
Dan di dalam mobil kijang inova, kini Sari termenung memandang lurus jalanan.
Entah akan kemana mobil ini membawanya pergi bersama sang Bupati.
Setelah jauh mobil itu keluar dari kota dengan tanpa tujuan. Sekilas Aldi melirik raut wajah Sari dan ia merasa khawatir.
"Sari?? Apa kamu baik-baik saja??" tanya Aldi.
Sari tersadar, lalu mengangguk canggung.
"Ya.."
"Bagaimana dengan lengan mu??"
Sari mencoba menyingkap lengan baju kemeja panjangnya itu. Dan terlihat sedikit merah bekas genggaman tangan mas Bayu yang terlalu kuat.
"Gak papa, pak" jawab Sari dengan kembali menarik lengan itu kembali.
Sesaat hening keduanya hening. Namun tak beberapa lama Aldi membuka pembicaraan.
"Maaf, jika tadi..."
"Bapak jangan meminta maaf" potong Sari. "Karena berkat, Bapak.. Sari merasa tertolong" sambung Sari pelan.
Dan entah mengapa jawaban itu seolah melegakan hati Aldi.
"Kamu mengenal Bayu??"
Deg... Sari terjegat kaget.
Aldi sekilas ekspresi wajah Sari yang berubah.
"Maaf, jika kamu tak mau menjawab.. aku bisa mengerti " sela Aldi.
"Dia mantan tunangan saya" jawab Sari datar.
Deg.. Aldi terkaget dan ia pun terdiam sembari mengingat reaksi wajah Bayu tadi.
"Dan Sari tidak tau, ada hal apa sampai ia semarah itu" sambung Sari pelan.
Aldi mendengar sembari fokus pada jalan yang membawa mereka entah kemana.
"Terimakasih, pak.. karena sudah menolong Sari" ujar Sari.
"Berhenti menyebut nama wanita ku.." ujar Aldi dengan penuh penekanan.
Sekilas Aldi mengingat kembali ucapan lantangnya tadi. Ia hampir tak percaya sudah mengucapkan kata-kata kursial itu.
Aldi menghela nafas panjang dengan terus fokus pada jalan yang ia lewati.
Sekilas terdengar hela nafas Aldi. Dan Sari kian larut dalam pikirannya sendiri.
Hingga tanpa terasa perjalanan yang tiada ujung itu pun mengusik Sari.
"Hm, pak.. ini kita mau kemana yaa?" tanya Sari yang tiba-tiba.
Aldi tersadar, lalu mulai melihat kanan-kiri jalan.
"Saya juga gak tau.. " jawab Aldi polos.
"Hah??" seru Sari yang seketika jadi fokus melihat jalan. "Ja-jadi Bapak gak tau ini jalan mau kemana??"
"Enggak, memang kamu tau??" tanya Aldi balik.
"Enggak, saya gak tau pak.."
"Loh???" seru Aldi yang ikut kaget. "Jadi kita mau kemana ini?"
"Ya saya juga gak tau, saya pikir Bapak tau.."
"Enggak, saya gak tau.. saya ikut jalan aja karena tidak ada tujuan.." jawab Aldi apa adanya.
Sari benar-benar tak percaya jika ia sudah berjalan sejauh ini tapi tidak tau sedang mengarah kemana.
Di sepanjang jalan mereka hanya melewati kebun-kebun teh yang hijau.
Roda mobil terus berputar mengikuti jalan aspal itu.
"Lebih baik kita putar balik saja, pak" saran Sari.
Aldi mengangguk menyetujui saran Sari.
"Oke.." jawab Aldi dengan serius mencari tempat yang pas untuk memutar arah mobil innova tersebut.
Namun tak lama jalan mobil yang awalnya mulus tiba-tiba tersendat-sendat.
Hingga keduanya pun merasakan aneh pada laju mobil.
"Mobilnya kenapa, pak??" tanya Sari sembari memegang pedal pintu.
"Gak tau" jawab Aldi heran.
Dan tak lama, mobil pun berhenti dan seketika mesin mati total.
