
Dan kini, Sari juga Aldi berada mobil Avanza silver yang membawa mereka kembali kekota.
Keduanya diam. Sari larut dalam pikirannya begitu juga dengan Aldi yang masih mencoba untuk bersikap tenang setelah mengatakan hal yang tanpa sadar ia katakan.
Hingga akhirnya mobil Avanza tiba di depan hotel kembali.
Setiba di hotel, Sari terlihat canggung ketika akan berjalan menuju lift. Karena Aldi pun mengikuti arah pintu lift yang sama.
Aldi mengikuti langkah Sari yang berdiri pada Lift yang masih tertutup.
"Aku sudah memesankan tiket pesawat untuk mu"
Sari terkaget.
"Hah?? ya ampun.. gak usah pak, saya.. saya bisa pesan sendiri" tolak Sari cepat.
"Besok pagi jam 10, pesawat Xxx.." ujar Aldi tanpa mendengar penolakan Sari.
Ting.. pintu lift terbuka, lalu Aldi dengan santai masuk kedalam lift tersebut.
Sari masih terbengong di tempatnya.
"Sampai ke temu Besok dan selamat malam, Sari.." ujar Aldi seiring pintu lift tertutup rapat dan sosok pria yang tersenyum manis itu pun hilang dari hadapan Sari.
Sesaat Sari masih mematung di tempatnya.
"A-pa.. apa aku tadi gak salah dengar yaa??" gumam Sari masih tak percaya.
***
Di lain sisi, Aldi baru saja masuk kedalam kamar hotelnya yang rapi dan bersih. Langkahnya kian gontai menuju ranjang besar hotel sembari meletakkan jaketnya dengan asal.
Lalu sedetik kemudian ia menjatuhkan diri di atas ranjang besar itu dengan lelah.
Bruuukkk..
"Aaahhh..." desah Aldi membuang nafas lelahnya.
Lelah yang berkesan. Hati yang berdebar canda tawa yang menyenangkan, telah membuat hari ini begitu spesial.
Dalam pejaman matanya pun wajah tawa Sari pun kembali muncul.
Sehingga tanpa sadar bibirnya terukir senyum. Wanita itu benar-benar telah mengisi hatinya.
Malam itu Aldi tidur dengan mimpi yang indah. Dan berharap malam cepat berlalu agar besok pagi bisa melihat kembali wanita itu, Sari.
***
Ke esokan paginya, Sari baru saja menelfon petugas hotel untuk membantunya segera turun dan membawa koper berat miliknya.
Tak lama, petugas datang dan membantu Sari untuk membawa koper-koper beratnya ke bawah.
Dan ketika Sari berada di meja reseptionis, ia terkaget.
"Apa?? sudah di bayar?"
"Iya, mbak sudah bayar oleh kamar VIP atas nama .." ucap wanita reseptionis itu tergantung dengan membaca nama pada layar komputernya.
"Pak Aldi Munandar"
Sari tercengang.
"Pak Bupati??" bisik Sari terceplos.
Wanita Reseptionis itu hanya tersenyum tipis ketika melihat wajah syok Sari.
"Ah, te-terima kasih mbak" ujar Sari yang seketika mundur karena ada pelanggan lain yang harus segera cek in.
Sari berjalan menuju restoran hotel untuk sarapan. Ia berjalan sembari berpikir, jika nanti bertemu dengan pak Bupati maka ia akan membayar.
Sari mengambil beberapa menu di meja hidangan lalu membawanya piring yang sudah terisi ke meja yang kosong di sudut ruangan restoran hotel.
Sari menikmati sarapannya sembari membuka layar handphone. Ia melihat beberapa pesan masuk dan salah satunya dari Lisa juga ibu.
Ia makan sembari membalas beberapa pesan itu.
Namun di sudut lain, terlihat Aldi menikmati kopinya dengan menatap Sari dari kejauhan.
Ia meneguk perlahan kopi hangat itu. Dan tanpa terduga handphonenya berdering. Aldi meraih handphone dan menyelipkan di telinga kirinya.
"Hallo sayang.."
"Papaaaa..." sahut Sifa terdengar riang. "Apa papa hari ini akan pulang??
"Ya, hari ini Papa pulang"
"Asyik.. apa Papa ada bawa oleh-oleh untuk Sifa??"
Aldi sedikit kaget dengan pertanyaan riang Sifa.
"Hmm.. ada"
"Sifa tunggu Papa pulang.. dah Papa"
Komunikasi pun putus begitu saja dan sekilas terlihat jika Sari telah selesai dari makannya. Dan terlihat jika Sari tengah bermain dengan layar handphonenya.
