Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
66


__ADS_3

Malam itu, disatu kamar VIP pasien. Sari berdiri di depan pintu dengan mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu dengan ibu Aldi.


Tok.. tok.. pintu ia ketuk pelan lalu membukanya.


Terlihat wanita itu tengah bersama sang adiknya, ibu dari Liana.


Kedua wanita itu terlihat terpaku dengan wajah penuh kebencian pada Sari.


Namun Sari tetap masuk dan membawakan ya sebuah buket bunga juga karangan buah segar.


"Selamat malam, ibu" ucap Sari ketika berada di tengah ruangan pasien itu.


"Kamu???" seru ibu Aldi yang langsung murka ketika melihat wanita yang membuat putranya berubah ada di hadapannya kini.


***


Di jam 11 malam, Aldi tiba di kamar perawatan sang ibu. Terlihat sang ibu masih belum tidur dengan wajah penuh pikiran dan kesal.


"Kenapa ibu belum tidur??"


Ibu Aldi menghela nafas dengan kasar.


"Ibu gak bisa tidur" jawab ibu ketus, namun Aldi malah dengan sepenuh hati merapikan selimut dan memeriksa selang infus yang ternyata masih berjalan dengan normal.


"Kenapa ibu gak bisa tidur?? apa ibu sudah minum obat?" tanya Aldi lalu sekilas ia melihat sebuah buket bunga juga keranjang buah sudah terbuang di tong sampah. Aldi merasa heran mengapa dua hal itu ada disana.


"Itu?? bunga dari siapa??? apa ada yang mengunjungi ibu??"


Wajah ibu kian terlihat kesal dengan pertanyaan sang anak.


"Ibu heran sama kamu, apa sih yang kamu suka dari perempuan kayak si Sari itu??? apa sih yang kamu lihat?? cantik enggak pintar apa lagi.. terus apa kamu tau asal usul keluarganya?? keluarganya bahkan keluarga miskin" cecar ibu yang terus menyudutkan sosok wanita yang tengah menjalin cinta dengan putranya.


Aldi sontak marah mendengar cecaran pertanyaan ibu yang sudah merendahkan sosok sang pujian hati.


"Apa Sari tadi kesini??" tanya Aldi.


"Ya?? perempuan sok itu datang kemari cuma buat ceramahin ibu.. benar-benar gak sopan!!" rutu ibu kesal.


"Memang apa yang ia katakan sampai ibu sekesal itu pada Sari??"


Raut wajah ibu berubah sinis dengan alis terangkat.


"Kalau kamu dengar memang kamu mau percaya sama ibu??"


Aldi diam dengan menahan amarahnya.


"Nie yaa ibu kasih tau, si Sari itu sok banget, ngomongnya kayak udah merasa berpengalaman aja.." semprot ibu dengan nada kesal.


"Tau kamu dia ngomong apa buat ibu??"


"Masa disuruhnya ibu sadar dan bertaubat.. apa dia pikir ibu bakal meninggal besok, dasar si Sari bodoh itu!!" tukas ibu dengan nada benci.


Aldi diam dengan menatap wajah kekesalan sang ibu.


"Ya..apa yang Sari katakan itu benar" sela Aldi yang tak bisa lagi menahan dan mentolerin sifat angkuh dan sombong sang ibu.


Kening ibu Aldi berkerut heran.


"Maksud kamu apa sih??? mau bela omongan si Sari itu??? hah???" balas ibu Aldi yang masih dongkol.


Aldi berpikir dan ia menghela nafas berat.


"Buk.. kenapa ibu gak berubah, sedikit saja di sisa-sisa hidup ibu??"


Ibu Aldi terteguh.


"Maksud kamu?? ibu harus tobat??? memang ibu punya dosa apa sampai harus tobat?? lagi pula mati itu urusan Tuhan Aldi, ibu masih punya lah waktu untuk bertobat.." seru ibu tanpa mau kalah.


"Enggak!!" potong Aldi keras.


Hingga ibu Aldi kaget dengan nada bicara sang anak yang berubah.


