
Tak berselang lama.
Sebuah paket makanan pun tiba di ruang super VIP tersebut.
Aldi sendiri membawa dua kotak makanan itu kedalam kamar. Sari melihat Aldi dengan terpaku pada kotak yang di bawa.
Aldi menaruh kotak makanan itu di atas meja.
"Kamu makan dulu" ujar Aldi pada Sari.
Sari mengangguk dengan sungkan. Namun ketika hendak bergerak, Sari tertahan ketika tangan kirinya masih berada dalam genggaman Sifa.
Melihat hal tersebut sebut Aldi pun berinisiatif dengan berjalan mengambil meja di berada di depan Sofa.
Sari terkaget ketika melihat sang Bupati mengangkat meja kayu itu kehadapan dirinya.
Tak hanya sampai di situ keterkejutan Sari, Aldi pun membawa kembali kotak makanan dan membukakannya untuk Sari.
"Saya memesan nasi rendang padang, tapi sepertinya sudah habis jadi Rio (Ajudan) hanya memberi menu yang ada" jelas Aldi ketika melihat lauk nasi padang Sari yang hanya berupa peyek udang dan sambal ijo.
Sari hanya mengangguk pelan
"Gak papa, ini juga udah enak kok" ujar Sari dengan mencari sendok pada kotak tersebut, dan ia menemukannya dibalik buah pisang yang tersaji di dalam kotak.
Melihat Sari yang bersiap makan, Aldi pun mengambil kotak makanan satu lagi. Lalu meletakkan kotak makan itu di hadapan kotak makan Sari.
Sari terkaget, dan sedetik kemudian tanpa di duga Aldi menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan Sari.
"Ya Tuhan!!" bisik batin Sari yang terbengong melihat sosok Bupati kini tepat di hadapannya. Lalu tanpa sungkan Aldi menarik lengan bajunya dan mulai makan tanpa ragu.
Sari terpaku dengan menatap sosok sederhana Aldi.
"Ya Tuhan!! gimana mau ketelan ini makan kalau pemandangannya begini??" bisik Sari membatin.
Aldi menyantap makanan dengan antusias, terlihat jika pria ini lapar.
"Kamu gak makan??"
"Ah?? ya.. " sahut Sari terkaget dari lamumya menatap Aldi. Ia pun mencoba untuk mulai makan di hadapan pria nomor 1 ini.
Namun terlihat Aldi tak nyaman dengan sendok plastik yang terlalu lembek ketika di gunakan.
"Ck, gimana nie sendok.." ujar Aldi berbicara pada sendok yang berada di tangannya. Dan tanpa pikir panjang ia pun bangun dari kursi lalu menuju kamar mandi.
Sari melihat dengan heran. Namun tak lama pria itu kembali dengan terlihat kedua tangannya basah. Lalu kembali duduk di kursinya dan bersiap menyantap makanan dengan tangan kanannya.
Sari kian terbengong melihat sisi sederhana dan apa adanya pria di hadapannya ini.
Tanpa sadar Sari hanya mengigit sendok plastik itu dengan terus terpesona akan sosok pria yang makan dengan lahap di hadapannya.
"Kenapa??" tanya Aldi yang sadar diperhatikan oleh Sari.
"Ah.. bukan apa-apa " elak Sari yang tertangkap basah, lalu dengan cepat menyantap nasi di hadapan.
Aldi hanya tersenyum kecil melihat tingkah kaget Sari, namun ia kembali fokus untuk menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Sari menikmati makanan yang benar-benar spesial, bagaimana tidak sang pemimpin makan satu meja dengan menu yang sama dengan rakyatnya.
Namun ketika menikmati makanan itu, Sari tanpa sengaja mencicipi sambel ijo yang menjadi teman lauk.Dan diluar dugaan, rasa pedas yang luar biasa seketika membuat kerongkongan Sari terkaget. Sehingga Sari pun merasakan pedas menjalan di dalam mulutnya.
"Waah" ucapnya dengan spontan sembari mengipas-ngipas mulut yang kepedasan.
"Pedes banget" ujar Sari dengan mencari air di sekitarnya.
Aldi yang mendengarkan hal itu seketika merespo melihat Sari yang kepedasan. Ia pun dengan cepat bangun dari kursi dan meraih satu botol mineral dan memberikannya pada Sari.
Sari menerima dengan sungkan. Sari dengan cepat membuka tutup botol itu dengan satu tangan dan hasilnya sia-sia.
Aldi menghela nafas pelan ketika melihat usaha sia-sia Sari.
"Pegang botolnya" perintah Aldi. Sari pun refleks memegang botol mineral itu dan tanpa di duga tangan kiri Aldi memutar tutup botol yang masih bersegel itu hingga terbuka.
Greek.. dan tutup botol itu pun terbuka.
Sari pun dengan cepat meneguk air mineral itu kedalam mulutnya. Sehingga rasa pedas itu pun seketika berkurang. Raut wajah Sari pun ikut berubah lega.