Sekilas Aldi melirik jam tangan, lalu kembali menikmati kopi miliknya.
"10 menit" bisik Aldi dan tatapannya kembali tertuju pada Sari yang sesekali tersenyum memandang layar handphonenya.
__ADS_1
Di tempat Sari duduk, terlihat dia tengah antusias membaca sebuah info dari laman Instagram.
"Waah.. MUA itu bakal buka class make up??" serunya tak percaya melihat idolanya akan datang kedaerahnya.
"Aku harus ikut" bisik Sari dengan segera membuka laman pesan informasi agar mendapatkan nomor kontak person untuk membuat jadwal pertemuan.
Tak beberapa lama, terdengar suara ketukan di meja Sari.
Tok..tok..
Dia pun menegadah dan terkaget dengan sosok di hadapannya ini.
"Pak Aldi?"
Aldi tersenyum tipis.
"Apa aku terlalu mengangetkan kamu??"
Sari bersikap sungkan.
"Hm, enggak pak.."
Lalu Aldi melirik jam tangannya.
"Sepertinya sudah waktunya kita ke bandara"
Sari seketika melirik jam pada layar handphonenya, dan benar jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi.
"Ah, yaa.."
"Koper kamu??"
"Sudah di lobby"
"Oh, kalau begitu ayo.." ajak Aldi yang hendak berjalan.
"Ah, tunggu pak.." panggil Sari menahan, sehingga Aldi berbalik.
"Ada apa?? apa ada masalah?"
Wajah Sari terlihat ragu-ragu.
"Anu.. soal tagihan kamar hotel, meng.."
"Ah, jangan di pikir kan, sudah aku bayar.."
"Iya tapi kenapa??" tanya Sari cepat.
Aldi mengerutkan kening.
"Kenapa??"
"Kenapa? apa kurang??"
Sari kian menelan salivanya.
"Bukan Pak, saya akan bayar kembali.."
"Tidak perlu.." potong Aldi tegas.
Sari mematung.
"Itu..tidak seberapa dari apa yang sudah kamu berikan" sambung Aldi menatap Sari.
Sari terpaku, otaknya berpikir keras mencerna ucapan pak Bupati.
"Tapi.. tapi.. Sari.."
"Jangan membantah" potong Aldi bernada serius.
Sari terdiam.
"Dari pada terus berpikir, lebih baik kita segera jalan menuju bandara.. dan jika kamu masih protes, datang saja kekantor Bupati lalu layangkan pernyataan tidak puas kamu di sana"
Sari tercengang.
Aldi berbalik dan berjalan lebih dulu dengan meninggalkan meja Sari begitu saja.
"Kenapa jadi begini??" rutu batin Sari yang jadi serba salah dengan menatap punggung pak Bupati yang terus jalan.
Namun di balik ketegasannya tadi, Aldi malah tersenyum puas ketika melihat wajah Sari yang tak berkutik.
"Baru kali ini ada rakyat yang nolak pemberian Bupati?? beraninya kamu, Sari!!" rutu Aldi senang telah mengerjai Sari.
***
Setiba di bandara. Hal yang tak terduga pun terjadi ketika Aldi dan Sari berada di dalam pesawat.
Aldi kesal sekali ketika mendapatkan nomor kursi Sari berada di kelas ekonomi sedangnkan ia di kelas Bisnis.
Aldi mengepal kuat jemarinya di kursi Bisnis.
"Rio...Rio" ujarnya geram pada sang ajudan yang telah memesan kan tiket berbeda untuk Sari. Sehingga gadis itu berada di bangku berbeda dengan Aldi.
Disisi lain, di kursi pesawat ekonomi terlihat Sari duduk dengan nyaman. Akhirnya ia bisa pulang setelah tertunda 1 hari.
"Aahh, nyamannya" gumam batin Sari riang. Ia ingin cepat-cepat pulang kerumah dan kembali beraktivitas make up seperti biasa.
***
__ADS_1
Setelah 45 menit di dalam pesawat. Akhirnya keduanya tiba di daerah tercinta.
Terlihat kini Sari tengah mendorong trolly beratnya menuju arah penjemputan.
Sekilas tanpa sengaja Sari melihat rombongan para pria berbaju Safari yang tengah mengikuti langkah sang Bupati yang baru saja tiba.
Sari hanya menatap dari kejauhan. Sang Bupati berjalan cepat dengan mobil mewah yang berlabel plat 1 itu di ujung tepi jalan.
Sari menghela nafas pelan sembari tersenyum tipis.
