
Ke esokan paginya.
Sari bangun seperti biasa. Ia membereskan kamar hotelnya yang masih berantakan. Ia tak mau jika petugas clening servise kaget ketika membereskan kamarnya nanti.
Setelah berbenah, Sari bersiap untuk sarapan. Dan hari ini ia berniat untuk pergi jalan-jalan sebelum nanti siang cek out pulang.
Tiba-tiba handphonenya berdering, dan ternyata itu telfon dari sang ibu.
"Hallo, bu??"
"Sari? kapan kamu pulang??" tanya ibu yang bernada senang.
"Hm, nanti sore buk, kenapa buk?"
"Oh, enggak.. ibu tunggu kabar kamu pulang yaa"
"Iya, buk.. ibu sehat??" tanya Sari tiba-tiba khawatir.
"Ibu, sehat Alhamdulillah.."jawab ibu cepat
"Syukurlah" sahut Sari lega.
"Ya sudah, nanti kabari ibu jika kamu sudah mau berangkat"
"Baik, bu"
Komunikasi pun putus seiring dengan nafas Sari berhembus.
Sejenak ia berpikir, ada apa dengan ibu?? tidak biasanya ia menelfon. Padahal ia sudah bilang sebelum berangkat ke sini perihal jadwal pulangnya.
Tapi Sari mencoba untuk berpikir positif, ya mungkin saja ibu sedang rindu. Karena jarang sekali ia bepergian jarak yang jauh begini.
Sari melihat jam pada layar datar itu. Sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sebaiknya ia segera turun agar bisa segera sarapan dan pergi membeli oleh-oleh sebelum ia cek out nanti siang.
Sari meraih tasnya yang berada di tempat tidur lalu berjalan menuju pintu kamar untuk keluar.
***
Di sisi lain Aldi terbangun dengan wajah lebih segar setelah tidurnya yang cukup puas malam tadi.
Dan pagi ini ia ingin berjalan-jalan sebelum pulang dengan pesawat sore. Aldi bahkan sudah menyewa sebuah mobil agar bisa bebas bmencari satu oleh-oleh penting untuk sang putri, Sifa.
Aldi meraih topi dan jaketnya. Sekilas ia melihat penampilan dirinya pada kaca yang dekat dengan mini bar kamar hotel.
Ia memegang wajahnya yang terlihat berewokan, karena sudah dua hari ia tidak mencukur wajahnya itu.
Namun ia menyukai penampilannya yang sedikit tidak rapi. Sehingga orang tak akan mengenali sosoknya yang merupakan orang nomor 1 dari daerah Xxx.
Dengan menatap puas, Aldi pun akhirnya berlalu pergi meninggalkan kamar hotelnya.
***
Sari kini berada di restoran hotel. Ia sempat bertemu pasangan pengantin baru yang terlihat bahagia.
Hingga akhirnya Sari pun ikut duduk bersama keluarga pengantin. Obrolan hangat dan ramah pun bergulir.
__ADS_1
Tanpa di sangka di satu meja yang terletak di sudut ruangan terlihat Aldi tengah memperhatikan wajah Sari yang tertawa lepas.
Akhirnya ia melihat dengan jelas wajah Sari yang tertawa lepas tanpa beban. Dan sesaat wajah itu mengalihkan dunianya.
Tanpa sadar, pesona Sari telah membuat hatinya terusik.
"Kopi tuan??" tanya seorang pelayan pria menghampiri Aldi.
"Ya" jawab Aldi.
Dan secangkir kopi hitam hangat pun tersaji di meja Aldi. Aldi menikmati kopinya dengan senyum. Entah mengapa ia merasa bahagia walau tanpa alasan yang jelas.
Tak lama terlihat jika meja di tempat Sari berada mulai bubar. Begitu juga dengan Sari yang terlihat telah menyelesaikan sarapan paginya yang sangat sedikit.
Lalu Sari berpisah dengan pasangan pengantin dan keluarga nya dan ia pun berlalu pergi.
Aldi masih menikmati kopi paginya yang masih tersisa sedikit lagi dan menatap kepergian Sari.
***
Di luar hotel, Sari mencoba membuka satu aplikasi gocar. Ia sibuk dengan aplikasinya itu tanpa melihat sekitar. Hingga tak lama terdengar suara pria memanggil namanya.
"SariSartika??"
Sari reflek menoleh dan tubuhnya seketika membeku.
"Mas Bayu??" ujar ya berat.
Bayu kian datang mendekat pada Sari.
"Untuk apa mas bertanya?"
"Apa kau mengejar Bupati Aldi?"
Deg.. Sari terhenyak.
"Itu bukan urusan mas.." ujar Sari hendak pergi.
Grep.. dengan cepat meriah lengan Sari.
Sari terjegat kaget dan berusaha untuk lepas.
"Katakan? apa kau memiliki hubungan dengan Bupati?" tanya Bayu dengan penekanan.
Sari meronta.
"Untuk apa mas peduli?? bukan kah mas sudah menikah???" balas Sari marah dengan berusaha menarik tangannya.
"Lepas!!" ronta Sari.
Bayu mengeratkan rahangnya.
"Ikut aku ke mobil" sembari menarik lengan Sari.
"Enggak" tolak Sari.
__ADS_1
"Kau tak mengerti!!" balas Bayu dengan tak peduli dan tetap menarik Sari yang berusaha lepas dari cengkraman jemari Bayu.
" Lepas, mas!!" ronta Sari berusaha.
Namun tak lama, tanpa terduga lengan Bayu di tahan oleh seseorang.
Tap..
"Lepaskan Sari!!" perintah Aldi tegas dengan menahan lengan Bayu.
Bayu berbalik dengan wajah marah. Dan genggaman di lengan Sari pun terlepas.
Sari terpaku.
Bayu meradang ketika lengannya masih di cengkram kuat oleh Aldi, dan ia menipisnya.
Sari berada di belakang Aldi dengan wajah gusar. Terlihat jelas Aldi melindungi dirinya.
"Sebaiknya mas pergi, karena Bayu masih menghormati mas sebagai saudara ipar"
"Kau yang harus pergi!!" balas Aldi tenang.
Bayu menghela nafas berat dengan menatap sosok Sari yang berada di belakang Aldi.
"Mas gak tau siapa Sari.."
"Aku tau" sahut Aldi yakin. "Dan sebaiknya kau pergi sebelum rasa sungkan ku hilang!!" perintah Aldi.
Rahang Bayu mengerat kuat.
"Mas Aldi akan menyesal!!" hasut Bayu.
Kening Aldi berkerut kesal.
"Sari??" ujar Aldi dengan memberikan tangan pada Sari.
Sari terpaku.
Namun tanpa pikir panjang, Sari pun meriah jemari Aldi.
Deg.. Aldi menatap jemarinya yang di genggaman Sari.
Lalu ia pun mengubah genggaman itu dengan meriah erat jemari Sari.
Bayu terpaku dengan tatapan tertuju pada tautan tangan Aldi dan Sari.
Aldi menatap Bayu dengan wajah tajam.
"Sari???"
"Berhenti menyebut nama wanita ku.." ujar Aldi dengan penuh penekanan. "Dan sebaiknya kau menjaga kepercayaan Liana, karena Liana adalah ISTRIMU!!" ujar Aldi telak.
Bayu meradang.
Namun Aldi tak peduli, ia menarik Sari dan membawa wanita itu pergi bersamanya.
__ADS_1