Aldi sedikit tersenyum.
"Kamu tidak suka pedas??" tanya Aldi dengan kembali duduk dan melanjutkan makannya.
"Hm, iya.." sahut Sari malu-malu.
"Makasih pak" timpal Sari ketika meletakkan air mineral itu di tengah-tengah jarak kotak makan Sari dan Aldi.
Aldi mengangguk pelan.
Sari terteguh ketika melihat wajah ramah Aldi.
"Makan terus, saya mau cuci tangan dulu" ujar Aldi dengan bangun dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi.
"Ah, ya pak" sahut Sari kaget lalu kembali fokus pada kotak makanannya.
Sari menyantap makanan spesial itu dengan penuh antusias. Ya, bagaimana tidak toh ini di beli sama pak Bupati langsung bahkan sampai makan bareng. Sungguh ini akan jadi kenangan yang bagus jika di pamerkan. Pasti akan ada banyak yang iri dengan kesempatan Sari ini.
***
Akhirnya perut Sari kenyang dan gula setelah menyantap makanan nasi padang itu. Sari kembali meneguk air mineral itu untuk penutup agar makanan dapat turun lambung dengan sempurna.
Sekilas Sari dapat melihat Aldi yang tengah duduk di Sofa dengan fokus pada layar handphonenya itu.
Walau terlihat sedikit jauh, namun terlihat jelas jika pria ini tengah membaca satu pesan dengan wajah serius.
Tanpa terduga, Sifa pun mengeliat pelan sehingga jemari Sari terlepas dengan sendirinya.
Relfek Sari bernafas lega. Bagaimana tidak, sudah hampir 6 jam tangan kiri Sari tergantung memegang jemari Sifa.
Sari reflek mengurut bahunya yang terasa kaku.
Dan tanpa di sadari ternyata Aldi menatap Sari yang tengah merenggangkan tubuhnya.
"Apa kamu mau pulang??" tanya Aldi.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Aldi, Sari pun relfek melihat jam tangannya dan terlihat jika waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Hm, iya" ujar Sari ragu.
Namun jawaban itu telah membuat wajah risau Aldi kian kentara.
"Bisakah kamu tinggal?" tanya Aldi yang tiba-tiba.
Deg..
"Saya tau jika ini tidak sopan, tapi... hari ini saya benar-benar lelah dan.. Saya tidak bisa menjaga Sifa sendiri" tutur Aldi yang terdengar putus asa.
Sari berpikir dengan menatap wajah lelah sang Bupati.
"Tapi.. jika kamu keberatan, gak papa.. Rio (Ajudan) akan mengantar kamu pulang" ujar Aldi dengan bangun dari duduknya.
Tak lama, terdengar suara getar telfon masuk di handphone Sari. Sari reflek menarik handphonenya yang ia simpan di saku celana.
Dan nama Ibunda tercinta pun tertera di layar handphonenya itu.
Dilema pun menghampiri Sari yang bimbang.
Aldi sadar jika mungkin permitaannya itu sulit. Lalu dengan cepat ia mengambil keputusan.
"Kamu bersiap dulu, saya akan beri tau Rio" ujar Aldi yang hendak melangkah keluar.
Sari menjawab telfonnya itu.
"Hallo, ibu???"
"Sari, kamu kok belum pulang??" tanya ibu dari sebrang telfon.
Kedua mata Sari melihat langkah Aldi yang kian dekat dengan pintu kamar super VIP itu dan hendak meraih pedal pintu.
"Malam ini, Sa-ri gak pulang ya buk.. maaf" jawab Sari dengan sengaja memperdengarkan ucapan ya pada Aldi.
Aldi yang hampir keluar pun terkaget dan reflek berbalik menatap Sari yang masih menerima telfon.
"Kenapa?? apa besok ada jadwal make up pagi-pagi yaa?" tanya ibu menebak.
"Bukan bu, tapi Sifa masih belum begitu baik, jadi Sari mau jaga Sifa malam ini.. dan besok pagi Sari akan pulang" jelas Sari pada ibu.
"Ooh, ya sudah.. hati-hati yaa semoga anak kecil itu cepat sembuh" doa ibu dari sebrang telfon.
"Iya.. Aamiin" jawab Sari. Dan tak lama, komunikasi itu pun terputus.
Sari menurunkan Handphonenya dari telinga gan dan melihat menit komunikasi itu terjalin.
Namun tanpa terduga Aldi terlihat tersenyum hangat pada Sari.
"Sari.. terimakasih" ucap Aldi.
Sari relfek menoleh pada sang Bupati yang terlihat raut wajahnya begitu lega.
Sesaat Sari terpaku menatap Aldi.
__ADS_1
"Ya ampun pak, kenapa anda senyum begitu?? saya sebagai rakyatmu bisa terpesona" bisik batin Sari yang terpanah pada sang Bupati.