Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
63


__ADS_3

Dan sepertinya ujian menuju pelaminan pun di mulai.


Sesuai janji Sari pada Aldi. Ia ingin membujuk Siga yang masih kesal akan kejadian tadi malam tentang kerumunan orang-orang yang mengeluh-eluhkan sosok sang Papa.


Sifa yang merasa di terkejut dengan kedatangan mama barunya pun seketika riang gembira. Luapan kegirangannya itu pun terlihat jelas dengan terburu-buru membawa mama barunya itu untuk masuk kedalam rumah dinas sang Bupati.


"Sifaaa seneng banget mama datang.. mama kok gak bilang-bilang mau kemari???"


Sari hanya tersenyum kecil sembari terus mengikuti langkah kecil Sifa yang membawanya keruang makan.


Ternyata gadis kecil itu baru saja pulang les dan sedang makan siang sendirian.


Bibik pun ikut merasa senang dengan kedatangan Sari.


"Apa kabar bik??"


"Baik Nyah..baik" jawab Bibik mangut-mangut.


Sari tertawa kecil.


"Jangan panggil Nyonya dong bik, panggil Sari aja.."


"Oh, tapi.." sela bibik ragu.


"Gak papa bik, saya agak gak nyaman dengan panggilan Nyonya.. gak biasa" seru Sari dengan wajah tersenyum dan duduk di samping kursi Sifa.


"Mbak Sari mau ikut makan siang??" tawar bibik mencoba tetap memanggil dengan sopan pada calon majikan barunya itu.


"Aaah, gak usah bik.. saya udah makan" jawab Sari .


"Oh, kalau gitu mau minum teh mbak??" tawar Bibik kembali.


"Hmm, saya minta air putih hangat saja bik, soalnya mau minum obat"


Sifa menoleh dengan kaget.


"Mama sakit??"


"Oh, enggak sayang.. cuma mama harus minum vitamin biar tetap fit"


"Ooh.." seru Sifa dengan O bulat sempurna di mulutnya.


"Sifa lagi makan apa??"


Sifa pun segera mengeser piring di hadapannya pada sang mama baru.


"Ini mah, makan nasi sama ayam KFC" jawab Sifa polos.


Sari menatap piring makan Sifa yang terlihat kering tanpa kuah.


"Kamu gak mau pakai supnya??" tanya Sari sembari memeriksa bungkusan plastik dan terdapat mug plastik yang terdapat sup KFC.


Sifa reflek menggelengkan kepalanya.


"Sifa gak suka makan berkuah" ujar Sifa polos.


Sari terkejut, ini hal yang berbeda dengan selera sang Bupati.


Sari hanya tersenyum kecil.


"Ya sudah, cepet makannya yaa biar kita bisa main sebentar.."


Sifa langsung menyambut dengan memberikan tanda jempol pada sang mama baru.


Sari membelai kepala Sifa. Dan disaat itu, Sari pun mulai mencoba membuka pembicaraan dengan Sifa.


"Papa, apa gak makan dirumah?"


Sifa melirik pada kursi kosong sang Papa, lalu berbalik dengan menggelengkan kepala.


"Enggak.. Papa gak pernah makan siang dirumah" jawab Sifa dengan nada cuek.


"Jadi, kamu sering makan sendiri.."


"Iya.. Papa kan sibuk, mana sempat pulang buat makan dirumah.. kata temen sifa nie, Papa pasti makan enak di kantor.. soalnya kata temen Sifa Papa dia juga sering begitu.." sahut Sifa polos.


Sari dapat melihat jelas sifat Sifa yang tak menaruh simpati pada sang Papa.


Sari menyeka ujung bibir bawah Sifa dengan tisu, karena terlihat bibir mungil itu terkena saos tomat.


"Sifa.. gak mama curhat sedikit.."


Sifa menoleh dengan bingung, namun akhirnya ia mengangguk sembari melahap nasi dan ayam KFCnya.

__ADS_1


"Mama dulu punya Papa, tapi.. beberapa tahun yang lalu Papa mama meninggal dunia.."


Sifa mendengar dengan seksama.


"Kamu tau, almarhum Papa mama dulu kerjanya di kepolisian.. dan kerjanya itu sibuk banget.. sama sibuknya dengan Papa Sifa.."


Sifa menatap Sari.


"Mama pernah sekali merasa sediiih banget, di hari pertama mama masuk sekolah dasar, Papa mama gak bisa nganter mama.. mama malah di anter sama tukang ojek, kesel kan?? padahal anak-anak yang lain pada di anter sama papa atau mamanya..bahkan mereka di tungguin loh sampai pulang, sedangkan mama enggak, pergi sendiri pulang juga sendiri.. keseeeel banget waktu itu.."


Sifa terus menyimak cerita sang mama.


"Sampai suatu hari mama pernah telat kesekolah gara-gara terjadi kecelakaan di jalan, sehingga jalan jadi macet parah.. dan kamu tau apa yang mama lihat??"


