Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
16


__ADS_3

Waktu pun berlalu, jadwal les Sifa bertambah sebagai hukuman dari sang Papa. Sifa mau tak mau harus menurut demi ketenangan hati sang Papa yang tak mengerti jika yang ia butuh adalah sosok Papa dari pada jadwal les yang terus di tambah.


Di satu ruangan les, terlihat seorang guru paruh baya tengah memberi tugas kecil pada Sifa tentang menulis karangan cerita.


"Oke, karena gak lama lagi bakal libur panjang, jadi miss mau Sifa, Nabila, Delon dan Azzam nulis rencana apa yang bakal kalian lakukan selama liburan bersama keluarga"


Terlihat ketiga anak kecil itu antusias mendengar instruksi sang guru.


"Tugas itu di kumpul besok, ya.. jadi kalian bisa tanya sama Ayah Bunda plan untuk liburannya.. dan, tentunya Miss juga mau tetap ada tugas kecil selama liburan yaitu.. buat cerita berkesan selama liburan dan cerita terbaik akan Miss beri hadiah" ujar sang Miss dengan semangat.


Namun terlihat raut wajah Sifa terlihat datar. Tak ada rasa antusias yang bisa ia tunjukkan, karena kenangan liburan yang ia miliki hanya dirumah.


"Kamu mau liburan kemana Sifa??" bisik Nabila.


Sifa menoleh pada Nabila.


"Hmm, mungkin ke rumah mama aku" ucap Sifa berbohong.


"Ooh, rumah mama kamu jauh??"


Sifa tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis.


"Pasti kamu senang, bisa liburan sama mama kamu, kalau aku pasti liburan dirumah nenek, karena Mama Papa sibuk"jawab Nabila tak bersemangat.


Melihat temannya sedih, Sifa pun merangkul pundak sang teman.


"Kamu mau aku bawain hadiah apa??"tanya Sifa pada Nabila.


Nabila seketika terlihat antusias menatap Sifa.


"Hadiah??"


"Iya"


"Apa aja, yang sama, sama kamu Sifa" sahut Nabila yang seketika jadi bersemangat lagi.


Sifa mengangguk pelan dengan senyum pada Nabila yang kembali ceria.


Miss kembali menarik perhatian anak-anak dengan memberi materi pelajaran baru.


🍃🍃🍃


Setelah selesai les, kini lagi-lagi mobil sedan camry itu terparkir di depan toko galery Sari. Sifa selalu menyempatkan diri untuk melihat Sari.


Terlihat gadis kecil itu menatap wajah Sari dengan dalam ketika ia sedang memakai aksesori di kepala sang klien yang akan pergi ke pesta.


Sang klien terlihat sesekali melirik wajah gadis kecil itu yang terlihat tak asing di matanya.


Sari sesekali melihat sorot mata sang klien yang tertuju pada Sifa.


"Hmm, kenapa mbak?? apa ada yang gak nyaman?" tanya Sari ketika pentul terakhir telah selesai ia tancapkan disisi jilbab klien.


"Ah, enggak.. ta-pi.. anak ini anak siapa yaa?? kayak pernah liat" tanya klien itu pada Sari.


Sari sedikit terjegat kaget.


"Ah, ini... a-nak teman saya mbak" jawab Sari ragu.


"Ooh, begitu"sahut sang klien yang masih terlihat tidak puas.


Sifa terlihat mendekat pada Sari dengan membawa air mineral di tangannya.


"Makasih sayang" ucap Sari dengan menerima pemberian Sifa lalu membelai kepala gadis kecil itu dengan manja.


Namun karena masih belum hilang rasa penasaran, sang Klien akhirnya ia pun kembali menatap wajah Sifa dengan lekat.


"Adik kecil, siapa namanya??"


Sifa bergeming dan menoleh pada klien wanita muda itu.


"Sifa" jawabnya polos.


"Kamu.. kamu pernah ke kantor Bupati gak?"


