Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
62


__ADS_3

Roda mobil sedang Aldi terus melaju pelan. Keduanya hening, sedangkan Sifa malah sudah tidur di kursi belakang, karena ia marah pada sang Papa. Karena jabatan papanya telah merusak moment jalan-jalan bersama mama barunya.


"Apa Sifa benar-benar tidur?" tanya Aldi pada Sari.


Sari relfek menoleh kebelakang dan melihat jika gadis kecil itu benar-benar tertidur lelap.


"Iya, Sifa sudah tertidur, mas" jawab Sari memberi jawaban pasti.


Mendengarkan hal itu, Aldi seketika relfek bernafas lega. Sifa tadi benar-benar marah pada dirinya karena rusaknya moment yang sangat ia nanti ini.


Terlihat jika Aldi merasa bersalah, namun ia pun tak menduga akan terjadi hal tersebut.


"Maaf ya" ujar Aldi tiba-tiba memecah keheningan keduanya.


Sari menoleh dengan heran.


"Kamu, pasti jadi tidak nyaman karena hal tadi"


Sejenak Sari berbalik melihat jalan raya yang masih sedikit ramai di malam minggu ini.


"Gak papa kok, mas" sahut Sari memaklumi. "Hanya saja, tadi Sifa terlihat marah sekali"


Aldi terdiam, ia tak bisa menyangkal hal itu.


"Mas akan memberikan hadiah untuknya sebagai permintaan maaf.." tukas Aldi datar.


Namun Sari mendengar dengan aneh, mengapa Aldi harus seperti itu pada sang putrinya??.


"Jangan mas, besok kalau tidak keberatan biar Sari yang akan memberi penjelasan pada Sifa.." tawar Sari.


Aldi merasa bingung dengan ucapan Sari.


"Maksud kamu??"


"Anak-anak itu cuma butuh penjelasan.. seiring waktu ia akan mengerti, karena jika mas terus merasa bersalah pada Sifa dengan setiap kejadian yang tak terduga, maka ia akan semakin merasa tidak nyaman bepergian dengan mas.." terang Sari menjelaskan sudut pandang nya.


"Sifa harus mengerti kondisi pekerjaan mas yang kini menjabat sebagai orang penting.. Sari berpikir jika Sifa harus mengubah cara pandangan pada pekerjaan mas.. karena tidak semua orang bisa mendapatkan peran seperti tugas mas saat ini.. Jadi Sari ingin mengajak Sifa untuk berbangga dengan pekerjaan yang sedang mas kerjakan.. yaa, walau sebenarnya tidak menyenangkan sih.. Sifa harus kita beri arahan agar opininya tentang pekerjaan mas berubah" sambung Sari menjelaskan panjang lebar maksudnya.


Sejenak Aldi mencerna penjelasan Sari yang ada benarnya.


Selama ini Sifa benar-benar membenci pekerjaan Aldi. Putrinya bahkan tidak suka dan dengan terang-terangan tak menyukai apa pun penjelasan Aldi tentang pekerjaan yang ia emban.

__ADS_1


"Kamu benar" sahut Aldi pelan, selama ini ia tak bisa memberi pengertian pada Sifa. Tidak, lebih tepatnya ia tidak tau caranya bagaimana memberi penjelasan pada sang putri. Sehingga setiap kali Sifa marah dan kesal karena pekerjaannya, maka Aldi hanya memberikan hadiah-hadiah sebagai permintaan maaf.


Sari menghela nafas pelan lalu tersenyum melihat wajah tenang Aldi yang sempat gusar karena kemarahan Sifa.


"Oia, mas.. besok baju pengantin pria sudah siap, dan mereka minta mas untuk fitting awal, apa mas bisa??" tanya Sari yang mengalihkan pembicaraan.


Aldi menimbang.


"Hmm, besok mas kabarin kamu lagi"


"Ooh...baiklah" jawab Sari pelan.


Namun ketika di persimpangan jalan, sesaat Sari ingin menanyakan hal penting yang menganjal di hatinya.


"Mas.."


"Hm??"


"Bagaimana dengan kabar ibu mas??" tanya Sari membuka pertanyaan berat itu.


Aldi terjegat kaget dengan pertanyaan tak terduga dari Sari.


