Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
68


__ADS_3

Di bandara.


Sari baru akan cek in tiket penerbangannya, namun ketika ia masih di posisi antrian terlihat seorang gadis muda tengah berwajah gundah dan gelisah menunggu.


Satu persatu para penanggu antrian pun bertemu pada mbak yang melayani tiket mereka. Dan ketika tiba pada saat giliran Sari, ia pun menyerahkan kode dari aplikasi.


Setelah membereskan persoalan tiket, kini Sari membawa tasnya bersama menuju gate yang telah di tulis pada tiket.


***


Di hadapan seorang wanita hamil, Aldi mematung.


"APA??"


"Tolong anda mengerti pak, Sari sudah cukup banyak menderita.. jadi biarkan ia pergi"


"Kau menyuruh aku mundur??"


"Itu yang terbaik dan Sari tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, di melakukannya untuk kebaikan anda.."


Aldi berdecak dengan tidak percaya.


"Ah, aku bisa gila..aku bisa gila tanpa Sari!!" ujar Aldi dengan kedua mata tajam menatap Lisa. "Kau tidak tau.. bahwa yang ia takutkan malah kini sudah ia dapatkan.."


Wajah Lisa berubah bingung.


"Katakan??? atau Kau akan menyesal karena membiarkan temanmu itu terus bersedih sendiri.."


Lisa terjegat bimbang dalam perkataan sang Bupati.


Melihat Lisa yang diam, Aldi pun tak akan tinggal diam.


"Baiklah, aku akan cari dengan caraku sendiri!!" ujar Aldi bernada penuh penekanan.


Sang Bupati pun membuka pintu itu dengan kasar seolah pintu akan runtuh jika lebih kuat lagi di kemarahan sang Bupati tumpahkan.


Lisa masih berpikir dalam bimbangnya.


Lalu tak lama ia berlari kecil untuk mengejar sang Bupati yang terlihat tengah sibuk dengan handphonenya.


"Bali!!" seru Lisa dari depan pintu toko.


Aldi berbalik.


"Ia akan terbang ke Bali.. "


Seketika wajah Aldi lega dan terlihat seingai kecil di wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan ingat jasa baikmu , Lisa" ujar Aldi yang seketika berlari menuju mobil dinasnya yang telah di jaga oleh beberapa pengawalnya.


"Bandara!!" perintah Aldi. Dan tak lama ia melihat Rio. "Telfon Angkasa Pura.. sekarang!!" perintah Bupati dengan arogannya.


Dan iring-iringan mobil Bupati itu pun berlalu pergi menuju Bandara.


"Maafkan aku Sari.. Aku.. aku hanya mengikuti insting ibu hamil, dan aku harap ini benar!!" bisik batin Lisa gelisah dengan keputusan yang telah memberi tau sang Bupati.


***


Didalam mobil dinasnya, Aldi yang menyetir sendiri mobil dinas itu pun tak bisa menahan untuk tak menekan gas lebih dalam lagi, agar laju mobil lebih cepat melesat membelah jalan ibu kota.


Dalam kalutnya, kembali terbayang isi surat Sari yang membuat dunia Aldi hancur.


Teruntuk Bupatiku Aldi Munandar..


Bagaimana dengan tugas negara mas hari ini?? Sari berharap mas selalu dapat menyelesaikan semua tugas itu dengan baik dan bijaksana.


Ini adalah satu kado kecil yang dapat Sari berikan, entah itu sebagai benda berharga atau sebagai kenangan yang akan mas simpan.


Mas.. bisakah mas melepaskan Sari??


Setelah menimbang cukup lama, Sari tak bisa, hati Sari merasa tak bisa melakukan hal ini.


Setelah melihat pertentangan yang membuat ibu mas marah, Sari memilih untuk mundur.


Uang bisa di cari, ilmu bisa di gali.. tapi kesempatan berbakti pada orang tua tak akan pernah kembali..


