
Dua lengan kecil mengunci pinggang Sari dengan kuat.
Seolah ia tak akan melepaskannya lagi untuk kedua kalinya.
Sari mencoba mererai dengan lembut.
"Sifa??"
"Hmm, jangan pergi mah" bisiknya pelan.
Sari menelan salivanya dengan kasar.
"Tolong, untuk dengar dulu.." pinta Sari lembut.
Sifa akhirnya melepaskan dengan berat.
Sari menatap dalam wajah Sifa yang sedikit kurus.
"Sifa.. boleh mama ngomong jujur??" pinta Sari dengan menatap dalam manik mata Sifa.
Sifa diam seribu kata.
"Tante, bukan mama kamu..."
Deg..Wajah Sifa terpaku, seolah berita besar menyadarkan dirinya.
"Kamu sudah tau, bahwa selama ini tante hanya memerankan sosok mama untuk kamu.."
Sari melihat dengan jelas jika wajah Sifa kecewa.
"Kamu sudah besar sayang, kamu harus ngerti.. tidak selamanya kebohongan itu baik.. dan walaupun tante bukan mama kamu, kita kan masih bisa terus jadi teman baik.."
Sifa sulit menerima. Namun Sari mencoba membesarkan hati Sifa dengan memeluknya penuh sayang.
"Sayang tante selalu ada untuk kamu.. galery tante juga akan selalu terbuka untuk kamu.."
Sifa diam, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan di sudut hatinya. Bening-bening air matanya tumpah.
Aldi yang berada di ruangan itu pun ikut merasakan sesak di dadanya ketika melihat sang putri benar-benar terluka.
"Kamu pintar, kamu juga anak yang baik.. tante percaya suatu saat kamu pasti akan memiliki mama yang akan sangat tulus menyayangi kamu.."
"Mengapa bukan tante saja??"
Deg.. Sari terhenyak ketika mendengar pertanyaan Sifa.
Aldi juga ikut terpaku mendengar tak terduga sang anak.
"Hmm.." Sari berusaha memutar otaknya.
Namun Aldi datang mendekat pada sang putri.
"Sifa... jangan menyulitkan tante Sari.. Selama ini tante Sari sudah sangat baik sama kamu, jadi tolong mengerti.." pinta sang Papa dengan lembut. Ia menyeka air mata sang putri.
Sari mendengar ucapan bijak Aldi.
Lalu tanpa terduga, ia meraih Sifa dari pelukan Sifa.
Sari melepaskan tubuh Sifa pada sang Bupati. Ia memeluk erat tubuh putrinya yang terlibat tak bersemangat.
"Kamu, sudah bisa pergi.." pinta Aldi dingin.
Sari bangun dari tempat tidur Sifa, ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan. Ada rasa bersalah pada gadis kecil itu, dan ada rasa tak nyaman dengan tatapan sang Bupati yang terlihat dingin.
Namun, Sari sudah berpikir, jika inilah yang terbaik.
"Maaf.." ujar Sari pelan.
Aldi membuang mukanya dengan mengecup kepala sang putri. Tatapan simpati Aldi seketika hilang.
"Rio akan mengatar kamu dan semua kerugian akan aku bayar.."
Deg.. Sari tertunduk bias, lalu berlalu pergi meninggalkan kamar VIP.
Aldi membelakangi Sari. Namun Sifa dapat melihat jika sosok yang ia inginkan kian pergi dengan air mata yang kian tumpah. Ia mengeratkan pelukannya di pundak sang Papa.
Aldi memeluk sang putri dengan sedih. Sungguh penderita sang putri begitu berat di usianya yang masih kecil.
__ADS_1
"Maafkan Papa sayang" lirih batin Aldi.
***
Waktu pun berlalu lebih dari 1 minggu.
Kini kediaman rumah Dinas Aldi pun ikut pindah ketempat rumah Dinas Bupati.
Dan yang paling terasa adalah, tak ada lagi sosok sang nenek di sana.
Pagi itu, Aldi yang hendak berangkat kekantor. Ia menyempatkan diri untuk menyapa sang putri.
"Pagi sayang??"
"Pagi Papa.. " jawab Sifa yang terlihat di meja makan tengah menunggu sang bibik pengasuh menaruh selai di roti miliknya.
Aldi terlihat memperhatikan wajah sang putri yang terlihat tenang.
"Kamu sudah masuk les?"
"Iya pah.."
Tak lama sang bibik menaruh roti yang telah ia beri selai coklat pada majikan kecilnya.
"Makasih bibik" ucap Sifa dengan sopan.
