
Setiba di rumah, Sari di sambut dengan beberapa cecar pertanyaan sang ibu yang cemas. Ia khawatir karena Sari hanya memberi kabar jika ia menginap dirumah sakit untuk menjaga temannya.
"Ya pokoknya teman deh buk, dan syukurnya teman Sari itu udah baikan" jelas Sari apa adanya.
Ibu hanya bisa menghela nafas pelan.
"Ya sudah kamu mandi dan setelah itu sarapan, ibu sudah buatian nasi goreng untuk kamu" seru ibu pada Sari yang berjalan menuju kamar.
"Oia, Lisa juga beberapa kali telfon ibu tanya kamu, karena dia dapat telfon aneh katanya tanyain anak kecil"
Sari terkaget.
"Oh, gitu yaa. Nanti Sari bakal telfon balik Lisa, kemarin handphone Sari batre ya habis"
"Oh, ya sudah kalau begitu, kamu cepetan mandi sana.. ibu mau ke warung depan sebantar"
"Iya buk" sahut Sari yang pantuh.
Ibu pun pergi berlalu, sedangkan Sari masuk kedalam kamarnya.
Setelah pintu di tutup, Sari pun menghela nafas lega.
"Duuh, syukurlah ibu enggak banyak tanya" ujarnya pelan lalu berjalan untuk meraih canger yang terletak di atas meja rias dan setelah memasang cargeran di handphone. Sari pun bersegera untuk mandi.
***
Setelah selesai ritual mandi, kini terlihat Sari tengah menelfon Lisa.
Ia menceritakan panjang lebar soal kejadian kemarin pada sang sahabat.
"Hah? lo serius Sar??"
"Iyaaa, dua rius malah, ternyata Sifa benar-benar kurang kasih sayang, makanya kan bener insting gue waktu itu, kalau Sifa pasti gak baik-baik aja" ujar Sari panjang lebar.
"Hm, tapi syukur deh, kalau Sifa udah sama dokter ahli, semoga dia cepat sembuh"
"Heem, gue harap juga gitu" sambung Sari yang ikut tulus berdoa untuk kesehatan Sifa.
"Lo ini hari gak ke gallery??" tanya Lisa dengan nada serius.
"Belum tau nie, soalnya badan gue pegel banget, soalnya gue tidur posisi gak nyaman banget tadi malam" ujar Sari.
"Ooh, kenapa?? apa karena lo tidur bareng pak Wakil??"
Sontak Sari terkaget mendengar pertanyaan Lisa yang diluar dugaan.
"Huuusss, amit-amit dah.. jangan jauh banget deh pikiran lo, pak Wakil tidur diluar malah"
Namun nyatanya Lisa malah terkekeh mendengar sanggahan Sari yang sepertinya membela sosok pak Wakil.
"Oh gue pikir, oke deh kalau gitu, kalau lo gak bisa datang juga nie hari, gue juga izin deh masuk setengah hari.. lagian besok kita ada jadwal make up anak pensi"
"Oh, iya ya.. oke deh, lo pulang aja, buat istirahat" timpal Sari menyetujui.
Namun belum selesai telfonan berakhir, tiba-tiba pintu kamar Sari di ketuk dengan terburu-buru.
Tok..tok..tok..tok..
Sari terkaget dengan wajah heran.
"Eh Sa, gue tutup dulu yaa, sampai ketemu besok"
"Oke, bye" seru Lisa yang akhirnya mengakhiri telfon tersebut.
Sari pun bersegera membuka pintu kamar yang masih di gedor kuat.
Tok...tok..tok..
"Iya, sebentar!!" seru Sari dengan membuka kunci pintu dua kali.
Dan ketika pintu di buka, terlihat wajah gusar ibu dihadapan Sari.
"Sar??"
"Ada apa buk?? kok ketuk pintunya buru-buru gitu"
"Itu.. itu ada tamu buat kamu, ayo cepat" seru ibu dengan menarik lengan Sari untuk keluar dari kamarnya.
Sontak Sari pun berjalan mengikuti sang ibu yang terlihat gusar.
"Tamu??Siapa sih buk??" tanya Sari yang ikut penasaran.
