
Di pagi hari yang cerah, terlihat Sari dan Lisa tengah mengejar waktu dengan beberapa wanita cantik yang akan mengikuti contents model.
Terlihat gadis-gadis cantik nan ramping menunggu giliran dengan sabar di sofa ruang rias.
Ada yang sibuk bergosip, ada yang fokus pada handphonenya. Bahkan ada yang sedari tadi tak lepas dari handphonenya karena tengah menerima telfon penting.
Suasana yang sedikit sibuk itu membuat Sari sedikit terlupakan akan satu berita yang harus ia beritau pada Lisa.
Waktu pun berjalan dengan cepat tanpa mereka sadari, hingga satu persatu model cantik itu keluar menuju runway yang telah di sediakan oleh pengada acara.
Sari duduk dengan meraih teh yang sudah tak hangat lagi untuk ia minum. Begitu pun dengan Lisa yang duduk berselonjor di sofa.
"Untung kamu pinter cari asisten" celetuk Lisa.
Sari tersenyum kecil lalu memberikan tanda jempol pada Lisa seolah membenarkan ucapan sang teman.
"Ah, benar-benar melelahkan" seru Lisa melepaskan lelahnya.
"Hari ini kita sampai malam??"
"Iya" sahut Lisa sembari melihat jam tangannya. "Ajang putri daerah ini bisa selesainya malam"
"Oh" sahut mengangguk pelan.
Tak lama terdengar suara notifikasi pesan masuk. Sari meraih tas lalu merogoh kedalamnya dan meriah handphonenya.
Ia membuka kode layar dan terlihat beberapa pesan masuk.
Dan salah satunya dari pak Bupati. Seketika Sari sadar, lalu dengan cepat membuka laman pesan itu.
"Selamat pagi Sari.. maaf jika mas, menganggu waktu kamu, tapi boleh kah mas bertanya lagi??" pesan milik Aldi di baca dengan wajah terpaku oleh Sari.
"Mas??" bisik Sari mengulang bacaan pesan dari Aldi. Ada rasa mengelitik ketika panggilan pria itu berubah, kesan kaku dan canggung.
Tak lama sebuah pesan kembali masuk di layar handphonenya.
"Kapan waktu terbaik mas datang untuk bertemu dengan orang tua kamu??" pesan yang baru saja di kirim Aldi.
Sari membaca dengan cepat dan terlihat bibirnya berkomat kamit.
Lisa melihat sekilas pada Sari yang fokus pada layar handphonenya.
"Kenapa Sari?? apa ada job lagi??" tanya Lisa santai.
"Mm??" Sari sedikit terusik lalu sempat menoleh pada Lisa. "Apa??" tanya Sari mengulang.
"Job?? gue tanya, apa ada jadwal job make up lagi??" tanya Lisa.
"Ah, mm, enggak ada" jawab Sari.
"Oh" sahut Lisa dengan menegadah kepala untuk beristirahat.
Sejenak Sari menimbang pesan pak Bupati. Berkali-kali tangannya bingung mengetuk huruf mana ketika ingin mengetik di layar datar itu.
__ADS_1
Ia benar-benar bingung, terlihat ia gelisah tiap membaca ulang pertanyaan pak Bupati yang ingin segera bertemu dengan ibunya.
"Oh ia Sari!!" seru Lisa yang tiba-tiba.
"Ya??" sahut Sari reflek menjawab cepat.
Lisa heran mendengar respon Sari yang kaget.
"Kenapa lo??"
"Ah, gak papa.."
"Oh.. hm, Sari lo udah daftar class MUA itu belum??"
"Hm?? siapa?"
"Itu yang lo fans banget sama gaya make up dia"
Sejenak Sari mengingat-ingat siapa saja MUA yang menjadi idolanya. Dan seketika ia mengingat seorang MUA bergaya sederhana namun begitu membuatnya kagum.
"Oh, dia.. udah, gue udah daftar.. karena dia membatasi jumlah peserta"
"Waah serius lo?? kan 12 juta loh"
"Ya mau gimana lagi, seni make upnya memang pantas kok untuk nilai segitu, lagian jam terbang dia make up dengan artis ibu kota juga udah sering, jadi wajar lah"
"Ckckck.. lo bener-bener yaa ngefans banget sama dia"
Sari mengangguk.
Lisa mengangguk pelan menyetujui gambaran Sari akan sosok wanita yang telah menjadi MUA terkenal di kota besar.