Sifa dengan polos menggelengkan kepala.


"Ternyata Papa mama yang berseragam polisi sedang membantu para korban kecelakaan dan mengamankan kembali jalur lalu lintas.. hingga semua kendaraan bisa jalan kembali.."


Sifa terteguh.


"Dari situ lah mama mengerti, ternyata papa mama bukan tanpa alasan tidak mengantarkan mama kesekolah.. tapi karena tugas beliau sangat lah penting untuk menjaga lalu lintas jalan di pagi hari yang sudah pasti padat dan macet.." jelas Sari bercerita mengenang Papa tercintanya.


Sari menatap wajah Sifa lekat-lekat, ia mengerti jika putri tirinya ini tak akan paham, tapi memberi penjelasan adalah cara yang terbaik.


"Sifa.. Sifa harus sayang sama papa.. bukan berarti Papa sibuk dan melupakan kamu, tapi ada tugas yang harus ia selesaikan karena menyangkut hidup orang banyak.."


Sifa terdiam dan berpikir.


"Tau gak??? harusnya sifa bersyukur punya Papa seorang Bupati.."


Kening Sifa berkerut.


"Karena waktu Sifa sakit, semua dokter terbaik datang untuk merawat Sifa.. dokter-dokter itu bahkan merawat Sifa sampai sembuh, karena apa?? karena Sifa anaknya pak Bupati, orang nomor 1 di kota ini.. dan gak semua orang dapat hak istimewa itu.."


Sifa terlihat tak percaya.


"Jadi.. mama berharap, sifa jangan pernah marah seperti semalam sama papa.. kasian loh Papa, dia kan gak tau kalau orang-orang itu bakal mengenali Papa, iyakan?? coba kamu ingat, Papa udah pakek masker bahkan Topi buat nututpin wajahnya , tapi orang-orang tetap mengenal Papa Sifa.. iya kan??" tanya Sari dengan membalikkan sudut pandang.


Sifa reflek mengangguk, ucapan mama barunya ini ada benarnya.


"Tapi kan, Sifa maunya malam tadi bisa main lebih lama sama mama..tapi apa, kita kan jadi harus pulang gara-gara orang-orang kerumunin Papa " ujar Sifa berkilah.


Sari menghela nafas pelan.


"Iya mama tau, kamu masih mau main, tapi.. dengan kamu marah begitu sama papa, hatinya kan jadi sedih.. bukan Sifa aja yang sedih, Papa juga sedih kok.. Papa juga kan gak mau pulang.." ujar Sari terceplos.


Sari kelabakan.


"Ah, hm..iya gitu.. Papa juga pasti gak mau pulang soalnya kan jarang-jarang bisa jalan ke Mall.." jawab Sari yang membelotkan kebenaran yang sebenarnya.


Raut wajah Sifa seketika berubah.


"Mama berharap kamu mengerti sayang, Papa bekerja untuk bisa membahagiakan kamu.. jadi kamu harus beri semangat saat Papa bekerja, karena kamu adalah semangat Papa dan anak kesayangan Papa.." ujar Sari yang mengakhiri nasehatnya pada Sifa.


"Daaan..Mama juga harus jujur sama kamu.."


Sifa menoleh pada wajah mama barunya.


"Jika nanti mama sudah benar-benar menjadi mama kamu, Kamu harus tau?? mama seorang tukang make up.. dan kerjaan mama banyak di pagi hari dan terkadang pergi ke tempat yang berbeda-beda sesuai permintaan pelanggan.."


Sifa mencerna.


"Jadi??" tanya Sifa cemberut.


"Yaa, mungkin mama bakal gak bisa ngurus kamu di pagi hari.."


Sifa terpaku.


Sari sudah dapat melihat wajah kecewa Sifa. Sari secara naluri membelai kepala Sifa dengan sayang.


"Tapi mama punya jam lain untuk bisa bersama kamu, bisa jadi siang atau malam, karena mama bukan pekerja kantoran.. dan jam kerja mama bebas" jelas Sari apa adanya.


Sekilas Sifa merasa lega.


"Jadi mama bisa dong sesekali temani Sifa bermain atau jemput Sifa pulang les??" tanya Sifa senang dengan membayangkan angan ya.


Namun tanpa di duga terdengar suara yang mengangetkan keduanya.


"GAK BISA!!" potong suara wanita paruh baya dengan nada marah.


Sari dan Sifa menoleh bersamaan pada sumber suara yang mengangetkan keduanya.


Sifa terjegat takut.

__ADS_1


"Nenek??" ujar Sifa gusar.


Langkah ibu Aldi kian mendekat pada dua orang yang ia benci.


Sari relfek bangun dari kursi duduknya dan Sifa pun bersembunyi di belakang Sari.


"Sepertinya rencana kalian harus terkubur, karena aku tidak akan pernah mengizinkan Aldi menikah dengan KAMU!!" tunjuk ibu Aldi pada wajah Sari.


