
Malam pun menjelang.
Ajang putri daerah ini benar-benar melelahkan dan menyita tenaga Sari dan Lisa yang menjadi orang penting dalam mempersiapkan para gadis finalis untuk tampil cantik di pentas tersebut. Bayangkan saja ada 30 finalis yang ikut. Lalu gugur hingga menjadi 15 besar tak lama seleksi kian ketat hingga berakhir di 5 besar.
Hingga akhirnya mendapatkan 1 gadis berpresrasi dengan segudang ke pintaran yang memenuhi syarat untuk menjadi Putri Daerah.
Tepuk tangan dan eforiya penobatan Putri Daerah itu pun begitu meriah.
Dan yang mengejutkan adalah sosok pak Bupati yang menjadi tamu kehormatan pada malam itu. Aldi bahkan yang menyematkan mahkota juga piala pada gadis terpilih tersebut.
Di sudut aula megah itu. Terlihat Sari berdiri dengan tatapan tertuju pada sosok pria yang terlihat berkarisma dan wibawa.
"Calon suami lo, cakep" bisik Lisa mengoda Sari yang tak bergeming dari tatapannya.
Sari menyerigai kecil.
"Apa sih" sela Sari yang kemudian mundur untuk kembali ke ruang rias. "Gue beres-beres ya" seru Sari berlalu pergi.
Lisa menoleh sekilas dan tak lama seorang ibu-ibu paruh baya menghampiri keduanya.
"Mbak Sariii, mbak Lisa" panggilnya bergantian.
Langkah Sari terhenti sembari menoleh.
"Ibu Pita" seru Lisa.
"Eh, siap ini kita ke Pendopo Bupati yaa"
Sari dan Lisa terkaget.
"Pendopo Bupati??" tanya Sari mengulang.
"Iyaaa, Pendopo pak Bupati, beliau mengundang crew acara untuk dinner bareng disana bareng finalis juga" jelas ibu Pita.
Sari mematung begitu pun dengan Lisa yang sudah bisa menebak reaksi sang teman.
***
Dan benar saja, setelah semua cara selesai, semua crew acara beranjak pergi menuju Pendopo Bupati.
Di Pendopo Bupati, terdapat satu aula sedang untuk menjamu tamu yang berkapasitas 100 orang.
Sari dan Lisa berjalan bersama masuk kedalam ruangan itu.
Keduanya melihat ruangan itu dengan seksama. Lisa pun sedikit mendekat pada Sari sembari berbisik.
"Lo jangan kaget begitu, gak lama lagi lo bakal sering jamu tamu besar bersama pak Bupati di ruangan ini.. jadi sekarang lo anggap aja ini kayak gladi gitu.." ujar Lisa usil dengan senyum usil terlihat jelas.
Sari menatap sinis.
"Gladi apaan?? bisa aja lo ya" cibir Sari pada Lisa.
Keduanya akhirnya masuk lebih dalam pada ruangan itu. Terlihat di tengah ruangan meja-meja besar yang telah di duduki oleh orang berkedudukan tinggi di satu meja dengan pak Bupati.
Sari memilih untuk tak begitu terlihat dari pandangan pak Bupati.
"Sari, gue ke meja itu dulu yaa, kaki gue pegel.."
Sari mengangguk dan Lisa pun berlalu pergi meninggalkan Sari yang hendak menuju meja makanan.
Setelah menimbang cukup lama, rasanya ia tak begitu selera dengan menu yang sudah sangat lezat itu.
Perlahan langkah Sari berpindah pada meja dessert. Di meja itu terlihat terdapat beberapa cemilan jadul yang cukup unik bahkan jarang di jumpai diluar.
Sari meraih satu piring bulat, ia menimbang memilih antara 3 kue jadul itu.
__ADS_1
Di saat bersamaan, ada seseorang mendekat di sisi samping Sari yang tak menyadari kehadiran pria tersebut.
"Sari.."
Sari reflek menoleh dan terkaget ketika melihat sosok sang Bupati kini berada tepat di sampingnya.
"Pak??"
Aldi tertawa kecil.
"Kamu masih betah memanggil saya dengan sapaan itu?? yakin??" protes Aldi bernada riang pada Sari.
"Ah, itu.." Sari kelabakan.
Aldi seketika melempar senyum manisnya melihat reaksi Sari. Lalu dengan santai meriah satu kue dari tempatnya.
Deg.. Sari terpanah.
"Jika tidak salah, awal kita bertemu juga tepat di meja kue kan??" ujar Aldi mengenang sembari meletakkan kue itu di piring Sari.
Sari menatap Aldi, dan pria itu benar-benar kembali memberi senyum mematikan pada Sari.
"Bukankah ini seperti Dejavu?? kita bisa mengulang waktu tak sengaja itu" ujar Aldi sembari menatap dalam dua bola mata Sari.
"Jentik Manis adalah kue yang sangat mas rekomendasi untuk kamu cicipi, lembut dan manisnya pas" jelas Aldi.
Tak lama, seseorang datang untuk mengambil kue dari meja tersebut.
Aldi pun menyadari.
"Selamat menikmati, Sari" bisik Aldi yang kemudian berlalu pergi.
Deg.. jantung Sari berdebar, pria ini benar-benar penuh kejutan.
***
"Ehem.. asyik nie ketemu tipis-tipis" sindir Lisa tersenyum usil pada Sari yang tertangkap basah telah bertemu dengan pak Bupati.
