Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
37


__ADS_3

Selama hampir 1 minggu, Sari kini punya jadwal baru. Jika di pagi hari ia melakukan aktivitas merias pengantin, maka siang harinya ia akan menghabiskan waktunya dirumah sang Bupati bersama Sifa.


Sifa kian senang dengan kehadiran Sari. Curahan kasih sayang yang di inginkan Sifa akhirnya ia dapatkan. Sosok ibu yang membuatnya di cintai.


Dan kedekatan itu menbuat Ibu Aldi jengah, ia meradang melihat wanita muda itu kian bebas masuk kerumah dinas Aldi.


Di tambah lagi, Sifa kian lengket dengan wanita yang selalu ia panggil dengan panggilan mama.


Dan sore ini Ibu Aldi menatap jengkel saat melihat ke akraban Sifa dan mama khayalannya itu bermain di taman belakang bersama bibik pengasuh.


Ibu Aldi mengetik sebuah nama di layar handphonenya dan ia memutuskan untuk menelfon Dwi, sang adik kandung.


"Hallo?? Dwi.." seru ibu Aldi dengan menatap dingin dari kejauhan wajah riang Sari yang bermain engklek bersama sang cucu.


"Aku sudah tidak tahan, besok.. suruh dia untuk segera datang.." perintah ibu Aldi.


Lalu tak lama, komunikasi itu terputus begitu saja. Wajah licik ibu Aldi terlihat jelas dari jendela besar.


***


Namun di sisi luar jendela, di taman belakang terdengar suara tawa Sari yang memberi semangat pada Sifa. Sifa terlihat tengah bersiap untuk mencoba mendayung sepeda tanpa roda bantuan.


"Ayo Sifa kamu pasti bisa.." seru Sari memberi semangat.


"Takut mah, ini kalau jatuh gimana?"


"Santai aja.. kalau jatuh kamu bisa coba lagi.."


Sifa kian kepikiran bagaimana mendayung tanpa roda bantuan.


"Ayooo.. kamu bisa!!" seru Sari kembali meyakinkan Sifa.


"Ayo, non.. bibik jaga-jaga.."


Sifa bersiap dengan kuat memegang stang sepeda, dan kakinya mulai untuk mengayuh pedal sepeda.


Namun belum jauh ia mencoba mendayung, Sifa oleng sehingga ia jatuh bersama dengan sepeda tersebut.


BRAAKKK...


"Aaah.." pekik Sifa reflek saat terjatuh.


"Non!!" pekik bibik terkejut melihat majikan kecilnya terjatuh.


Sari pun ikut terkejut.


"Uwaaaahhh..." Sifa reflek menangis kencang karena kesakitan pada siku tangannya.


Sari dan bibik segera mendekat. Sari dengan cepat meraih Sifa.


"Sayang kamu gak papa??"


"Huhuhu.. sakit mah, siku Sifa sakit.." rengek Sifa manja dengan menunjukkan siku yang sedikit lecet dan berdarah.


Sari tersenyum kecil melihat tingkah manja Sifa.


"Ooh, ini mah gak papa.. ini tandanya kamu hampir berhasil.. sini mama tiup.. puuufft.." ujar Sari sembari menghembus lembut pada siku Sifa.


Bak sihir, tiupan itu seketika dapat menghentikan tangis Sifa.


"Gimana?? gak sakit lagi kan??" tanya Sari sembari mengusap siku Sifa.


Sifa mengangguk sembari jemari Sari menyeka air mata buaya Sifa.


"Senyum dong anak pinter" puji Sari dan bibik pun ikut lega melihat nona kecilnya berhenti menangis.

__ADS_1


Namun di luar dugaan terdengar suara pria yang khawatir.


"Sifa?? kamu kenapa?" tanya Aldi panik dengan menghampiri sang putri yang terdengar menangis.


Sari, bibik pengasuh juga Sifa terkaget.


Sifa reflek melompat dari pangkuan Sari, lalu berlari menuju sang Papa.


Sari bangun dengan melihat moment itu.


Aldi langsung mengendong tubuh putrinya yang sudah besar.


"Kamu kenapa?? papa dengar kamu nangis kenceng tadi.."


Sifa seketika hendak menangis kembali. Namun Sari dengan cepat memotong akting Sifa yang akan di mulai.


"Sifa jatuh dari sepeda" ujar Sari.


Aldi terkaget.


"Jatuh?? sakit?? dimana?? ada yang luka?" cecar sang Papa dengan wajah panik.


"Ini" tunjuk Sifa pada siku lengan yang terlihat sedikit lecet.


"Sakit?" tanya Aldi cemas. Sifa menangguk.


Sari hanya tersenyum kecil.


"Enggak, kok.. anak pinter mah biasa kalau lecet sedikit, itu karena Sifa mulai pinter naik sepeda tanpa roda bantuan.. ya kan Bik??" potong Sari dengan mematahkan akting manja Sifa. Bibik dengan cepat mengangguk.


Aldi menatap Sari.