Jleb.. Sari terkaget mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


Dan Sifa pun mengangguk dengan polos.


"Kamu.. kamu Sifa Munandar kan??"


Glek.. saliva Sari tertelan kasar.


"Iyya, Papa Aldi Munandar adalah Papa Sifa" jawab Sifa polos.


Seketika wajah wanita itu pun berubah kaget.


"Tuhkan bener, ini putri pak Wakil Bupati rupanya" serunya seketika lega.


"Waah, Sifa udah besar yaa, tante sampai gak kenal loh" gumam Klien itu dengan menyentuh lengan Sifa.


Sifa cuma menantap datar. Ia merasa tak mengenali wanita muda ini.


Sari hanya bisa tersenyum bias.


"Jadi, mbak Sari teman pak wakil??"


"Ah.. bukan.. bukan" elak Sari cepat.


Namun ucapan Sari tersebut menjadi kan sang klien kian penasaran.


"Jadi?? teman dekat? atau??"tanya sang klien.


Sari pun kian serba salah mendengar pertanyaan klien wanita muda ini. Karena jika salah ia menjawab, bisa saja akan jadi kabar yang tak baik untuk pak wakil yang notabene tak benar-benar ia kenal.


"Saya hanya kenal Sifa, kebetulan hanya kenal Sifa.. ya kan Sifa?" tanya Sari pada Sifa seolah mencari dukungan.


"Ya mama Sari"jawab Sifa polos.


Jleb... jawaban Sifa kian membuat runyam kesalahpahaman sang klien wanita muda itu yang terkaget ketika mendengar panggilan "Mama Sari" keluardari mulut gadis kecil ini.


"Ah, maaf mbak.. ini hanya panggil lucu-lucu aja..karena kita main rumah-rumahan dan manggil mama papa gitu.. enggak seperti yang mbak pikir kan kok, bener saya hanya kenal Sifa.. tapi saya enggak kenal pak wakil Bupati selain di poster" sela Sari yang kian panas dingin di hadapan kliennya ini.


"O-ooh, begitu.. duh anak pinter kamu udah tambah cantik aja.. pasti Pak Wakil bangga sama kamu"jawab sang clien wanita canggung.


Setelah kesalahan paham itu. Clien wanita itu pun membayar jasa yang telah Sari berikan dan berlalu pergi dari toko galeri Sari.


Selepas clien wanita itu pergi, Sari menarik lengan Sifa untuk duduk di sofa ruangan itu. Ia menatap mata polos yang terlihat dengan tulus menatap wajah Sari.


"Ya, mama Sari?"


"Sifa.. bisa tidak jangan panggil tante dengan panggilan "Mama Sari" lagi??"


Kedua bola mata bening itu menatap Sari dengan wajah bingung.


"Kenapa??" tanya Sifa polos.


"Ka-rena.. tante bukan mama kamu sayang.. ja-di kita udahan yaa main mama-mamaannya" ujar Sari pelan.


Namun seraut wajah kecewa pun terlihat di wajah gadis kecil itu. Sehingga Sari merasa bersalah.


"Sifa.. maaf.. tapi kamu kan masih ada mama, kasian dong mama kamu pasti sedih kalau dia dengar kamu manggil mama di tante"jelas Sari berhati-hati.


"Lagian, tante tetap sayang kamu kok, walau bukan jadi mama kamu"


Namun nyatanya ucapan itu telah melukai perasaan sang gadis kecil begitu dalam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut sang gadis kecil, ia malah mengambil tas lesnya dan berlalu pergi meninggalkan butik galeri itu dengan rasa kecewa.


"Sifa???" seru Sari memanggil gadis kecil itu dengan mengejar langkah Sifa yang bersegera naik kedalam mobil camry.


Reaksi Sifa itu telah membuat Sari merasa bersalah.


🍃🍃🍃


Di sisi lain, Aldi yang baru saja kembali kekantornya setelah menyelesaikan demo masyarakat.


