
Setelah pelukan dan tangisan dibandara saat itu.
Keesokan harinya, Sari pun kembali muncul di hadapan toko galerynya.
"Gue.. gue jadi nikah sama pak Bupati" ucap Sari dengan malu-malu.
Lisa hanya bisa menahan gemesnya pada wajah tak berdosa Sari.
"Ah, aku rasa waktu itu hampir gila, lo bayangin ya.. pak Bupati marah besar sama gue.. gila yaa?? lo yang mau kabur tapi gue ikutan kena dampak kemarahannya"
Sari mendengar dengan tawa kecil. Ia sudah dapat membayangkan wajah amarah seorang Aldi Munandar saat itu. Namun kini ia bersyukur pada temannya ini, jika saja Lisa tak memberi tau kemana ia pergi, mungkin perpisahan itu benar terjadi.
"Tapi.. kok lo gak terbang?? lo memang gak jadi atau gimana??" tanya Lisa bingung.
Sari sejenak meningat saat itu.
"Ah, itu.." ia mengingat wajah anak yang sudah ia beri tiketnya. "Hm, sudah lah, yang penting gue kan gak jadi terbang.." elak Sari enggak menceritakan perihal yang membuatnya tak jadi terbang.
Lisa menatap Sari.
"Trus, lo udah ketemu sama ibu pak Bupati??" tanya Lisa.
Sari terpaku.
"Hmm, belum.. kata mas Aldi, nanti saja ketika ibu sudah keluar dari rumah sakit.."
Lisa sejenak berpikir.
"Kasian ya ibu beliau sampai kena kanker otak, tapi ada syukurnya juga sih.. jadi kan lo malah dapat restu"
Sari hanya bisa tersenyum bias, ia pun tak menyangka jika ucapannya malam itu malah membuat ibu Aldi berubah pikiran.
"Oia, lo tau kalau MUA idola lo mengundurkan waktu.." tanya Lisa.
Sari mengangguk.
"Iya.. 1 minggu ini juga gue liat dia gak aktif di sosmed, kenapa yaa??"
Lisa pun ikut penasaran.
"Jadi lo batal dong privat make up sama dia??"
"Batal enggak, tapi di bakal ganti jadwal.. cuma belum pasti, semoga gak pas waktu nikah" harap Sari.
"Loh?? terus uang yang udah lo transfer gimana??"
"Yaa masih, cuma jadi gimana gitu karena kelamaan make up classnya, moga aja adminnya gak lupa untuk hubungan nomor gue"
Lisa mengangguk pelan sembari mengelus perut buncit ya.
Sari tersenyum dan reflek ikut mengelus perut Lisa. Lisa tersenyum.
"Untung aja anak gue kasih kode, kalau enggak kagak tau dah nasib lo sama pak Bupati.." sambung Lisa yang masih mau meneruskan kekesalannya pada Sari pasca gagal melarikan diri dari pak Bupati.
Sari hanya tertawa kecil, lalu dengan pelan mendekat pada perut Lisa yang sedikit telihat buncit.
"Makasih yaa anak pinter, udah kasih kode sama mama cerewetnya ini.. nanti kalau kamu lahir tante bakal kasih hadiah spesial buat kamu.. " ujar Sari dengan mendapat respon tawa dari Lisa.
"Makasih tante, tapi nanti kado ya yang mahal yaa, secara udah ibu Bupati yakan??" seru Lisa bergurau namun hal itu menjadikan keduanya tertawa. Akhirnya cerita cinta Sari pun akan berakhir bahagia bersama pria nomor 1.
__ADS_1
***
Waktu berjalan begitu cepat, persiapan untuk acara pernikahan Sari dan Aldi telah 80% siap.
Aldi bahkan sengaja memadatkan aktivitas rapatnya agar bisa mengurus cuti lebih lapang. Ia meminta cuti hingga 1 minggu.
Sari pun ikut sibuk dengan menyiapkan semua kebutuhan nikahnya sendiri. Namun di sela-sela itu ia sering bertemu dengan Sifa. Ia membawa serta anak tirinya ketika menyiapkan urusan pernikahan.
Sifa begitu riang dan senang. Ia bahkan antusias ketika membantu sang mama tiri memilih-milih hal yang akan mereka kenakan saat acara nanti.
***
Namun 2 minggu sebelum acara pernikahan itu akan di gelar.
Di satu siang Sari membawa ibu pergi bersamanya.
Setelah berbelanja dan membawa ibu kebeberapa toko pakaian, akhirnya Sari membawa Ibu kesatu kompleks perumahan.
Ibu tak bertanya ketika Sari membawa dirinya ke perumahan bagus itu.
Hingga tak lama roda mobil brio mungil Sari pun berhenti di salah satu halaman rumah.
Ibu tampak bingung.
"Sari?? kita mau bertamu kerumah siapa??"tanya ibu dengan menoleh pada putrinya.
Sari tersenyum kecil.
"Ayo, kita turun dulu buk.." ajak Sari dengan membuka pintu mobil.