Sari mendekat pada Aldi yang tengah mengendong Sifa. Lalu dengan cepat meraih lengan Sifa yang lecek.


"Mau mamah tiup lagi??" tawar Sari santai.


Deg... jantung Aldi berdebar.


"Nah sudah sembuh, Sifa pintar pasti bisa naik sepeda lagi.." ujar Sari bak mantra sihir yang menghipnotis anak dan bapaknya.


"Iya mah.." sahut Sifa dengan turun dari gendongan sang Papa.


Aldi tersadar dari sihir itu dengan melihat Sifa yang kembali meraih sepeda Pink nya. Dan bersiap untuk mencoba kembali.


"Sifa kamu yakin??" tanya Aldi gusar.


Sifa tak menjawab, ia berusaha naik kembali sepeda dengan di bantu bibik.


Dan tak lama, Sifa pun bersiap-siap untuk mencoba kembali mengayuh pedal sepedanya.


"Sifa pasti bisa!!" seru Sari riang memberi semangat.


Aldi kembali terpaku dengan sikap Sari dalam memberi dukungan pada Sifa.


Perlahan namun pasti, Sifa berusaha seimbang ketika mendayung, perlahan-lahan dan penuh hati-hati akhirnya Sifa bisa mendayung sedikit jauh tanpa terjatuh.


Seketika Sifa bersorak riang.


"Mamaaah.. maah, Sifa bisa mah.." sorak Sifa yang terus memanggil nama sang mama.


"Sifa pintar.. ayo.. dayung yang kuat ketempat mama!!" seru Sari dengan membuka lebar tangannya.


Aldi kian terkesima pada sosok Sari.


Sepeda Sifa kian mendekat dan akhirnya berhenti dengan di sambut oleh Sari.

__ADS_1


"Yeee.. anak mama pintar" seru Sari dengan memeluk dan menjatuhkan ciuman di pipi sifa yang terlihat senang dengan pujian dan keberhasilan.


"Papah.. Papa Sifa udah bisa pah.. Sifa udah bisa naik sepeda gak pakek roda bantu" seru Sifa riang pada sang Papa.


Aldi tersadar dari lamunnya yang menatap Sari.


"Ah, iyaa.. anak papa benar-benar pintar" puji Aldi yang akhirnya mendekat. Sari mundur dan membiarkan pria nomor 1 itu memeluk tubuh sang putri.


Sifa memeluk manja sang Papa.


"Nanti, kapan papa libur, kita naik sepedaan bareng ya pah??"


"Siap, tuan putri.." sahut Aldi penuh cinta.


Sari tersenyum lebar, ia merasa lega, jika akhirnya Sifa kembali ceria dan ia kian sehat.


Sekilas ia melihat suasana yang kian petang. Lalu tersadar, jika ia harus segera pulang. Perlahan Sari hendak meninggalkan Aldi dan Sifa.


Tanpa sadar Bibik memanggil.


"Mbak Sari mau kemana??" tanya Bibik heran, dan hal itu sukses menyadarkan Sifa dan Aldi. Langkah Sari pun berhenti.


"Mama mau kemana??" tanya Sifa pada Sari. Aldi menatap Sari dengan mererai pelukannya pada sang putri.


Lalu Sari menoleh.


"Mama harus pulang.." jawab Sari tersenyum.


"Mama??" seru Sifa tak rela.


"Besok, kita masih bisa main lagi.." sambung Sari memberi pengertian. "Oke??"


Aldi menatap kembali pada Sifa yang cemas jika sang putri akan protes dan mulai merengek.


Namun di luar dugaan, Sifa malah tersenyum lalu memberi tanda jempol.


"Oke mamah" sahut Sifa menurut.


Aldi lagi-lagi tercengang. Begitu mudahnya Sari memberi pengaruh pada sang putri. Tanpa tangis, tanpa rengek dan tanpa bentakan.


"Dah sayang.." ujar Sari sembari melambaikan tangan.


Dan tanpa terduga Aldi menoleh pada Sari sehingga tatapan keduanya bertemu.


Seketika Sari canggung dengan lambaiyan tangannya.


"Saya, permisi pak.." pamit Sari kaku.


Aldi seketika tersenyum.


"Hati-hati di jalan, Sari.. terima kasih untuk hari ini" ujar Aldi dengan merangkul sang putri.


Sari hanya mendengar tanpa menjawab, dan berlaku pergi dari kedua orang yang menatapnya begitu dalam.


"Papah??"


"Hm??"


"Papa belum kasih kado ultah Sifa yang ke 8, kan?


Seketika Aldi tersadar.


"Oh iya.. Papa sampai lupa.. Memangnya kamu mau kado apa?? papa pasti belikan untuk kamu.."


Sifa menatap sang Papa dengan wajah serius, lalu tak lama tangannya menujuk pada sosok yang terus jalan menjauh. Aldi menoleh dan melihat.

__ADS_1


"Mama Sari.."


Deg.. Aldi mematung.


__ADS_2