"Gue pikir pak.. ah.. maksud gue itu mas Bupati gak ngeliat gue" ujar Sari sembari meletakkan seiring kue yang ia ambil tadi dan juga pemberian Aldi.
"Heem, yaa..namanya juga udah cinta.. yang berlian cuma elo dimata beliau, kita disini cuma batu kerikil aja" timpal Lisa bersenda.
"Ah elo, bisa aja" elak Sari tertawa lucu, sembari menatap kue yang di berikan Aldi tadi.
Sari meraih dan jadi penasaran dengan kue tersebut lalu mencicipi kue berwarna cantik itu.
Dan benar, rasanya sesuai seperti yang di jabarkan Aldi. Lembut dan manis, seperti perlakuan sang Bupati pada dirinya.
***
Ketika acara dinner itu selesai, satu persatu tamu berpamitan dengan sang Bupati.
Aldi meladenin satu persatu para tamu hingga terdengar obrolan ringan di kelompok itu.
"Gimana pak Aldi, kok posisi ibu Bupati masih kosong aja.. apa gak ada niat cari ibu Bupati nie??" celetuk salah seorang ibu paruh baya yang terlihat sedikit genit.
Aldi menganggapi dengan senyum.
"Bapak mau yang gimana?? biar Bu Pita bantu cariin, cantik? putih?? apa mau gadis belia pak?"
Seketika pertanyaan itu memancing tawa para bapak-bapak yang nakal tertawa.
"Pasti yang muda dong pak?? biar semangat pak kalau daun muda" celetuk salah seorang pria paruh baya bersemangat.
Aldi tertawa kecil, namun tetap diam tanpa menanggapi pertanyaan itu.
__ADS_1
"Ayo dong pak Aldi, cari calon ibu Bupati.. kasian ini ibu-ibu jadi gak bisa kumpul buat acara darmawanita, kan seru kalau ada ibu Bupati, pasti banyak kegiatan" usul salah seorang ibu yang terlihat anggun dan bersahaja.
Tak jauh dari perkumpulan sang Bupati, Sari yang bersama Lisa pun jadi tak sengaja mendengar semua obrolan itu.
Sekilas tatapan Aldi dapat menangkap sosok wanita yang tengah menjadi pembicara saat ini.
"Memang Pak Aldi cari calon ibu Bupati harus yang gimana??" tanya seorang salah seorang finalis yang menang pada malam itu.
"Ayo pak, di jawab Pak" sorak beberapa kelompok yang ikut mendengar pertanyaan itu.
"Hmm, baiklah.. Saya akan jawab dengan langsung membawa orangnya.." jawab Aldi dengan tersenyum.
Sontak sorak itu berubah hening.
Dan tanpa di sangka Aldi berjalan meninggalkan kerumunan yang tengah menunggu jawaban dari pertanyaan penting itu.
Aldi melangkah pasti ke arah Sari.
Tak lama langkah Aldi berhenti di hadapan Sari.
Sari mematung, dan dapat di pastikan semua mata kini tertuju pada dirinya.
"Sudah ada desakan untuk menjawab, jadi bisakah kamu menolong mas untuk menjawab pertanyaan mereka??"pinta Aldi tanpa basa basi yang artinya ia ingin langsung mempublis sosok calon ibu Bupati langsung pada para bawahannya.
Sari ragu-ragu. Lisa menyadari ketika Sari bimbang.
"Gue udah mau di jemput" ujar Lisa memberi kode.
Sari menoleh heran dengan mimik wajah bingung.
Lisa malah menepuk pundak Sari.
"Pak Bupati pasti bisa nganter lo kok, ya kan pak??" ujar Lisa dengan menoleh sekilas pada pak Bupati.
Aldi mengangguk yakin.
"Ayo??" seru Aldi sembari mengulurkan tangannya dihadapan Sari.
Riuh redam mulai terdengar dari samar-samar kelompok itu.
Sari menelan salivanya dan akhirnya ia meraih jemari Aldi.
Dan seiring itu senyum Aldi pun terkembang. Lalu tanpa ragu Aldi menarik Sari untuk mengikuti dirinya.
"Waah.. pak Aldi..udah bawa calonnya??"
"Siapa?? siapa??"
Sari menatap wajah percaya diri Aldi ketika membawa dirinya di hadapan para rekan kerja dan bawahannya.
Langkah keduanya berhenti di hadapan kumpulan yang seketika mulai berdesak-desakan untuk melihat sosok calon ibu Bupati di tengah taman Pendopo yang memiliki lampu yang sedikit remang.
"Perkenalkan, ini adalah calon ibu Bupati" ucap Aldi jelas.
Decak kagum dan rasa syok para kumpulan itu pun terlihat jelas.
"Yaa ampun, calon ibu Bupati ternyata mbak Sari toooh" celetuk ibu Pita terkejut.
Tubuh Sari panas dingin di kelilingi oleh orang-orang penting di kumpulan itu.
Namun terasa jelas jika jemari Aldi menguatkan Sari. Hingga akhirnya seulas senyum pun terkembang di wajah Sari.
Aldi menatap Sari dan tanpa sadar Sari pun menoleh hingga keduanya saling menatap dalam senyum.
Dan sebuah lampu Flash pun sukses memotret moment romantis itu kedalam dokumentasi handphone dan langsung di upload dalam media sosial.
__ADS_1
"Welcome to ibu Bupati baru" caption cantik yang akhirnya menjadi viral dalam semalam.