
Aldi berdiri dengan memperhatikan Sari dari kejauhan. Wanita itu terlihat berbicara sangat serius dengan handphonenya.
"Hm, iya ibu.. maaf yaa, besok Sari pulang dengan pesawat pagi" ujar Sari berat.
"Ya, sudah.. lain waktu jangan sampai ke tinggalan pesawat lagi, sayang loh tiketnya jadi hangus, kan jadi kamu juga yang rugi" nasehat ibu dari sebrang telfon.
"Hm, iya ibu, maaf yaa, Sari jadi tinggalin ibu lama" ujar Sari merasa bersalah.
"Gak Papa.. " sahut ibu bijak.
"Udah dulu ya buk"
"Ya, besok kabari ibu lagi "
"Baik, buk"
Komunikasi itu pun putus seiring dengan nafas lega Sari yang sudah memberi kabar sang ibu.
Ia menatap datar pada layar handphonenya.
"Sari??" panggil pak Bupati dari kejauhan. Sari menoleh.
"Mobil angkutannya sudah sampai.."
"Ah, iya pak.." jawab Sari dengan memasukkan kembali handphonenya kedalam tas, lalu berjalan menuju pria nomor 1 itu.
Aldi tersenyum menyambut Sari yang kembali.
"Duh, pak!! please tolong anda kontrol senyum manisnya??" rutu batin Sari yang merasa serba salah dengan senyum itu.
"Gak di liat mubazir, diliat juga jadi gimana gitu..ah.. apalah daya ku yang hanya rakyatmu, pak Bupati" sambung batin Sari yang akhirnya berdiri tak jauh dari Aldi.
Tin..tiiiiin .. bunyi klekson nyaring dari mobil Dam Truk yang memananggil, dan beberapa warga berjalan untuk naik ke mobil angkutan desa itu.
Sari terkejut mendengar suara nyaring klekson mobil itu.
"Ayo.." ajak Aldi untuk kedua kalinya.
Aldi berjalan langkah Sari pun mengikuti langkah Aldi yang berlari kecil ke mobil Dam Truk tersebut.
Terlihat beberapa warga duduk merapat dengan bersempit-sempitan.
Aldi naik lebih dahulu. Sari masih berpikir keras bagaimana baik ke atas mobil Dam Truk itu tanpa ada tempat pegangan yang pas.
Namun di luar dugaan, Aldi tanpa ragu langsung mengulurkan tangannya di hadapan Sari.
Sari melihat dengan kaget.
"Ayo.." ajak Aldi sembari memberi kode anggukan pada Sari.
Sari ragu-ragu.
Tiiiiin...tiiiinnn..lagi bunyi klekson berbunyi sebagai pemberitauan jika mobil akan segera berangkat.
"Ayo.." seru Aldi pada Sari yang masih menimbang.
Dan akhirnya jemari Sari meraih tangan Aldi. Aldi segera mengenggam jemari Sari, lalu dengan cepat menarik Sari ke atas mobil.
Grep..
Tubuh Sari pun mendarat sempurna di pelukan Aldi.
Sari terjegat kaget, begitu pun Aldi yang ikut kikuk ketika lengannya dapat merasakan pinggang ramping Sari. Lalu dengan canggung Sari menjauh dari tubuh Aldi.
Lalu keduanya melihat tempat duduk, namun tak ada tempat yang kosong. Jadi mau tak mau keduanya harus berdiri tepat di pintu mobil Dam Truk itu.
Setelah pintu Truk terkunci erat, tak lama mobil pun bergerak jalan.
Dengan jalan yang tak mulus pun memengaruhi goyangan mobil.
Sesekali tubuh Sari oleng, Aldi berjaga-jaga namun tak terlalu kentara.
Sari memegang erat dinding Truk agar tak oleng.
Aldi tersenyum kecil. Rasanya ini hari teraneh tapi jadi hari yang spesial. Sungguh hari yang tak akan mudah Aldi lupakan.
Helai rambut panjang Sari sesekali terbang dengan menerpa Aldi.
Aldi tak bergeming, ia membiarkan rambut itu mengenai dirinya.
Dam Truk itu terus berjalan, keduanya diam menikmati perjalanan penuh kejutan.
***
Setelah 25 menit perjalanan penuh guncangan. Akhirnya mobil Dam Truk itu pun tiba di pasar yang di maksud.
__ADS_1
Para penumpang turun, begitu juga dengan Aldi dan Sari.
Kedua begitu terpanah dengan pasar rakyat yang begitu meriah.
