Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
28


__ADS_3

Dan akhirnya, Sari pun kembali menikmati fasilitas orang nomor dua itu dengan nyaman. Bagaimana tidak mobil mewah seorang pejabat ia naiki dengan di tambah pengawalan khusus mobil polisi.


Sehingga laju mobil itu pun lewat dengan tanpa hambatan.


Sari melihat sekilas keramaian di jalan yang seketika membentuk kemacetan mobil. Kening Sari berpikir heran, ada apa dengan hati ini. Mengapa semua jadi macet begini.


"Ada acara apa sih??" bisik Sari yang bertanya heran.


Mobil itu pun akhirnya sedikit berjalan pelan akibat kemacetan itu.


"Pak, ini ada acara apa yaa?? kok sampai parah begini??" tanya Sari pada Ajudan dengan rasa penasaran yang kian tinggi.


"Ini kemacetan karena ada pelantikan Bupati baru" jawab sang Ajudan.


Sari reflek membentuk mulut dengan huruf O bulat sempurna.


"Ooo, jadi Bupati kita yang dulu di ganti pak?? kok cepet banget??" tanya Sari kembali dengan heran.


"Benar, Bupati yang dulu sering sakit, jadi pada minta di ganti" jawab sang Ajudan simpel.


"Oooh" lagi-lagi Sari menjawab dengan mulut O bulat.


Lalu rasa penasaran Sari kian terpancing dengan sosok sang Bupati baru.


"Jadi siapa nama Bupati baru kita, pak??" tanya Sari polos.


Dan sang Ajudan terkaget dengan reflek menoleh pada sang Supir.


"Pak.. Pak Aldi" jawab Ajudan tegas.


Sari terbengong.


"Pak Aldi??" tanya Sari mengulang dengan bingung, apa mungkin nama Bupati baru juga memiliki nama yang sama dengan sang wakil.


"Pak Aldi Munandar, mbak.. beliau hari ini di lantik kembali menjadi Bupati baru kota ini" jelas sang Ajudan.


Sari syok ketika mendengar nama sang orang nomor 2 itu kini berganti status menjadi orang nomor 1 di kotanya itu.


Jemari Sari reflek menutup mulutnya yang beraksi kaget.


"Masa, pak??" seru Sari yang masih tak percaya.


"Benar mbak, dan sekarang mbak sedang naik fasilitas orang nomor 1" sahut sang Ajudan yang kian membuat Sari kehilangan rohnya.


Sari terbengong dengan wajah yang benar-benar syok. Ia tak menyangka jika ia kini sedang menikmati fasilitas orang nomor 1 itu.


"Ya Tuhan!!" pekiknya dalam hati. Sari tak bisa mengkondisikan keterkejutannya itu. Sehingga tanpa pikir panjang ia mengambil handphonenya dari dalam tas.


Ia ingin memastikan berita itu di koran digital. Jemari Sari dengan cepat mengetik berita Bupati di kota Xxx.


Seketika terbukalah semua berita hangat pagi itu tentang pelantikan sang Bupati.

__ADS_1


Kedua mata Sari melebar seiring membaca judul-judul besar akan pelantikan sang Bupati.


Dan semua berita itu membenarkan jika Aldi Munandar adalah Bupati baru kota Xxx.


Jemari Sari seketika lemas, ia pun memandang keluar pada jendela mobil yang sedikit berjalan lambat.


Terlihat beberapa orang melambaikan tangan pada arah mobil itu. Mungkin banyak masyarakat yang mengetahui plat merah itu tengah melintas dan berpikir sang Bupati baru tengah duduk nyaman di dalam sana.


Sari hanya bisa terbengong dengan sekilas membaca papan bunga yang terpampang sepanjang jalan raya itu. Tulisan selamat pada sang Bupati baru pun hampir terpajang di sepanjang jalan raya itu.


Sari menghela nafas pelan. Akhirnya ia tau tugas penting apa yang telah membuat Papa Sifa meninggalkan sang putri yang tengah sakit dan menitipkannya pada dirinya.


Sari hanya bisa berspekulasi dengan pikirannya sendiri tentang seorang Aldi Munandar. Pria yang hanya mementingkan pekerjaan dan rela meninggalkan sang putri yang sakit.


Mobil orang nomor satu itu pun akhirnya melaju pelan melewati kemacetan dengan mulus menuju arah rumah sakit. Dan Sari hanya bisa menikmati fasilitas itu dengan hati berat.


***


Setiba di rumah sakit.


Sari kembali terkaget ketika melihat Sifa tengah di suapi sarapan oleh Liana. Istri dari mantan kekasihnya, Bayu.


Sari masuk dengan ragu, karena ia dapat merasakan tatapan sinis dari keluarga Sifa.


Namun tidak dengan Sifa yang terlihat bahagia ketika melihat sosok Sari di sana.


