Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
45


__ADS_3

Sari mematung, ketika melihat sosok Bayu berada di dalam lift.


Namun beruntung didalam lift tersebut ada beberapa pengunjung lain. Sari masuk dengan berdiri tepat di depan pintu lift.


Sedangnkan Bayu berada di sudut pojok


Bayu menatap tajam pada punggung Sari.


"Kenapa mas Bayu ada di sini??" bisik batin Sari.


Ia berharap lift ini cepat tiba di lantai bawah. Ia ingin segera pergi agar tak berurusan dengan mantannya itu.


Ting.. bunyi nyaring terdengar dari lift bertanda lift tersebut telah tiba di lantai tujuan.


Pintu terbuka dan Sari pun bergegas keluar dari sana tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.


"Sari??" terdengar suara Bayu memanggil seolah mengejar Sari.


Langkah Sari kian terburu, ia ingin hilang di antara kerumunan tamu.


Namun karena terlalu tergesa-gesa, ia malah menabrak seseorang. sehingga sebuah tas terjatuh.


Braaakkk..


"Sari???" seru Bayu khawatir ketika melihat Sari menabrak seseorang.


Sari kelabakan, ia merasa bersalah karena menjatuhkan tas ransel pria itu.


"Maaf...maaf..maaf.." seru Sari berulang dengan hendak meraih tas pria tersebut.


Namun tanpa terduga pria itu menahan tangannya Sari.


"Gak papa.." seru Aldi.


Sari terjegat kaget ketika tatapan Aldi tepat berada di hadapannya.


"Sebaiknya kamu lebih hati-hati lagi.." bisik Aldi dengan meriah tas ranselnya.


"Maaf pak.." ucap Sari merasa tak enak.


Aldi menatap Bayu yang berasa di belakang Sari.


"Mengapa kamu lama sekali??" ujar Aldi pada Bayu.


Bayu merubah raut wajahnya.


"Maaf mas, tadi .."


"Sudah lah, kita harus pergi sekarang.."


Sari merasa tak nyaman.


"Sekali maaf pak, permisi" ujar Sari yang hendak menghilang.


"Sari???" ujar Bayu menahan.


Aldi menoleh heran.


Sari hanya tersenyum bias, namun secepat kilat ia kabur sebelum hal tak terduga terjadi.


Aldi terpaku heran, Bayu tak bisa menahan Sari di hadapan Aldi. Sehingga kesempatannya pun hilang untuk meraih Sari.


***


Di luaran hotel, Sari mencoba menarik nafas sedalam-dalamnya.


Sungguh tak ingin melihat wajah sang mantannya itu.


"Huuufft.. untung saja" decaknya lega.


Jika tadi perutnya sangat lapar maka kini ia merasa kenyang, kenyang karena melihat sosok Bayu dan Aldi bersamaan.


"Ck.. mending balik lagi ke dalam kamar" ujar Sari menimbang sembari melihat jejeran papan bunga yang berjejer rapi di sepanjang pagar hotel.


***


Dilain sisi, Aldi yang berada di dalam mobil. Tanpa sengaja melihat sosok Sari yang tengah berdiri dengan wajah bingung.

__ADS_1


Aldi melihat sekilas pada wajah wanita itu. Dan ia merasa ada hal yang membuat wajah wanita itu berubah cemas.


Tanpa sadar ia menoleh pada sosok Bayu yang sedang membawa mobil.


"Sari???" bisik batinnya.


Bayu yang merasa di tatap pun merasa canggung.


"Ada apa mas??" tanya Bayu sekilas.


"Bagaimana kabar ibu ku??"


"Ah, ibu mas sehat.. hanya saja beliau selalu sedih karena tidak tinggal bersama mas lagi.."


Aldi menghela nafas panjang. Sudah cukup lama ibunya pindah kerumah tante Dwi. Ia tinggal disana setelah Aldi mengusirnya dari rumah dinas.


Cukup lama ia tak berkomunikasi dengan sang ibu. Rasa amarahnya kemarin memang sudah reda, tapi ia berpikir lagi, biar lah ini menjadi pelajaran buat sang ibu. Sehingga tak terulang lagi di kemudian hari.


"Apa mas enggak pernah telfon ibu mas??"


"Hm, jarang" jawab Aldi singkat.


Bayu mengangguk.


"Bagaimana dengan Sifa mas??? apa sudah baikan??" tanya Bayu mencoba dekat.


"Ya, dia sudah sehat dan kembali beraktivitas seperti biasa..hanya saja..." ucapan Aldi tergantung ketika sekilas ia mengingat perubahan sikap Sifa. Dan sosok Sari pun kembali terlintas.


Bayu menunggu dengan bingung.


Namun Aldi akhirnya memilih diam tanpa memperjelas hal itu.


***


Waktu pun terus berjalan. Sari pun kembali sibuk ketika mempersiapkan sang pengantin wanita sore untuk perayaan pesta malam harinya.


Ia sibuk mengubah riasan sang pengantin wanita agar terlihat berbeda dari saat akad nikah.


Obrolan ringan dan santai pun terjalin.


