
Pagi pun menjelang. Dan ternyata ibu Aldi masih termenung dengan perasaan yang berkecambuk. Betapa berat cobaan yang sedang Tuhan berikan pada dirinya. Apakah ini karma???
Namun ketika ibu Aldi larut dalam pikirannya. Terlihat sang putra baru saja bangun dari tidurnya yang gelisah. Aldi pun beranjak dari sofa itu menuju sang ibu.
"Ibu, ibu.. tidak tidur??"
Ibu Aldi diam membisu hanya tatapan nanar yang terlihat dari sorot kedua matanya ketika memandang sang anak.
"Apa ibu merasa sakit??" tanya Aldi yang khawatir dengan ekspresi wajah ibu. Ia menyentuh lengan ibu dan memeriksa selang infus.
"Tidak.. ibu baik-baik saja"
Aldi pun bernafas lega lalu mengenggam jemari ibunya dengan lembut.
"Ibu jangan khawatir, Aldi pasti akan mencari dokter terbaik untuk bisa memulihkan ibu.." jelas Aldi peduli dengan kekhawatiran sang ibu.
"Saat ini, ibu cobalah untuk tenang.. pikirkan hal yang baik-baik, buang semua rasa khawatir ibu yang akan memperburuk kondisi ibu" sambung Aldi memberi semangat pada sang ibu.
Melihat ketulusan sang anak yang masih begitu peduli pada dirinya, seakan mengores naluri ibu Aldi. Selama ini ia begitu kejam pada Aldi, semua keinginan dirinya Aldi turuti, kecuali soal pendamping hidup.
Aldi sesekali memijat lengan ibunya seolah mengurangi rasa sakit sang ibu.
Pikir ibu Aldi kembali terbayang akan ucapan Sari.
"Saya salut dengan pak Aldi, dia masih terus menghormati anda sebagai ibunya walau tau anda sudah menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri!! apa itu menyenangkan untuk ibu??? apa ibu puas??"
"Bukankah ketika kita mati yang kita ingin hanya amal, doa terbaik dari anak yang soleh dan juga doa dari orang-orang yang menyayangi dan mencintai kita.." ucapan Sari begitu tergiang jelas di benak ibu Aldi.
"Aldi akan kekantor dan mungkin nanti bibik akan menemani ibu di sini.. Sore Aldi akan usahakan cepat pulang untuk menjaga ibu.." ujar Aldi yang perlahan beranjak dari duduknya di ranjang pasien itu.
Namun tanpa di duga, tangan ibu menahan Aldi.
"Aldi??" seru ibu pelan.
Aldi menatap tangan sang ibu yang terlihat berat menahan lengannya.
"Ibu.. ibu rasa.." ucap ibu tergantung ragu.
***
Di butik Galery, terlihat Sari memeluk erat Lisa.
"Hati-hati dijalan.. kabari kalau lo udah sampai disana" pesan Lisa membalas pelukan Sari.
Sari mengusap lembut punggung Lisa yang tengah hamil muda.
"Ya, aku pasti kabarin kamu..dan.. aku titip ibu yaa"
Lisa mengangguk pelan, lalu mererai pelukannya. Dan ia menatap lekat wajah sahabatnya.
"Kau akan pergi sekarang??"
"Hm"
"Kamu yakin??" tanya Lisa mencoba mengoyahkan pendirian Sari.
__ADS_1
"Doakan aku.. dan aku percaya pada Tuhan, jika pasti aku bisa lewati ini semua.."
Lisa hanya bisa tersenyum sedih, Sari benar-benar tak bergeming dengan pendiriannya untuk meninggalkan kota itu dan membatalkan pernikahannya dari sang Bupati.
"Kamu sudah ngomong sama pak Bupati?"
Sari menatap bias.
"Aku sudah titip sesuatu pad orang kepercayaan.."
Lisa menghela nafas. Dan Sari pun beranjak untuk perlahan pergi meninggalkan toko galerynya.
Walau berat ia tetap melangkah dengan pasti. Ia ingin mengikuti langkah sang idola, bahwa hijrah jalan terbaik untuk keluar dan menemukan lembaran baru. Dan ia yakin, hal itu juga pasti bisa ia raih.
Sari keluar dan sekilas melihat kesekeliling luar toko yang ternyata begitu sendu, matahari pun seolah keluar dengan enggan di balik awan.
Sesaat ia mengingat ketika sang Bupati berada di toko galerynya. Bahkan ia masih bisa mengingat jelas ketika sang orang nomor 1 itu datang dan meminta pertolongan dari dirinya di saat yang genting.
Pernah naik fasilitas orang nomor 1, bahkan sampai mendapatkan pengawalan khusus. Sungguh kenangan yang tak akan Sari lupakan, ia pernah menjadi orang yang sangat di spesialkan oleh orang nomor 1 itu.
Sari menghela nafas beratnya, lalu naik kedalam mobil taksi.
Mobil pun melaju pelan menuju bandara.
***
Di sisi lain. Di kantor Bupati.
Namun ada hal yang berbeda dari raut wajah sang Bupati yang terus terlihat tersenyum kecil sedari tadi. Seolah rasa bahagia tak bisa ia bendung sehingga terlihat jelas di wajahnya.
Para staf kerja Aldi pun berkesimpulan bahwa hati pak Bupati pasti tengah bahagia karena sang calon istri. Jadwal pernikahan yang tak akan lama lagi di gelar merupakan faktor utama kebahagiaan pak Bupati beberapa hari terakhir.