Aldi dan Sari sama-sama bengong.
"Loh?? kok mati?" tanya Sari.
Aldi berusaha menghidupkan kembali mesin mobil, namun arus api mobil tak kunjung tersambar.
"Apa bensin yang habis, pak??" tanya Sari kembali.
"Enggak.." jawab Aldi sembari membuka sabuk pengamanannya.
Sari melihat dengan heran, ketika Aldi tiba-tiba turun dari mobil.
Sari pun tak tinggal diam, ia pun ikut turun dari mobil itu dengan membawa tasnya.
Aldi membuka kap mobil innova tersebut, ia mencoba memeriksa mesin mobil.
Dengan pengalamannya di masalalu, Aldi memeriksa busi dan air kalkulator dan semua terlihat aman.
Tak lama Aldi mengecek air batteri dan hasil ya juga masih bagus.
"Gimana, pak?? apa ada yang rusak?"
Aldi menggeleng dengan heran.
"Semua bagus.." jawab Aldi.
Sari ikut merasa heran setelah mendengar penjelasan Aldi.
Namun terlihat Aldi meriah handphonenya dari saku. Dan menelfon seseorang dengan nada serius sembari menjauh.
Sari melihat sekitaran jalan itu yang terlihat sepi. Namun sesekali terlihat ada beberapa motor yang lewat.
"Dimana sih ini??" seru Sari bergumam sendiri.
__ADS_1
Tak lama Aldi kembali ke tempat Sari.
"Saya sudah telfon pemilik mobil, katanya mesin mobil mereka baru di servise berkala dan dalam kondisi baik-baik saja.. tapi mereka akan jemput kita"
Sari mendengar dengan bingung.
"Jemput?? memang mereka tau kita dimana??"
"Entah lah, tapi katanya mereka akan menjemput kita disini.." jawab Aldi.
Sari terbengong mendengar jawaban Aldi yang santai.
"Gimana mau jemput??. tau daerahnya juga enggak??" guman batin Sari mencibir.
Sesaat Aldi memandang pemandangan luas hamparan kebun teh yang daunnya sangat menyejukkan mata.
Terlihat ia tersenyum simpul menikmati keindahan suasana alam itu. Sekilas tanpa sadar Aldi berkhayal andai Sifa berada di sini, putri kecilnya itu pasti akan sangat senang, karena mama Sarinya berada di sini.
Hingga tanpa sadar ia tersenyum kecil.
"Oh, ya Tuhan.. Gimana ini!!" seru Sari panik.
Lamunan Aldi pun buyar.
"Ada apa??" tanya Aldi ikut panik.
"Saya harus cek out dari hotel.." seru Sari gusar. "Mana udah jam setengah 12" timpal Sari.
Aldi melihat pada jam tangannya dan mengingat hal yang sama. Ia juga harus cek out jam 12 dan sore hari harus terbang kembali ke daerahnya.
"Biar saya hubungi pihak hotel.." jawab Aldi dengan segera menghubungi Rio. Agar menyuruh Ajudannya itu membereskan masalah kamar hotel miliknya dan Sari.
Sari menunggu dengan gusar, karena koper make up dan gaun pengantinnya itu adalah aset yang sangat penting.
Aldi kembali dengan wajah lebih tenang.
"Saya sudah open kamar lagi.. jadi aman"
"Hah?? open kamar? tapi untuk apa??"
"Ya, saya tidak mau mengambil resiko jika harus kehilangan dokumen saya dan barang-barang kamu, jadi itu cara terbaik.." ujar Aldi santai.
Sari mematung mendengar penjelasan orang nomor 1 ini yang tidak memperhitungkan setiap cos perjalanan dan akomodasi yang sudah jelas-jelas di tanggung oleh negara.
Berbeda dengan dirinya yang harus memikirkan cos tiap jadwal make up di luar daerah. Ada biaya di luar tanggung jawab pihak WO dan pengantin yang sudah membayar sesuai perjanjian.
Sari seketika lemas.