Sari mematung mendengar ucapan ibu Aldi.


"Kau pikir aku akan menerima menantu seperti dirimu, Hah?? JANGAN BERMIMPI!!" tukas ibu Aldi ketus menatap benci pada Sari. "Aku yakin, kau pasti memakai pelet untuk menarik hati Aldi" tuduh ibu Sari tajam.


Sari menyerigai tak percaya pada tuduhan ibu Aldi.


"Sepertinya ibu harus tau, tanpa memakai pelet atau apa lah itu.. putra anda sendiri yang berlutut meminta saya menjadi istrinya!!" protes Sari membela diri.


"Aku tidak percaya.. aku sangat mengenal putraku, dia tak akan menyukai gadis biasa seperti kamu!!" tuding ibu Aldi mematahkan percaya diri Sari.


Sifa mengintip dari balik belakang Sari dengan wajah takut pada sang nenek yang sudah lama tak ia lihat.


Sorot mata tajam ibu Aldi berpindah pada sang cucu yang ia lihat dengan penuh benci. Hingga dengan cepat ia menarik dan menyeret Sifa dari belakang Sari.


"SINI KAMU!!" sentak ibu Aldi kasar pada Sifa.


Sontak Sifa menangis dan memegang kuat sang mama Sari.


Sari menolong Sifa dengan menahan tangan gadis itu.


"Sifa!!!" seru Sari panik melihat perlakuan kasar ibu Aldi pada Sifa.


"GARA-GARA KAMU, KAMU YANG MEMBUAT PUTRA NENEK JADI SEPERTI INI.. KAMU SAMA SAJA SEPERTI MAMA BODOHMU ITU!!" hardik ibu Aldi pada Sifa yang terus iya tarik kasar.


Sari mencoba menolong namun ibu Aldi bak kesetanan menyiksa cucunya dengan geram.


Hingga tanpa di sengaja sebuah tamparan pun mendarat tepat di pipi Sari.


PLAAAKKK.. bunyi nyaring itu membuat Sari syok, begitu juga dengan Sifa yang terpaku melihat mama barunya di siksa.


"Mamaaaa!!" pekik Sifa histeris memeluk sang mama baru.


"IBUK!!" tiba-tiba Aldi berada di ruangan itu dan melihat semua perlakuan kasar sang ibu pada calon istri dan anak semata wayangnya.


Ibu Aldi terkaget ketika melihat sang putra berada disana.


"Aldi!!" seru ibu Aldi terjegat kaget.


Aldi berjalan dengan langkah yang terdengar marah.


"Ibu sudah keterlaluan!!" ucap Aldi geram.


"Ibu.. ibu.."


"Apa yang ingin ibu katakan tetap tidak akan merubah keputusan Aldi.. Aldi akan tetap menikah dengan Sari.."


"ALDI!!" seru ibu emosi dengan nada tinggi.


Sifa kain menangis suasana benar-benar kacau.


Sari pun tak bisa menangani Sifa yang syok.


"Sari bawa Sifa kekamar.." perintah Aldi pada Sari yang masih menahan sakit di pipinya.


Sari pun menuruti perintah Aldi dan menuntun Sifa menuju kamar.


Emosi ibu Aldi kian keubun-ubun.


"Kamu sudah gila Aldi, kamu gak bisa menikah dengan wanita seperti itu.. apa kata orang tentang calon ibu Bupati murahan!!" cecar ibu Aldi yang terus merendahkan Sari.


Aldi mengepal jamerinya dengan kuat.


"Aldi tidak peduli, terserah orang mau berkata apa.. yang jelas Aldi tetap akan menikah dengan Sari.. ada tau tidak ada restu ibu, Aldi tidak peduli" sahut Aldi bernada serius.


Ibu Aldi baik pitam.


"Kamu tidak belajar dari pengalaman, kamu ingat perempuan yang sudah melahirkan Sifa?? lihat betapa bodohnya dia dan bahkan tidak layak menjadi istri kamu, sama Sari yang sekarang juga tidak layak menjadi istri kamu, Aldi..!!" tukas ibu Aldi dengan terang-terangan.


Sifa yang mendengar sontak berbalik dengan dendam yang sudah ia pendam cukup lama. Hingga tanpa pikir panjang ia menepis jemari Sari lalu berlari kencang menuju sang nenek.


"NENEK JAHAAAAAT!!" pekik Sifa mendorong tubuh sang nenek dengan kuat hingga ibu Aldi oleng dan seketika jatuh dan tanpa di sangka kepalanya mengenai tepian meja makan dan kursi.


BRAKKK...


"Aaakh..." pekik ibu Aldi yang menerima benturan di kepala dan terhempas ke lantai.

__ADS_1


"Ibuuu!!" seru Aldi syok melihat sang ibu terjatuh.


Sari yang tak dapat meraih Sifa pun syok melihat Sifa yang sudah mencelakai ibu Aldi.


__ADS_2