Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
32


__ADS_3

Malam harinya.


Dua orang dokter dan seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Sifa.


Terlihat setelah memeriksa kondisi Sifa kedua dokter itu berdiskusi dengan Aldi.


Sedangkan seorang perawat wanita terlihat telaten menganti air infus. Ia juga memeriksa suhu dan tekanan darah Sifa.


Sari melihat hal itu dengan cemas.


"Bagaimana Sifa?"


Sang perawat menoleh dengan senyum.


"Syukur buk, Sifanya sudah jauh lebih baik.. menurut dokter Sifa sudah baikan"


Sari mengangguk pelan dengan menyentuh lengan Sifa.


"Tapi sampai kapan dia akan lemas begini??" tanya Sari yang cemas karena Sifa terus tidur tanpa makan.


Perawat hanya melihat sekilas Sifa, lalu kembali menatap wajah Sari.


"Sifa pasti siuman, jika pengaruh obat sudah hilang"


Jawaban sang perawat itu benar-benar tak memuaskan bagi Sari.


"Saya permisi dulu, Buk" ujar sang perawat dengan berlalu pergi membawa beberapa alat medis meninggalkan Sifa dan Sari.


Sari menghela nafas pelan.


"Kasian Sifa, pasti lapar dan badannya sakit" lirih batin Sari.


Ia mengusap kening Sifa yang sedikit berkeringat. Jika ia menyentuh tubuh Sifa, ia merasa jika suhunya sudah normal. Hela nafas Sifa pun juah lebih tenang tanpa ada terdengar suara aneh dari hela nafasnya.


Tak lama, Aldi kembali dengan wajah lega.


Sari menoleh dan melihat pria itu yang berada di samping sisi ranjang Sifa. Aldi mengusap kening Sifa dan menjatuhkan satu kecupan sayang pada putrinya itu.


"Beberapa jam lagi dia akan bangun, dokter mengatakan, serangan sesak Sifa itu hanya bersifat sementara karena jika Pneumonia itu sembuh maka Sifa akan kembali sehat dan bernafas seperti biasa" jelas Aldi.


"Syukurlah" sahut Sari pelan.


Aldi menoleh.


"Terima kasih, Sari.. hari ini benar-benar diluar dugaan" ujar Aldi.


Sari menatap ragu sang Bupati.


"Dan.. saya minta maaf dengan sikap keluarga saya tadi" timpal Aldi yang merasa bersalah.


Sari hanya sedikit tertipis. Kejadian tadi memang membuat Sari syok, namun ketika ia melihat Sifa rasanya ia bisa bertahan untuk gadis kecil ini.


Sari seketika menoleh kembali pada Sifa dengan wajah sendu.


"Seharusnya, kata-kata maaf itu Bapak tunjukkan pada Sifa" ujar Sari dengan merapikan selimut Sifa.


"Ia terlihat sedih sekali ketika mengetahui, jika bapak akan lebih sibuk lagi dari biasanya"


Aldi terpaku mendengar ucapan Sari.


"Awalnya saya berpikir, jika Sifa yang tak pernah sopan, tak pernah meminta maaf jika salah dan keras karena didikan yang manja, tapi.. setelah saya lihat lagi.. ternyata anak ini kesepian.." tutur Sari pelan.

__ADS_1


Seolah terkena tamparan yang kuat, ucapan Sari telah menyadarkan Aldi.


Aldi menatap wajah tidur sang putri dengan hati terluka.


Sari terkaget ketika melihat wajah sedih Aldi. Ia tidak menyangka jika ucapan begitu memukul Aldi.


"Maaf pak... maaf.. Sari tidak bermaksud mengurui" ujar Sari merasa bersalah.


Aldi menghela nafas pelan.


"Apa yang kamu ucapkan itu memang benar, saya merasa gagal sebagai orang tua" tutur Aldi pelan.


Sorot mata sedih Aldi membuat Sari ikut merasakan kesedihan sang Bupati.


***


Malam pun menjelang.


Sari meminta waktu untuk keluar. Ia ingin mencari angin segar sembari hendak mengisi pulsa di kios depan rumah sakit.


Sari berjalan mencari kedai kios yang menyediakan pulsa yang lengkap. Dari sekian banyak kios pulsa ia memilih kios yang terlihat sedikit senggang.


"Mau isi pulsa mas, yang telkomsel" seru Sari dengan menghampiri meja estalase jualan pegangan pulsa tersebut.


"Ya berapa mbak??"


"Hmm, 100 ribu" jawab Sari sembari melihat beberapa macam kartu dengan berbagai merek.


"Baik mbak, tolong di tulis nomornya" pinta sang mas pedagang dengan menyodorkan buku catatan yang terlihat banyak nomor di sana dengan pengisi beragam nominal.


Sari pun mencatat nomor telfonnya. Lalu dengan cepat mengembalikan buku itu pada sang pedagang.


"Sebentar ya mbak" ujar sang pedagang dengan meraih buku dan mencatat nomor itu kedalam phonsel dagang nya.


"Mas, pulsa 20 ribu ya" ujar mas Ojol tersebut.


"Baik, mas sebentar"


Mas Ojol hanya mengangguk pelan.


Sembari melihat handphonenya dengan wajah serius.


"Rame mas hari ini??" tanya Sari yang iseng.


"Alhamdulillah mbak, hari ini lebih banyak dari biasa" jawab mas Ojol.


