
Berselang tiga hari.
Sari kembali datang kediaman rumah dinas Bupati Aldi. Kali ini ia membawa sedikit oleh-oleh berupa sekotak Brownis donat yang ia pesan dari salah satu pelanggan yang setia memakai jasa make upnya.
Tapi ternyata kedatangan Sari di hadapan oleh satpam penjaga rumah dinas.
"Maaf mbak, kita dapat perintah.. kalau mbak, tidak di izinkan masuk.."
Sari terkaget. Ia berpikir lama ketika berada di teras rumah dinas itu.
Namun tak lama, terlihat Liana dan ibu Aldi datang menghampiri Sari.
"Ternyata bener yaa kata tante, kalau perempuan ini gak tau malu banget, rutin datang kesini secara teratur, maksudnya apa coba?? saudara bukan?? pekerja bukan?? kamu ada niat apa datang kerumah mas Aldi?? ngarep yaa bisa jadi istri Bupati???" sindir Liana sinis.
Sari terhenyak mendengar sindiran Liana. Ibu Aldi melihat dengan sinis pada Sari dan bawaan yang berada di tangannya.
"Jika niat kamu untuk mengoda anak ku, maka sebaiknya kamu ngaca.. putra ku tidak akan pernah suka pada perempuan miskin seperti kamu.."
Jleb.. kata-kata sindiran itu mulai melukai harga diri Sari.
"Bener tante, tante harus tau.. ternyata dia ini dulu mantan pacar mas Bayu.. ibu mas Bayu bilang kalau dulu mas Bayu banyak kena tipu dari perempuan ini, sampai dia berani pinjam uang mas Bayu 280 juta di pakai buat di foya-foyain.." tuding Liana sinis.
Sari mengepalkan jemarinya dengan kuat.
"Makanya tante, kayak dia sengaja manfaatin Sifa biar bisa dapetin mas Aldi" sambung Liana pedas. "Apa lagi kerjanya cuma tukang make up murahan.." cibir Liana yang kian di atas angin menghina
Sari kian meradanng ketika masalalu dirinya di ungkit dengan cerita yang salah.
"Ooh, jadi kamu memang mengincar pria kaya yaa.. Huuufft, dasar rubah betina!!" tuding ibu Aldi kejam.
Sari sudah berada di batas sabar ya.
"Baiklah, saya memang rubah betina, tapi saya bukan perempuan rendahan" ujar Sari sembari meraih handphonenya lalu menekan nomor telfon yang menjadi sumber bukti.
" Ngapain kamu??" tanya Liana judes.
"Mau telfon Aldi?? berani kamu yaa?" ujar ibu Aldi berang.
__ADS_1
Dan nada sambung itu pun tersambung lalu dengan cepat Sari mengubah mode pada volume spaker.
"Hallo?? Sari??" terdengar suara pria yang membuat Liana terkaget.
"Mas Bayu??"ucapnya berbisik.
"Bayu?? kapan kamu bayar utang 280 juta??" tanya Sari dengan nada dingin dan menghilangkan rasa hormat pada pria yang lebih tua 5 tahun di atasnya.
"Sari?? aku kan sudah bilang, aku pasti bayar uang kamu, kontan 280 juta itu, pasti.. pasti akan aku bayar utang itu" jawab Bayu dari sebrang telfon dengan nada gusar.
Deg.. Liana terhenyak ketika mendengar jawaban gusar sang suami tentang utangnya.
Setelah puas melihat ekspresi kaget Liana tentang fakta sebenarnya, Sari pun memutuskan komunikasi itu begitu saja.
"Sudah dengar??? jadi kau bisa menilai sendiri seperti apa suami mu itu, Liana" balas Sari dingin.
Ibu Aldi melihat ekspresi Liana yang serba salah.
"Dan nyonya, saya tidak pernah berpikir untuk dekat atau mengoda putra anda.. karena saya tidak akan pernah menyukai pria yang kehidupannya di atur oleh sang ibu seperti anda" sindir Sari tajam.
"Kamu!!" Ibu Aldi meradang ketika mendengar ucapan sindiran Sari yang sangat tidak sopan.
"Tante??" seru Liana.
Ibu Aldi berang.
"Kamu gimana sih??? suami kamu itu gimana?? bisa-bisanya ngutang sama perempuan??" cecar ibu Aldi kesal pada sang keponakan yang sudah mempermalukan diri di hadapan rubah betina, Sari.
"Ya kan, Liana gak tau kalau itu rupanya mas Bayu yang ngutang sama dia.." ujar Liana serba salah. Ia kesal dan akan marah besar pada Bayu yang punya rahasia lain di belakangnya.
Ibu Aldi menatap tajam pada mobil brio yang akhirnya pergi meninggalkan rumah dinas Aldi.
Lalu ibu Aldi melihat pada dua satpam itu.
"Lain kali, jangan biarkan mobil itu masuk lagi... kalau sampai mobil itu masuk, maka kalian akan saya pecat.. ngerti!!" perintah ibu Aldi tegas.
Kedua satpam itu seketika menganggu cepat.
__ADS_1
"Baik buk.."
"Jaga yang bener, jangan makan gaji buta!!" sindir ibu Aldi dengan hendak berlalu pergi.
Namun tanpa terduga Sifa datang.
"Mama??? mama??" panggil Sifa mencari sosok mama khayalannya itu.
Ibu Aldi menghadang dan menarik Sifa dengan kasar.
Sifa terjegat kaget ketika berhadapan dengan sang nenek.
"Mama??? kamu cari mama khayalannya kamu itu??"
Sifa diam dengan tak berani menjawab.
"Dia gak akan kemari lagi, dia udah capek sama kamu yang bandel dan rewel.. dia gak suka sama kamu yang manja dan bodoh!!" cecar ibu Aldi penuh intimidasi pada Sifa.
Sifa terlihat bergetar, mental yang down.
Tiba-tiba seorang wanita muda berparas cantik keluar mencari Sifa.
"Sifa??? kamu kok disini, mama Alia kan capek cari kamu" seru wanita muda itu dengan meraih Sifa yang terpaku.
Wajah ibu Aldi seketika berubah lembut.
"Ayo, Sifa.. nurut sama mama Alia.. kasian loh mama Alia cari kamu dari tadi.. ayo sana, main lagi" ujar sang nenek lembut.
Lengan Sifa di raih oleh wanita muda dan membawanya kembali kedalam rumah. Namun wajah sedihnya terlihat jelas mencari sosok mama yang ia inginkan.
"Mama?? mama Sari, jangan tinggalin, Sifa" bisik batin Sifa lirih menatap luar rumah dinas itu yang kini tak tampak sosok itu lagi.
***
Di sisi lain.
Sari memakirkan mobil Brio mugilnya di tepi jalan. Dan terlihat kini Sari menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Sungguh hinaan yang ia terima telah melukai harga dirinya.