
Waktu pun berlalu.
Tepat di jam 3, Aldi kembali kerumah sakit dengan wajah gusar. Terlihat Aldi jalan tergesa-gesa menuju kamar Super VIP.
Aldi kesal ia tak bisa segera pergi dari acara yang sudah membuat waktu ya kian telat sampai ke rumah sakit. Aldi pun tak ikut jamuan spesial yang di buat oleh para anggota Dewan yang telah melantiknya menjadi Bupati.
Ketika ia membuka pedal pintu, terlihat sangat Ajudan menghampiri.
"Pak??"
Namun Aldi tak menghiraukan sang Ajudannya. Ia ingin segera bertemu dengan sang putri.
Pintu terbuka dan terlihat keluarga pihak ibunya masih berada disana.
"Bagaimana Sifa??" tanya Aldi pada Liana.
"Mas Aldi" seru Liana terkaget.
Dan terlihat Sari juga ikut terkejut ketika mendengar suara Aldi.
Sari yang sedari tadi duduk di sisi Sifa, ia terus menemani gadis kecil itu.
Dan tak lama, langkah kaki Aldi kian mendekat. Sari melihat sosok pria yang akhirnya datang. Dengan masih berpakaian formal, Aldi melepas jas putih ya.
"Bagaimana Sifa??" tanya Aldi pada Sari.
"Sifa sudah agak mendingan" jawab Sari pelan.
Aldi mendekat dengan menatap lekat wajah sang putri yang lemah. Terlihat alat pernafasan masih terpasang di wajah gadis kecil itu.
Wajah Aldi terpaku dan sedih.
"Sayang, Sifa" panggil Aldi dengan meraih jemaei sang putri.
Sari yang melihat hal itu pun berlahan mundur, ia tak ingin menganggu moment itu.
Namun jemari Sari yang masih terpaut pada jemari Sifa pun tertahan. Ketika Sifa tak melepaskan jemari Sari.
Sari menatap Sifa.
"Ja-ngan per-gi.. ma-ma" bisik Sifa lemah.
Aldi menatap wajah Sifa.
"Sayang?? kamu.. kamu sadar Sayang??"
"Ma-ma" lirih Sifa kembali dengan menoleh pada Sari.
Aldi melihat hal itu dengan wajah terpaku pada jemari Sifa yang memegang jemaei Sari.
Lalu dengan wajah mengubah Aldi menatap wajah Sari.
"Tolong.. tepat lah di sini" pinta Aldi dengan suara rendah.
Deg...
Sari terpaku ketika melihat wajah kesedihan Aldi. Permintaan pria ini benar-benar terlihat putus asa.
"Putriku sungguh-sungguh butuh sosok mu, jadi aku mohon, tolong.. tolong kamu tetap di sini" sambung Aldi yang benar-benar putus asa.
__ADS_1
Sari pun akhirnya mengikuti permintaan sang orang nomor 1 itu. Ia kembali mendekat pada sisi Sifa.
Seketika Aldi tenang, ia pun kembali fokus pada sang putri.
"Apa yang dokter katakan?? bagaimana bisa ia terserang sesak?" tanya Aldi pada Sari??"
Sari menimbang ketika mendengar pertanyaan sang Bupati.
"Apa harus gue cerita yang sebenarnya?" bisik batin Sari.
Tak lama wanita paruh baya mendekat pada Aldi.
"Aldi??"
"Tante??"
"Sifa tadi lagi makan sama Liana dan sehat-sehat aja, tapi.. ketika wanita ini datang.. Sifa tiba-tiba histeris dan dia pun sesak, Aldi.. Tante rasa Sifa ketakutan pada wanita ini.. kamu harus pisah anak kamu dengan pengasuh yang tidak sopan ini" jelas sang Tante pada keponakannya.
Sari terhenyak, ia benar-benar kaget ketika mendengar ucapan wanita paruh baya yang telah memutar balikan fakta.
Kening Aldi berkerut bingung mendengar cerita sang tante.
"Bagaimana mungkin?" ujar Aldi dengan menatap Sari.
Sari terpaku.
"Sa-ya, bisa jelaskan pak.. dan itu.. tidak seperti yang di jelaskan ibu ini" sela Sari cepat.
"Alah, kamu ini yaa gak sopan banget, memang itu faktanya kok" potong Liana ketus.
Aldi kian bingung.
Sari kian tak bisa menahan marahnya.
"CUKUP!!" ucap Sari tegas, wajahnya seketika berubah kesal.