__ADS_1
Sari pun keluar dari kamarnya berjalan menuju pintu depan rumah.
Namun dari tangkapan matanya sekilas, ia merasa heran dengan adanya mobil polisi di depan jalan rumahnya.
"Ada apa ini??" seru Sari dengan terkaget melihat ajudan sang pak Wakil kini tepat berdiri di depan teras rumahnya.
"Selamat pagi Mbak Sari, mbak harus ikut dengan kami sekarang" ujar sang Ajudan dengan tegas.
"Hah?" seru Sari terkaget.
"Ta-tapi ada apa??" tanya Sari yang bingung.
"Ini perintah pak Wakil Bupati, agar mbak kembali kerumah sakit" ujar Ajudan dengan penekanan.
Sari terkaget, begitu pun dengan ibu yang lebih kaget ketika mendengar nama orang nomor 2 itu.
"Rumah sakit??Pak wakil Bupati?? ka-kamu ada masalah apa Sar???" bisik ibu dengan memegang lengan Sari.
"Ayo mbak Sari, kita harus segera pergi"
"A.. itu sebentar sa-saya ganti baju dulu"
"Baik, kami tunggu mbak" ujar Ajudan itu dengan kembali mendekat pada mobil sedan dinas berplat merah itu.
Ibu terlihat gusar dan penasaran, ia pun akhirnya mengikuti langkah Sari yang kembali masuk kedalam rumah.
"Sar?? ada apa sebenarnya??"
Sari berhenti dan kembali melihat wajah sang ibu yang terlihat cemas.
"Buk, maaf.. tapi nanti akan Sari jelaskan semua"
"Ibu gak bisa!!" sangah ibu yang tegas.
"Kamu ada masalah apa sampai harus di jemput oleh pengawal pak Wakil kerumah??" cecar ibu yang benar-benar gusar.
Sari pun akhirnya menghela nafas pelan, ia mencoba untuk tenang.
"Teman Sari yang berada dirumah sakit itu adalah.. an-nak pak Wakil Bupati, bu" jelas Sari pelan.
Kedua mata ibu melebar kaget.
"Teman kamu yang kamu bilang sakit tadi malam??"
Dan hal itu kian menambah rasa bingung pada sang ibu.
"Anak kecil?? teman kamu anak kecil?"
Huuufft, Sari menghela nafas kembali.
"Iya, nanti Sari bakal cerita sama ibu, tapi sekarang Sari harus buru-buru"
"Baiklah" ujar Sang ibu mengangguk dengan setengah hati.
Sari pun segera bersiap.
Dan 15 menit kemudian Ia pun keluar dari kamar dengan telah siap berganti baju.
Sari pun seketika pamit pada sang ibu.
"Sari pergi ya buk"
"Ya, hati-hati" sahut sang ibu doakan dengan cemas.
Sari keluar dari rumah dengan di sambut sang Ajudan yang telah membukakan pintu mobil untuk dirinya.
Sari merasa canggung, ia sungkan diperlakukan terlalu hormat oleh ajudan pak Wakil Bupati.
Namun sebelum Sari masuk kedalam mobil berplat merah itu. Ia sempat melihat kesekeliling lingkungan rumahnya yang ternyata telah terjadi sedikit keramaian disana.
Beberapa warga melihat dengan wajah-wajah penasaran pada apa yang terjadi di halaman rumah sangat sederhana Sari.
Sari akhirnya masuk kedalam mobil itu dan pintu pun di tutup.
Tak lama, iringan mobil berplat merah itu pun berjalan keluar dari halaman rumah Sari. Sari melihat dari dalam mobil jika wajah sang ibu terlihat gusar
"Maaf ya bu, nanti bakal Sari jelaskan semua" bisik batin Sari dengan rasa bersalah.
🍃🍃🍃
Di sisi lain, di ruang rawat super VIP terdengar suara tangis anak perempuan yang tak kunjung reda.
__ADS_1
"Sifa mau mama!!" rengeknya dengan sesegukan.
Aldi benar-benar tak bisa meredakan tangis sang putri yang kian menjadi parah. Keluarga Aldi tante Dwi dan anaknya Liana juga suami yang baru saja ia nikah Bayu, tak bisa berbuat apa pun.