Ibu terlihat bertanya-tanya namun dengan ragu akhirnya ia turun juga.
"Ayo, buk.. sini" ajak Sari yang ternyata sudah masuk kedalam pekarangan rumah tersebut.
"Kita kerumah siapa?? aduh.. kamu ini, ibu mali gak bawa buat tangan" rutu ibu pada Sari yang hanya tersenyum. Hingga langkahnya pun berhenti henti tepat di samping sang anak.
Namun tak lama, Sari mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu ia memegang daun pintu rumah itu.
"Sari???" seru ibu gusar.
Dan terdengar bunyi kunci di buka dua kali.
Ibu tampak terkaget.
"Selamat datang dirumah baru, ibu.." ucap Sari sembari membuka lembar pintu rumah itu.
Ibu terlihat syok.
"Apa??"
Sari mendekat dan menarik lengan ibu.
"Ini adalah rumah ibu.." ujar Sari tersenyum lembar.
Ibu tak bisa lagi menjelaskan ekspresi wajah terkejutnya, hingga akhirnya ia menangis dan berakhir turun untuk sujud syukur pada yang Maha Kuasa.
Sari terlihat terharu hingga tanpa sadar ikut menitikkan air mata.
Setelah beberapa detik bersujud, akhirnya ibu bangun dengan derai air mata.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu lakukan ini sama ibu??" ujar ibu bernada marah tapi senang.
Sari hanya bisa tertawa kecil dalam tangis bahagia.
"Semua berkat doa ibu.. sari bisa membeli ini" jawab Sari dengan menyeka air mata ibunya.
"Sari??" seru ibu terharu.
"Ayo, Sari akan perlihatkan rumah baru ibu.." ajak Sari dengan mengandeng lengan ibu yang masih menangis haru.
Pintu terbuka dan terlihat luas rumah yang begitu rapi dan bagus. Beberapa sudah ada prabotan rumah seperti sofa sederhana meja makan untuk 4 kursi juga sudah terpasang gorden minimalis.
"Kamu.. kamu dari mana uang beli rumah ini??" tanya ibu masih tak percaya.
Sari tersenyum kecil lalu ia meraih kedua tangan ibunya. Lalu Sari menatap kedua tangan ibunya.
"Dari sini.. dari doa ibu yang gak pernah putus untuk Sari" jawab Sari haru.
Ibu kian terenyuh dan air matanya pun kembali tumpah seolah tak bisa ia pungkiri semua karena sang anak.
"Sari gak punya apa pun tanpa doa ibu, langkah rejeki Sari semua karena doa ibu, karena Sari yakin berkat doa ibu rejeki itu dengan mudah datang sehingga Sari bisa memberikan ini untuk ibu.."
Ibu melepaskan tangannya dari jemari Sari, lalu membelai lembut wajah putrinya itu.
"Ibu bahagia sekali.."
Seketika raut wajah Sari berubah haru, lalu ia pun memeluk tubuh ibunya dengan dalam.
Dan tangisan Sari tumpah karena rasa leganya, pencampaian mimpinya memberikan sebuah rumah yang layak untuk sang ibu akhirnya tercapai.
Tak lama, pelukan itu tererai dengan wajah tersenyum.
"Sari akan tunjukkan kamar ibu.." ajak Sari dengan mengandeng tangan ibunya.
***
Di lain sisi Aldi tengah membawa sang ibu pulang kerumah Dinasnya.
Dengan mendorong kursi roda, Aldi membawa ibu kedalam kamarnya yang masih saja rapi seperti saat ia meninggalkan rumah putranya.
Aldi menghela nafas lalu berjalan menghadap sang ibu yang masih memperhatikan kamarnya itu. Perlahan Aldi turun untuk berlutut di hadapan sang ibu.
Jemari Aldi menyentuh jemari wanita yang kini terlihat berkerut karena usia. Ia menatap dengan wajah sendu.
"Bu.." seru Aldi lembut.
Ibu terteguh.
"Terimakasih Aldi, kamu.. masih mau menerima ibu di sini" ucap ibu pahit.
Aldi hanya bisa tersenyum tipis.
"Aldi cuma punya ibu dan Sifa.. dan tak lama lagi ada Sari yang akan melengkapi keluarga kita.." ujar Aldi pelan.
Ibu menatap sendu pada wajah putranya yang kini sudah dewasa. Ia masih mengingat bagaimana beratnya membesarkan Aldi seorang diri, ketika sang suami pergi dengan wanita lain.
Tiap malamnya ia hanya bisa memeluk tubuh putranya seorang dengan menahan lelah karena harus bekerja agar sang anak bisa sekolah tinggi.
Tiba-tiba Aldi meraih jemari tangan sang ibu dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
"Doain Aldi selalu ya bu, restu pernikahan Aldi dan Sari, doakan rumah tangga Aldi.."
Tanpa sadar ibu menitikkan air mata bersalahnya pada sang putra. Aldi tak bisa berbuat banyak, ia hanya bangun dan memeluk wanita yang sudah membesarkannya.