
Dari sebrang telfon terlihat wajah tegang Sari ketika mendengar suara pria yang terlihat sangat emosional.
"Ah, ma-af pak.. sa-ya membawa putri anda kerumah sakit, Si-fa.. Sifa sekarang ada dirumah sakit bersama saya" sahut Sari dengan mencoba menelan salivanya yang seketika merasakan takut.
"Apa??" sahut suara pria itu terdengar kaget.
"Dirumah sakit MANA??" tanya pria itu lagi dengan nada tinggi.
Sari terkesiap mendengar kemarahan itu dari sebrang telfon.
"Di.. dirumah sakit Permata Bunda, pak" jawab Sari.
Lalu tak lama, komunikasi itu pun terputus begitu saja. Sari pun ikut lemas setelah menerima telfon dari orang tua Sifa yang terlihat sang marah itu.
Wajah Sari terlihat cemas. Ia melihat wajah Sifa yang kini tertidur dengan alat bantuan nafas setelah melakukan foto rongsen dan telah di beri obat oleh sang dokter sebagai penanganan pertama.
Namun sesaat Sari sekilas mengingat ucapan Sifa saat memohon padanya dengan sangat frustasi.
"Mau ya tan-te?? Si-sifa janji.. Sifa a-akan jadi anak yang ba-ik untuk tante Sari, Si-fa akan belajar, Si-fa gak akan cengeng!!" ucap Sifa dengan bersusah payah memelas.
"Tante mau yaa jadi mama Sifa" pinta Sifa dengan memelas.
Sari menghela nafas cemas. Ia merasa berada di posisi yang membingunkan.
Sari yang khawatir akhirnya berpikir untuk menelfon Lisa. Ia ingin menceritakan kejadian ini pada sang teman.
Namun ketika nomor Lisa di hubungi, sampai dengan nada hubung terakhir Lisa tak kunjung mengangkat telfon dari Sari.
Sari lagi-lagi menghela nafas pelan.
🍃🍃🍃
Berselang beberapa menit. Mobil dinas Aldi tiba di halaman depan rumah sakit Permata Bunda.
Ia turun dengan tergesa-gesa, hal itu akhirnya di ikuti oleh seluruh rombongan yang di bawa pak Wakil. Sehingga seluruh perawat dan dokter jaga syok dan heboh dengan kedatangan pak Wakil Bupati ke rumah sakit mereka.
Aldi dengan cepat menghampiri seorang perawat.
"Apa ada anak perempuan yang masuk kemari? namanya Sifa" tanya Aldi dengan terburu-buru.
Sang perawat yang terlihat kaget ia pun jadi sedikit lambat berpikir.
"Ah, itu.."
"ADA APA TIDAK??" hardik Aldi bertanya dengan marah karena kelambanan sang perawat.
Seluruh perawat yang tadinya heboh seketika terkesiap dengan kemarahan pak Wakil Bupati.
Namun tak lama, seorang dokter jaga berlari mendekat pada pak Wakil dengan cepat.
__ADS_1
"Sifa?? jika namanya Sifa Munandar?? benar pak ada, anak itu telah di pindah keruang rawat bangsal tingkat 2" jelas sang dokter dengan yakin.
Wajah Aldi seketika terdengar lega.
"Dimana kamarnya??"
"Saya antar pak" tawar sang dokter dengan cepat.
"Oke" sahut Aldi yang akhirnya mengikuti langkah sang dokter yang membawanya pada lorong rumah sakit.
Dan ternyata tempat kamar tujuan Aldi agak sedikit jauh.
Namun setelah melewati beberapa ruangan akhirnya arah tujuan dokter itu pun terlihat.
"Silahkan pak, kamar nya ada disini" tunjuk sang dokter.
Aldi dengan cepat mendekat pada pedal pintu dan membuka pintunya.
Terdengar pintu terbuka dengan sedikit kasar.
Grekkk..
Sari yang tadinya duduk di samping tempat tidur pasien seketika terkesiap dengan bangun dari duduknya.