Mereka melihat dengan kasihan pada Aldi yang tak bisa menenangkan sang putri.
"Ma-ma.. Sifa mau mama!!" tangis Sifa yang tak berhenti memanggil nama Mama dari mulutnya.
Liana mencoba mendekat untuk membantu sang kakak sepupu.
"Biar Liana bantu mas" seru Liana dengan mencoba membelai punggung Sifa di pelukan Aldi.
Aldi tak menjawab, ia masih berusaha menenangkan sang putri dengan memeluk erat tubuh kurus itu.
"Sayang, mau tante Liana gendong??"
"En-ggak mau!! Sifa mau mama!!" tangisnya sesegukan.
"Sayang, mau tante kasih hadiah??" bujuk Liana mencoba mengeluarkan jurus yang biasanya menjadi favorit anak-anak.
Sifa tetap menangis dengan menggeleng.
"Si-fa mau mama... Papa.. Si-fa mau mama" tangisnya kian kecang, sehingga Aldi pun kian tak bisa berbuat apa pun untuk membujuk sang putri.
Wajah Liana terlihat khawatir pada keponakannya itu.
Bayu mendekat lalu memengan lengan sang istir.
"Sudah, jangan ditanya lagi, kasian mas Aldi gak bisa berhentiin tangis Sifa" ujar Bayu.
Liana pun mengangguk dan mengikuti ucapan sang suami.
"Kasian mas Aldi, pasti kewalahan jaga Sifa selama ini" tutur Liana sedih.
Sang mama tante Dwi yang merupakan adik dari ibu Aldi pun ikut sedih.
Tak lama dokter pun masuk bersama suster.
"Maaf pak kami baru ambil obatnya"
"Ya dokter, tolong tenangkan Sifa" pinta Aldi yang terlihat putus asa.
Sang Dokter mengangguk dengan mendekat pada ranjang pasien Sifa. Ia akan mengambil tindakan memberi obat penenang yang akan ia suntik melalui selang infus. Agar Sifa tertidur dan terhindar dari sesak karena tangisnya yang belum juga reda.
"Mama, mama.. Sifa mau mama" rancau Sifa yang terlihat kelelahan.
Aldi membelai dengan penuh hancur hatinya, betapa putrinya menjadi sangat tersakiti.
Namun tak lama, terdengar suara ketukan.
Tok..tok..tok..
Ruangan itu pun sesaat terkecoh akan bunyi ketukan pintu itu. Dan daun pintu itu terbuka.
Perlahan sosok yang tak terduga pun muncul. Sesaat semua fokus tertuju pada kehadiran tamu tak terduga itu.
Sifa yang sangat mengenal sosok yang ia cari pun sontak memanggil dengan kencang.
"MAMA!!" tangis Sifa kian pecah ketika melihat sosok Sari hadir di tengah-tengah ruangan itu.
Wajah Bayu membeku, ia mematung ketika melihat mantan kekasihnya kini berada diruang super VIP.
Aldi seketika lega.
"Tolong Sari, tolong tenangkan Sifa" pinta Aldi dengan suara setengah memelas.
Sari pun tanpa pikir panjang langsung berjalan mendekat pada ranjang pasien yang terlihat jika pak Wakil tengah mengendong sang putri.
"Mama" panggil Sifa pada Sari.
"Ya, Sayang.. ini Mama" jawab Sari yang sontak menjadikan seluruh penghuni ruangan terkager.
Lalu dengan perlahan Sari meraih Sifa dari pangkuan Aldi.
Dan benar saja, sosok Sari mampu menenangkan Sifa. Tangisnya seketika lenyap, wajah tenang dan manja pun terlihat.
Sifa memeluk erat tubuh wanita yang ia rindukan.
Aldi pun memberi kode pada sang dokter untuk menahan tindakan suntik penenang itu. Karena obat penenang Sifa telah tiba.
"Sebaiknya kita semua keluar, biar Sifa bisa tidur kembali" pinta Aldi dengan wajah lelah.
__ADS_1
Dan semuanya mengikuti permintaan Aldi.
Namun Bayu masih setengah tak percaya jika kini mantan kekasihnya itu tengah menenangkan anak dari pria nomor 2 di kota ini.