Jadi.. tolong mas kembali pada ibu mas, beliau sangat membutuhkan mas saat ini. Temani ibu mas selagi masih ada.


Sari akan mendoakan yang terbaik untuk mas, Sifa dan ibu mas.


Terima kasih, Bupatiku.. mas adalah pria yang luar biasa yang pernah Sari temui, pertemuan kita yang singkat cukup berkesan dan tak akan Sari lupakan.


Selamat tinggal, Bupatiku..


Salam sayang dari rakyatMu, SariSartika.


"Tidak aku izinkan kau pergi Sari!! kemana pun aku akan mencari mu!!" gumam batin Aldi yang kian menekan gas hingga menyentuh 100/km.


***


Dan kini Sari tengah membeli sebuah minuman kaleng dari mesin minuman. Pikirannya jatuh pada nescafe, entah mengapa ia ingin merasakan kopi.


Namun tanpa sengaja ia melihat beberapa iklan reklame di dinding Bandara. Terlihat wajah Aldi terpasang di sana. Senyum pria itu terlihat jelas berwibawa.


Sari hanya terpaku pada senyum Aldi, dan sekilas ia mengingat kenangan malam di pesta rakyat yang membuat keduanya jadi dekat.

__ADS_1


"Ah, dimana-mana ada wajah mas Aldi!!" seru Sari menyadarkan dirinya sendiri.


Lalu ia berjalan menuju arah gatenya lagi sembari menuntun kopernya bersama.


Langkah berubah ringan namun hatinya masih terasa berat.


Ketika tiba di gate yang di tuju, Sari sedikit menghela nafas pelan. Dan ternyata suasana di luar hujan.


"Ah, semoga tidak ada delay" doa Sari sembari mencari tempat duduk di gate tersebut.


Namun ketika Sari duduk, tak sengaja ia mendengar dua orang sedang membicarakan hal yang mengusik perhatian Sari.


"Sayang sekali, padahal dia sudah memohon-mohon tapi tiket sudah penuh.."


"Iya, katanya ayahnya dalam kondisi kritis makanya ia butuh pesawat jam ini.."sambung seorang wanita paruh baya.


Deg.. Jantung Sari bergetar, seolah ia mengingat dirinya saat itu.


Tanpa pikir panjang Sari langsung mendekat pada kedua orang yang sedang bercerita itu.


***


Aldi tiba di sana dengan terburu-buru turun dari mobilnya.


Namun belum sempat Aldi jauh, Rio mengejar sang Bupati.


"Pak!!" serunya menahan orang nomor 1 itu.


"Ada apa??" tanya Aldi kesal pada sang Ajudan.


"Ini.." seru Rio memberikan topi dan masker pada sang Bupati.


"Terima kasih!!" Aldi menerima dengan berat, jabatan ini benar-benar mengenang langkahnya. Ia mengenakan masker dan topi itu lalu kembali mencari tujuan.


Rio hanya bisa melihat punggung sang Bupati yang langsung mendapat reaksi dari para pengunjung di sana. Dan Rio pun segera membuka aplikasi yang sudah penuh dengan jadwal penerbangan ke Bali dari berbagai maskapai.


Rio bertindak cepat dengan menelfon seseorang yang Intel yang sudah memiliki keahlian mencari informasi.


"SariSartika dengan NIK 000000000000000, cari dia segera!!" perintah Rio sebagai Ajudan Bupati.


Aldi mencari dengan ngingat ciri-ciri Sari.


Setelah hampir 45 menit mencari informasi, tiba-tiba handphone Aldi bergetar dari balik sakunya.


Aldi mengangkat telfon dari Rio tersebut, dan tampaknya wajah Aldi berubah syok.


"Pesawat mbak Sari sudah terbang.." pesan yang di berikan Rio telah membuat segala harapan Aldi sirna.

__ADS_1


Gadis itu sudah pergi, pergi meninggalkan dirinya disini seorang diri di antara keramaian para pengunjung Bandara.


__ADS_2