"Selamat bekerja kembali pak Bupati, titip salam untuk Sifa" bisik Sari dengan melihat pintu mobil mewah itu tertutup.
Dan tak beberapa lama mobil sedan camry itu pun melintas tepat di hadapan Sari. Kedua matanya menatap laju mobil itu pergi.
Sesaat Sari menghela nafas pelan.
"Saatnya kembali ke tempat nya semula" gumam Sari sembari kembali mendorong trolly miliknya menuju tempat antrian taksi.
Ketika langkah Sari baru tiba tempat antrian Taksi itu.
Tiba-tiba suasana di sekeliling Sari berubah gaduh. Ia yang tengah mengambil nomor antrian pada petugas pun tak mengubris akan kegaduhan itu.
"Sari??" seru suara memanggil namanya.
Sari seketika menoleh dan kedua matanya kembali melebar kaget.
Ketika tanpa di sangka pak Bupati dan beberapa pengawalnya mendekat kearahnya.
4 pengawal itu langsung berjaga ketika sang Bupati tiba di hadapan Sari yang mematung. Beberapa orang menatap dengan penasaran. Mereka heran ketika melihat orang nomor 1 didaerahnya ini kini berada di hadapan seorang wanita muda.
"A..ada apa pak??" tanya Sari tergagap.
"Berikan handphone mu??" pinta Aldi tegas.
Sari reflek merogoh tas dan langsung meriah handphonenya lalu memberikannya pada sang Bupati.
Aldi meraih cepat handphone Sari.
"Password?" tanya Aldi.
Sari reflek menyebut tanpa pikir panjang.
Jemari Aldi pun bermain cepat di atas layar itu. Dan tak lama ia menekan nomor telfon disana.
Sari menunggu dengan bingung.
"Sari??"
"Ya??" jawab Sari reflek.
"Mau kah kamu menjadi istri saya?" tanya Aldi dengan nada tenang, sembari menekan nomor telfon pribadinya di layar handphone Sari.
Sari mematung beberapa detik seolah suasana menjadi hampa udara di sekitarnya.
"A..apa??" seru Sari yang seketika sadar dari rasa kagetnya.
Aldi menatap Sari lekat.
"Ma-ma-maksudnya?" tanya Sari yang seketika menjadi gagal karena merasa tak percaya dengan peryataan Aldi beberapa detik lalu.
Aldi tersenyum tipis.
"Apa kamu mau menjadi istri seorang Aldi Munandar?? dan menjadi ibu dari anak-anak saya??" ulang Aldi dengan mata tertuju pada wajah terkejut Sari.
Dan rasanya Sari hampir pingsan ketika menerima moment nembak sang Bupati yang tak terduga.
"Sa..sa.." ucapan Sari berubah bimbang.
"Aku tidak akan memaksa, tapi.. kamu bisa pertimbangan lamaran saya ini.." ujar Aldi sembari mengembalikan handphone Sari di tangannya.
Aldi menghela nafas lega, harusnya ia menyatakan moment ini tadi dia atas pesawat. Namun semuanya buyar karena sang Ajudan Rio yang salah memesan tiket kursi.
"Saya ingin jawaban yang jelas.."ucap Aldi tergantung.
"Apa cinta saya bersambut atau??" ucap Aldi tergantung.
"Atau??" ulang Sari penasaran.
"Atau saya harus mengubur cinta saya untuk kamu"
Deg...Deg..Sari terhenyak mendengar pernyataan seorang Aldi Munandar yang tanpa basa basi dan kata romantis.
Lalu Aldi menatap jemari Sari yang mengenggam handphone.
"Saya sudah mengecek ulang nomor pribadi saya di handphone kamu.. jadi.. telfon saya kapan pun jika kamu sudah menentukan jawaban untuk lamaran saya ini"
Hening.. Dan sesekali terdengar krasak krusuk para pengunjung bandara yang penasaran pada sosok Bupati.
Aldi menyadari situasi yang kian tak nyaman.
"Kalau begitu saya permisi, dan hati-hati di jalan" ucap Aldi yang seketika mundur lalu berbalik meninggalkan Sari.
Pengawal sang Bupati pun seketika ikut pergi dengan mengikuti langkah pemimpinnya.
Hanya tinggal Sari yang masih berdiri mematung menatap punggung sang Bupati yang kian jauh pergi.
Seketika rasa kaki Sari lemas, ia.. ia baru saja di lamar oleh pria nomor 1 di daerahnya.
"Aku harus jawab apa??" bisik Sari dengan mengenggam erat handphonenya.
__ADS_1