"Ibu.. ibu gak punya banyak waktu lagi.."


Deg... ekspresi wajah ibu seketika berubah bingung mendengar ucapan sang anak.


Aldi tertinduk dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Aldi?? maksud kamu apa ngomong gitu???" tanya ibu dengan perasaan tak enak.


Dengan hela nafas berat Aldi akhirnya membuka rahasia penyakit sang ibu.


"Kanker, ibu terkena kanker otak.."


Jleb... ibu Aldi mematung seolah waktu di sekeliling berhenti dan berubah menjadi hampa udara.


"A-apa.."


"Kanker otak buk, dan sudah parah hingga menjalar sampai ke otak belakang"


Seketika tubuh ibu Aldi lemas, ia tak bisa berpikir bahkan menjelaskan bagaimana perasaannya kini. Ia tak menyangka sakit kepalanya selama ini adalah kanker otak yang secara perlahan sudah menjalan di otaknya.


Tanpa sadar air mata ibu Aldi tumpah. Dan itu menjadi malam berduka untuk ibu Aldi dan Aldi.


***


Di sisi lain, dikamar sederhana milik Sari. Terlihat sebuah koper tas sedang di susun beberapa baju yang akan di bawa oleh Sari.


Ibu masuk dengan wajah sendu.


"Kamu masih belum siap??" tanya ibu yang tiba-tiba masuk dan mengangetkan Sari.


"Eh, ibu.. hm, sedikit lagi.." jawab Sari dengan memasukkan dua baju kemeja kedalam tas kopernya.


Ibu duduk di tepi ranjang Sari dan hanya memperhatikan sang putri yang terlihat tenang menyusun pakaiannya.


Namun sebagian seorang ibu, ibu tau perasaan Sari yang sedang sedih. Walau pak Bupati orang yang baik, namun jika tidak ada restu dari orang tuanya maka pernikahan Sari akan berat. Keputusan Sari untuk mundur adalah yang terbaik, dan ibu mendukung hal itu.


Karena ia tak ingin sang putri tersakiti di dalam pernikahannya nanti.


"Siapa yang antar kamu??"


"Hmm, mungkin naik taksi.. kenapa buk?"


"Oh, enggak.. ibu pikir jika kamu di antar Lisa, ibu mau ikut buat antar kamu ke bandara.."


Sari tersenyum kecil.


"Ibu dirumah aja, istirahat.." seru Sari tegar.


Sari terjegat kaget. Namun ia mencoba masih bisa tersenyum di hadapan sang ibu.


"Ya.. ini jauh lebih baik.." jawab Sari ambigu.


Ibu turun memeluk tubuh sang anak. Dan Sari terkejut dengan dekapan hangat itu.


"Dimana pun dan kemana pun kamu berada, doa ibu akan selalu ada di langkah kamu" bisik ibu mendalam.


Seraut wajah terharu pun terlihat di wajah Sari. Namun ia cepat-cepat menenangkan hatinya yang tengah bergemuruh perih.


"Terimakasih bu.. Terimakasih" Sari berbisik parau dengan menahan tangisnya yang tertahan di tenggorokannya.


***


Kembali lagi ke kamar ruang rawat ibu Aldi. Terlihat Aldi yang berada diluar kamar pasien tengah gusar menatap handphone. Sudah beberapa kali ia menghubungi Sari, namun tak ada jawaban. Bahkan pesan wa darinya sedari siang pun tak di baca oleh sang calon istri.


"Sari???" bisik Aldi dengan nada bingung ada apa dengan sang calon istri yang tiba-tiba tak ada kabar.


Namun berbeda dengan sang ibu yang terdiam mematung. Ia tenggelam dengan rasa syok akan kenyataan yang bagai petir di siang bolong.


"Kanker otak buk, dan sudah parah hingga menjalar sampai ke otak belakang" ucapan Aldi terngiang jelas di benak ibu.