"Waah.." decak Sari spontan.
Aldi berjalan, Sari pun mengikuti langkah Aldi.
Suasana yang baru di guyur hujan pun terlihat dengan banyaknya genangan air . Namun para pedagang dan juga anggota yang mengelar banyak permainan masih terlihat bersemangat untuk memberi pelayanan pada pengunjung yang terlihat antusias menaiki tiap permainan rakyat itu.
Sari tersenyum kecil.
"Ternyata pasar rakyat gak kalah dari Ancol ya"
Aldi mengangguk. Lalu kembali berjalan untuk masuk lebih dalam pada area hiburan rakyat.
Ada banyak wahana yang di tawarkan. Biang lala, sampai pancingan juga tersedia.
Sesaat Sari menoleh pada Aldi yang terus menatap lama pada suasana pasar rakyat itu.
"Kenapa pak??" tanya Sari melihat bingung pada ekspresi Aldi.
"Hm?? ah.. enggak"
Tak lama terlihat sepasang pria dan wanita yang membawa anak batita. Anaknya menangis kuat dan terlihat jika sang ibu dan bapaknya sibuk membujuk.
Namun tampaknya sang anak tetap kekeh menangis.
Sekilas Aldi mengingat Sifa, sang putri tercinta.
Berselang dari keluarga kecil itu, terlihat seorang gitu sedang menarik tangan anak perempuanya yang merajuk.
"Ibu gak mau, ibu gak punya uang.. lain kali saja kalau kamu mau beli itu, tabung pakai uang mu sendiri" cecar ibu itu pada sang anaknya yang terlihat cemberut.
Sekilas problem kecil itu mengingatkan Aldi pada rengekan Sifa. Ia juga sering berada di posisi orang tua- orang tua itu yang pusing membujuk atau menasihati sang anak.
Tidak peduli kaya atau miskin, rengekan anak bisa membalikkan wujud asli orang tua.
Sesaat Aldi menghela nafas berat. Ada begitu banyak rengekan Sifa yang membuatnya naik darah hingga tak sedikit bentakan juga amarah dirinya di tumpahkan pada Sifa.
"Pak?? kenapa?" tanya Sari heran pada Aldi yang diam.
Aldi menghela nafas.
"Ternyata problem orang tua dimana pun akan tetap sama" ujar Aldi.
"Rengekan dan Tangisan anak" sambung Aldi.
Sari bergumam kecil.
"Oh.." Lalu tersenyum simpul sembari melihat sekitar mereka yang memang jelas terlihat beberapa orang tua sedang susah mengendalikan tangisan anaknya.
"Bukan kan kita dulu juga menangis??" ujar Sari tiba-tiba.
Aldi bingung.
"Bapak dulu kan seorang anak kecil dan seiring waktu menjadi dewasa.. bukan kah bapak jauh lebih tau rasanya menjadi anak kecil??" sambung Sari sembari menatap Aldi.
Aldi terbengong.
"Sebelum dewasa, bapak pasti melewati fase anak dan remaja??" Sari tersenyum bias sembari melihat sekitaran. "Jika Bapak masih merasa marah pada Sifa, mungkin disini??" tunjuk Sari pada dada Aldi. "Ada luka masa kecil bapak yang masih membekas di ingatan dan sukar untuk di maafkan.."
Deg...Aldi terpaku.
"Karena itu, ketika Bapak melihat Sifa, bapak merasa jika ia harus melewati fase yang sama seperti Bapak.. mengulang kembali masa sulit bapak pada Sifa.."sambung Sari dengan melihat lekat bola mata Aldi.
Aldi diam membisu. Ucapan Sari seolah membuka kenangan yang sudah lama ia kubur. Ibunya yang dulu sangat lah kejam, ia benar-benar mendidik Aldi dengan keras. Terlebih semenjak Ayah Aldi meninggalkan ketika ia masih duduk di bangku SMP.
Berapa masa-masa kecil dan remaja Aldi begitu berat bersama Ibunya.
"Ada banyak keluarga yang tak bisa mengatasi anaknya, karena bermula dari sikap dalam memberi pengaruh pada sang anak.."
"Mungkin terdengar aneh, tapi anak hanya butuh kasih sayang dan perhatian.. mereka tak minta uang, mereka tak minta sekolah atau pun les yang menguras otaknya.. mereka hanya minta perhatian kita tertuju pada dirinya..walau hanya sekian menit" ujar Sari panjang lembar.
"Walau tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua hebat, tapi anak akan selalu menganggap orang tuanya lah yang terhebat.."
