
Esok paginya.. Sayup-sayup terdengar suara anak kecil dan seorang wanita.
Perlahan Aldi membuka mata dengan menyadari handphonenya yang sedari tadi bergetar di atas meja.
Dengan berat Aldi pun berusaha bangun dari tidurnya. Dan sesaat ia tersadar ketika mendapatkan sebuah selimut menutupi tubuhnya.
"Kamu mau makan?? Mau makan apa??" tanya Sari pada Sifa yang sudah terbangun.
"Bubur" jawab Sifa berbisik.
Sari tersenyum lebar.
"Bubur??"
Sifa mengangguk pelan.
"Baiklah sayang, mama akan pesankan Bubur untuk kamu, yaa" ujar Sari sembari membuka aplikasi gofood.
"Kamu mau pakai kecap gak??"
Sifa menggeleng.
"Oke baik, tanpa kecap" sahut Sari riang dan ia sukses memesankan. Setelah selesai memesan, ia meletakkan handphonenya itu di samping ranjang Sifa.
"Sebentar lagi dokter akan masuk, buat periksa kamu lagi.." Senyum Sari menatap wajah Sifa yang jauh lebih baik.
Tak lama, Aldi datang mendekat dengan mengagetkan Sari.
"Kamu sudah bangun??" tanya Aldi dengan melihat teliti putrinya.
"Tadi, Sifa bangun karena lapar, pak.. tapi saya sudah pesan Bubur ayam.. biar Sifa bisa segera makan"
Aldi mengangguk pelan. Lalu terlihat senyum simpul dari wajah pria yang terlihat lega.Tak lama, ia melihat jam di tangannya.
"Apa kamu akan pulang sekarang??" tanya Aldi.
Sari menoleh dengan relfek melihat jam di layar handphonenya.
"Hmm, mungkin setelah Sifa sarapan.."jawab Sari dengan kembali menatap Sifa.
Entah mengapa jawaban Sari itu melegakan hati Aldi.
Lalu tak lama, terdengar nada dering dari handphone Aldi. Aldi mundur untuk mengangkat telfon penting tersebut.
Sifa melirik dari ujung matanya.
"Papa?? ker-ja lagi??"
Sari menoleh lalu tersenyum.
"Mungkin, tapi mama rasa untuk hari ini Papa kamu akan kerja dari rumah sakit" bisik Sari pelan.
Sifa melihat kembali wajah sang Papa yang terlihat sibuk menerima telfon.
***
Waktu pun berlalu, Sifa telah selesai menyantap sarapan bubur ayam. Walau masih belum begitu berselera, Sari merasa lega jika Sifa sudah mengisi perutnya.
__ADS_1
Perlahan ia bersiap untuk pulang.
"Mama mau kemana??" tanya Sifa.
Sari menoleh pada Sifa dengan memasukkan handphonenya kedalam tas.
"Hm, mama pulang dulu yaa.. besok mama akan kesini lagi"
Wajah Sifa berkerut.
Sari membelai wajah cemberut Sifa.
"Besok mama kesini lagi kok, soalnya mama harus tanggung jawab sama pekerjaan make up mama"
Sifa terlihat tidak rela. Perlahan Aldi mendekat.
"Biar, mama pulang.. ya sayang.. hari ini Papa akan seharian enggak akan kemana-mana" bujuk Aldi dengan duduk di tepi ranjang Sifa.
Sifa pun nimbang, lalu tak lama ia mengangguk menyetujui.
Sari tersenyum simpul.
"Jangan lupa minum obat dan nanti makan yang banyak, kalau Sifa cepat sembuh mama akan kasih hadiah spesial" ujar Sari memberi iming-iming.
Sifa seketika bersemangat.
"Hadiah?? spesial mah?? apa??"
"Rahasia dong, kan tunggu kamu sembuh dulu, nanti mama pasti kasih hadiahnya.. jadi biar kamu semangat untuk cepat sembuh.." timpal Sari memberi semangat.
"I-ya mah" sahut Sifa senang.
Tak lupa sebelum beranjak pergi ia menjatuhkan sebuah kecupan sayang di kening Sifa.
Cup..
"Dah, sayang.." ucap Sari lembut.
Sesaat Aldi terkesima akan moment itu.
Perlahan Sari berlalu pergi dari ruangan itu dengan Aldi yang masih terpaku.
***
1 minggu pun berlalu.
Dan hari-hari Sifa berwarna seiring dengan terus membaiknya kondisi Sifa.
Disatu sore, dokter datang untuk mengecek keadaan Sifa.
Sifa mengenggam jemari Sari. Ia berharap dokter akan mengabarkan jika kondisinya sudah baikan.
Dokter terlihat memeriksa tubuh Sifa dengan teliti sebelum mengambil keputusan.
"Gimana pak Dokter?? Sifa udah sembuh kan??" tanya Sifa yang tak sabar.
"Sssttt.."Sari reflek memberi kode dengan menaikkan jemari telunjuk tepat di bibir bawahnya.
__ADS_1
Sifa hanya tertawa usil membalas peringatan sang mama.
Tak lama, dokter terlihat tersenyum simpul memandang wajah berseri Sifa.
"Bagus Sifa.. kamu benar-benar anak pintar, dan benar kamu sudah sembuh"
"Yeeeaaa..." jerit Sifa kegiranan.
Sari tersenyum lebar melihat reaksi Sifa.
"Gimana dokter?? keadaan Sifa..??" tanya Sari memastikan lagi.
Dokter berbalik menatap Sari. Namun tiba-tiba terdengar pintu kamar di buka sedikit kasar.
Sehingga fokus Sari dan dokter pun teralih pada sosok yang masuk tanpa mengetuk pintu itu.
Dan ternyata pak Bupati tiba dengan wajah paniknya.
"Gimana dokter keadaan anak saya??" tanya Aldi terburu.
"Udah sembuh, papa" jawab Sifa girang.
Aldi terpaku ketika melihat sang putri yang kini duduk tanpa terpasang alat pernafasan lagi.
Wajah Aldi benar-benar terkaget sehingga ia mendekat pada sang putri.
"Benar, mah??" tanya Aldi spontan.
Deg.. Namun hal itu malah membuat jantung Sari terguncang ketika pak Bupati memanggil ya dengan panggilan "mah" .
Dokter tersenyum.
"Benar pak, Sifa sudah sehat.. sudah bisa pulang"
Wajah lega Aldi pun terlihat jelas. Ia dengan bahagia memeluk sang anak.
"Akhirnya kamu sehat sayang.. Papa senang sekali" ujar Aldi bahagia.
"Semoga tetap sehat ya Sifa" doa dokter.
Sifa tersenyum cerah, lalu seketika tatapannya jatuh pada Sari. Seolah ia menunggu janji yang telah Sari ucapkan.
"Hadiahnya mah??" pinta Sifa dengan mengulurkan tangan di hadapan Sari.
"Hadiah??" tanya Sari lupa.
"Iya, kan mama janji, kalau Sifa cepat sehat mama bakal kasih hadiah kejutan buat Sifa.. iya kan?"
Seketika Sari tersadar.
"Oh iya, bener... anak siapa sih pintar banget soal inget janji??." seru Sari sembari mengusap pucuk kepala Sifa.
Namun tanpa di duga, Aldi malah memeluk Sifa dan mengendongnya.
"Anak Papa dan mama dong, pastinya" sahut Aldi enteng sembari tersenyum manis pada Sari.
Deg.. Sari mematung ketika mendengar gurauan sang pak Bupati.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tolong sadarkan pak bupati ku ini!!" jerit batin Sari hampir pingsan.