
Setelah beberapa menit lepas landasan, Sari merasa kikuk duduk di samping pak Bupati. Ia ingin membuka pembicaraan namun takut salah.
Aldi pun merasakan hal yang sama, entah mengapa ia ingin membuka obrolan bersama Sari.
"Sari???"
"Pak???"
Keduanya sama-sama kaget hingga tanpa sadar keduanya tersenyum lucu melihat kebodohan masing-masing.
"Bagaimana kabar Sifa??"
"Baik.. Sifa baik-baik saja" sahut Aldi.
Sari sedikit tenang.
"Kamu??"
"Sa-ya?? saya baik-baik saja pak.."
Diam sesaat keduanya memikirkan hal yang ingin di bicarakan namun tak kunjung menemukan acuan.
Hingga akhirnya keduanya sama-sama diam selama perjalanan tanpa berani membuka obrolan lagi.
Keduanya diam di sepanjang 45 menit pesawat terbang.
Setiba di bandara pun, Aldi berlalu pergi dengan cepat, meninggalkan Sari begitu saja. Karena ia ragu untuk menawarkan bantuan atau apa pun itu pada Sari yang terlihat menjaga jarak dengan dirinya.
Ketika ia hendak keluar dari bandara, tiba-tiba sosok yang sangat ia kenal pun muncul.
"Mas Aldi???" sapanya dengan berjalan menuju Aldi.
"Bayu??"
"Mas baru sampai??" sambut Bayu dengan hendak meraih gagang koper Aldi.
Aldi menghindari, ia tak suka dengan sikap pelayanan Bayu.
"Kamu kok bisa ada di sini??" tanya Aldi sinis.
"Ah, saya mau ikut Mas untuk rapat proyek besok"
"Kamu mau curi start??"
Bayu kikuk mendengar tebakan Aldi yang tepat.
Aldi menghela nafas jenggah, rasa-rasanya gerak geriknya sudah di pantau.
Aldi berjalan melewati Bayu. Bayu dengan ragu-ragu mengikuti langkah Aldi bak ajudan.
"Mobilnya ada di sebelah sana, mas" Bayu bahkan sudah mempersiapkan mobil untuk penjemputan Aldi.
__ADS_1
Aldi tak bisa mengelak, karena Bayu begitu antusias.
Mobil Bayu pun tanpa sengaja melewati tempat antrian penumpang Taksi. Dan tanpa sengaja mata Aldi melihat sosok Sari berada di antara antrian itu.
Dan mobil itu pun berlalu begitu saja dengan Aldi yang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Setiba di Horizon hotel, Aldi cek in di kamar Vip.
Ia melihat suasana hotel yang begitu tenang. Namun terlihat beberapa pelayan begitu sibuk dengan berlalu lalang.
"Sepertinya besok ada pesta pernikahan" ujar Bayu.
Aldi mendengar tanpa komentar. Baginya itu bukan urusannya.
***
Di sisi lain Sari tiba di hotel Horizon sore hari setelah di jemput oleh salah satu crew WO.
Ia di bawa berjalan-jalan oleh sang crew WO yang bertanggung jawab untuk mengurus tukang make up sang pengantin.
Sari juga sempat ikut meeting kecil para crew WO yang menjelaskan proses acara dan jadwal acara.
Sari mencatat beberapa hal penting di bagian dirinya, yaitu waktu saat sang pengantin menganri pakai kedua dan permintaan sang pengantin yang ingin make up ke dua lebih Look Farewell, mengingat acara akan pesta akan diselenggarakan malam hari.
Sari harus bisa mengerjakan hal itu dengan sempurna.
Namun Sari meminta asisten pada pihak crew untuk membantu dirinya saat pengantin menganri pakaian kedua yang berubah gaun bak cinderella.
Setelah meeting panjang dan makan-makan singkat.
Akhirnya menjelang malam baru lah Sari benar-benar bisa menikmati kamar hotel yang susah di booking oleh pihak WO.
Kamar tipe Dulax dengan tempat tidur besar membuat Sari mencampakkan dirinya diatas tempat tidur.
Sari pun menghela nafas panjang.
"Capeknyaa..." keluh Sari panjang sembari memejamkan matanya.
Hening, sesaat Sari hampir saja tertidur. Namun tiba-tiba suara bel kamarnya berbunyi.
Tingtong..Tingtong..
Sari terbangun dan lompat dari tempat tidurnya untuk bersegera membukakan pintu kamarnya.
Ceklek..
Dan seorang wanita berseragam crem WO berdiri di hadapannya.
"Maaf mbak Sari.. Saya lupa kasih ini buat mbak" ujar wanita itu sembari memberikan dua bungkus plastik pada Sari.
Sari meraih dengan bingung.
__ADS_1
"Ini apa mbak??"
"Cemilan mbak, takut mbak lapar" jawab wanita itu
Sari mendengar sembari tersenyum kecil.
"Makasih mbak.."
"Kalau begitu saja permisi, mbak"
Sari mengangguk sopan, sembari menutup pintu kamarnya.
Namun di sisi lain Bayu terpaku mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Sari???" bisik ya pelan yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya.
**
Keesokan paginya.
Sari terlihat fokus menggunakan keahlian make upnya untuk menoles sang pengantin wanita yang sangat ramah.
Penangtin wanita benar-benar menyerahkan seluruh kepercayaan pada keajaiban jemari-jemari Sari.
Pagi ini akan di adakan akad nikah. Bersyukur WO yang bertanggung jawab begitu baik. Sehingga Sari benar-benar nyaman dalam bekerja.
Setelah berdandan selama hampir 2 jam, sang pengantin wanita pun siap.
Sari lega untuk kali ini. Sang pengantin wanita puas akan hasil makeup yang lembut dan membuatnya anggun.
Senyum Sari terkembang lega karena ia dapat menyelesaikan tepat waktu.
Sang pengantin wanita segera di boyong keluar dari kamar rias menuju tempat acara yang masih berada di dalam gedung hotel tersebut.
Sari pun akhirnya bisa bernafas sejenak, sembari mengumpulkan tenangannya lagi untuk make up ke dua.
Tiba-tiba Sari merasa perutnya lapar. Ia melihat sekeliling kamar yang sedikit berantakan dan ada seorang asisten crew WO yang tengah berbenah.
"Neta?? sudah sarapan??"
Wanita muda itu terkejut.
"Ah, saya sudah Mbak Sari.. tadi subuh buta sama anak-anak dibawah" jelasnya sembari merapikan beberapa alat make up Sari.
"Hm, begitu yaa.. saya laper nie.. saya tinggal sebentar bisa?"
"Oh, boleh mbak.. silahkan.."
"Makasih ya Neta.. maaf yaa jadi repotin"
Neta hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
Sari meraih tas dan handphone miliknya lalu pergi meninggalkan kamarnya yang sudah agak berantakan itu.