"Saya berada di sini bukan karena saya ingin, tapi Bapak Aldi sendiri yang meminta saya untuk ada di sini dan menjaga putrinya.."
Wajah Liana menegang, begitu pun sang mama yang kaget mendengar perlawanan Sari.
"Dan saya kasih tau ya pak, mengapa Sifa bisa sampai sesak, itu karena mulut dua wanita ini terus mengeluarkan kata-kata yang kejam.. mereka menuduh saya di depan putri anda.. Dan Sifa yang tak mengerti menangis sehingga Sifa pun kembali sesak" jelas Sari dengan membuka kebenaran pada Aldi.
"Kalau benar Sifa gak suka saya di sini, terus ini apa??" tunjuk Sari dengan memperlihatkan jemari Sifa yang memegang jemari Sari dengan erat.
"Apa masuk akal, jika saya adalah penyebab Sifa sesak??" tudik Sari tajam pada kedua wanita itu.
Aldi mendengar dengan melihat kenyataan di depan matanya.
Terlihat jelas jika Sari wanita yang tak mudah di tindas.
Liana dan sang ibunya seketika kecut. Keduanya mulai sedikit salah tingkah.
"Aldi.. kamu harus percaya, tante gak mungkin bohong.. tante sayang banget sama anak kamu, kita dari tadi pagi udah di sini buat jagain Sifa.. jadi.." ucap tante membela diri.
"Cukup TANTE!!" potong Aldi tegas.
"Sebaiknya tante dan Liana pulang saja, maaf ... dan terima kasih untuk kebaikan tante hari ini" potong Aldi dengan mencoba untuk meredakan pertengkaran di hadapan sang putri.
"Mas Aldi??" seru Liana kesal.
__ADS_1
"Mas Aldi lebih percaya sama ini pengasuh dari pada kita saudara mas Aldi sendiri?"
"Dia bukan pengasuh!!" sangah Aldi tegas dengan menatap Liana tajam.
Liana terkesiap ketika melihat wajah sepupunya yang berubah tegas.
Sari pun ikut terkejut melihat sosok lain sang Bupati.
"Mas, yang minta Sari untuk menjaga Sifa.. karena.." ucap Aldi tergantung dengan suara berat.
"Hanya Sari yang bisa membuat Sifa tenang"
Seketika hening setelah mendengar ucapan tegas Aldi.
Sang tante tak bisa berkutik.
"Aldi mohon maaf, dan sebaiknya tante pulang.." ucap Aldi kembali dengan wajah lelahnya.
Tante dan Liana akhirnya beranjak pergi dengan wajah dongkol. Tatapan keduanya terlihat jelas jika mereka membenci Sari.
Sari hanya bisa menghela nafas pelan ketika kedua wanita itu keluar dari ruangan.
Hening.
Dan terlihat jika Aldi tertunduk lelah.
Pria itu menarik kursi dan duduk di samping ranjang sang putri dengan wajah sendu.
Sesekali Sari dapat mendengar jelas jika pria ini menghela nafas berat, seolah beban hatinya belum terlepas.
"Tolong, maafkan keluarga saya" ucap Aldi yang tiba-tiba.
Sari terkaget, namun Sari hanya diam tak menjawab.
Sari kembali menatap wajah Sifa yang terlihat jauh lebih baik.
Namun tanpa terduga. Tiba-tiba terdengar suara yang menjadi pusat perhatian.
Kruuurrurkk..
Sontak Sari memegang perutnya ketika mengeluarkan suara perutnya yang sudah lapar.
Aldi terkaget dan menatap wajah kaget Sari.
Kruuurrurkk.. suara perut lapar itu pun kian tak bisa di hilangkan, ketahanan perut Sari sudah pada batas maksimal untuk kosong.
Aldi hanya tersenyum kecil, ketika melihat raut wajah yang malu dan serba salah.
"Ka-mu lapar?"
Sari hanya bisa tertunduk malu tanpa menjawab.
Aldi pun melihat pada jam tangannya. Dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Saya akan pesan makanan" ujar Aldi yang segera bangun dari kursi duduknya. Lalu berjalan menuju luar pintu.
Sari pun melihat sekilas punggung pria itu. Lalu dengan cepat berbalik dan menonjok perutnya sendiri.
"Dasar perut sialan!!" rutu Sari pada perutnya yang bisa-bisanya bersuara nyaring di hadapan orang nomor 1 itu.
__ADS_1