
Di ruangan berbeda, terlihat wajah gelisah sang tante Dwi.
"Aldi?? coba kamu jelaskan? siapa wanita yang ada di dalam sana??"
Aldi hanya menghela nafas pelan. Ia pun berpikir keras bagaimana cara menjelaskan semua masalah absur ini pada tante Dwi.
Liana pun menunggu penjelasan sang kakak sepupu. Sedangkan Bayu lebih terlihat gelisah.
"Al-di.. juga gak ngerti tante, tapi Sifa sudah berhalusinasi jika wanita itu adalah mamanya" tutur Aldi.
"Kok bisa sih mas?? sejak kapan?" cecar Liana heran.
"Mas juga gak tau, pak Budi pengawal Sifa yang akhirnya memberi tahu ternyata sudah hampir dua bulan ini Sifa sering bertemu dengan wanita itu"
"Mas?? Mas harus hati-hati loh, kali aja nanti di minta imbalan karena udah begini sama Sifa"
Aldi mendegus gusar.
"Entah lah, rasanya walau pun benar jika dia mau minta uang, berapa pun akan Mas bayar demi Sifa"
"Aldi??" sangah sang Tante bertentangan.
"Kamu jangan seperti itu, kamu jangan terperdaya. Sifa masih bisa mencari mama yang baru, lagi pula ibu kamu akan menjodohkan kamu dengan wanita yang lebih baik lagi dan dari kalangan terhormat" jelas sang Tante khawatir.
Aldi hanya mendengar tanpa menyela ucapan sang tante, rasanya ini bukan waktu yang tepat membicarakan soal pasangan hidupnya. Ia lebih mikirkan Sifa, perasaan dan piskologi Sifa yang benar-benar memprihatinkan.
Bayu menatap tajam pada sosok kakak sepupu dari istrinya itu. Ada rasa was-was dan tak rela jika mantan kekasihnya itu bersama pria yang terlihat memiliki beban pikiran yang berat.
***
Di sisi lain, di ranjang pasien terlihat Sifa tertidur tenang di pangkuan Sari.
Sari membelai-belai kepala Sifa dengan lembut. Sesekali ia menjatuhkan ciuman pada kening Sifa.
"Cepat lah sembuh Sifa.. kamu harus sehat dan ceria lagi.. ada banyak yang sayang sama kamu, terutama Papa kamu, hm" bisik Sari di sisi Sifa.
Namun tanpa terduga lengan Sifa malah memeluk tubuh Sari dengan erat. Sari merasa jika gadis kecil ini tak akan membiarkan ya pergi begitu saja.
🍃🍃🍃
Waktu pun berlalu hingga menjelang siang hari.
Kini terlihat Sifa tengah di suapi makan oleh Sari. Ia makan dengan sangat lahap. Sari pun menyuapi Sifa dengan semangat.
Setelah makan, Sifa pun di beri beberapa obat. Dan lagi-lagi hanya Sari yang dapat melakukan tugas itu dengan mudah.
Sedangkan Aldi hanya bisa menatap dengan hati sedih. Karena sebagian seorang Papa ia tak bisa menjaga dan merawat Sifa sebaik wanita itu.
__ADS_1
Berselang beberapa jam, akhirnya Sifa kembali tertidur dengan pulas. Dan perlahan Sari pun beranjak pergi dari ruang rawat itu.
Namun ketika hendak melewati pintu ruang rawat, sosok Aldi menatap Sari dengan tajam. Sontak Sari jadi terkaget dan salah tingkah di hadapan orang nomor 2 itu.
"Pak?" seru Sari ragu-ragu.
"Duduk" pinta Aldi dengan datar.
Sari dengan setengah hati pun duduk di sofa yang berjarak dengan sofa Aldi. Ia duduk dengan hati gelisah, ia takut jika berhadapan dengan orang yang memiliki kuasa ini.
"Terima kasih" ucap Aldi pelan.
Deg..
"Terima kasih, saya pasti tidak akan bisa menenangkan Sifa hari ini jika tidak ada kamu" sambung Aldi dengan wajah sedih.
Sari seketika merasa iba pada sosok orang tua yang merasa bersalah di hadapannya ini.
