sifa dan tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan sang calon istri yang juga tersenyum.


🌸🌸🌸


Salam untuk semua teman-teman.


Cieee.. yang lagi berbunga-bunga.. siapa yang ikut tersenyum ngebayangin wajah mas Bupati??


Saya.. β˜πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Ah.. begitulah dunia halu yang nulis berbunga-bunga apa lagi yang baca, iya kan?? hahahaha.


Teman-teman terima kasih yaa untuk tiap dukungannya..


Jangan lupa untuk rajin beri komentar, like dan poin untuk mas Aldi dan mbak Sari, buat modal nikah. 🀣🀣🀣 canda.


Ah.. udah itu aja.. nanti siap-siap untuk part Jedang-jedung nya yaa.. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… biar seru gitu.


Bye..bye..

__ADS_1


__ADS_2