
Keesokan paginya.
Sari menjalani aktivitas seperti biasa toko galery make upnya. Dan setelah selesai memakeup kan 7 orang wisudawati, terlihat Sari dan Lisa menikmati waktu lelah mereka dengan secangkir teh hangat. Namun kali ini ia harus siap menerima cecaran pertanyaan yang bertubi-tubi dari Lisa.
Rasa penasaran sang sahabatnya itu benar-benar tak bisa dibendung. Lisa masih tak percaya jika kini Sari menjadi pengasuh dari putri orang nomor 2 tersebut.
"Jadi lo pasti di bayar mahal dong sama pak Wakil buat jaga anaknya"
Sari yang baru saja menghabiskan teh di cangkirnya itu pun sedikit kaget mendengar ucapan Lisa.
"Ah, enggak" sahut Sari santai.
"Enggak??"
"Iyya, gue gak ambil apa pun dari pak Wakil, cuma tulus aja buat Sifa.. gue gak minta imbalan apa pun" jelas Sari apa adanya.
Lisa terbengong tidak percaya.
"Serius lo?"
"Hm"
"Waah, rugi banget.. kenapa lo gak minta aja.. ya berapa kek, lagian pak Wakil apa laah duit apa lagi buat anaknya yang lagi sakit" tukas Lisa yang menyesali penolakan Sari.
Sari terlihat berpikir.
"Gue gak mikir gitu sih, yaa walau pun benar pak Wakil punya uang banyak, tapi gue gak ukur dari uang.. hati nurani gak bisa di tukar dengan uang, dan gue tulus mau menjaga Sifa yaa karena gue sayang aja sama tuh anak" tutur Sari.
Lisa kian terbengong mendengar penjelas bijak sang teman yang terdengar tulus.
"Lo gak liat sih waktu itu kondisi Sifa.. ukh.. pasti lo juga gak akan tega" sambung Sari menggambarkan sekilas kejadian saat itu.
"Gue rasanya gak tega liat tuh anak" ujar Sari sembari menghela nafas pelan.
Lisa pun ikut menghela nafas.
"Jiwa keibuan lo keliatan banget" seri Lisa dengan meletakkan cangkir teh miliknya.
Sari hanya menyeringai kecil.
"Namanya juga perempuan, pasti adalah rasa simpati tiap liat anak kecil yang kesakitan begitu" sambung Sari santai.
Namun tak lama, terdengar pintu toko gelery itu di ketuk.
Tok..tok..
Sari dan Lisa sama-sama menoleh.
"Siapa??" tanya Sari dengan kening berkerut.
"Apa masih ada jadwal make up, jam segini??" sambung Sari dengan melihat jam tangannya masih jam setengah 9 pagi.
Lisa hanya mengangkat bahu.
"Gue rasa enggak deh, hari ini jadwal kita cuma anak wisuda aja" jawab Lisa dengan beranjak bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu toko yang sedikit tertutup pintu besi.
Lisa membuka pintu itu dengan sedikit mengeluarkan tenanganya.
Greeeeek..nyiiit.. bunyi pintu besi itu terbuka dengan bunyi karatan yang nyaring.
Pintu terbuka dan terlihat sosok pria berpakaian berseragam putih itu berdiri di hadapan Lisa. Kedua mata Lisa terpaku ketika menatap sosok yang baru saja di bahas.
"Panjang umur" bisik Lisa spontan karena melihat sosok pak Wakil Bupati telah berdiri didepan toko sederhana mereka.
Kening Aldi berkerut.
"Mana Sari??"
Lisa seketika tersadar.
"Ah, Sa-ri.. ada pak, ada" ujar Lisa terbatah-batah sembari mempersiapkan orang nomor dua itu masuk kedalam toko sederhana itu.
Aldi masuk melewati Lisa yang masih terbengong tak percaya bisa melihat orang penting kini ada disini.
Sari terkaget ketika melihat sosok orang nomor dua itu masuk dan berjalan menuju tempat sofanya.
"Pak??" seru Sari yang seketika bangun dari duduknya.
Aldi menatap wajah Sari dengan serius.
Sari kian bingung ada hal apa sampai pria ini datang ketekunan sepagi ini, karena ia mengingat jika ia akan kerumah sakit menjaga Sifa di waktu siang.
"Sari???"
"Ya??" sahut Sari kaget.
Aldi terlihat hendak memberi tau hal penting dengan wajah khawatir.
"Ada apa, pak?" tanya Sari yang membaca raut wajah gusar Aldi.
Dengan berat Aldi pun membuka suara.