Sesaat keduanya saling diam, Aldi terlihat kalut dalam pikirannya.
Hingga akhirnya Aldi pun membuka suara.
"Dokter, mengatakan jika.. pisikis Sifa terganggu"
Sari mendengar dengan mencoba mencerna.
"Ia akan selalu berhalusinasi jika kamu adalah mamanya"
Sari mendengar dengan perasaan campur aduk. Ia kembali mengingat beberapa moment bersama Sifa yang selalu memeluk dan manja pada dirinya dengan cara berlebihan.
Sari selama ini berpikir jika itu hanya bentuk perhatian yang mungkin saja Sifa lakukan karena dia pasti tumbuh di dalam keluarga yang selalu memanjakannya.
Namun nyatanya pikiran Sari selama ini salah besar, Sifa memang bergelimpangan materi tapi ia kekurangan kasih sayang dan perhatian.
"Karena itu, bisakah kamu.. untuk beberapa hari ini menemani Sifa??" tanya Aldi dengan nada rendah.
Sari terkaget dengan permintaan orang nomor 2 tersebut.
"To-long, tolong putri saya, karena jika jiwanya terus down maka kesembuhan sakit Pneumonia juga akan sulit sembuh dan itu akan mengancam nyawa Sifa"
Sari tak bisa menjawab, sungguh ia berada dalam posisi yang membingunkan.
Sari terlihat berpikir dengan sangat serius.
"Saya meminta tolong bukan karena saya seorang wakil Bupati, tapi.. saya benar-benar meminta tolong sebagai orang tua yang merasa gagal menjaga anak saya sendiri" ucap Aldi dengan penuh penyesalan.
Sari menatap wajah pria yang benar-benar terlihat lelah. Sosok yang mungkin akan sangat di segani disepenjuruh kota. Tapi nyatanya pria ini tetaplah pria biasa yang merasa tak miliki kuasa dalam mengurus sang buah hati.
__ADS_1
"Maaf, tapi..."
"Sa-ya akan membayar berapa pun yang kamu minta, demi untuk kesembuhan Sifa" sangah Aldi tanpa pikir panjang.
Sari sedikit terkaget, namun Sari hanya tersenyum tipis.
"Maaf, bukan seperti itu maksudnya Saya, Pak" ujar Sari pelan.
"Lalu??"
"Saya seorang make up yang kerjaannya lebih banyak di pagi hari, jadi saya minta waktu.. Saya akan menemani Sifa dari siang sampai sore saja, bagaimana??"
Aldi seketika menghela nafas lega, lalu ia sedikit merasa bodoh pada dirinya karena telah berpikir terlalu jauh pada wanita sederhana ini.
"Ah, ah.. baik.. baik saya sangat berterima kasih atas kebaikan kamu, sungguh saya sangat berhutang budi"
Sari tersenyum simpul melihat wajah pak Wakil jauh lebih tenang ketika mendengar jawabannya.
"Kamu akan di jemput setiap harinya dan akan saya berikan fasilitas apa pun yang kamu minta" ujar Aldi yang merasa lega.
"Jangan pak, sa-ya.. saya bisa datang sendiri, gak papa, Bapak jangan repot-repot" tolak Sari halus.
Wajah Aldi sedikit heran. Namun ia tak menanyakan mengapa wanita ini menolak.
Tak lama, terdengar suara sayup-sayup panggilan mama terdengar lagi.
"Mama!!" panggil Sifa.
Aldi dan Sari terkaget bersamaan.
"Saya, liat Sifa dulu" pamit Sari.
"Ah, yaa.." ujar Aldi mengijinkan.
Sari bangun dengan hendak melangkah. Namun tanpa terduga Aldi memanggilnya namanya.
"Sari???"
Sari terkaget dan reflek menoleh.
"Terima kasih banyak, sungguh terima kasih banyak Sari" ucap Aldi dengan terselip senyum tulus pada Sari.
Deg.. Sari terpanah.
Namun panggilan mama kian terdengar kuat dari dalam kamar rawat.
"Mama!!" panggil Sifa kembali.
__ADS_1
Sari pun tersadar lalu ia hanya membalas dengan senyum simpul pada pak Wakil Bupati itu. Lalu bersegera masuk kedalam ruangan itu.