Terlihat menghela dengan nafas berat. Betapa tidak, tuntutan akan mundurnya pak Bupati yang sering sakit telah meresahkan masyarakat. Karena dengan absen ya beliau selama 2 tahun ini maka banyak program tertunda, walau sudah semampunya Aldi selesaikan sebagai wakil Bupati.


Adanya demo tersebut tak lain dan tak bukan adalah hasutan petinggi anggota dewan yang kian mendesak agar sosok pak Bupati segera turun dan di gantikan oleh wakil Bupati Aldi.


Hal ini benar-benar membuat Aldi gusar, koalisi partai yang awalnya harmonis kini pecah dengan ada isu ini. Saling tidak percaya dengan kepentingan partai pun mencuat jika pihak partai Aldi sengaja ingin menglengserkan pak Bupati.


Kepala Aldi benar-benar penuh dengan masalah kantor dan negara yang ia emban.

__ADS_1


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pengawal penjaga anaknya Sifa berdiri di depan pintu ruangannya.


"Pak Budi??"


Pria berseragam safari itu terlihat sigap menyambut sang atasan.


"Pak"


Aldi melihat ada hal penting yang akan di sampaikan oleh sang pegawal sang putri dengan mimik wajah serius.


"Didalam saja" serunya dengan berjalan membuka pintu ruangan.


Sang pengawal pun mengikuti tak lama setelah sang atasan masuk.


Aldi berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri dengan raga yang lelah.


Pak Budi berjalan dan menghadap Pak Wakil Bupati.


"Pak??"


"Hm, ada?? apa ada hal yang terjadi lagi dengan Sifa??"


"Tidak, pak..malah non Sifa sudah beberapa minggu ini menjadi sangat patuh dan penurut" sahutnya tegas.


Aldi cukup terkejut jika ternyata tebakannya salah.


"Lalu??"


Pak Budi terlihat sedikit ragu untuk mengutarakan maksudnya.


"Non Sifa, minggu depan sudah masuk waktu libur pak"


Aldi kaget.


"Libur??"


"Libur semester" sahut pak Budi memperjelas.


Aldi sedikit kaget, ia bahkan tak begitu hafal jadwal sang anak.


"3 minggu non Sifa akan libur, Pak" timpal pak Budi.


"3 minggu??"


"Iya"


Aldi terlihat berpikir sejenak.


"Dan saya, izin cuti pak"


"Apa??" respon Aldi yang kaget.


Pak Budi terlihat ragu.


"Saya, ingin menjenguk istri dan anak dikampung, pak"


Aldi terlihat menimbang permintaan pak Budi. Namun pada akhirnya Aldi hanya bisa menghela nafas pelan.


"Ya, baiklah pak Budi, saya izinkan"


Pak Budi pun seketika terlihat lega mendapat jawaban dari sang atasan.


"Terima kasih pak"


Aldi menganggu sekilas


"Ada lagi??"


"Hm, tidak pak.. terima kasih"


"Ya, sudah.. pak Budi sudah bisa balik" ujar Aldi dengan memberi perintah.


Pak Budi pun segera mengangguk paham, lalu perlahan pergi meninggalkan sang wakil Bupati yang masih duduk di sofa dengan wajah lelahnya.


Namun, ketika pak Budi hendak membuka pintu ruangan tersebut, ia merasa ada hal yang menganjal yang harus ia beri tahu pada sang atasan tentang sang putri atasan, Sifa. Dan ketika ia hendak menyampaikan perihal itu, tak lama terdengar suara nada dering handphone berbunyi milik wakil Bupati.

__ADS_1


Ia pun mengangkat segera telfon tersebut, dan tak lama terdengar suara kemarahan sang wakil Bupati yang dengan cepat terdengar oleh pak Budi.


Melihat hal yang demi kian, pak Budi pun mengurungkan niatnya dan berakhir dengan berlalu pergi meninggalkan ruangan wakil Bupati Aldi.


__ADS_2