Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
19


__ADS_3

Sore itu di tempat berbeda.


Sari baru saja mencatat jadwal make up yang baru saja ia terima dari pesan WA. Minggu depan setidaknya ada 6 clien yang akan memakai jasa make upnya.


"Hmm, syukur alhamdulillah.. setidaknya walau sedikit tapi gak pernah kosong" gumam Sari dengan nada bersyukur melihat buku jadwal make upnya yang terlihat rapi dengan jadwal tanggal yang telah terisi.


Senyum Sari terkembang lalu menutup buku jadwal itu dan sekilas melirik jam di dinding butik.


"Udah jam 5 aja?? ibu gimana yaa??" serunya bergumam dengan meraih handphone untuk menanyakan kabar ibu yang berada di rumah.


Sari sedikit cemas, mengingat jika hujan terus turun dengan lebat, maka halaman rumahnya pasti penuh dengan air dan mungkin-mungkin bisa masuk kedalam rumah yang memang sudah sangat rendah.


Namun belum sempat ia mengetik satu huruf di layar handphone. Tiba-tiba pintu butik terbuka dengan mengagetkan Sari yang sontak berbalik.


Grekk..


Sari melihat sosok gadis kecil dengan kondisi basah kuyup masuk ke dalam butiknya. Seketika kedua bola mata Sari melebar.


"Sifa??" serunya dengan cepat beranjak bangun dari kursi dan menghampiri gadis kecil itu yang terlihat kedinginan.


Sifa berdiri dengan mematung menatap Sari.


"Sifa? ya ampun, kamu?"


"Ta-tante??" ucap Sifa sedikit parau.


Sari menatap wajah Sifa.


"Mau?? mau gak nerima Si-fa jadi anak tan-te??" ucap Sifa terbatah karena kedinginan.


"Sifa??" ujar Sari dengan nada bingung, ia pun mencoba menyentuh wajah gadis itu.


Namun tanpa terduga Sifa malah turun berlutut di hadapan Sari dengan tangisan yang pecah.

__ADS_1


"Mau ya tan-te?? Si-sifa janji.. Sifa a-akan jadi anak yang ba-ik untuk tante Sari, Si-fa akan belajar, Si-fa gak akan cengeng!!" ucap Sifa dengan bersusah payah memelas pada Sari yang terlihat benar-benar kaget.


Sari seketika turun memegang tubuh gadis itu.


"Sayang?? kamu??"


"Si-fa mohon.." tangisnya yang kian tersedu-sedu dan menyayat hati.


"Tante mau yaa jadi mama Sifa" ucapnya yang benar-benar terlihat frustasi, hingga dengan tangisan yang tersedu-sedu itu akhirnya membuat Sifa jatuh pingsan di peluk Sari.


"SIFA!!" pekik Sari syok dengan mencoba menyadarkan tubuh Sifa yang benar-benar kedinginan.


🍃🍃🍃


Di lain sisi, terlihat kepanikan di kediaman dinas pak wakil Bupati hingga malam hari.


Aldi yang sudah melihat rekam CCTV akhirnya mengetahui jika Sifa benar-benar keluar dari rumah dengan tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya.


Aldi berang, ia menumpangkan kemarahannya itu pada 4 Security rumah. Tak terkecuali, Bibik dan semua pembantu yang ada di kediaman rumah dinas itu menjadi tempat amukan kemarahan Aldi.


"Cari, dan telfon semua orang tua teman Sifa!!" perintah Aldi dengan menelfon ajudannya yang ia utus untuk mencari info lewat guru-guru les Sifa.


Setelah telfon itu, ia pun beralih bertanya pada semua penghuni rumah dinas itu. Hingga akhirnya ia melupakan seseorang yang menjadi pengawal penjaga Sifa selama ini, pak Budi.


"Panggil pak Budi!!" perintah Aldi cepat.


Namun para pekerja saling menatap satu sama lain dengan wajah bingung.


"Panggil pak Budi, cepaaat!!" perintah Aldi yang tak bisa menahan amarahnya.


Semua mengidik ketakutan, sehingga tak satu pun membuka mulut menjawab pertanyaan Aldi.


Hingga akhirnya ajudan pribadi Aldi pun mendekat.

__ADS_1


"Maaf, pak.. pak Budi sedang cuti.. sudah beberapa hari yang lalu pak Budi cuti balik kelampungnya" jelas ajudan pribadi Aldi.


Deg.. seketika Aldi pun tersadar. Benar, beberapa hari yang lalu pria itu sudah meminta izin untuk cuti karena jadwal Sifa yang libur.


Dengan cepat Aldi membuka layar handphonenya itu, ia mencari-cari nama pengawal sang putri.


"Budi? Budi?? Budi!!" serunya dengan berusaha keras mencari nama pak Budi.


Namun nyatanya tak satu pun nama Budi Sukoco muncul di layar handphonenya.


"Ck!!" Aldi berdecak kesal, ia kesal dengan dirinya sendiri yang bahkan tak menyimpan nomor penting sang pengawal.


Karena kesal, ia pun membanting handphonenya dengan keras kesembarang arah.


BRAAK!!


Bunyi benturan handphone itu terdengar keras, sehingga semua yang melihat hal itu pun terkesiap dengan wajah takut.


"Telfon!! telfon pak Budi sekarang!!" perintah Aldo pada sang Ajudan.


Pria tegap itu seketika melakukan perintah pak Wakil Bupati.


Aldi menunggu dengan gelisah. Hingga akhirnya sang ajudan memberikan handphone miliknya pada pak Wakil Bupati.


"Pak??"


Aldi mengambil handphone itu dengan cepat.


"Hallo??" seru pria dari sebrang handphone tersebut.


"Katakan?? dimana tempat yang biasa Sifa pergi??" tanya Aldi dengan nada penekanan.


Dan tak lama raut wajah Aldi berubah bingung.

__ADS_1


"Apa?? galery make up??"


__ADS_2