Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
57


__ADS_3

Caption "Welcome to ibu Bupati baru" telah menyebar luas ke seluruh media sosial di daerah kekuasaan Aldi.


Dan hal itu nyatanya juga masuk pada layar handphone yang di pegang ibu Aldi.


Wajahnya kesal melihat foto sang putra bersama wanita yang sedang di eluh-eluhkan menjadi ibu Bupati baru.


"Aldi!!" geram sang ibu menatap marah pada layar handphone milik keponakannya itu.


"Benerkan tante, wanita itu udah berhasil dapetin mas Aldi, kita harus gimana tante??" ujar Liana mengompori tantenya itu.


Ibu Aldi menghela nafas kasar.


"Kok bisa Aldi suka sama perempuan begitu?? apa dia gak belajar dari yang dulu.. selalu milih wanita yang tak jelas!!" seru ibu Aldi menghakimi pilihan sang anak.


"Liana duga pasti dia pakai ilmu hitam tante.. pasti itu, kalau enggak masa iya dalam sekejap mata mas Aldi mau dan langsung suka sama tuh perempuan " timpal Liana memanasi situasi perasaan sang tante yang sangat kesal.


Kuping ibu Aldi kian panas. Hatinya tak rela, sungguh ia ingin memiliki menantu yang ia pilihkan dari kalangan terpandang.


"Tante harus balik kerumah Aldi, gak bisa tante biarkan Aldi jatuh di tangan perempuan sialan itu.."


"Iya tante, itu bener banget, aku dan mama akan dukung dan suport tante.. kita harus halangi bagaimana pun caranya, ini demi kebaikan mas Aldi" Liana bersemangat melihat reaksi sang tante benar-benar serius untuk mengagalkan langkah sepupunya itu untuk menikah dengan Sari.


Ibu Aldi terlihat meletakkan handphone Liana begitu saja di atas meja makan dan berlalu menuju kamarnya.


Liana melihat dengan senyum licik pada punggung sang tante yang berlalu pergi. Lalu tak lama tangannya meraih handphone miliknya dan melihat foto sang sepupu bersama sang tokoh utama hari ini, Sari.


"Lo, liat aja Sari.. masalah lo baru aja di mulai!!" gumam batin Liana puas, jika orang yang ia dorong untuk menghalangi impian Sari adalah tantenya sendiri.


"Kita liat, apa lo kuat menghadapi calon ibu mertua lo sendiri, Sari?Aaah.. gue jadi gak sabar nonton sinteron baru ini??" gumam batin Liana senang.


"Kira-kira judul apa yang bagusnya yaa?" pikir Liana sembari berjalan meninggalkan meja makan itu.


Tak di sangka ternyata Bayu berada di sana. Dan seketika pandang Liana bertemu dengan sang suami.


Raut wajah senangnya pun berubah kesal melihat wajah sang suami yang terlihat tenang.


Dengan wajah acuh Liana mengabaikan Bayu dan berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.


Bayu marah di acuhkan oleh sang istri.


"Liana???" seru Bayu memanggil.


Liana acuh dan terus pergi.


"LIANA!!" hardik Bayu marah.


Langkah Liana terhenti dengan terpaksa.


"Kamu mau kemana?? Mas mau makan?"


Liana tak peduli dan langsung pergi.


"LIANA!!" Hardik Bayu untuk kedua kalinya dengan suara yang memenuhi ruangan rumah besar itu.


Liana berbalik dengan wajah enggan.


"Apa sih mas??? kenapa berteriak sih?? mau orang rumah tau kita bertengkar??" rutu Liana balik marah.


"Mas udah manggil kamu baik-baik tapi kamu gak dengar dan langsung pergi.. dan mas udah bilang mas mau makan"


"Terus?"


"Terus?" ulang Bayu heran.


"Terus kenapa kalau mas mau makan??"


Bayu benar-benar meradang, istrinya yang dulu sangat memujanya kini hilang.


"Kamu kan istri mas, kan biasanya kamu selalu hidangkan makanan untuk mas seperti biasa"


Liana jenggah.


"Liana lagi capek, mas suruh bibik aja" sahut Liana ketus.

__ADS_1


"Liana???"