"Mama??" seru Sifa ceria.


Sari mendekat pada Sifa yang kini terlihat sudah sanggup duduk untuk makan.


Namun tatapan sinis Liana dan sang ibu terlihat jelas.


"Kamu pengasuh Sifa??"


Sari terkaget.


"Ah, bukan.. saya teman Sifa" jawab Sari dengan menatap Liana.


Liana berdecak tak percaya.


"Teman?? teman apa?? apa aku harus percaya jika Tante-tante berteman dengan anak kecil???" cibir Liana tajam.


Sifa mendengar nada sinis itu dengan wajah kesal.


"Kenapa tante Liana marah sama Mama Sari??" protes Sifa dengan memeluk tubuh Sari.


Liana berdecak tak percaya mendengar pembelaan Sifa.


"Sifa, dia ini bukan Mama kamu.. dia cuma pengasuh kamu.. kamu gak boleh manja sama dia, dia orang asing" tutur Liana memberi nasehat pada Sifa.


Sifa mendengar dengan kesal dan marah pada ucapan Liana.

__ADS_1


"Kok tante ngomong gitu sih?? ini Mama Sari.. ini mamanya Sifa, tante gak boleh jelek Mama, Sifa gak suka" protes Sofa marah pada Liana.


Tiba-tiba wanita paruh baya itu datang mendekat pada putrinya Liana yang terlihat menghentikan menyuapi sarapan Sifa karena kesal.


"Sifaa.. kamu gak boleh begitu dengan tante Liana, dia ini tante kamu saudara sedarah dengan papa kamu.. dan yang di katakan tante Liana itu benar, orang yang kamu peluk itu adalah pengasuh kamu yang akan merawat kamu, kamu harus bisa bedanya sayang.." jelas sang nenek.


Raut wajah Sifa kian tak bisa menerima penjelasan nenek pihak papanya itu.


Ia kian menguatkan jemarinya memeluk tubuh Sari.


Liana yang sedari tadi menatap Sari sinis akhirnya bangun dari tempat tidur itu dengan berjalan meraih tasnya yang berada di sofa.


"Tante Liana cuma kasih tau kamu, Sifa.. bahwa kamu sekarang harus lebih berhati-hati lagi dengan orang-orang di sekitar kamu.. kamu sekarang adalah anak dari orang nomor 1 di kota ini" jelas Liana penuh penekanan pada Sifa.


Sifa terlihat bingung ketika mendengar ucapan tante Liana. Ia pun menoleh pada Sari dengan raut wajah penuh tanya.


"Orang nomor 1 itu, apa mah??"


Sari terkaget, dan ia sedikit berpikir keras bagaimana cara menjawab pertanyaan gadis kecil ini.


"Hm, orang nomor 1 itu, itu.. maksudnya orang penting yang memerintah kota ini.. dan.. dan itu Papa kamu, sayang" jelas Sari singkat.


Seketika sorot mata Sifa terlihat kaget dengan berpikir bingung.


"Maksudnya.. Papa.. lebih sibuk lagi?" tanya Sifa polos dengan pemahaman yang ia punya mengantarkan penjelasan Sari tadi.


Sari terteguh dengan melihat wajah kecewa Sifa yang terlihat jelas.


"Iya, maka dari itu, Sifa harus lebih hati-hati lagi.. karena ada banyak orang akan memanfaatkan kamu untuk kepentingan pribadinya.. atau ada yang berusaha untuk menjadi benalu sama Papa kamu" nyinyir Liana dengan ketus pada Sari.


Sari merasa tersinggung mendengar ucapan tajam Liana yang jelas tertuju pada dirinya.


"Maksudnya apa mbak?? kenapa berkata seperti itu??" sahut Sari melawan.


"Oh, merasa yaa??" sahut sang ibu Liana dengan sinis.


"Kalau kamu tau diri, mending pergi jauh-jauh dari keponakan dan cucu saya ini.. kamu itu udah licik banget sampai memengaruhi Sifa untuk bisa dekat dengan Aldi" tuduh wanita paruh baya itu tajam pada Sari.


Sari kian tak bisa marah mendengar tuduhan tak beralasan itu.


"Saya gak pernah berpikir untuk menggunakan cara licik itu... Sa-ya" ucapan Sari terpotong ketika secara tiba-tiba Sifa menangis dengan kuat. Sehingga ketiga wanita dewasa itu terkaget.


Sari panik ketika melihat Sifa yang tiba-tiba menangis.


"Sifa.. sifa kenapa sayang??" seru Sari memeluk Sifa.


Namun tangis Sifa kian kuat sehingga sedetik kemudian Sifa pun terserang sesak.


Sontak wajah panik pun terlihat dari wajah Sari, Liana dan wanita paruh baya itu.


"Sifaaaa???" pekik Sari panik...

__ADS_1


__ADS_2