"Oia?? Syukurlah" seru Sari.


"Iya, saya juga hari ini agak rame yang beli pulsa" timpal mas dagang ikut nimbrung obrolan.


"Mungkin karena Bupati baru kali yaa" celetuk salah satu pedagang rokok keliling yang duduk di samping mas Dagang pulsa.


"Apa hubungannya??" tanya Sari heran.


"Ya, Ada dong mbak.. pak Aldi ini humbel banget.. kayaknya dia bisa jadi pemimpin bijak" jawab mas Ojol dengan membayar sejumlah uang pada mas Dagang pulsa.


"Ooh" sahut Sari singkat.


"Eh, denger-denger yaa, tiap dua bulan sekali pak Aldi sering bagi-bagi sembako sekitar 1000 paket buat warga miskin" ujar sang pedagang rokok keliling.


"Oh, iya bener itu.. saya pernah dapat, yaa walau sekali tapi ngebantu banget" jawab mas dagang pulsa.

__ADS_1


"Semoga pak Aldi jadi Bupati yang terus baik sama rakyat kecil kayak kita, moga jujur dan amanah orangnya" pedagang rokok keliling.


"Aamiin" sahut mas Ojol dan mas dagang pulsa bersamaan.


Sari benar-benar kaget, ia tak tau jika sosok Aldi Munandar ini begitu populer di kalangan masyarakat.


Sari pun tersadar lalu membuka dompet ya dan membayar sejumlah uang pada mas Pulsa.


Dan tak lama kumpulan itu pun bubar dengan hal masing-masing.


Sebelum kembali kekamar Sifa, tak lupa ia juga membeli beberapa cemilan untuk jaga-jaga jika mungkin saja perutnya lapar tengah malam.


Setelah mengisi pulsa dan membeli cemilan, Sari pun kembali ke kamar super VIP itu. Terlihat tak ada lagi Ajudan Rio disana. Sari berpikir mungkin saja pria itu sudah pulang.


Sari pun masuk dengan perlahan membuka pedal pintu agar tidak berisik.


Hening.. begitulah hal yang pertama kali dirasakan Sari ketika masuk kedalam kamar.


Terlihat Sifa masih tertidur. Namun sosok pak Bupati tidak terlihat di sisi ranjang Sifa. Langkah Sari kian masuk kedalam sembari mengendap-ngendap agar langkahnya tidak berbunyi.


Dan betapa kagetnya Sari ketika melihat sosok orang nomor satu itu ternyata tertidur dengan handphone yang berada di dadanya.


Sari menghela nafas pelan.


"Bisa-bisanya orang jagain orang sakit malah ikut tidur" gumam batin Sari dengan meletakkan cemilan di atas meja.


Sekilas Sari menatap Sifa untuk melihat kondisinya, namun Sifa masih tetap terlihat tenang dalam tidur.


Lalu tak lama ia menoleh pada pria yang tidur dengan lelap di Sofa. Sari menatap dengan berpikir untuk mencari selimut agar dapat menghangatkan tidur Aldi.


Ia pun mencoba mencari di lemari yang tersedia di ruangan itu. Ia berharap jika ada selimut cadang di sana, dan benar saja ketika lemari terbuka terdapat selimut dan baju pasien cadangan.


Sari mengambil selimut, lalu menutup kembali pintu lemari itu. Dan berjalan perlahan menuju sofa panjang.


Sari berdiri dengan menatap lama wajah lelah Bupati yang tertidur lelap. Perlahan Sari membuka lebar selimut itu.


Lalu dengan hati-hati ia pun menyelimuti tubuh Aldi yang tak bergerak.


Sesaat ia menatap lekat wajah pria yang tenang itu.


"Mungkin pak Aldi bisa menyelesaikan semua masalah negara, namun pak Aldi gagal dengan negara kecilnya sendiri, keluarga.." guman batin Sari dengan meletakkan selimut di dada Aldi.


Tanpa sadar, Sari reflek berjongkok di samping sofa pak Bupati. Ia memandang lekat wajah pria itu.


"Tapiii.. gimana jadinya pak Bupati gak ada ibu Bupati??" gumam batin Sari yang tak sengaja tersenyum lucu.


"Semoga bapak dapat pendamping yang baik, baik untuk Sifa dan baik untuk Bapak juga" doa Sari dalam hati.


Namun tiba-tiba tubuh Aldi mengeliat, sontak Sari pun merunduk dengan posisi menyembah. Sari takut jika pria ini bangun dan mendapati dirinya yang tengah terkagum dengan parah maskulin itu.


Tapi nyatanya Aldi hanya mengeliat dan mengantuk posisi tidurnya.


Sari pun refleks menghela nafas lega.


"Huuufft.. untung aja" bisik Sari dengan berusaha merangkak untuk menjauh dari sofa pak Bupati. Ia pun memegang dadanya yang hampir saja di buat jantungnya dengan gerakan Aldi.


Sari pun kembali menuju kursi yang berada di samping ranjang Sifa. Ia duduk dengan membuka layar handphonenya.


Terlihat beberapa pesan masuk dari pelanggan dan Lisa yang sudah jelas isi pesan itu berupa pertanyaan yang tak akan pernah puas ia dengar.


Sari pun hanya menghela nafas pelan.

__ADS_1


Malam yang panjang ini akan ia lewatkan di rumah sakit bersama pak Bupati dan anaknya Sifa.


__ADS_2