
"Papa!!" suara nyaring Sifa terlihat riang memanggil seorang pria yang terlihat dengan senyum hangat dan merentangkan tangan di hadapan sang putri yang berlari kecil kedalam pelukannya.
"Pak Wakil Bupati?"gumam batin Sari dengan seketika bangun dari duduknya.
Beberapa orang yang mengenal sosok orang nomor 2 itu pun seketika berbisik-bisik dengan mengagumi sosok yang terlihat lebih muda dari pada foto yang mereka lihat.
"Kamu dari tadi disini?"
"Iya, sama tante itu" tunjuk Sifa pada sosok Sari yang berdiri mematung.
Tatapan pria itu menatap dengan wajah dingin pada Sari yang tak berkutik.
"Mati dah gue" rutu batin Sari dengan wajah kaku.
Namun tatapan sesaat itu pun seketika beralih pada sang anak perempuan itu dengan wajah berubah hangat.
"Kamu capek gak? Apa mau kita pulang sekarang?" tanya pria itu pada Sifa dengan memeluk erat sang putri.
Sesaat Sifa menoleh pada Sari dengan menatap dalam. Tanpa terduga Sifa mererai pelukannya dari sang Papa lalu perlahan berjalan menghampiri Sari yang masih berdiri disana.
Aldi menatap dengan wajah terkejut ketika sang putri dengan berjalan kembali pada wanita berbaju merah itu.
"Tante, boleh gak lain waktu kita bertemu lagi?"
Sari yang kaget hanya bisa tersenyum bias dihadapan wajah polos itu.
"Boleh.. kita bisa ketemu lain waktu di tempat tante"
Mendengar ucapan Sari, seketika terulur tangan mungil di hadapan Sari dengan jari kelingking terarah padanya.
Sesaat Sari tersenyum kecil lalu perlahan membalas janji jari kelingking itu.
"Janji" sahut Sari.
Dua jemari kelingking itu pun perlahan tererai dengan langkah Sifa kembali pada pria yang masih menatap Sari dengan tajam.
"Daah tante" seru Sifa dengan tangan terlambai pada Sari. Dan pria itu pun menuntut jalan sang putri memecah para tamu yang masih terkagum akan sosok orang nomor dua itu.
"Huuufft.."sesaat hela nafas Sari berhembus lega. Ia hampir terserang sakit jantung ketika bertemu orang nomor 2 di daerah itu.
"Bisa-bisanya bapak ya si Sifa itu pak wakil Bupati" gumam Sari yang masih terkaget tak percaya.
Sesaat Sari melihat sekitar ruangan pesta itu. Ia melihat dari jauh jika sosok mas Bayu terlihat sedikit senggang.
Sari berniat untuk berpamitan terakhir kalinya sebagai tanda bahwa semua benar-benar telah berakhir.
Dengan meraih tas pestanya, Sari menyakinkan diri untuk melakukan tugas akhir dengan sangat anggun dan elegan.
Perlahan langkah Sari berjalan menyusuri tempat keberadaan mas Bayu yang terlihat tengah berbagi bahagia dengan beberapa tamu undangan.
Langkah demi langkah ia berjalan hingga akhirnya langkah itu berhenti tepat di hadapan mas Bayu.
"Selamat, mas Bayu" ucap Sari dengan nada yang begitu tulus.
__ADS_1
Bayu yang awalnya tak menyadari sosok Sari yang terlihat berbeda. Seketika terkaget ketika mendengar suara khas yang sangat ia kenal.
"Sa-ri" ucapnya terbatah dengan wajah mematung memandang sosok yang pernah ia puja-puja saat itu.
"Selamat mas, selamat untuk pernikahannya" ulang Sari dengan senyum terkembang tipis.
"Sari, ka-mu?" ucap mas Bayu terlihat tak percaya jika sosok ini begitu terlihat tegar.
Sari tersenyum perih.
"Ya.. karena Sari yakin perasaan ini sudah mati" jawabnya tajam.
"Dan.." ucap Sari tergantung sulit.
"Bagaimana bisa cerita romantis itu begitu realistis? Bahkan Sari yang mencampakkan mas??"
"Sari?"
"Gak papa.. karena di sini akhirnya Sari tau jika mas itu, orang yang seperti apa?" tutur Sari dengan nada terluka dan berusaha menahan gemuruh di dadanya.
Mas Bayu terlihat gelisah ketika menatap wajah wanita yang kini benar-benar terluka.
"Sekali lagi, selamat mas..semoga mas bahagia seperti harapan ibu mas selama ini" ucap Sari yang lalu perlahan hendak pergi meninggalkan sang mantan.
