
Sudah dua hari, ibu Aldi dirawat dirumah sakit. Dari kabar terakhir yang ia dapat, ibu Aldi sudah sadar namun masih sedikit lemah.
Kini Sari berada di toko galerynya. Ia duduk termenung menatap jejeran alat make up yang sudah berantakan karena mendandani dua orang pengantin yang menikah pagi tadi.
Sari tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga Lisa datang mendekat dengan menaruh beberapa brush yang sudah ia cuci dan hendak ia keringkan.
"Tolong ambil ini Sar.." seru Lisa dengan memberikan sebuah tempat yang terlihat berat.
Namun Sari tak bergeming, ia masih saja terpaku pada tempat lisptik yang masih berantakan.
"Sari???" panggil Lisa kembali. Sari masih diam, hingga akhirnya Lisa menyikut lengan Sari.
Sari terkaget dengan reflek menoleh pada Lisa yang menatap heran.
"Lo kenapa?? gue panggil dari tadi sampai gak denger"
Sari menatap bias lalu kembali menyusun lisptik itu satu-satunya di tempatnya semula.
"Lo kenapa??" tanya Lisa mengulang dengan nada curiga. "Apa terjadi sesuatu??"
Sari menghela nafas panjangnya. Ada rasa yang membuat dadanya sedikit merasa sesak.
"Bagaimana menurut kamu, jika menikah tampa restu??"
Lisa mendengar dengan heran.
"Maksudnya?"
Sari kembali menarik nafas lebih dalam sebelum melepaskannya dengan berat.
"Ibu mas Aldi, tak merestui jika aku menikah dengan anaknya.." jelas Sari yang akhirnya buka suara.
Lisa terpaku.
"Serius?"
Sari mengangguk pelan.
"Dan sekarang ibu mas Aldi ada dirumah sakti.. karena.." ucap Sari tergantung gusar.
"Sar???" panggil Lisa bersimpati pada persoalan yang tengah melanda temannya itu.
"Aku bimbang, jujur aku gak mau menikah jika gak ada restu.. kamu taukan Lisa, gimana hubungan aku dulu dengan mas Bayu, karena gak ada restu hubungan kamu pun kandas.. aku.." Sari terlihat tak sanggup berkata-kata jika harus merasakan hal itu lagi.
"Aku gak bisa membayangkan pernikahan jika tanpa restu.. pasti pernikahan aku juga bakal hancur.. aku gak mau terjadi hal yang begitu Lisa.. jujur aku jadi berat untuk menikah dengan mas Aldi..walau..." ucap Sari tergantung gusar.
"Walau mas Aldi benar-benar menyukai aku tapi.. rasanya aku tidak siap jika orangtua, ibu mas Aldi sendiri yang menentang pernikahan kami.. aku merasa jika mas Aldi akan menjadi anak yang durhaka.."
Lisa terpaku mendengar isi hati Sari yang terlihat menderita. Jemari Lisa reflek menyentuh pundak temannya karena rasa simpati melihat Sari yang sedih.
"Benar kan Lisa??? aku gak salah kan kalau berpikir seperti itu??" tanya Sari mencari jawaban atas kebimbangan hatinya.
Lisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku setuju tapi pak Bupati sangat mencintai kamu, Sari" ujar Lisa menyadarkan Sari.
"Aku tau.. tapi menikah itu bukan hanya ada aku dan mas Aldi.. ada orang tua dan keluarga yang ikut menjadi satu, tapi jika salah satu tak merestui maka.. aku takut jika hal buruk dalam pernikahan itu akan terjadi.." jelas Sari menatap Lisa dengan lekat.
"Kamu benar, memang menikah bukan hanya ada kamu dan pak Bupati tapi ada dua keluarga yang ikut menjadi satu..tapi.." ucap Lisa tergantung gusar. "Apa lo yakin akan membatalkan pernikahan dengan pak Bupati, lo tau kan?? semua kota udah tau tentang acara pernikahan kalian?"
Seketika Sari berpikir akan pertanyaan Lisa. Namun hati nuraninya lebih merajai pilihan hatinya.
"Lebih baik batal dari pada bercerai kemudian hari.." jawab Sari yang menjawab tanpa ragu.
Lisa mengangguk.
"Lalu bagaimana kamu akan jelaskan sama mas Aldi?? Sifa?? juga ibu kamu" tanya Lisa.
Sejenak Sari terdiam, ia belum terpikir dari mana ia akan memulai semua itu.
"Lisa.. jika aku mengambil keputusan itu, apa kamu mau membantu aku.."
Lisa menatap bola mata kesungguhan Sari, lalu reflek mengangguk pelan.
