Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
8


__ADS_3

Berselang dua hari setelah malam yang mengharukan itu.


Kini Sari berada toko galeri make upnya. Ia bersama Lisa tengah membersihkan  toko setelah mendandani 6 orang wisudawati.


Setelah bersih-bersih ruangan. Kini giliran keduanya merapikan tata letak bedak-bedak yang berserakan di meja rias.


"Sar?"


"Hm?"


"Gue liat papan bunga acara tuh orang udah mulai di pajang" 


Aktivitas Sari seketika berhenti ketika mendengar ucapan Lisa yang tengah mengecek isi lipstik-lipstik.


Saliva Sari terlihat berusaha untuk tertelan.


"Lo apa gak ada niat untuk pergi?"


Dengan wajah yang dipaksa santai Sari kembali memeriksa isi bedak-bedak yang terlihat beberapa warna bedak sudah hampir habis.


"Untuk apa?"tanya Sari cuek.


Lisa sejenak berpikir.


"Yaaa, untuk lo bisa move on"


Sari mendengar dengan wajah aneh ucapan Lisa itu. 


"Move On? Gue udah move on kali?" tuturnya acuh tak acuh.


Lisa tertawa kecil melihat sikap menutupi Sari.


"Gak usah bohong deh lo, gue tau banget seorang Sari Sartika itu seperti apa"


Bibir Sari sedikit manyun mendengar ucapan Lisa.

__ADS_1


"Percaya, lebih baik lo datang deh ke acara Bayu"


Sari tak menjawab.


"Ada rasa puas dan sakit yang kalau di nikmati, ukh.. enaknya kayak nasi padang pedes manisnya dapat banget" tutur Lisa dengan sengaja mengoda Sari.


Sari menatap dengan wajah tak percaya. 


"Itu saran apa saran?? Enak dari mana coba? Jelas-jelaskan itu malah bikin gue sakit hati, sedih" balas Sari sebal.


Lisa lagi-lagi tertawa garing mendapat ekspresi Sari yang terpancing.


"Naaaah, benerkan lo masih ada rasa sama Bayu" 


Sari terkaget mendengar ucapan Lisa, lalu ia sedikit salah tingkah.


"Ck, kata siapa? Udah gue buang kelaut itu perasaan buat tuh cowok" elak Sari cepat.


Lisa tersenyum simpul.


Sari tertegun sesaat. Lisa memang benar. Cara terbaik untuk menyadarkan hati yang masih berharap adalah dengan datang dan melihat langsung semua yang menyakitkan, agar diri Sari cepat sadar jika pria itu kini sudah beristri.


"Gue tau banget lo Sar, lo orang yang pantang menyerah jika sudah menjatuhkan hati, gue tau lo udah mati-matian buat jatuh cinta dengan Bayu.. gue tau gimana Bayu memperlakukan lo sampai akhirnya dia ninggalin lo setelah apa yang ia lakukan untuk mendapatin lo"


Sejenak ucapan Lisa seolah menancap di benaknya.


"Gue gak mau nantinya lo jadi pelakor dan mengejar-ngejar Bayu.. gue gak mau lo jadi khilaf karena perasaan lo yang masih belum mati buat Bayu"


Sari menelan salivanya.


"Jadi ayo, besok gue temenin lo untuk melihat kesakitan itu bersama.. lo harus lihat, biar perasaan lo mati dan sadar jika Bayu sudah menikah dan meninggalkan lo begitu aja"


Sesaat Sari tersenyum dalam wajah sedihnya.


"Kadang, gue sempat berpikir kenapa dia begitu mudah membuang gue padahal dia udah berhasil dapetin hati gue yang keras kayak batu" lirih Sari pilu.

__ADS_1


"Bayu, brengsek.. dia bahkan sampai membuat Ibu jadi sedih" hela Sari pilu mengingat malam kesedihan itu.


Lisa menghela nafas panjang, seolah Lisa sudah dapat menduga jika benar dugaannya jika ketegaran Sari hanya kebohongan belaka. 


"Sari, lo wanita baik-baik.. mungkin Bayu bukan pria yang baik untuk mendapatkan wanita sebaik elo"


Sari menatap Lisa.


"Allah punya cara sendiri untuk tunjukkan siapa yang pantas berdiri untuk umat yang sudah berubah di jalan-Nya" ucap Lisa bijak.


Sari tertegun. Benar.. mungkin ini cara Allah untuk menyingkirkan siapa yang tak pantas. Walau caranya cukup menyakitkan.


Namun tak lama, Lisa bangun dari duduknya. Ia berjalan menuju satu box yang terlihat berada di sudut ruangan itu. Lalu Lisa mengeluarkan seuatu dari sana.


Lisa pun kembali berjalan menuju Sari yang menatapanya dengan wajah bingung.


"Ini" ucap Lisa sembari memberikan satu kantong plastik merah di hadapan Sari yang terlihat bingung.


"Apa nie?" tanya Sari dengan menerima bungkusan plastik itu dari Lisa.


Lisa tersenyum dengan delik alis.


Perlahan Sari membuka simpul plastik itu.


"Ini baju yang gue pesan dari rumah butik Emizein, ini khusus di buat untuk lo" 


Sari terkaget mendengar ucapan Lisa.


"Baju? Untuk apa?"tanya Sari dengan mengeluarkan baju dress mewah yang kini terbuka dihadapannya.


Seketika kedua mata Sari terbelalak ketika melihat ke mewahan dress berwarna merah menyala itu.


Lisa tersenyum puas.


"Cara terbaik untuk hadir di pesta mantan adalah dengan tampil secantik mungkin" tutur Lisa dengan wajah usilnya.

__ADS_1


__ADS_2