Namun tanpa terduga, jemari mas Bayu menahan lengan Sari. Sehingga Sari terkaget lalu menatap wajah pria yang kini sudah menjadi suami orang.
"Maafkan mas" ucap mas Bayu dengan wajah nanar.
"Kamu pasti bisa melupakan aku dan aku berdoa semoga kamu mendapatkan penganti yang lebih baik dari aku" doa mas Bayu.
Deg...
"Pasti" jawab Sari percaya diri, ia akan tunjukkan nanti bahwa ia akan bahagia seperti doa sang mantan.
Sari pun berlalu pergi dengan menahan tangis. Langkahnya ia percepat untuk keluar dari gedung mewah itu.
Berakhir..berakhir sudah semua.
***
Kini, Sari berjalan pelan keluar dari gedung dengan hati yang terluka. Namun langkahnya melambat ketika merasa jika ujung jemarinya terasa sakit. Sehingga Sari melepaskan sepatu tinggi itu dari kakinya yang terlihat kini leher berdarah.
Sari menghela nafas panjangnya. Lalu kembali melangkah dengan wajah hampa di jalan trotoar itu.
Sesaat ucapan doa mas Bayu meruntuhkan dinding pertahanan hati Sari.
"Semoga kamu bisa bertemu dengan seseorang yang baik dan bisa membuatmu bahagia"
"Bodoh!!" umpat Sari kecewa.
"Mas berdoa untuk kebahagiaan Sari? Tapi mengapa mas menghancurkan kebahagiaan Sari yang berasal dari mas sendiri" lirih Sari dengan hati hancur berkeping-keping.
Hingga sekuat apa pun akhirnya butiran air mata itu pun jatuh. Tangis Sari pecah dengan rasa sesak di dada.
__ADS_1
***
Di sisi lain, terlihat Sifa dengan riang bergandeng tangan dengan sang Papa yang di kawal dengan dua ajudan.
Keduanya berjalan bersama menuju parkiran mobil yang terparkir agak sedikit jauh dari gedung.
Aldi tersenyum tipis melihat tingkah sang putri yang terlihat lebih riang. Nafasnya terhela lega, yaa setidaknya ia membawa pulang sang putri tanpa banyak drama.
Ketika tiba di mobil keduanya naik dengan di bantu sang ajudan yang membuka pintu mobil mereka.
Setelah berada di dalam mobil, terlihat wajah cerita Sifa yang tak lepas dari senyum. Gadis kecil itu terus menyentuh bibir mungilnya yang kini berwarna merah.
"Papa?"
"Hm?"
"Sifa seneng deh bisa ke pesta tante Liana"
"Oya? Kenapa?? Kan tadi sore kamu protes gak mau pergi"
Sifa tersenyum kecil.
"Itu karena Sifa bisa ketemu dengan tante tadi dan ternyata kita tuh, saudara loh pah, ah... pokoknya Sifa seneng banget bisa ketemu tante Sari tadi"
Deg...wajah Aldi berubah kaget ketika mendengar nama seseorang yang keluar dari mulut Sifa.
"Saudara??"
"Heem" gumam Sifa menyahut enteng.
Kening Aldi berkerut curiga.
"Saudara dari mana? Pasti akal-akal orang yang mau cari muka" guman batin Aldi mengerutu jengkel dengan sifat orang-orang yang berlomba-lomba baik di hadapan putrinya dengan menyimpan maksud tertentu.
Mobil camry mewah itu pun berlalu pergi dengan sedikit tersendat, karena padanya mobil tamu undangan yang lain.
Namun berselang jarak mobil yang akan keluar dari luar pagar gedung. Tiba-tiba Sifa terkaget ketika melihat sosok Sari yang berjalan kaki di pinggir trotoar dengan menenteng sepatunya.
"Tante Sarii" seru Sifa dengan cepat bersandar pada jendela kaca mobil.
Sang Papa Aldi pun ikut terkaget dengan seruan sang anak.
"Kita ajak tante Sari naik mobil ya pah?" pinta Sifa dengan cepat memiliki ide.
Aldi terkaget mendengar permintaan sang anak. Tapi dengan cepat ia menolaknya.
"Enggak!!" tegas Aldi menolak.
Sifa seketika berwajah cemberut.
"Papa?" pinta Sifa yang masih memelas dengan wajah cemas karena roda mobil mewah itu perlahan-lahan menjauh dari sosok yang ia sukai.
Namun Aldi tetap tegas pada sang putri dan menolak permintaannya itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya mobil itu menjauh dari sosok yang sekilas dapat di lihat oleh Aldi, jika wanita berpakaian merah itu seperti menangis dengan membawa sepatu di tangannya.