Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
35


__ADS_3

Siang harinya.


Sesuai janji, roda mobil Brio Sari pun menyusuri jalan menuju rumah yang masih ditempati Aldi dan Sifa.


Roda itu kian dekat dengan pagar utama kediaman rumah dinas Aldi. Dan ketika mobil Brio hendak masuk kedalam pekarangan rumah dinas itu, seorang petugas jaga dengan sigap menjegat mobil mugil Sari.


Sari menepikan mobil sembari membuka kaca mobil.


"Siang mbak??"


"Siang, pak"


"Mbak siapa?? ada urusan apa datang ke rumah dinas ini??"


Deg..saliva Sari tertelan kasar seolah tengah menghadapi razia tanpa STNK.


"Ah, saya Sari.. saya datang untuk bertemu dengan Sifa"


Seorang petugas lain seolah menguping.


"Mbak, ada urusan apa dengan putri pak Bupati??"


Deg...lagi, jantung Sari di paksa bekerja keras karena rasa takut introgasi itu.


"Saya datang.. karena sudah ada janji.."


Kedua petugas itu melihat dengan curiga.


"Coba telfon mas Rio (Ajudan)" seru seorang dari keduanya.


Sari kian menelan salivanya.


Dan satu dari mereka pun mengeluarkan handphonenya dan mengelfon seseorang. Lalu tak lama terlihat pria yang menelfon itu, sigap.


"Baik pak, siap pak.. baik.." ucapan tegas dan sigap itu terlantar jelas.


Lalu ia kembali dengan memberi kode pada sang teman.


"Silahkan masuk, Mbak.."seru petugas itu langsung sopan.


Sari sedikit kaget, lalu perlahan mengangguk dengan menjalankan kembali roda mobilnya untuk masuk kedalam pekarangan rumah dinas itu.


"Huuufft.." hela nafas panjang Sari lega. Lega karena lewat dengan mulus penjaga tadi.


Lalu dengan bingung ia terus mencari tempat yang sedikit rindang untuk bisa meneduhkan parkiran mobilnya. Dan terlihat sebuah mobil sedan mewah terparkir ditempat yang cocok untuk memarkirkan mobil.


Sari akhirnya turun dan sekilas menatap kagum pada rumah besar bercat putih tersebut. Tampak jelas kemegahan seorang pemimpin dari rumah yang tetap terawat meski rumah berdesain lama.


Namun tanpa di sangka seorang pria memanggil namanya.


"Sari???"


Sari reflek menoleh dan mematung ketika melihat sosok sang mantan berada di hadapannya.


"Mas Bayu??" bisik Sari pelan.


Bayu kian mendekat, Sari terlihat gusar.


"Kau, mengapa bisa ada di sini??"


"Kenapa?? apa aku tidak pantas??" sahut batin Sari.


Namun nyatanya Sari hanya diam.


"Kau tidak seharusnya ada disini, ada hubungan apa kau dengan keluarga mas Aldi??" tanya Bayu penasaran.


Diluar di duga terlihat di mata Sari, Sifa berlari girang menuju dirinya.


"Mamaaa!!" panggil Sifa riang.


Bayu yang membelakangi, pun terkaget ketika mendengar suara gadis kecil. Ia menoleh dan terlihat putri sang pemilik rumah berlari riang lalu dengan cepat memeluk tubuh Sari.


Bayu terpaku melihat hal itu.


"Mama.. akhirnya.. mama datang, Sifa senang" ujar Sifa sembari menegadah menatap wajah Sari.

__ADS_1


Sari melihat wajah syok Bayu dan pria itu benar-benar terkejut.


Dengan senyum simpul Sari menatap hal itu, lalu membelai pucuk kepala putri Bupati dengan sayang.


"Ya, sayang.. mama datang untuk Sifa" jawab Sari penuh menang. Seakan pertanyaan Bayu terjawab kontan.


"Ayo, mah.. kita masuk kedalam.." ajak Sifa dengan tanpa sengaja melihat sosok Bayu.


"Eh, om Bayu.. mau pulang yaa???"


Bayu tersadar.


"Ah, iya Sifa.." jawab Bayu kaku.


Sifa tersenyum.


"Makasih banyak ya om, udah bawaan makanan enak.. salam untuk tante Liana.., ayo mah.." ujar Sifa sembari menarik jemari Sari.


Sari mengangguk pelan, lalu perlahan mengikuti langkah Sifa yang menuntunnya.


Bayu menatap dengan tatapan kosong, wanita yang pernah ia cintai dengan gila ternyata kini menjadi mama Sifa??


Bayu mengepalkan tangannya dengan kuat, ada hati yang tak bisa menerima jika Sari menjadi milik orang lain.


***


Sari merasa lega dan juga senang. Moment tadi adalah satu hal yang sangat ingin ia balas pada Bayu.


"Mamah??"


"Hm??" gumam Sari tersadar.


"Ini rumah Sifa.. mah, bagus kan??"


"Hm, iya sayang..bagus banget" jawab Sari.


Namun tak lama, terlihat seorang wanita paruh berdiri dengan wajah masam.


Sifa terkaget dan tanpa sadar mencengram jemari Sari dengan kuat. Sari terkaget.