"Apa beliau..".


Ucapan Sari tergantung dan sedikit kaget dengan jawaban mas Aldi yang terasa berbeda.


Keduanya kembali hening, Aldi larut dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Sari pun tenggelam dalam dugaanya jika Aldi belum berbicara dengan ibunya mengenai pernikahannya.


***


Roda mobil sedan pun, perlahan kian masuk pada jalan menuju rumah Sari.


Sedikit gelap dan dapat di tebak jika mungkin penghuni rumah lain sedan merapat di peraduan mereka untuk beristirahat.


Roda itu berhenti tepat di pagar luar rumah Sari. Sejujurnya Aldi masih ingin lebih lama dengan Sari, namun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Dan alangkah tidak baiknya jika ia menbawa seorang gadis terlalu lama.


Sari membuka tali pengamannya dan sekilas sempat menoleh pada Putri tirinya yang benar-benar tertidur lelap.


Tak di sangka ketika ia berbalik, ia malah mendapatkan tatapan Aldi yang menatap lekat wajahnya dengan jarak dekat.

__ADS_1


Sesaat Sari mematung, ia terkejut ketika mendapatkan tatapan Aldi yang terlihat jelas jika tak ingin pisah.


"Terima kasih, Sari.." ucap Aldi tiba-tiba dengan suara beratnya yang menbuat bulu kuduk Sari meremang.


Ucapan itu seolah menyegat tubuhnya. Dan Sari mencoba untuk menenangkan dirinya. Namun tanpa di duga satu tangan Aldi meraih tubuh Sari dan seketika berhasil membawa wanita itu kedalam pelukannya.


Deg.. Sari terjegat kaget dalam dekapan sang Bupati.


"Mas???" bisik Sari lirih.


"5 menit.. 5 menit saja" pinta Aldi dengan mencium wangi ranum tubuh Sari yang menbuatnya berhasrat dan terbuai.


Dan dapat di pastikan jantung Sari berdegup kencang ketika ia dapat merasakan hela nafas Aldi di sela lehernya.


Aldi kian mengunci tubuh Sari dengan terbatas oleh perangkat mobil yang membatasi tempat itu.


Sari mencoba menyesuaikan dengan perasaan gelisah, ia takut Sifa terbangun dan akan memergoki mereka.


"Mas.." panggil Sari pelan di dalam pelukan Aldi. Perlahan Aldi pun mererai pelukannya dan melepaskan tangannya dari tubuh sang calon istri.


Aldi tersenyum tenang lalu salah satu tangannya membelai helai anak rambut Sari yang membingkai wajah cantiknya.


"Sedari tadi Sifa terus memonopoli kamu, itu rasanya tidak adil" protes Aldi sembari menyentuh pipi Sari.


Sari tersenyum kecil, itu terdengar lucu. Ia merasa Aldi terlalu kekanak-kanakan karena cemburu pada Sifa anaknya sendiri.


"Terima kasih untuk malam ini, mas.." ujar Sari yang hendak menyudah moment yang membuat jantungnya terus berdegup setiap menerima sentuhan sang Bupati.


Namun alih-alih ingin meninggalkan sang Bupati, Sari malah terjebak di tangan Aldi yang masih berada di wajahnya. Perlahan secara cepat Aldi menarik wajah Sari untuk mendekat pada wajahnya.


Sari yang tak siap reflek memejamkan mata dan terlihat jelas jika ia takut.


Melihat reaksi Sari yang menutup mata dengan wajah takut, Aldi justru memberikan ciuman manis di kening Sari.


Cup..


Sari terkaget dan reflek membuka mata. Dan saat itu juga ia dapat melihat senyum usil sang Bupati.


"Jika sudah saatnya, aku tidak akan melepaskan mu dengan alasan apa pun.." bisik Aldi memberi peringatan dengan jarak dekat pada Sari yang mematung.


Dan perlahan tangan Aldi pun melepaskan Sari. Sari pun turun dengan perasaan seperti baru turun dari rollcouster.

__ADS_1


"Selamat malam, calon istri ku.." ucap Aldi dari dalam mobil lalu perlahan mobil itu pun berlalu pergi meninggalkan Sari yang syok mendengar ucapan super mengejutkan dari sang Bupati.


__ADS_2