"Kanker??" bisik ibu yang akhirnya menyentuh kepalanya untuk memeriksa tempurung kepalanya. Dan dari rabaan itu, jemari ibu Aldi dapat merasakan benjolan di sekitar telinga belakang yang sudah agak besar.


Seketika tangan itu jatuh dengan lemah, ia tak menyadari jika benjolan itu adalah kanker yang mengerogoti otaknya. Ia hanya berpikir ini hanyalah benjolan biasa dan sakit kepala biasa karena usia. Tapi nyatanya ia mengidap penyakit diam yang mematikan.


Sekilas ia mengingat kembali ucapan Sari, beberapa jam yang lalu. Ia mencoba mencerna kembali ucapan wanita yang masih terlihat baik-baik saja walau ia telah di hina dan di cemooh oleh perkataan kasar dari dirinya.


Flash Back beberapa jam yang lalu ketika Sari datang.


Masih dengan wajah tenang Sari masuk kedalam kamar pasien ibu Aldi.


"Kamu??" seru ibu Aldi tak suka dengan kehadiran Sari di kamarnya.


"Bagaimana kabar ibu?? apa jauh lebih baik??" tanya Sari yang kian mendekat pada tempat tidur pasien itu.

__ADS_1


"Kamu ini, ternyata tebal muka yaa??" seru tante Dwi.


"Saya datang hanya memenuhi kewajiban sebagai sesama manusia dan rasa simpati saya.." jawab Sari tengan dan ia menaruh buket bunga dan keranjang udah segar di meja sebelah tempat tidur ibu Aldi.


"Kamu gak usah cari muka!! kamu tau?? ini pasti karena kamu sudah menghasut Sifa!! makanya anak itu jadi tambah bandel dan nakal!!" tuding ibu Aldi mulai tajam.


Sari menelan salivanya agar telihat tenang, ia sudah siap dengan segala ucapan kasar dan hinaan ibu Aldi untuk terakhir kalinya.


"Mengapa anda begitu membenci Sifa??? apa salah anak kecil itu??" tanya Sari dengan wajah datar.


Ibu Aldi kian melirik benci.


"Mengapa anda tidak berubah, dan bertaubat?? apa anda tidak ingin memiliki kenangan baik dengan cucu anda satu-satunya???" ujar Sari lagi.


"Cucu?? aku tidak pernah akan mengakui Sifa cucu ku..!!" tukas ibu Aldi sinis.


Sari kembali menghela nafas.


"Jadi anda memiliki penilaian standar tentang seorang cucu?? apa anda berpikir Tuhan tidak marah dengan sifat anda yang terlalu tamak dan sombong.. sadar lah buk..!!" seru Sari gusar.


"TUTUP MULUT MU, SARI!! KAU PIKIR KAU SIAPA BERANINYA MENCERAMAHI AKU, AKU TAK AKAN TERPENGARUH DENGAN UCAPAN MU, SEPERTI ALDI!!" hardik ibu Aldi dengan nada tinggi.


Sari tersenyum simpul.


"Saya salut dengan pak Aldi, dia masih terus menghormati anda sebagai ibunya walau tau anda sudah menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri!! apa itu menyenangkan untuk ibu??? apa ibu puas" sindir Sari.


Ibu Aldi menatap tajam pada wajah Sari yang terlihat tenang.


"Apakah ibu tidak pernah berpikir atau iri pada teman ibu atau siapa pun yang bisa dekat dan bahagia bersama menantu dan cucunya??"


Ibu Aldi dan tante Dwi kian meradang melihat Sari.


"PERGI KAMU!! SAYA TIDAK SUDI MENDENGAR OCEHAN SAMPAH, KAMU!! KAMU DATANG MALAH MEMBUAT TAMBAH SAKIT KEPALA SAYA!!" ucap ibu Aldi marah.


"Ya.. Sari akan pergi, bahkan ibu tidak perlu khawatir lagi.. karena.." ucap Sari tergantung berat. "Karena Sari akan membatalkan pernikahan Sari bersama mas Aldi.."


Ibu Aldi dan tante Dwi terkaget dengan wajah tak percaya.


