
"Jadi tolong lo gantiin yaa.. gue gak bisa.." ujar Lisa memelas.
Sari menghela nafas pelan.
"Yaaa, oke.. tapi lo harus kabarin dulu klien nya, gue takut dia kecewa.. karena dari awal dia mau lo yang make up"
"Iya, pasti gue kabarin pengantinnya.." ujar Lisa.
Lalu Sari memeluk Lisa.
"Selamat yaa, akhirnya lo hamil juga.."
Lisa membalas pelukan Sari dengan senang.
"Makasih yaa, mungkin gue bakal banyak repotin lo.."
"Itu oke..asal pembagian sama rata.." seloroh Sari.
Lisa tertawa kecil.
"Itu pasti, doain gue yaa, semoga hamilnya aman-aman aja.." ujar Lisa sembari mengelus perutnya yang baru di nyatakan hamil 2 bulan oleh sang Dokter.
Sari pun ikut mengelus perut Lisa dengan sayang.
"Aamiin..." sahut Sari dengan iri.
"Lo pasti seneng yaa.."
Lisa memperhatikan wajah Sari.
"Lo juga bisa, tinggal fix kan bapaknya aja.." goda Lisa.
"Ikh, bapak yang mana???" balas Sari cemberut.
"Ya bapak Bupati lah" jawab Lisa.
Sari tercengang.
"Jangan ngacoh deh lo, gak mungkin laah" sela Sari.
"Apa sih yang gak mungkin, kalau Tuhan sudah berkehendak.." balas Lisa.
Sari kian mencibir.
"Udah ah, gue gak mau bahas saling soal pak Bupati.."
"Laah, siapa yang bahas? kan lo yang mancing.." balas Lisa.
"Ikh, lo yaa kalau udah debat sama lo pasti gak akan kelar-kelar.. udah ah.. gue mau susun koper make up dulu buat si bawa besok.."
Lisa tersenyum kecil melihat reaksi sari yang pintar menyembunyikan hati.
Lisa tau jika Sari pasti rindu melihat Sifa dan sang Bupati. Namun Sari menyimpan itu semua, baginya itu satu hal yang tak mungkin mengingat dia hanya orang biasa.
***
Keesokan paginya. Aldi bangun seperti biasa. Dan sebelum berangkat dinas Aldi masuk kekamar sang putri.
Ia terkaget ketika melihat sang putri suddah rapi dan tengah melihat selimutnya sendiri.
"Papa???" seru Sifa.
"Sayang?"
__ADS_1
Sifa tersenyum.
"Sebentar yaa pah.." ucapnya sembari membenarkan beberapa bantal kepala di tempat tidur pinknya.
Aldi terpaku melihat Sifa yang berbeda. Lalu terlihat jika sang putri meraih tas lesnya.
"Yuk, pah.. kita sarapan dulu"
"Oh, iya.." sahut Aldi .
Sifa keluar dengan mendahului sang Papa, lalu berjalan menuju meja makan.
Bibik tersenyum menyambut.
"Mau roti non??"
"Mau bik, terimakasih"
Aldi tiba di kursi dengan terus memandang sang putri.
Sifa menoleh pada sang Papa yang sedari tadi menatapnya.
"Papa gak kerja?"
"Kerja.." sahut Aldi.
"Tapi.. kok Papa gak pakai baju seragam?"
Aldi tersadar dan ia melupakan sesuatu.
"Ah, ini.. Papa lupa.. hari ini Papa ada dinas keluar kota.."
Sifa terdiam.
"Oh, yaa.. gak papa, semoga kerjaan Papa lancar" ujar Sifa tersenyum.
Deg...Aldi mematung. Ia hampir tidak bisa percaya jika sang putri benar-benar tak marah. Tidak seperti waktu dulu yang selalu terjadi derai air mata.
"Kamu, gak papa?"
Sifa terbengong.
"Enggak pah.."
"Gak marah Papa dinas?"
Sifa menggeleng.
Bibik datang memberi roti di piring Sifa.
"Makasih bik.."
"Iya, non.."
Aldi kian sadar, jika putri ya benar-benar telah berubah total.
Ada rasa senang dan juga bangga, namun ia sadar jika sosok yang berperan akan perubahan Sifa adalah wanita itu.
Aldi menikmati wajah tenang sang putri. Sungguh kini gadis kecilnya kian menjadi anak yang benar-benar pengertian.
***
Ditandatangani Sari terlihat berjalan sembari membawa koper make upnya.
__ADS_1
20 menit lagi pesawat yang akan membawanya ketempat tujuan akan terbang.
Ketika Sari sudah berada di dalam pesawat. Ia duduk dengan mencoba nyaman dan mengikat savetybelt nya.
"Huuufft ..." hela Sari menghela nafas panjang mencoba sedikit lega setelah lelah menggerek koper berat.
Ia duduk di samping jendela pesawat.
"Udah lama gak terbang dan jalan-jalan" gumam batinnya bernelangsa.
Tiba-tiba ia menulis di kaca pesawat dengan wajah bias.
Love Bali. Tulis Sari kosong.
Tak lama terdengar suara pramugari wanita.
"Di sini pak.."
"Ya.." sahut suara pria itu.
Sari terkaget ketika mendengar suara yang sangat familyar itu sehingga ia pun menoleh.
Deg.. Sari terpaku ketika melihat sosok sang Bupati kini berada di hadapannya. Pria itu tengah meletakkan mini kopernya di atas kabin.
Sari reflek membuang muka, ia takut jika pria nomor satu itu melihatnya berada di sini.
"Ya Tuhan!!" pekiknya batinnya.
"Please jangan duduk sini, please..." doa Sari memohon.
"A2" gumam pria itu.
"Benar pak.., silakan.." ujar pramugari wanita itu ramah.
Sari kian mengigit bibir bawahnya dengan gemas.
Tak lama dapat Sari rasakan jika kursi kosong di sebelah ya telah di duduki.
"Jika bapak perlu sesuatu, bisa tekan tombol ini.. dan semoga perjalanan bapak menyenangkan.."
"Terima kasih" jawab Aldi dengan mengikutinya sabuk pengamanannya.
Sekilas Aldi melihat pada penumpang di sebelah kursinya yang meringkuh menghadap kaca jendela.
Lalu tak lama seorang pramugari mendekat.
"Mbak?? mbak??" panggil pramugari itu pada Sari.
Aldi menoleh dengan heran.
Sari kian berat untuk menoleh.
"Mbak?? mbak baik-baik saja??" tanya pramugari itu.
Sari akhirnya berbalik dengan wajah ragu.
"Ah, iya mbak saya baik-baik saja.. terima kasih" jawab Sari sembari hendak meraih selimut yang diberikan oleh sang pramugari.
Aldi terlihat mematung.
"Sari???"
Sari reflek menoleh. Dan tatapannya pun bertemu dengan dua bola mata Aldi yang kaget melihat dirinya.
__ADS_1
"Hm, apa ka-bar pak Bupati?" sapa Sari basa basi.