"Jadi mbak Lisa lagi hamil yaa?? waah.. saya baru tau loh mbak, awalnya saya sempat marah kok mbak Lisa lepas tanggung jawab begitu.." cecar sang pengantin wanita.


Sari tersenyum simpul.


"Saya juga turut senang kalau mbak puas..."


"Mbak Sari sudah nikah?? udah berapa anaknya??"


Deg..


Sari kembali tersenyum, menutup hatinya yang sedikit terusik dengan pertanyaan sang pengantin.


"Belum mbak, saya belum menikah" jawab Sari ramah.


"Oh, maaf mbak.. saya pikir mbak sudah bersuami"


Sari mendengar dengan senyum simpul. Yaa bagaimana pun hak orang lah yang menilai dirinya sudah menikah apa belum.


"Sudah.." ujar Sari ketika melepaskan tangannya dari pundak sang pengantin.


Pengantin wanita itu kembali melihat cermin di hadapannya.


"MasyaAllah.. ini bagus banget mbak" decak sang pengantin senang.




Sari akhirnya bernafas lega. Pengantin wanita pun terlihat tak bisa menyimpan rasa puas ya dari wajah.


"Ayo.. ayo mbak, acara mau di mulai" seru salah seorang crew.


Sari pun bergegas membantu pengantin wanita itu untuk segera keluar dari kamar dan menuju ruang acara.


"Sekali lagi makasih ya mbak Sari.."


"Sama-sama Mbak, semoga bahagia hingga Jannah yaa"

__ADS_1


"Mbak Sari juga, semoga cepat bertemu jodohnya" balas sang pengantin sembari pergi berlalu meninggalkan Sari di pintu kamar.


Tak lama setelah rombongan crew yang membawa pengantin wanita pergi, perlahan Sari masuk dan menutup pintu kamar hotelnya.


Klap...


Ia pun berbalik dan terlihat sudah kamar bak kapal pecah terpampang nyata disana.


"Huuufftt.." Sari menghela nafas panjangnya sembari melihat betapa mengerikan kondisi kamarnya saat ini.


"Boleh yaa, besok dibereskan??" gumam Sari pada dirinya sendiri.


***


Di sisi lain.


Aldi dan Bayu tiba kembali ke hotel Horizon tepat jam 12 malam.


Rapat panjang itu membuat keduanya lelah.


Aldi turun dari mobil Bayu dan menutup pintu mobil itu.


Dan Bayu pun segera pergi dengan membawa mobil masuk ke dalam parkiran gedung hotel.


Aldi berjalan menuju dalam hotel yang terlihat sedikit berantakan, mungkin setelah pesta digelar maka para pelayan hotel pun dengan cepat membersihkan kembali hotel mereka agar tekihat nyaman.


Ketika langkah Aldi hendak menuju Lift tanpa di duga ia melihat sosok Sari yang baru saja berpamitan dengan beberapa orang berseragam yang sama.


"Terima kasih banyak mbak Sariii.."


"Sama-sama" balas Sari dengan melambaikan tangan pada rombongan crew tersebut.


Lalu ia berbalik untuk menuju lift. Ketika akan menekan tanda ke atas. Tanpa di duga telunjuk Aldi pun menekan di tempat yang sama.


Sari terkaget hingga reflek menoleh. Dan seketika kedua bola matanya melebar ketika melihat sosok Aldi berada di dekatnya.


Sari dengan cepat menghindar. Aldi malah tersenyum kecil melihat reaksi terkejut Sari.


"Baru selesai pestanya??"


"Hm, iya"


"Apa tamunya banyak??"


"Iyaa, tadi sempat macet"


Aldi tersenyum simpul, itu sudah jelas, karena yang menikah adalah seorang anak pejabat.


Ting.. tanpa terduga pintu lift terbuka dan di dalam sana kosong.


Aldi menunggu Sari agar masuk lebih dahulu. Namun Sari terlihat ragu.


"Apa kamu tidak jadi naik??"


"Ah, iya.." sahut Sari ragu. Namun akhirnya ia masuk kedalam lift, lalu menekan tombol 5.


Tak lama Aldi mengeluarkan kartu dan menempelkan pada tombol lift lalu menekan tombol 12.


Sari melihat sekilas dan bisa menyimpulkan jika kamar yang dimiliki Aldi adalah kamar VIP yang harganya bisa 2 juta 1 malam.


Yaa, wajar laah untuk sekelas pak Bupati. Kenyamanan adalah nomor 1.


Lift itu bergerak dengan cepat dan tak lama lantai lift pun berhenti di angka 5.


Ting.. kembali pintu lift terbuka. Sari pun melangkah keluar.


Namun tanpa terduga Aldi memanggilnya.


"Sari??"


Sari reflek menoleh pada Aldi yang berada di dalam lift.


"Selamat malam" ujar Aldi dengan senyum.


Deg.. Sari terpanah.


Pintu lift pun tertutup. Dan meninggalkan wajah Sari yang terpaku disana.

__ADS_1


"Pak Bupati??" seru batin nya


__ADS_2