Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
60


__ADS_3

Berita tentang calon ibu Bupati pun kian merebak di seluruh daerah ke kuasa Aldi. Kabar gembira itu ternyata tak hanya jadi kebahagiaan sang Bupati semata, tapi menjadi kebahagiaan yang di nanti oleh seluruh masyarakat.


Dan hal itu kian menaikkan pamor galery Sari, yang tiba-tiba kebanjiran job.


Antusias para gadis-gadis yang ingin di sulap oleh jemari calon ibu Bupati pun kian hari kian ramai.


Bahkan dalam hitungan 2 minggu, Sari dan Lisa harus menambah 1 asisten.


Walau belum menikah, namun ketenaran sang calon ibu Bupati jauh mengalahkan sang Bupati sendiri.


Disela waktu kosong, Sari duduk dengan membaca beberapa pesan masuk dari laman whatshappnya.


Lisa duduk dengan menegadah pada sandaran sofa.


25 klien, bukan lah jumlah yang sedikit untuk urusan dandan. Namun karena ketenaran tengah berpihak pada mereka, sehingga Sari dan Lisa pun tak bisa menolak para wisudawati dari salah satu universitas ternama itu.


"Sar??"


"Hm??"


"Siap nikah, apa lo masih bisa kerja begini??"


Jemari Sari yang sedang mengetik pun berhenti, ia sejenak menoleh pada Lisa.


"Kenapa??" tanya Sari.


"Gak, gue tanya.. nanti kan aktivitas lo udah beda, tiap hari pasti ada kegiatan untuk ibu Bupati.. jadi apa mungkin lo masih megang job make up begini??"


Sejenak Sari berpikir, benar.. pertanyaan Lisa ini tak pernah terlintas di pikirannya. Ketika menikah dengan Aldi, dengan statusnya sebagai kepala daerah sudah pasti saat ia menjadi istri Bupati maka ada tugas negara yang juga harus ia emban. Lantas ia harus bagaimana dengan bisnis yang sudah lama ia jalani ini??.


"Apa lo gak bakal make up lagi??" tanya Lisa.

__ADS_1


Sari hanya diam membisu dalam pikirannya.


Lisa menghela nafas.


"Gue tanya, karena kita punya hak yang sama dalam bisnis yang kita kelola ini, jadi coba lo pikir dan coba lo tanya sama pak Bupati, untuk karir make up lo.." ujar Lisa.


Sari hanya mengangguk menyetujui saran Lisa.


***


Sore itu.


Di lain tempat, terlihat Aldi tengah membaca beberapa proposal program dari pusat. Pikirannya mumet, namun ia tak bisa mengenyampingkan program itu. Karena tidak semua daerah mendapatkan kesempatan ini.


Namun, resiko dan beberapa hal lain juga harus di pikirkan secara matang. Mengurus daerah itu benar-benar berat. Karena setiap keputusan menyangkut hajat hidup masyarakatnya yang akan mendapatkan dampak langsung.


Aldi selalu menimbang dengan sangat matang keputusannya, namun sebaik-baiknya keputusan pasti ada pro dan kontra yang melibatkan keuntungan sebelah pihak.


Aldi meletakkan proposal itu begitu saja di atas meja sembari menghela nafas panjangnya.


Ia butuh oksigen segar agar otaknya dapat berpikir jernih.


Namun tak terduga handphonenya berdering. Aldi menoleh pada handphone yang berada di samping meja kerjanya.


"Sifa??" bisik ya sembari mengangkat telfon tersebut.


"Hallo, Papa??" sapa Sifa riang dari sebrang telfon.


"Hallo sayang, ada apa??"


"Jadi kan, nanti malam kita jalan sama mama Sari??"

__ADS_1


Aldi seketika terjengah.


"Ah, iya.. iya sayang.. jadi" ucap Aldi sembari melihat jam tangannya. Karena sejujurnya ia lupa memberi tau Sari akan rencana Sifa yang ingin mengajak jalan bersama dengan calon istrinya itu.


"Iyeee.. oke Papa, Sifa udah pulang les, ini mau makan terus mandi biar bisa cepat siap untuk pergi sama mama Sari" ujar Sifa bersemangat merancang aktivitas.


Aldi hanya bisa tersenyum.


"Ya sayang, nanti Papa juga akan cepat pulang.."


"Yang bener pah?? horeeee" seru Sifa kian riang. "Oke, Papa kerja terus yaa, biar lebih cepat lagi pulangnnya..dah papah"


"Dah.." sahut Aldi dan komunikasi itu pun terputus.


Aldi menghela nafas panjangnya dengan membawa handphone di hadapannya.


Dan terlihat satu telfon yang tak sempat ia ambil, dan nama ibu tercinta pun tertera di sana.


Ada 3 kali telfon sang ibu tak ia angkat. Aldi menghela nafas panjang. Ia harus menyelesaikan hal ini sebelum menikah dengan wanita pilihannya itu.


Sekilas ia mengingat wajah ibu Sari yang mempercayai kebahagiaan putrinya pada dirinya. Hal itu cukup membuat Aldi kian ingin segera menyelesaikan masalah ini dengan sang ibu.


Sejenak ia berpikir, ia mengingat janjinya pada sang putri. Lalu ia pun menekan nomor telfon yang kini sering ia hubungi, SariSartika.


Disaat ia menunggu nada sambung itu terhubung, Aldi tak pernah membayangkan jika waktu pacaran harus bawa anak, namun inilah kenyataan setiap pertemuannya dengan Sari, maka sang putri tercinta pun akan ikut bersama.


***


Di tempat lain, ibu Aldi kian gusar. Berita tentang persiapan pernikahan sang anak terus terdengar kencang.


Namun sampai saat ini ia tak bisa menemui sang putra yang sudah membatasi dirinya untuk masuk kerumah dinas Bupati.

__ADS_1


"Awas saja kamu Aldi, ibu gak akan rela.. enggak akan pernah ada restu untuk pernikahan kamu jika dengan wanita murahan itu.." ucap ibu dengan wajah gusar.


__ADS_2