Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
22


__ADS_3

Di ruang yang berbeda, terlihat Aldi tengah syok mendengar penjelasan dokter tentang penyakit yang menimpa sang putri tercinta.


"Pneumonia??"


"Benar pak, dan saya rasa putri bapak sudah terinfeksi cukup lama"


Wajah Aldi terpaku, ia benar-benar tidak menyadarinya sama kali.


"Dan pak, maaf jika saya menyinggung hal yang lebih spesifik.. apa putri bapak mengalami kekerasan?? atau.. pernah punya pengalaman yang membuatnya trauma??"


Aldi sedikit bingung dengan pertanyaan sang dokter.


"Tidak.. saya rasa selama ini Sifa tidak pernah mengalami hal semacam itu" sela Aldi yakin.


Dokter mengangguk paham, namun dari sorot mata sang dokter seperti mengisyaratkan hal yang lain.


"Kenapa dokter?? Sifa??"


Sang Dokter sedikit merasa ragu untuk menjelaskan pada pak Wakil Bupati.


"Hmm, saya tidak tau apa mungkin ini hanya perasaan saya saja, tapi.. saya rasa putri bapak mengalami masalah pisikis"


Kening Aldi merespon dengan bingung.


"Putri bapak sepertinya stres dan ia terlihat seperti anak yang frustasi"


Deg..


Aldi terhenyak ketika mendengar ucapan dokter wanita tersebut.


"A-pa?? stres??" ulang Aldi tak percaya.


Dokter mengangguk pelan.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menyimpulkan lebih dari ini, karena ini bukan lah spesalis bidang saya.. tapi sekilas saya melihat jika anak mengalami penyakit pisikis"


Aldi tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penjelasan sang dokter.


"Untuk lebih pasti, Bapak bisa mencoba untuk bertanya dengan dokter spesialis piskiater, karena ciri-ciri ini sangat jelas terlihat di putri bapak"


"Ciri-ciri??"


"Terlihat pada lengan ada bekas beberapa luka yang seperti sengaja di buat, bahkan kuku putri bapak sangat rusak.."


Aldi benar-benar syok mendengar hal itu. Ia sama sekali tidak memperhatikan fisik Sifa, ia merasa jika selama ini Sifa terluka karena kecerobohannya saat bermain.


"Tapi untuk saat ini, lebih baik bapak fokus untuk penyembuhan Pneumonia, agar putri bapak cepat sehat kembali" ujar dokter.


"Ya, terimakasih dokter"


"Sama-sama pak, saya mohon izin"


Aldi mengangguk pelan, dan sang dokter pun pergi berlalu dari kamar super vip tersebut.


Sesaat Aldi menghela nafasnya dengan berat, sungguh hari yang benar-benar melelahkan.


Perlahan Aldi beranjak dari duduknya dan melangkah untuk masuk ke ruang pasien yang terpisah dengan ruang tamu. Namun niatnya untuk masuk seketika terhenti, ia terpaku ketika melihat sosok wanita yang tidur di sisi ranjang Sifa dengan tangan saling bertautan.


Dan lagi-lagi Aldi hanya bisa menghela nafas panjang dengan mengurungkan niatnya dan berbalik badan untuk keluar dari ruang kamar Vip tersebut dengan membiarkan wanita itu menemani tidur putrinya.


Ketika di luar, Aldi di sambut oleh Ajudannya yang terlihat masih berjaga diluar dengan wajah lelah. Dan juga beberapa petugas kepolisian yang masih setia menemani disana.


Aldi pun mendekat pada pengikutnya itu.


"Sebaiknya kalian juga pulang, ini sudah larut malam"


Ajudan terkaget dan terlihat wajah ragunya.

__ADS_1


"Tapi, pak??"


Aldi menahan dengan senyum tipis.


"Terima kasih untuk hari ini, dan.. maafkan kemarahan saya tadi" ujar Aldi merendah di depan bawahannya yang sudah sangat lelah mengikuti dirinya hari ini.


Beberapa petugas kepolisian pun melihat dengan simpatik.


"Terima kasih kerja keras kalian semua untuk menemukan Sifa, saya benar-benar berhutang budi" sambung Aldi memberikan rasa terima kasih pada para penjaga dirinya.


"Dan untuk malam ini saya akan berada di rumah sakit, jadi teman-teman sekalian juga sudah bisa kembali untuk pulang kerumah dan beristirahat bersama keluarga juga anak tercinta.. sungguh kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk saya, sekali lagi terima kasih dan maafkan jika saya sempat memarahi teman-teman semua" ucap Aldi dengan merendah dan rasa hormat pada petugas kepolisian.


Aldi pun seketika menepuk pundak Ajudannya dengan pelan.


"Sudah jangan khawatir, saya akan ada di sini sampai besok pagi, kamu juga pulang dan telfon pacar kamu untuk tidak perlu khawatir lagi" gida Aldi yang mengetahui kisah asmara sang Ajudan yang masih belum menikah ini.


"Terima kasih pak, semoga non Sifa segera sembuh.. selamat malam" ujar sang Ajudan yang akhirnya berpamitan.


Dan tak lama para petugas kepolisian pun ikut berpamitan dengan Aldi.


Sepeninggalan Ajudan dan para petugas kepolisian, Aldi pun masuk dan kembali duduk diruang sofa ruangan Super VIP tersebut. Ia duduk dengan merenung.


Hingga sekilas ia mengingat panggilan Sifa pada wanita itu.


"Mama, Sifa"


Aldi menghela nafas pelannya, lalu seketika meraba jaket dan kantong celana untuk mencari handphonenya. Ia berniat untuk menghubungi sang ibu bahwa Sifa sudah di temukan.


Namun Aldi tersadar, jika ia tadi sudah membanting handphonenya itu.


"Ck!!"


"Aku ini ternyata benar-benar pemarah" rutu Aldi untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Sesaat ia menikmati keheningan ruangan itu.


__ADS_2