Tak lama Sari pun mengetik sesuatu di layar handphonenya dengan cepat.
"Pagi pak, Sari sudah menceritakan awal tentang lamaran ini sama ibu, dan Sari rasa bapak bisa datang kerumah jam..." ketikan jemari Sari terhenti seiring dengan keningnya berkerut ketika membaca dan merasa aneh pada tata bahasa yang sudah ia rangkai.
Lalu tak lama ia menghapus lagi ketikan itu.
"Selamat pagi pak, Bapak bisa datang kapan pun di waktu yang bapak bisa, Sari dan keluarga akan menunggu.." singkat padat jelas, begitulah isi pesan yang akhirnya Sari kirim pada Bupati Aldi. Namun ia masih merasa bahasa pesan ini benar-benar aneh.
Sari menatap terpaku pada layar datar itu, ia masih dapat melihat gambar centang dua disana dan gak lama gambar cengeng itu berubah menjadi biru. Sebagai tanda bahwa pesan itu telah dibaca oleh Aldi.
Deg.. jantung Sari berdebar, takut dan cemas.
"Lisa.."
"Hm??" Lisa menyahut tanpa menoleh.
Sari beranjak dari untuk duduk di samping Lisa. Lisa melihat sekilas Sari lalu kembali menatap layar handphonenya.
"Gue.. gue mau kasih tau lo satu hal penting" ujar Sari bernada serius.
Lisa setengah berpaling menatap Sari.
__ADS_1
"Gue.." ucap Sari tergantung ragu. "Gue udah nerima lamaran pak Bupati" sambung Sari lancar.
Lisa mendengar dengan wajah tenang. Lalu sedetik kemudian mencoba mencerna.
"Apa?? lamaran siapa tadi??" tanya Lisa merasa pendengarannya salah.
Sari menghela nafas panjang.
"Pak Bupati, Aldi Munandar.. gue bakal jadi ibu Bupati" jawab Sari dengan wajah kaku.
Wajah Lisa seketika berubah syok.
"Lo serius?? lo udah terima lamaran pak Bupati?? kapan? gimana ceritanya???" cecar pertanyaan bertubi-tubi.
Syok dan juga senang tergambar jelas di wajah Lisa.
"Ke-marin" jawab Sari singkat.
"Apa??"
"Aah.." hela Sari dengan wajah gusar. " Gue sendiri masih gak percaya kalau udah nerima lamaran pak Bupati" ulang Sari.
Lisa meraih tangan Sari.
"Percaya, ini semua sudah takdir-Nya.. mau lo menghindar kalau memang pada akhirnya jodoh lo itu pak Bupati, yaa lo harus senang dan bersyukur dong"
Sari mengangguk.
"Iya.. gue lagi berusaha" sahut Sari tergantung dan sekilas ia mengingat pelukan hangat Aldi sore itu. "Semoga gue, Sari yang cuma wanita biasa-biasa aja ini bisa mendampingi beliau.." sambung Sari bernelangsa.
Plak..sebuah pukulan kecil mendarat di pundak Sari seolah menyadarkan keadaan.
"Lo bukan wanita biasa-biasa aja, lo wanita luar biasa.. pasti karena hal itu pak Aldi jatuh cinta dan mantap buat melamar lo.. gue yakin 100%" ujar Lisa percaya diri dengan penilaiannya.
Lisa pun meraih jemari Sari dan mengenggamnya erat, sehingga Sari merasa heran.
"Kayak gini, lo harus genggaman tangan pak Bupati kayak gini nanti, dan wajah lo juga jangan terus tunduk..angkat dan buktikan pada orang-orang yang dulu pernah menjatuhkan lo, bahwa lo wanita yang pantas untuk berdiri di samping pak Bupati" kata Lisa dengan memberi semangat pada Sari.
Sari tertawa kecil.
"Iya..iya.."
Kening Lisa berkerut.
"Ini serius loh" seru Lisa.
"Iya, tar gue praktekin nanti.." sahut Sari.
"Jadi sekarang gue kudu manggil lo ibu Bupati dong" celetuk Lisa usil.
"Ikh, apa sih??" protes Sari tertawa kecil, ada rasa lucu mengelitik mendengar sapaan ibu Bupati yang tak akan lama lagi tersemat di depan namanya.
Lisa dan Sari tertawa kecil. Lisa senang akhirnya sang teman baik mendapatkan pria yang memang pantas menjadi jodohnya. Jodoh yang memang luar biasa.
__ADS_1