__ADS_1
"Pagi ini, saya ada acara yang sangat penting.." ujar Aldi mengangtung ragu.
"Jadi, bisa kah kamu lebih awal untuk menjaga Sifa" sambung Aldi dengan rasa ragu.
Sari berpikir lalu dengan spontan mengangguk pelan.
"Hm, baik lah pak.."
Dan seketika wajah Aldi terlihat lega ketika mendengar jawaban Sari.
"Saya minta maaf, karena.. karena saya sudah meminta waktu kamu lebih cepat" turur Aldi merasa sungkan.
Sari hanya tersenyum tipis.
"Gak papa pak, kebetulan pekerjaan make up saya juga sudah siap dari tadi" sela Sari.
Aldi menghela nafas lega ketika mendapat sambutan yang cukup baik dari Sari.
"Kalau begitu, kamu akan di antar langsung oleh Ajudan saya kerumah sakit" ujar Aldi.
Sari terkaget lalu dengan cepat menggelengkan kepala.
"Jangan pak, gak usah.. Sari bisa pergi sendiri, kebetulan ada mobil" tolak Sari.
Namun dari reaksi wajah Aldi terlihat jika ia tak bisa membiarkan waktu terbuang begitu saja.
"Saya rasa tidak bisa kamu pergi dengan mobil di saat seperti ini"
Sari terbengong heran.
"Kenapa gak bisa??"
"Pasti akan terjadi macet parah pada jalan menuju rumah sakit yang melewati kantor Bupati" jelas Aldi yang sudah membayangkan kemacetan menjelang pelantikan dirinya nanti.
"Jadi saya sarankan kamu naik mobil saya saja" tawar Aldi dengan mencoba menyakinkan Sari.
Sari masih berpikir keras sembari melihat jam di tangannya.
"Masa iya sih, macet udah jam segini??"bisik batin Sari berpikir.
"Tolong, kamu ikut saja saran saya.. dan lagi, Sifa masih belum bangun dari tidurnya, jadi itu akan lebih efektif jika kamu tiba di rumah sakit dan berada disana sebelum Sifa bangun" tutur Aldi memberi saran.
Sari menimbang ucapan Aldi, hingga akhirnya ia pun mengikuti saran sang orang nomor 2 itu.
"Hmm, baiklah" jawab Sari sedikit berat.
Aldi pun lagi-lagi melepaskan nafas lega ketika mendapat keputusan Sari yang mengikuti sarannya.
"Hm, saya tunggu kamu diluar"
Sari mengangguk cepat.
Aldi pun berlalu pergi menuju luar toko, sedangkan Sari berjalan menuju meja berukuran sedang yang masih sedikit berantakan karena alat make up bekas pertempuran tadi subuh belum di bereskan.
Tanpa di duga Lisa jalan menghampiri Sari. Ia ingin tau ada perihal apa sang orang nomor 2 itu datang ke toko mereka pagi buta dengan pakaian resmi itu.
"Lo mau kemana?"
"Gue mau kerumah sakit" jawab Sari dengan melepaskan kabel carger handphonenya dari tempat colokan listrik, lalu mengulurng kabel itu dan memasukkan ya kedalam tas.
"Kerumah sakit?" ulang Lisa bertanya.
"Iyaa, gue diminta jaga Sifa lebih cepat sama pak wakil"
Lisa seketika langsung paham dengan reaksi mulut yang berbentuk O bulat.
Namun, rasa penasarannya masih belum terpuaskan.
"Terus kenapa pak Wakil kesini pakai baju resmi begitu??"
Kening Sari berkerut diikuti bahunya yang ikut terangkat.
"Mana gue tauuu, katanya ada urusan penting pagi ini yang harus dia hadiri"
Dan lagi-lagi reaksi mulut Lisa membentuk O bulat sempurna ketika mendapat jawaban Sari.
"Gue pergi dulu yaa, ini.. gue titip brio gue, kalau lo pulang pakek aja mobil gue jangan minta jemput suami lo dari pada mobil gue di parkir disini terus" jelas Sari pada Lisa dengan memberikan kunci mobil brionya pada Lisa.
Lisa menerima dengan mimik wajah acuh tak acuh.
"Tapi besok pagi lo jemput gue ya?" perintah Sari pada Lisa.
"Oh, beres" jawab Lisa menyetujui hal itu.
"Ya, udah gue pergi dulu.. jangan lupa lo bersin nie tuh meja sebelum pulang" pesan Sari pada Lisa.
Sontak reaksi Lisa bengong.
"Enak bener lo ninggalin tanggung jawab" protes Lisa pada Sari yang sudah jalan.
Sari berbalik dengan mimik memohon.