"Yaaa, hilang deh 800 ribu" guman batin Sari lemas.
Dengan wajah kusut Sari hendak kembali ke mobil, tubuhnya sudah lemas ketika mendengar open kamar yang berarti ia harus membayar 800 ribu untuk kamar yang mungkin saja tidak ia tidur itu.
Aldi melihat dengan heran.
"Mau kemana??"
Sari berhenti lalu sekilas berbalik.
"Mau balik ke dalam mobil" jawab Sari tak bersemangat.
"Disini saja, mesin mati, AC gak bisa hidup.." ujar Aldi.
Lalu Sari berpikir. Dan ucapan pria itu ada benarnya juga.
Namun tanpa di sangka-sangka, rintik-rintik hujan pun turun.
"Yah, hujan" seru Sari.
"Ayo kesana ??" tunjuk Aldi pada sebuah gubuk yang tak jauh di tepi jalan.
Aldi dan Sari pun akhirnya berlari kecil menuju gubuk reot itu.
Dan setiba di sana hujan pun turun dengan lebat ya.
Sari menyeka air hujan yang sempat mengena di baju kemeja pinknya itu. Bahkan rambutnya pun ikut sedikit bahas karena rintik hujan itu.
"Kenapa tiba-tiba hujan yaa??" gumam Sari dengan menyeka lengan dan pundaknya.
Aldi melihat luar gubuk dengan menatap rintik hujan yang turun.
"Deras juga" gumam Aldi pelan dan hilang bersama suara hujan.
Sesaat keduanya terpaku pada rintik hujan itu.
Tanpa sadar Sari berjalan mendekat lalu menegadah tangannya untuk dapat menyentuh turunnya air hujan itu. Sekilas ia tersenyum sempul.
Aldi yang melihat hal itu seketika terhipnotis dengan moment itu.
Deg..
Senyum Sari begitu indah di matanya.
Deg..
Bahkan jemari-jemari lentik Sari pun begitu cantik bermain dengan air hujan.
Aldi tersenyum dalam kagumnya.
Tak lama, sebuah sepeda datang mendekat pada gubuk mereka.
Terlihat pria paruh baya dengan membawa seorang anak laki-laki yang sudah terlihat basah kuyup.
Aldi dan Sari pun mundur, agar pria itu bisa memiliki tempat di gubuk tersebut.
Sari dan Aldi sekilas membayangkan jika anak laki-laki itu pasti seusai Sifa.
"Kenapa kita gak langsung pulang pak??" tanya sang anak pada Bapaknya.
"Hujan terlalu lebat, bapak gak sanggup.." jawab sang Bapak.
Terlihat tatapan Sari dan Aldi tertuju pada sang bapak yang terlihat kurus dan kurang sehat itu.
Sari dan Aldi pun merasa iba.
"Kamu umur berapa??" tanya Sari mencoba menghibur.
Anak laki-laki itu menoleh pada Sari.
"Gak tau.." jawab anak itu ragu.
Namun sang Bapak hendak menjawab.
"8 tahun, mbak"
Sari tersenyum.
"Waah sudah besar yaa.."
__ADS_1
Anak laki-laki itu tersipu malu.
"Kamu bisa membaca?? atau apa kamu bisa berhitung??"
Anak itu lagi-lagi menjawab dengan ragu.
"Bi-sa sedikit.."
Sari tersenyum lebar.
"Mau main tebak-tebakan?? nanti kalau kamu bisa jawab mbak kasih sesuatu untuk kamu.."
Mendengar ucapan Sari anak itu seketika antusias, Aldi pun menatap serius pada aksi Sari.
"6+8??" tanya Sari melempar pertanyaan hitungan kecil.
Anak laki-laki itu bersegera menghitung dengan jari-jemarinya dengan kaku.
Aldi menebak cepat.
"14"
Sari terkaget begitu pun anak laki-laki itu.
"Ikh, jangan di jawab dong.. ini kan soal anak kecil" seru Sari protes pada Aldi.