Aldi menatap Sari lama. Sari seketika sadar dengan ucapannya.
"Ah, maaf pak.. jika Sari.."
"Kamu benar.." sela Aldi pelan. "Saya merasa gagal menjadi orangtua Sifa.."
Aldi sedikit bernelangsa. Sari menghela nafas pelan.
"Gak ada orang tua yang gagal, tapi yang ada orang tua yang belajar untuk berubah menjadi sosok yang baik pada anak.." sahut Sari.
__ADS_1
Aldi merasa terhibur dengan ucapan Sari.
"Andai Sifa ada di sini, mungkin ia akan sangat senang melihat kamu.."
Deg.. Sari terdiam.
"Terimakasih, karena kamu sudah memberi pengaruh baik pada Sifa.."
Sari menatap Aldi.
"Entah bagaimana setelah kamu mengatakan hal itu, sekarang Sifa jauh lebih pengertian"
"Benarkah??"
Aldi mengangguk.
"Dia bahkan berubah sedikit dewasa dari umurnya"
Sekilas Sari mengingat wajah Sifa.
"Sifa anak yang pintar dan saya rasa Sifa sang mirip dengan anak pak.."
"Tidak.." sela Aldi cepat sembari bernelangsa jauh melihat hiruk pikuk pasar rakyat itu.
"Sifa terlalu mirip dengan ibunya.. ibu yang sudah meninggalkan anaknya" Aldi membatin.
Sari hanya bisa bingung dengan ucapan gantung pak Bupati.
"Sudah sampai sini, bagaimana kalau kita muter sebentar sebelum orang mobil telfon" saran Sari mengalihkan pembicaraan.
Aldi setuju dan Sari pun merasa lega.
Keduanya pun masuk lebih dalam pada pasar rakyat itu. Mereka berputar dengan mencoba beberapa jajanan khas pasar rakyat.
Mereka juga berkeliling untuk melihat beberapa wahana ekstrem yang di tawarkan para pengusaha pasar rakyat itu.
Sesekali Aldi juga mencoba beberapa permainan yang menantang nyalinya, yaitu memanah dan menembak.
***
Hingga tanpa terasa hari pun merangkak petang. Warna langit pun berubah orange.
Puas mencoba beberapa wahana permainan. Aldi dan Sari pun kini berada pada satu kang es crem yang menjualnya dari gerobak di atas motornya.
Aldi kembali dengan dua es crem di tangannya. Aldi memberikan pada Sari satu es crem.
Tak lama terlihat sepasang muda mudi yang tengah bertengkar di hadapan Aldi dan Sari.
Aldi dan Sari malah menonton aksi pertengkaran cinta monyet tersebut tanpa berkomentar, mereka terlalu menikmati es crem murah itu.
Hingga akhirnya kedua pasangan sejoli itu pergi dengan wajah sama-sama kesal.
Sekilas Aldi menatap Sari, ia jadi mengingat Bayi yang tadi pagi berwajah masam seperti anak muda tadi.
"Mengapa Bayu meninggalkan kamu??" tanya Akdi tiba-tiba pada Sari.
Sari yang tengah menikmati es cremnya pun terkaget lalu reflek melihat pada Aldi.
"Mas Bayu bertemu dengan wanita yang lebih baik" jawab Sari.
"Jadi, kamu tidak baik??" tanya Aldi kembali.
Sari berhenti lalu sejenak berpikir.
"Ya, mungkin.."
"Pasti berat" timpal Aldi.
Sari tersenyum getir mendengar ucapan Aldi.
"Sebenarnya yang lebih berat itu adalah..mencoba baik-baik saja di hadapan siapa pun, meski hati dan perasaan sedang hancur-hancurnya" sambung Sari bernelangsa.
Aldi diam mencerna ucapan Sari. Sesaat ia mengingat pernah berada di posisi itu, ketika sang istri pergi tanpa tau kemana hilangnya.
"Jadi kamu masih mencintainya??" tanya Aldi blak-blakan.
Sari terjegat kaget.
"Ah, itu.. itu.."
Aldi menyeringai kecil.
"Aku tau.." jawab Aldi dengan melahap habis es crem kedalam mulutnya.
"Cinta mu masih ada, tapi rasamu sudah mati.." tukas Aldi tepat dengan menatap Sari.
__ADS_1
Sari tercengang dengan ucapan pak Bupati.
"Ba..bagaimana bisa??" gumam batin Sari yang tak percaya dengan ucapan pak Bupati.