"Waah, waaah..syukurlah.. akhirnya kamu sadar diri juga" sahut ibu Aldi senang dengan ucapan Sari.


"Tapi jangan salah, Sari melakukan ini karena tidak ingin, mas Aldi menjadi anak durhaka untuk ibu..!!" ucap Sari tajam.


"Heh!! kamu pikir keponakan saya tidak berbakti pada orang tuanya?? kurang ajar kamu yaa??" sela tante Dwi yang terlihat marah pada ucapan Sari.


"Ya.. jika mas Aldi menikah dengan Sari, pasti mas Aldi akan jadi anak yang durhaka pada ibunya.. karena ia tetap menikahi wanita yang ia pilih dari pada ibunya sendiri.. apa saya salah???" ujar Sari tak mau kalah.


"Tapi Sari berpikir.. untuk apa pernikahan tanpa restu?? Sari rasa itu hanya buang-buang perasaan Sari dan harga diri Sari.. ibu tau?? boleh jadi ibu adalah ibu mas Aldi yang tanpa ridha dan doa ibu mas Aldi tidak bisa seperti sekarang.. tapi ibu juga harus ingat, jika sekali saja air mata istri mas Aldi jatuh karena sakit hati dan kecewa maka mas Aldi juga tak bisa dengan mudah mendapat kemudahan baik dalam mencari rejeki atau pun beban dosanya sebagai suami di akhirat kelak.." ancam Sari tanpa ragu.


Ibu Aldi dan tante Dwi kian kesal mendengar ceramah Sari yang seolah mengurui.


"Tapi Sari bukan wanita egois dan serakah.. karena rasa sayang Sari tulus pada mas Aldi.. maka Sari mundur.. Sari tidak ingin mas Aldi bimbang dan terus terpuruk diantara pilihan ibu atau Istrinya kelak" sambung Sari tenang dengan menguasai dirinya yang juga ingin marah.


"Dan ibu juga harus ingat satu hal.. bahwa harta, tahta juga gelar itu hanya akan tinggal, dan tak akan dibawa mati.. jadi untuk apa mengejar hal yang fana!!"


"Bukankah ketika kita mati yang kita ingin hanya amal, doa terbaik dari anak yang soleh dan juga doa dari orang-orang yang menyayangi dan mencintai kita.." seru Sari dengan wajah sendu.


"HEH, SARI!! kurang ajar kamu yaa!! kamu pikir mati itu urusan kamu!! berani benar kamu doa buruk untuk saya.."


" Enggak.. Sari gak pernah mendoakan hal yang buruk untuk ibu.. Sari malah berdoa agar ibu di beri kesembuhan dan umur panjang untuk bisa terus mendoakan mas Aldi agar ia juga bisa bahagia.."


"Pergi kamu!! semakin lama liat kamu semakin sesak dan pusing kenapa, ibu " usir ibu Aldi yang kian tak menyukai wanita seperti Sari.


"Ya.. Sari akan pergi.. semoga ibu sehat dan bisa lebih mengerti mas Aldi dan juga menyayangi Sifa.."


"Ckk.." decak ibu kesal.


Sari pun perlahan pergi meninggalkan kamar pasien itu.


Ibu Aldi dan tante Dwi hanya melihat dengan tatapan sinis namun juga lega karena wanita penganggu itu akan pergi dan membatalkan pernikahannya dengan Aldi.


"Dwi.."


"Ya kak??"


"Kamu buang bunga dan buah itu ke tong sampah, aku gak mau liat benda sialan itu ada di sana.. bisa tambah sakit kepala ku"


"Oh, yaa.. baik kak.." Tante Dwi pun mengambil dan langsung membuang bunga dan buah itu ke tong sampah.

__ADS_1


"Tapi syukurlah, akhirnya perempuan itu sadar, jadi aku gak susah buat misahi Aldi dan perempuan bodoh itu!!" ujar ibu Sari yang merasa lega namun sakit kepalanya mulai kembali menganggu.


Flash Back OFF


__ADS_2