Aldi merasa kaget dengan protes Sari. Namun ia gemas kalau tidak menjawab karena soalnya sangat mudah, bahkan Sifa pasti bisa menjawab sekian detik, karena ini soal yang terlalu gampang.
"Oke, yang tadi batal yaaa.. sekarang coba 5+4??"
Anak laki-laki itu pun kembali menggunakan jemari tangannya.
"9" jawab Aldi lagi.
Sari pun menatap kembali Aldi yang tak bisa mengerem mulutnya.
"Aduh, kok di jawab sih!!" protes Sari kesal.
Aldi seketika manyun.
"Ya udah, gak lagi" balas Aldi ketus sembari melihat kedua lengannya.
Sari kembali menatap anak laki-laki itu.
"Oke, 3+7??"
Anak itu dengan cepat menggunakan jarinya untuk menghitung.
Sari menunggu dengan antusias, sedangkan Aldi sudah berkomat kamit bak dukun.
"10..10..10" bisiknya pelan dari belakang Sari.
"10" jawab anak laki-laki itu dengan menyelesaikan hitungan jarinya.
"Pintar!!" seru Sari senang. "Pintar kamu memang pintar"
Aldi pun ikut senang dan lega jika anak laki-laki itu bisa menjawab.
Tak lama, Sari merogoh tasnya dan mengambil selembar uang 50 ribu dan memberikannya pada sang anak.
"Ini, untuk kamu"
Bapak dan anak laki-laki itu terkaget dengan nominal uang tersebut.
Anak laki-laki itu ragu.
"Pak???"
"Ayo, ambil.. kamu kan udah jawab soal dari mbak tadi" ujar Sari tersenyum ikhlas.
Sang Bapak mengangguk seolah memberi izin pada sang anak.
Anak laki-laki itu mengambil dengan sungkan.
Sari pun mengusap kepala anak tersebut dengan tulus.
"Belajar yang rajin ya" ujar Sari.
Aldi menatap lama aksi Sari. Ada hal yang spesial dari sosok wanita ini.
Hujan masih turun dan seketika Sari merasa perutnya lapar begitu pun dengan Aldi yang tak makan apa pun hanya minum kopi hangat tadi pagi di restoran hotel.
Sari menggosok perut tipisnya. Aldi memperhatikan.
"Kamu kenapa??"
Sari kaget .
"Hm, lapar" jawab Sari.
Sang bapak mendengar.
"Kalau lapar, di depan ada warung mbak.. di sana ada beberapa makanan"
"Didepan sana pak??" tanya Aldi sembari menunjuk.
Sang Bapak mengangguk.
"Iya mas"
Aldi pun menimbang dengan melihat hujan yang tak selembat awal tadi. Lalu tanpa pikir panjang ia membuka jaket kulitnya.
Sari melihat dengan heran.
Aldi dengan cepat membuat jaket itu berasa dia tas kepalanya dan seketika menoleh pada Sari.
"Ayo, kita kesana" ajak Aldi sembari membuka lengannya.
"Hah?? ta-pi.." jawab Sari ragu..
Namun Aldi tanpa menunggu jawaban Sari lagi, se ia pun dengan cepat meraih kepala Sari sehingga kepala Sari berada dalam satu jaket kulitnya.
Deg..Sari terkaget dengan aksi spontan Aldi yang meriah kepalanya sehingga jarak mereka sangat dekat.
Sari bahkan dapat mencium aroma parfum Akdi yang maskulin.
Aldi menghela nafas untuk bersiap.
"Kami duluan ya, pak" ujar Aldi pamit. "Ayo..kita pergi" seru Aldi pada Sari memberi aba-aba.
Dan seketika keduanya pun berlari kecil dibawah payung jaket Aldi.
Langkah keduanya seketika seirama, Aldi sekilas tersenyum simpul melihat sosok Sari yang kini berada dekat dengan dirinya.
Tanpa sadar tatapan Sari pun sempat bertemu dengan tatapan Aldi. Dan Sari dapat melihat jelas jika pria itu tersenyum manis untuk dirinya.
Deg...
__ADS_1