Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
26


__ADS_3

Sore harinya setelah menemani Sifa makan dan minum obat. Sari duduk di sisi tempat tidur Sifa dengan membelai wajahnya.


"Sifa?"


"Ya"


"Boleh.. mama pulang dulu??" tanya Sari berhati-hati.


Sifa menoleh dengan wajah sedih dan tangannya ikut memegang erat ujung baju Sari.


Sari terteguh.


"Be-sok.. mama akan ke sini lagi untuk temani Sifa"


Wajah Sifa kian tak rela.


Sari menghela nafas pelan. Lalu ia turun untuk bisa rebahan di samping Sifa.


"Sifa, anak yang baik.. mama juga butuh istirahat sayang.. jadi.. gantian Bapak!!" ucap Sari terhenti kaget.


"Ah, maksudnya Papa yang jagain Sifa, oke??" pinta Sari lembut.


Sifa terlihat enggan, ia tak mau di tinggalkan oleh Mama Sari.


Aldi pun mendekat lalu duduk di samping ranjang sang putri.


"Sayang.. biar ma-ma" ucap Aldi yang terasa janggal untuk panggilan wanita muda ini.


"Biar ma-ma Sari pulang.. ma-ma juga butuh istirahat, besok ma-ma Sari akan balik untuk temani kamu lagi disini"


"Janji??" tanya Sifa pada Sari.


"Hm, ya mama janji"

__ADS_1


"Kalau gitu peluk Sifa dulu" pinta Sifa yang tiba-tiba.


Sari terkaget dan merasa canggung. Begitu pu Aldi yang merasa tak enak karena permintaan sang anak. Hingga perlahan Aldi pun bangun dan pindah dari duduknya itu, agar Sari dapat memeluk sang putri.


Sari mendekat dengan merangkul erat tubuh Sifa.


"Minum obat dan tidur ya sayang, biar cepat sembuh" pesan Sari berbisik di pundak Sifa.


"Iya, mah" jawab Sifa dengan mencium aroma harum sang mama.


Pelukan pun tererai. Sari tersenyum hangat pada Sifa. Lalu sekilas ia melihat pada Aldi dan wajahnya pun langsung berubah canggung.


Sari beranjak pergi. Namun tanpa di duga Aldi mengantar ya sampai di depan pintu kamar.


Sari yang menyadari hal itu terlihat sungkan.


"Sa-ri, permisi dulu ya pak"


"Ya" jawab Aldi dengan nada tegas seperti biasanya ketika ia menjawab pada sang bawah.


Aldi hanya menatap punggung wanita yang berjalan kian menjauh dari tempatnya.


Namun tak beberapa lama, sebuah telfon masuk yang sedikit menyadarkan Aldi dari lamunya.


Aldi menatap layar handphone barunya dengan kening berkerut.


"Hallo??" sapa Aldi dengan nada tegas.


Sesaat Aldi terpaku tanpa bisa berkata, berita dari sebrang telfon itu benar-benar mengejutkan dirinya.


"I-ni benar-benar keterlaluan" seru Aldi marah dan komunikasi itu pun putus begitu saja.


Dan tak lama terlihat dari kejauhan jika sang Ajudan berlari kecil menuju kamar Super Vip itu.

__ADS_1


Wajahnya begitu gusar.


"Maaf pak" seru Ajudan dengan memberi surat pada Aldi yang masih memegang handphonenya.


"Apa ini??" tanya Aldi curiga.


Ajudan tak bisa menjawab wajahnya tertunduk dalam.


Aldi dengan cepat membuka amplop surat resmi milik negara itu.


Ia pun membaca cepat isi surat.


Terpaku, wajah Aldi mengeras rahangnya tergerat kekesalan yang terlihat jelas.


"Kapan surat Mendagri ini di kirim?"


"Siang tadi Pak" jawab sang Ajudan.


"Apa??"


Sang Ajudan kian tak bisa menahan rasa kaget sang atasan. Lalu dengan wajah gusar ia pun harus menyampaikan berita yang pasti menambah ke terkejutan sang wakil Bupati.


Aldi kian syok.


"Para anggota Dewan sudah bersiap tanpa memberi tau anda, dan siang besok acara pelantikan anda sebagai Bupati Baru akan dilaksanakan di aula kantor Bupati" papar sang Ajudan dengan terlihat jelas raut wajah sang Bupati bari yang masih terkejut.


Wajah gusar Aldi kian jelas. Namun jika ia menolak juga bukan satu solusi. Karena ada kepentingan pihak partailah yang memaksa ya harus bertahan.


Aldi menghela nafas gusar. Sekilas ia menoleh pada pintu kamar super VIP tersebut. Terlintas jelas wajah Sifa yang akan kian jauh dari dirinya.


"Pak" seru sang Ajudan menunggu perintah.


Aldi meremas surat resmi milik negara itu dengan menahan amarahnya.

__ADS_1


"Lakukan, kita ikuti saja permainan anggota Dewan itu.. kita akan lihat siapa yang akan lebih berkuasa" tutur Aldi dengan menyimpan kemarahan pada anggota Dewan.


__ADS_2