"Ah, udah deh mas.. aku tuh masih marah.. bisa gak sih sadar??? apa Mas pikir aku ini malaikat yang bisa dengan mudah maafin mas dan masih bisa hidangin makanan untuk mas dengan sakit hati aku ke kamu mas?? coba mas mikir?? aku tuh kayak gini karena aku kecewa, aku sakit hati sama perbuatan kamu di belakang aku mas.. sumpah aku nyesel nikah sama kamu mas Bayu!!" cecar Liana panjang lebar dengan emosi di tiap ucapannya.


Deg... Bayu mematung mendengar ucapan sang istri.


Sungguh Liana tak bisa melupakan foto yang dikirimkan oleh teman jauhnya yang tak sengaja melihat mas Bayu bersama Sari di hotel waktu itu.


Kepercayaan Liana luluh lantak, tatapan kekecewaan tampak jelas ketika memandang Bayu.


"Coba mas jawab.. di foto itu, apa Sari yang mencari mas waktu di hotel??"


Deg...Bayu diam.


Hening keduanya saling melempar tatapan kecewa.


Dan diamnya Bayu telah menjawab pertanyaan Liana.


"Liat, bahkan dari pertanyaan itu saja sudah jelas, bahwa mas lah yang masih mencari dan menyukai dia.. lalu apa arti ucapan cinta mas selama ini untuk aku??" tanya Liana kian kecewa.


Bayu hanya merapatkan mulut, tanpa bisa menjawab tiap pertanyaan sang istri yang terlihat benar-benar kecewa.


Bening air mata Liana tumpah.


"Mas yang buat aku percaya pada cinta, mas berkeras ingin menikah dengan aku, terus.. sekarang mengapa mas membuat aku seperti ini?? apa salah aku mas?? Apa???" lirih Liana menangis.


Bayu terenyuh, ia telah menyakiti hari sang istri begitu dalam. Benar, semua ini salahnya, demi untuk menyenangkan orang tuanya ia mati-matian mengejar Liana. Ia berusaha untuk membuat Liana jatuh cinta pada dirinya.


Bahkan ia juga yang meminta untuk segera dinikahkan dengan Liana agar orang tuanya senang.


Bayu pun tergerak untuk memeluk dan menyesali perbuatannya pada sang istri.


"Liana" seru Bayu lembut.


Namun Liana malah mundur, tampaknya hal itu tak mudah di terima Liana yang sudah kecewa.


"Cukup mas.." ucap Liana tegas. "Jika mas merasa bersalah, tolong mas pergi dari rumah ini, beri waktu un-tuk..." ucap Liana terputus.


Seketika tubuh Liana jatuh terkulai pingsan dilantai.


"LIANA!!" jerit Bayu yang terkejut melihat tubuh sang istri jatuh di depan matanya.


Bayu meraih tubuh Liana dengan cepat, wanita itu pingsan dengan wajah pucat.


"Liana!!.. Liana???" seru Bayu mencoba menyadarkan sang istri.


Suara kepanikan Bayu akhirnya memancing seluruh anggota keluarga Liana muncul dari berbagai arah.


Dan mereka terkaget melihat tubuh Liana lunglai di pangkuan menatu rumah itu


"Kenapa Bayu? kenapa Liana pingsan??" cecar ibu mertua Bayu.


"Bayu juga gak tau mah" jawab Bayu panik.


"Ya sudah bawa ke kamar dulu, bik.. bik.. telfon dokter Hendro cepet!!" perintah ibu mertua Bayu panik pada sang pembantu rumah.


Bayu pun mengangkat tubuh sang istri kedalam kamar mereka.


***


Di kediaman mas Bupati. Terlihat di kamar Sifa, bibik tengah mempersiapkan nona muda untuk berpakaian rapi dan cantik.


Tak lupa ia mengepang rambut sang nona majikan agar terlihat rapi dan cantik dengan di semarang satu aksesori rambut dengan warna senada dengan baju yang di kenakan Sifa.


Sifa duduk dengan wajah cemberut di depan kaca rias kamarnya. Namun sang bibik malah senyum senyum sedari tadi.


"Bik, ada acara apa sih?? kenapa papa akal Sifa pagi-pagi begini??"


Bibik merapikan poni Sifa dengan sisir dengan wajah yang masih betah tersenyum.