Aldi terkajut ketika melihat ucapan sopan Sifa.
Bibik tersenyum kecil.
Tak lama, Sifa pun melahap roti miliknya.
Aldi menikmati wajah Sifa yang terlihat tenang. Akhirnya ia bisa bersyukur jika kini Sifa benar-benar mengerti, setelah penjelasan menyakitkan dari mama Khayalannya.
Tak lama Sifa meletakkan rotinya yang baru setengah. Lalu mencari sang bibik.
"Bibik??" panggilnya lembut.
Aldi menatap Sifa.
"Bibik, maaf yaa.. bisa minta tolong bibik buat lagi roti selai coklat yaa?? Sifa mau bawa ketempat les.."
"Makasih yaa bibik, maafin Sifa jadi repotin" ujar Sifa sopan.
Aldi terbengong tidak percaya dengan tutur kata Sifa yang benar-benar sopan. Ia bisa mengingat jelas jika Sifa tak pernah sesopan itu.
Sifa pun kembali melahap roti miliknya sampai habis, tak lupa ia juga menghabiskan susu coklat tanpa rewel.
"Papa??"
"Hm, ya sayang???" jawab Aldi tersadar dari keterpakuannya.
"Papa, boleh gak Sifa minta ijin.."
"Ijin??"
"Iya, Sifa mau ajak teman-teman main kerumah.."
"Ooh, boleh sayang, terserah Sifa.."
Sifa tersenyum cerah lalu turun dan dengan cepat meraih lengan sang Papa lalu menariknya agar tubuh Aldi sedikit turun.
Cup...Sifa memberi kecupan sayang pada sang Papa. Aldi lagi-lagi terkaget.
"Terima kasih Papa, selamat bekerja.." ucap Sifa.
Aldi benar-benar terkejut dengan aksi spontan Sifa.
"Ya sayang, kamu juga yaa.. belajar yang rajin" balas Aldi dengan menjatuhkan ciuman sayang di kening sang putri.
Pelukan sesaat itu terlepas.
"Bibik, Sifa ambil tas dulu yaa, nanti rotinya bawa keluar aja.. Sifa tunggu di mobil.."
"Ah, iya non" sahut sang bibik yang masih mengerjakan tugas membuat roti pesanan sang majikan.
Sifa pun berlalu pergi.
__ADS_1
Aldi masih terbengong.
"Bik??"
"Ya tuan.."
"Sejak kapan sifa seperti itu??"
Bibik bingung.
"Maksudnya tuan?"
"Sifa tak pernah setenang itu.. dan.. dan dia mengucapkan selamat kerja buat saya, itu .."
"Mbak Sari yang ajarin, Tuan.."
Deg.. Aldi terpaku.
"Sari??"
"Iya tuan.. mbak Sari itu.."
Aldi terdiam dengan membayangkan wajah wanita yang selalu membawa kebahagiaan pada Sifa.
"Banyak hal baik yang di ajarkan mbak Sari pada non Sifa, tuan..."
Aldi menelan salivanya.
***
Ketika berada di dalam mobil dinasnya. Pikiran Aldi terbayang akan sosok Sari.
Wanita yang benar-benar berbeda, mungkin ada banyak wanita yang mengejar-ngejar posisi istri Bupati. Tapi tidak dengan Sari.
Seiring laju mobil dinasnya menuju ke satu tempat, tanpa di duga ia melewati jalan tempat toko galery Sari.
Sekilas ia masih dapat melihat jika mobil brio kecil itu terparkir disana.
"Rio??"
"Iya pak??"
"Berapa biaya ganti rugi, Sari???"
Rio mendengar dengan heran.
"Biaya apa pak???"
Kening Aldi berkerut.
"Biaya yang Sari minta untuk membayar ganti rugi karena kunci mobilnya sudah saya buang..." jelas Aldi mengingat waktu itu.
Rio kian bingung dengan penjelasan sang atasan.
"Sepertinya tidak ada pak"
"Hah??"
"Iya, mbak Sari tidak bicara apa pun pada saya.."
Deg.. Aldi terhenyak.
"Dia tidak minta apa pun??"
"Tidak pak.." jawab Rio yakin.
"Bahkan malam itu ketika saya tawarkan untuk mengantarkan, mbak Sari menolak.."
Aldi kian tercengang.
"Sari..." bisiknya pelan.
"Pak, jadwal pagi anda akan ke Xxx..."
"Hm.."
"Tiket dan penginapan sudah disiapkan.."
__ADS_1
"Baiklah.." jawab Aldi menghela nafasnya. Tugasnya memang sudah mengunung.