Sari mencoba untuk ramah pada wanita paruh baya yang terlihat tak ramah.


"Selamat siang, Nyonya.. Saya Sari.. teman Sifa" jawab Sari sopan.


Wajah wanita itu terkaget.


"Sari??" bisik wanita paruh baya itu tak percaya.


Namun dengan cepat Sifa menarik tangan Sari laku berlari membawa Sari untuk pergi mengikuti dirinya.


Sari tersentak lalu tanpa bisa menahan akhirnya mengikuti langkah gadis kecil itu.


Ketika melewati sang nyonya rumah, Sari tertunduk segan.


"Maaf, Nyonya.. permisi" ujar Sari yang akhirnya berlalu bersama Sifa.


Wajah wanita paruh baya itu tercengang dengan kesal melihat tingkah tidak sopan sang tamu.


"Teman Sifa??? apa dia pikir aku bodoh?? bagaimana gadis muda berteman dengan anak kecil!!" rutu ibu Aldi kesal.


"Aku harus bilang sama Aldi, dia gak boleh terlalu memanjakan Sifa.. bisa-bisanya itu anak bawa orang luar kedalam rumah dinas ini.." timpal ibu Aldi yang gusar, seolah ingin menelfon sang anak untuk mengabari hal penting ini.


Namun ia menahannya, karena tau jika tugas Aldi pasti sedang padat sebagai Bupati.


***


Di sisi lain.


Kini Sari berada di kamar Sifa.


"Selamat datang di kamar Sifa mama" sambut Sifa kembali bahagia.


Sari tersenyum.


"Bagus banget kamar kamu, rapi dan wangi.." puji Sari.

__ADS_1


Sifa senang mendengar pujian dari sang mama khayalannya.


"Iya, dong.. Sifa udah beresin bareng bibik, biar mama betah berlama-lama di sini"


Sari tertawa kecil.


"Pintar kamu, jadi bibik dong yang tambah repot karena harus beresin semua.."


"Ikh, enggak dong.. Sifa ada bantu kok..bantu sapu dan bantu bantu susun bantal jadi lebih rapi" tutur sang gadis kecil bangga akan usahanya ya.


"Ooh, iya deh.." sahut Sari tak mematahkan kebahagiaan Sifa.


"Sini mah" ajak Sifa dengan menarik lengan Sari untuk duduk di sofa baca yang berwarna Pink.


Sari mengikuti dan duduk di sofa itu. Sifa berlari kecil keseberang tempat tidurnya lalu mengambil satu kotak sedang berwarna Pink dan membawanya kembali ke hadapan Sari.


Sari melihat pada kotak itu.


"Ini kado yang mama kasih" ujar Sari.


"Iya, Sifa belum buka.. Sifa sengaja tunggu mama, mama curang siap kasih kado malah gak datang lagi.. padahal Sifa tungguin mama lama dirumah sakit"


Sari terteguh. Sesaat ia kembali mengingat saat hari dimana Sifa di nyatakan boleh pulang. Dan Sari hendak menyerah kado yang sudah ia janji pada Sifa.


Namun nyatanya, pada saat itu banyak para pejabat penting datang berkunjung. Sari sadar diri tak mungkin masuk ke dalam. Akan jadi pertanyaan besar jika ia berada disana.


Sehingga Sari menitipkannya pada Ajudan Aldi, Rio untuk memberikan kado ini pada Sifa. Dan ia pun berlalu pergi tanpa pamit.


"Maafin mama yaa"


Sifa menatap wajah Sari. Lalu wajahnya dengan mudahnya tersenyum tulus.


"Dimaafin kok" jawab Sifa riang.


"Kita buka bareng ya mah.."


"Heem.."


Jari jemari Sifa pun membuka dengan antusias membuka bungkus kado pink itu. Namun sesaat Sari mengingat wajah wanita paruh baya yang sekilas agak mirip dengan wanita yang menjadi ibu Liana, istri mas Bayu.


"Hm, Sifa.."


"Iya, mah.."


"Ibu yang di depan tadi, siapa ya?"


Sifa terus membuka kertas Pink itu.


"Oh?? itu nenek Sifa.."


Deg.. Sari terkaget.


"Nenek?" ulang Sari


"Iya, mamahnya papa"


Sontak Sari syok.


"Ibunya pak Bupati!! mati deh gue!!" rutu batin Sari gusar mengingat sikapnya tadi.


Setelah berhasil membuka bungkusan itu, Sari membuka kotak dan terlihat jejeran nail dengan 12 warna cantik. Wajahnya pun sontak girang.


"Waah, cantiknya... makasih mama" seru Sifa riang tanpa peduli dengan Sari yang masih syok.


Sari hanya tersenyum simpul. Pikiran terbang entah kemana.


Sifa melihat senyum sang mama khayalannya tak begitu lepas.


"Mama kenapa??"


"Ah, enggak sayang.. gak kenapa-napa"


Sesaat Sifa menatap dalam wajah Sari.


"Mamah, masih takut sama nenek yaa??"

__ADS_1


Deg.. Sari terteguh. Pertanyaan Sifa, seolah tertuju pada sosok yang ia kenang.


__ADS_2