Wajah kagetnya terlihat jelas ketika melihat orang nomor 2 itu masuk dengan wajah cemas menuju ranjang pasien.
"Sifa??" seru Aldi dengan cepat memegang tubuh putrinya yang terlihat terpasang selang infus dan alat skup pernafasan di wajahnya.
Sari perlahan sedikit menyingkirkan dari tempat duduknya.
Namun tampak seluruh ruangan itu telah di jaga oleh anggota kepolisian dan seorang pria bertubuh tinggi berdiri tepat di depan pintu kamar itu.
Dokter yang tadi merawat Sifa pun berdiri disana dengan menatap Sari.
"Apa yang terjadi??" tanya Aldi dengan berbalik dan menatap tajam pada Sari yang terpojok.
Sari terjegat menerima tatapan intimidasi dari orang tua Sifa.
Mulut Sari seketika kaku.
"Apa kamu berencana menculik putri saya??" tuduh Aldi pada Sari yang tak bisa menjawab sepatah kata pun.
"Sa-ya.. sa"
"Saya akan menyeret kamu ke penjara!!" ancaman Aldi penuh emosional.
Sari seketika syok mendengar ancaman sang pak Wakil.
"Saya tidak menculik putri anda, Pak!! tapi.. Sifa sendiri yang datang pada saya" bela Sari untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dan saya tidak ada motif satu pun untuk menculik Sifa, buktinya saya membawa Sifa kerumah sakit!!" timpal Sari dengan berusaha tak takut.
Mendengar keributan itu, tanpa terduga terdengar suara desah Sifa.
"Hm, ma" guman Sifa pelan.
Sontak Aldi dan Sari menoleh pada Sifa yang terlihat baru saja bereaksi.
Aldi dengan cepat mendekat pada sang putri. Wajah cemas dan gusarnya terlihat jelas.
"Sifa?? Sifa ini.. ini Papa nak" seru Aldi mencoba menyadarkan Sifa.
Namun Sifa yang masih terlihat lemah.
"Ma!" serunya dengan suara parau dan jemarinya mencoba meraih sesuatu yang ia cari.
Aldi dengan cepat meraih jemari Sifa, ia ingin menggenggam jemari putrinya yang terlihat masih lemah itu.
"Sifa?" seru Aldi dengan mencium jemari putrinya dan mencoba membuatnya hangat.
Tapi di luar dugaan, Sifa menepis jemari sang Papa. Perlahan ia mencoba menoleh mencari sosok yang ia butuh, dan pandangannya terhenti pada sosok Sari yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Ma-ma!!" serunya pelan dan jemarinya mencoba mengapai sosok Sari.
Aldi terpaku, ia melihat pada sosok Sari yang tak bergeming.
"Mah" panggil Sifa dengan bening air mata yang perlahan tumpah di pelupuk matanya.
Aldi syok melihat Sifa yang mencari sosok Sari dan memanggilnya dengan sebutan "Mama".
Hingga akhirnya ia tak tahan melihat rintihan sang putri.
"Mendekat lah!!" pinta Aldi pada Sari.
Sari ragu. Bagaimana ia berani, karena beberapa detik lalu ia di ancam akan di penjara.
"Mama!" seru Sifa dengan tangisan yang mulai terdengar menyayat hati.
Kesal melihat Sari, akhrinya Aldi meraih lengan Sari dan menariknya untuk mendekat pada Sifa.
Sari pun terhentak hingga kini berada tepat di hadapan Sifa.
Jemari Sifa mencari jemari Sari.
Melihat hal itu, akhirnya Sari meriah jemari Sifa.
Seketika tangis Sifa berhenti.
"Mama, Sifa" ucap Sifa parau dan perlahan terlihat gadis itu kembali tertidur dengan memegang jemari Sari dengan kuat.
__ADS_1
Dokter dan Ajudan Aldi melihat semua hal itu, dan entah apa yang terbesit di benak mereka ketika melihat semua kejadian yang benar-benar diluar dugaan.
Dan terlihat Aldi pun tak bisa berkata-kata melihat sang putri tertidur lelap di samping wanita yang ia anggap mamanya