"Ikh, bibik gak jawab!" celetuk Sifa kesal dengan memayunkan bibir beberapa inci.


"Aduh.. non udah cantik jangan cemberut dong, tar cantiknya ilang loh" bujuk dan puji sang bibik pengasuh pada sang majikan kecil.

__ADS_1


Bibik meletakkan sisir dan melepaskan tangannya dari tubuh sang majikan yang telah siap.


Sifa melihat pantulan dirinya di kaca rias dengan wajah cemberut.


"Duh, Pak Aldi pasti pangling liat non secantik ini" puji bibik yang masih saja kagum pada majikan kecilnya.


Sifa diam dengan bete, bagaimana tidak, di subuh buta bibik sudah menyuruhnya bangun dan mandi dengan air dingin.


Padahal hari ini adalah hari minggu dan tidak ada kegiatan apa pun. Namun menurut kabar dari Bibik, semua persiapan pagi ini adalah perintah sang tuan besar rumah itu yang merupakan papa Sifa sendiri.


"Sudah beres non, yuk sarapan.."


Kening Sifa berkenyit.


"Haduh, sarapan lagi.. kan masih ngantuk biiiik.." seru Sifa ogah-ogahan.


"Ssstt.. gak boleh gitu non, bapak bisa sedih kalau non begini.. harus senyum non biar tambah cantik"


"Ada acara apaan sih?? pagi-pagi begini, baju begini lagi.. kan panas bik, mau ganti aja boleh gak sih?? mau pakai celana aja sama kaos"


"Eh gak boleh non, nanti gak cantik.. hari ini non harus cantik, harus special non.." bujuk Bibik sembari menarik lengan sang majikan kecil yang terlihat tak mood.


"Iiikh, bibik keselin banget sih.." celetuk Sifa yang akhirnya mengikuti ajakan sang bibik untuk keluar dari kamar.


"Gak papa, untuk hari ini bibik terima kalau non mau kesel.. yang penting non cantik.."


"Ck..Sifa merem nie!!" ujarnya yang sembari memejamkan mata.


"Iya..iya gak papa merem aja non, bibik bisa kok tuntunan non kalau buta" jawab bibik usil.


Sifa sontak melek mendengar ucapan bibik.


"Iiiikh bibik..!!" seru Sifa kesel lalu akhirnya ia pun berjalan bersama bibik menuju ruang makan.


Dan benar saja, ternyata sang Papa tercinta sudah terlihat rapi dengan baju koko semi kemeja berwarna biru langit.


"Pagi sayang.. duh cantiknya anak papa" sapa Aldi sumbringah mendapatkan sang putri telah cantik dengan stelan baju dress yang senada dengan dirinya.


"Yuk, sini.. kita sarapan dulu" ajak Aldi pada sang putri.


Sifa pun berjalan mendekat menuju kursi makannya sang bibik terlihat cepat mengambil keperluan makan sang majikan kecil.


"Pah??"


"Hm??"


"Ada acara apa sih?? ke kondangan lagi??" tanya Sifa dengan melihat sang Papa yang tengah menyerut kopi paginya.


Aldi menelan kopi paginya dengan nikmat. Lalu meletakkan kembali cangkir kopi itu di piringnya.


"Oh, enggak sayang.. kita enggak ke kondangan"


"Terus?? acara kantor papa ya?"


"Enggak, bukan" jawab Aldi cepat.


Kening Sifa berkerut sama dengan bibirnya yang cemberut.


"Terus?? ada acara apa dong??"


Aldi tersenyum kecil memandang wajah bingung sang putri.


"Ada deh, kamu pasti.." ucapan Aldi tergantung sengaja dengan melirik usil sang putri.


Wajah Sifa menunggu dengan penuh harap pada jawaban sang Papa.


Dan sebuah roti keju penuh seres pun terhindang di piring Sifa.


"Makan dulu, dan nanti kamu pasti tau.."


"Iiikh, papaaaa" seru Sifa protes.


Namun Aldi senang mengerjai Sifa pagi ini.

__ADS_1


"Tunggu, kamu pasti akan sangat sangat senang, sayang.." gumam batin Aldi dengan melihat dalam wajah sang putri yang ogah-ogahan di pagi spesial ini.


__ADS_2