"Ya.. gue akan bantu lo, semampu gue untuk kebahagiaan lo.." jawab Lisa seraya memeluk tubuh Sari yang terlihat tertekan dan penuh beban di pundaknya.
***
Sore harinya, Sari mengunjungi rumah kediaman Bupati. Ia datang untuk bertemu dengan Sifa.
Sifa menyambutnya dengan penuh suka cita. wajahnya kembali ceria setelah hari kejadian itu.
Ketika Sari berada di kamar Sifa, Sari melihat lejat pada wajah anak tirinya itu dengan wajah sendu. Sifa yang terus bercerita tentang kegiatan lesnya hari ini tak menyadari jika calon mama barunya itu tengah bimbang.
"Hmm??"
"Mama, nanti setelah acara pesta mama dan papa, kita liburan bertiga yaa, ke Bali?" pinta Sifa manja.
"Bali???"
"Iya, Sifa dengar pantai di Bali bagus mah.. dan disana ada permainan laut yang katanya seru mah.. Sifa mau kesana sama papa dan mama.. boleh ya mah??" bujuk Sifa manja.
Sari hanya tersenyum kecil. Ia tak bisa menjawab rencana gadis kecil itu.
"Oia mah, mama pakai baju ukuran berapa??" tanya Sifa yang tiba-tiba mengambil sebuah buku notes kecil.
"Ukuran baju?? untuk apa??"
"Ada dehh" seru Sifa sedikit bermain rahasia. "Mama ukuran S?? apa ukuran M??" tanya Sifa kembali.
"Hmm, apa yaa?? kayaknya M deh, soalnya mama udah gendut.." jawab Sari dengan tersenyum kecil.
"Ooh, M yaa.. okeh" sahur Sifa sembari mencatat di buku notesnya dengan semangat.
Sari menatap dengan wajah sendu pada wajah riang itu, hingga tanpa sadar ia membelai lembut kepada Sifa.
"Sifa??"
__ADS_1
"Ya mah??" jawab Sifa dengan menoleh pada sang mama baru.
"Jadi anak baik yaa.." pesan Sari penuh makna.
Sifa reflek mengangguk cepat tanpa tau makna perkataan itu.
"Dan sayangi papa selalu.. dan jangan marah atau kesal sama papa" sambung Sari dengan membelai penuh sayang pada Sifa yang tak mengerti dengan perkataan sang mama baru.
"Oke, mah.. Sifa janji jadi anak yang baiiik dan sayang buat mama dan papa.." ucap Sifa sembari mendekat dan mengecup pipi Sari dengan penuh sayang.
Cup..
Sari terkejut dan ia merasa haru hingga tanpa sadar memeluk erat tubuh anak tirinya itu.
"Maafkan mama Sari.. mama sayang kamu selalu sifa.. mama minta maaf karena gak bisa jadi mama kamu..mama berdoa semoga Tuhan mengirim seorang mama lain yang bisa mencintai kamu dan papa kamu.. dan juga dapat membahagiakan nenek.. maafkan mama sayang sungguh mama gak pernah menyesal pernah menjadi mama khayalan kamu.." bisik batin Sari yang akhirnya menangis di pelukan Sifa.
Sifa memeluk erat mama Sari, ia bingung mengapa mama barunya ini menangis.
"Jangan nangis mama, papa dan Sifa sayaaang banget sama mama Sari.." ujar Sifa dengan menyeka air mata wanita yang ia sayangi.
"I Love you mamah.." sambung Sifa dengan mengecup kening Sari.
Sari tak kuasa menahan tangisnya, sungguh ia berat untuk meninggalkan Sifa. Namun ia juga tak bisa melanjutkan ini semua ke jenjang yang serius jika tak mendapat restu dari ibu mas Aldi.
Suasana haru begitu menyelimuti keduanya dalam keduanya.
***
Tepat jam 6 sore, mobil brio Sari keluar dari perkarangan rumah dinas pak Bupati.
Dan tak berselang lama, mobil dinas Aldi pun tiba disana.
Sifa yang masih berada di teras pun merasa heran dengan kebetulan yang seperti di sengaja.
"Hallo, Sayang.. kok tumben kamu nyambut papa pulang??"
"Enggak kok.."
"Loh?? terus kok kamu ada didepan??"
"Iya, tadi Sifa antar mama pulang.."
Aldi terkaget.
"Mama??"
"Iya, tadi mama Sari ada di sini pah.."
"Oya?? kok papa gak tau yaa?" seru Aldi heran.
"Tapi..."
"Hm?? kenapa sayang??" tanya Aldi dengan merapikan rambut Sifa yang tergerai.
__ADS_1
"Tadi.. mama Sari nangis.."
"Hah??"