Dan kini Aldi kembali ke ruang kerjanya dengan langkah ringan. Ia kembali mengecek handphonenya namun lagi-lagi tak ada balasan dari sang pujaan hati.
Namun Aldi tak menaruh curiga sedikit pun, ia berpikir mungkin saja Sari sedang sibuk merias para pengantin. Dan mungkin saja ia kelelahan.
Tak lama Aldi duduk di meja kerjanya, Rio sang ajudan datang dengan membawa sesuatu di tangannya lalu menaruhnya di atas meja kerjanya sang Bupati.
"Apa itu?" tanya Aldi dengan melirik sekilas pada kotak yang ada di atas mejanya.
Rio terlihat gelisah.
"Ada apa??"
Namun akhirnya Rio membuka suara.
"Ini ada pesan yang diberikan mbak Sari untuk anda pak.." jelas Rio.
Kening Aldi berkerut.
"Waah, kenapa gak kasih langsung, malah titip sama kamu?? Hmmm, apa ini yang namanya di pingit sebelum menikah??" gurau Aldi yang merasa senang dengan pemberian sang calon istri tanpa memberi kabar apa-pun.
Aldi meraih kotak berbungkus warna silver kilat dan membukanya dengan rasa penasaran.
Dan ternyata, sebuah kotak yang berisi pulpen spesial yang terlihat mewah dan berkelas. Aldi melihat pulpen itu dengan wajah kagum sehingga senyum manis pun terukir di wajahnya.
__ADS_1
Dari yang terlihat oleh mata Aldi, terdapat sebuah ukuran nama dirinya disana. Dan itu menandakan butik kepemilikan yang jelas.
"Ini bagus sekali.." kagum Aldi lalu kembali melihat pada kotak tersebut yang ternyata terdapat sebuah surat didalamnya.
Aldi meletakkan kembali pulpen spesial itu ketempatnya sebelum mengambil surat yang di lipat memanjang itu ia raih.
Aldi meraih surat itu dengan hati berdebar dan senang, ia sudah membayangkan isi surat penuh cinta itu dari sang calon istri.
Aldi membaca surat itu dengan penuh senyum namun perlahan senyum itu hilang dengan raut wajah terkejutnya.
"Sari???" seru Aldi yang seketika berubah panik dan langsung berlari meninggalkan meja kerjannya dengan terburu.
Rio sang ajudan terkager melihat sang Bupati yang berubah gusar dan berlari cepat keluar dari ruang kerjanya.
"Pak!!" seru Rio mengejar sang Bupati.
Aldi berlari dengan cepat menuju parkiran, pikirannya kalut dan gusar.
Ia berlari cepat menuju parkiran mobil orang nomor 1 itu.
Sang supir yang sedang mengelap body mobil pun terkaget ketika melihat sang Bupati tiba-tiba berlari kearahnya.
"Kunci pak?? CEPAT!!" perintah Aldi dengan nada marah.
***
Di lain sisi, Sari yang baru tiba di bandara pun terlihat sedikit kesusahan ketika mendorong trolly yang rodanya yangkut.
"Ah.. ssstt.. berat banget ini trolly" seru Sari ketika mencoba untuk mendorong benda itu agar berjalan ke depan.
Namun alih-alih mendorong, tanpa di sangka ia malah melihat tempat yang memiliki kenangan manis, ketika pria nomor 1 itu tanpa ragu melamarnya dengan cara yang tak romantis.
"Apa kamu mau menjadi istri dari seorang Aldi Munandar?? dan menjadi ibu dari anak-anak saya??" kenang Sari ketika terbayang ucapan Aldi yang tanpa ragu melamar dirinya saat itu.
Tanpa sadar air mata Sari tumpah. Hingga ia pun tersadar dengan air matanya sendiri.
"Aaah.. kenapa aku jadi menangis" ucap Sari dengan menyeka air matanya sendiri. Lalu mencoba menenangkan gemuruh hatinya yang mulai berat untuk meninggalkan kota itu.
Lalu dengan sedikit paksaan Sari kembali mendorong trolly itu agar kembali berjalan walau terlihat susah. Ia pun masuk kedalam bandara.
***
Aldi yang putus asa kini tiba di rumah Sari. Namun tampaknya rasa kecewa Sari sudah mempergaruhi sang ibu. Sehingga tak ada satu informasi apapun yang di dapat Aldi tentang Sari.
Kehadiran mobil orang nomor 1 itu di daerah tinggal Sari pun sontak mengundang perhatian para warga di sana. Semua pada berebut ingin mengabadikan moment sang Bupati yang datang ke daerah itu tanpa pengawalan apa pun.
Aldi pun dengan susah keluar dari kerumunan yang kian menbuatnya susah keluar untuk bisa mengejar Sari.
Lalu tanpa pikir panjang ia pun menelfon Rio untuk memerintahkan pengawalan voorijder untuk dirinya membuka jalan.
Dan benar saja, berselang beberapa saat para kawalan itu pun tiba dan membantu mobil orang nomor 1 itu agar keluar dari kerumunan.
Iring-iringan itu pun seketika heboh karena membuat jalan khusus untuk sang Bupati lewat. Mungkin akan banyak yang kesal dan marah karena iringan mobil Aldi lewat. Namun Aldi tak peduli, saat ini ia lebih takut kehilangan kekasih hatinya dari pada jabatannya itu.
Laju mobil mewah itu pun berubah menuju toko galery toko Sari dan tujuannya hanya pada teman dekat Sari, Lisa.
__ADS_1