__ADS_1
"Kali ini aja, please" bisiknya.
Lisa hanya bisa terbengong dengan tingkah sang sahabat yang akhirnya pergi meninggalkan toko itu begitu saja.
***
Sari pun keluar toko dengan melihat keadaan luar tokonya yang seketika berubah ramai dengan banyaknya berdiri para anggota kepolisian yang berjaga-jaga.
Deg.. jantung Sari berdetak takut tiap melihat para anggota polisi.
"Buset..ada apa nie? apa ada razia? atau..???" guman batin Sari sembari melihat kesekeliling dan akhirnya tatapan Sari berhenti pada sosok pria yang terlihat sibuk dengan handphonenya itu.
"Ah, pasti karena anda pak wakil" gumam Sari kecil dengan berjalan menuju sosok orang nomor 2 itu.
Dan Aldi pun memutuskan komunikasi telfonnua itu ketika melihat Sari kini berada di hadapannya.
Tak lama Aldi memanggil sang Ajudan. Dan terlihat pria tegap dengan pakaian safari itu berjalan menghadap sang atasan.
"Tolong, bawa mbak Sari kerumah sakit dengan mobil saya" perintah Aldi yang terdengar jelas oleh Sari.
Sang Ajudan mengangguk paham.
"Dan suruh mobil polisi mengawal mobil saya untuk kerumah sakit, agar tidak terjebak mace" timpal Aldi memberi perintah.
"Baik, pak" jawab sang Ajudan dengan tegas dan berlalu pergi menuju mobil sedan polisi.
Sari merasa tidak percaya jika ia akan naik mobil orang nomor 2 itu dengan pengawalan polisi.
Aldi menatap Sari yang ternyata sudah menatap diri ya sedari tadi.
"Sekali lagi, terima kasih Sari, saya tidak akan melupakan kebaikan kamu untuk Sifa.."
Sesaat Sari terteguh ketika melihat sosok pria dihadapannya ini begitu bersinar dan tampan dengan seragam negara itu.
Sehingga tanpa sadar ia tersenyum manis.
"Ya" jawab Sari singkat.
Tak lama sang Ajudan kembali ke tengah-tengah mereka untuk melapor.
"Pak, mobil sudah siap dan para polisi sudah saya arahkan"
Aldi mengangguk paham. Lalu Aldi pun kembali menoleh pada Sari.
"Berikan Handphone mu" pinta Aldi pada Sari.
"Ah, sebentar" sahut Sari sembari merogoh isi tasnya. Dan tak lama jemarinya mengeluarkan handphone bercasing merah itu lalu memberikannya pada Aldi.
Aldi meraih dengan cepat dan membuka layar, namun ternyata terkunci.
"Passwordnya??"
"Hah?"
Aldi pun medelikkan kedua matanya pada Sari.
Sontak Sari kaget sehingga ia pun dengan cepat menjawab.
"0102"
Aldi pun dengan cepat menekan nomor password itu dan layar pun terbuka. Aldi dengan cepat membuka layar telfon dan mengetik cepat. Lalu tak lama ia mengembalikan kembali handphone tersebut pada Sari.
Sari meraih dengan sungkan dan heran.
"Itu nomor pribadi saya, jadi kabari saya selalu tentang kondisi Sifa hari ini" jelas Aldi pada Sari yang melihat nomor baru di daftar kontaknya.
Sari reflek mengangguk paham. Dan Aldi pun lega.
"Kalau begitu, saya pergi dulu" ujar Aldi pamit.
"Ya.." sahut Sari sungkan.
Dan Aldi pun melangkah di ikuti seorang polisi yang mengawal dirinya.
Namun entah dari mana datangnya keberanian itu, Sari pun seolah ingin memberi semangat pada orang penting itu.
"Pak!!" seru Sari tiba-tiba memanggil Aldi.
Langkah Aldi berhenti lalu seketika menoleh pada Sari yang berdiri beberapa langkah dari dirinya.
"Selamat bekerja, pak.. semangat!!" seru Sari yang spontan memberi dukungan pada orang nomor dua itu.
Aldi yang terkaget tanpa di sangka ia pun tersenyum lebar. Seolah mendapat dukungan tulus dari penolong putrinya.
"Terima kasih" sahut Aldi.
Dan entah mengapa Sari merasa senang melakukan hal itu.
Sang Ajudan mendekat dengan ragu.
"Ayo, mbak kita pergi kerumah sakit" ujar sang ajudan tegas.
__ADS_1
"Ah, ya" sahut Sari yang akhirnya berjalan menuju mobil sedan cemry yang berplat merah itu.