
Malam harinya, di jam 12 malam, akhirnya Aldi pulang dengan wajah lelah setelah sidang panjang bersama para petinggi partai.
Seraut wajah lelah pun terlihat ketika ia berjalan dengan melepaskan kencing lengan panjang bajunya. Dan ia pun melewati kamar sang putri tercinta, Sifa.
Terlintas ucapan pak Budi tentang sikap Sifa beberapa minggu ini yang jauh lebih penurut dan tak berbuat onar.
Langkah Aldi terhenti, ia menimbang dengan menatap pintu kamar sang putri.
Namun pada akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar Sifa. Perlahan ia membuka pedal pintu kamar itu agar tak menimbulkan suara yang dapat membangunkan sang anak.
Hening dan perlahan langkah kaki Aldi masuk lebih dalam menuju ruangan kamar itu. Terlihat sosok sang putri tengah tertidur lelap dengan memeluk boneka kesayangan sedari bayi dulu.
Aldi mendekat untuk lebih jelas melihat wajah sang anak, matanya turun dengan sendu memandang wajah Sifa yang tertidur lelap.
Perlahan tubuh Aldi turun untuk membenarkan selimut yang sedikit terbuka. Lengan kecil itu perlahan ia masukkan kedalam selimut. Namun tanpa terduga hal tersebut membuat Sifa bereaksi dengan sedikit mengeliat pelan.
"Mama?" seru Sifa berbisik pelan dalam tidurnya.
Deg... Aldi terpaku ketika mendengar ucapan Sifa yang sama itu.
Sesaat perasaannya pun berubah. Dan ketika Aldi memutuskan untuk berbalik badan. Tanpa terduga Sifa terjaga, kedua matanya terbuka.
"Papa??" serunya dengan suara parau yang akhirnya menghentikan langkah Aldi dan membuat sang Papa berbalik badan menghadap dirinya.
Aldi memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan sang putri yang masih terlihat setengah sadar. Lalu perlahan ia duduk di tepi tempat tidur Sifa. Jemarinya pun berusaha mengusap lembut kepala sang putri dengan sayang.
"Papa, baru pulang?"
"Hm"
"Papa.. pasti capek" ucap Sifa dengan sedikit mendekat dengan sang Papa.
Aldi hanya tersenyum simpul tanpa menjawab.
"Tidur lagi sayang, maaf.. karena jadi bangunin Sifa"ujar Aldi lembut.
Sifa hanya menatap wajah sang Papa dalam remangnya lampu tidur Sifa.
"Pah??"
"Hm" gumam Aldi menyahut sembari terus mengusap kepala sang putri agar kembali tidur.
"Papa, kenapa mama pergi?? apa karena waktu kecil Sifa nakal yaa??"
Deg.. pertanyaan yang benar-benar tak pernah Aldi duga dari Sifa.
Jemari Aldi sesaat berhenti, pikirannya hampa.
"Kata nenek, Mama marah Sifa nakal, makanya mama pergi.. iya pah?"
Aldi kaget ketika mendengar ucapan gadis kecil ini.
__ADS_1
"Pah? kalau.. Sifa gak nakal lagi, apa mama mau pulang? apa masih mau jadi mama Sifa lagi??"
"Pah??" seru Sifa dengan suara nada parau seperti hendak menangis.
Dalam bimbangnya, Aldi hanya bisa menghela nafas pelan.
"Sayang.. maaf yaa.. Papa gak bisa jawab" tutur Aldi dengan nada sedih.
"Mama pasti pergi bukan karena Sifa nakal, dan.. kita cuma bisa doa semoga mama cepat kembali, kumpul dengan kita lagi.. bertiga"
Terlihat wajah kecewa dari sang putri mendengar jawaban sang Papa.
Perlahan jemari Aldi membelai wajah sendu sang putri yang terlihat kerinduan akan sosok ibu.
"Gak lama lagi Sifa Ulang tahun, Sifa mau minta kado apa??"
Sorot mata sendu sang putri terlihat. Dan perlahan ia hanya menggeleng pelan tak menjawab.
Sebait senyum tipis terukir di wajah Aldi dengan sayang ia menjatuhkan ciuman penuh kasih sayang di kening sang putri.
"Sifa anak baik, Papa sayang Sifa sampai kapan pun" bisik Aldi pelan di hadapan sang putri.
Sifa hanya membalas dengan senyum simpul.
"Kamu boleh minta kado apa aja di ulang tahun ke 8 ini, nanti Papa pasti belikan buat kamu, hm?"
"Ya" balas Sifa pelan.
"Selamat tidur sayang, selamat malam"ucap Aldi dengan perlahan beranjak bangun dari sisi tempat tidur Sifa.
***
Aldi menutup pintu kamar putrinya itu. Terlihat ia berdiri di sana dengan perasaan campur aduk.
"Nak? Papa juga ingin bertanya dengan mama mu, mengapa ia meninggal kita? dan mengapa ia setega itu??"bisik batin Aldi yang begitu hampa.
"Sari??" bisik Aldi pelan dan sekilas ia berbalik menatap luar jendela besar yang berada diruang itu. Ia menatap jauh seolah berharap suatu saat nanti sosok Nurmala Sari kembali dengan membawa penjelasan yang pantas.
🍃🍃🍃
Waktu pun berlalu, hingga hampir 1 minggu lamanya. Dan sosok Sifa tak pernah muncul lagi di butik Sari.
Awalnya Sari merasa biasa saja, namun nyatanya gadis kecil itu telah menjadi bagian kecil yang membuatnya rindu sosok ceria dan periang itu.
Lisa melihat sahabatnya itu tak begitu bersemangat beberapa hari ini.
"Sar?"
"Hm?"
"Lo belakang sering melamun, mikir apa sih?"tanya Lisa dengan duduk mendekat pada Sari yang tengah memainkan layar handphonenya.
__ADS_1
Sari hanya bergeming dengan mantap Lisa sekilas.
"Masih inget mantan?"
Sari menoleh kaget, lalu tertawa kecil dengan menggeleng.
"ikh, amit-amit" sela Sari cepat.
"Lah terus??"
"Gue mikirin Sifa"
"Sifa?? anak kecil itu??"
"Heem" sahut Sari pelan.
Lisa terlihat menyeringai kecil.
"Kenapa bisa lo mikirin Sifa? toh dia bukan saudara atau anak dari kenalan lo juga"
Sari hanya menghela pelan.
"Nah itu dia, gue juga gak paham, gue jadi mikirin Sifa yang berlebihan" ujar Sari.
"Lo sibuk mikir anak orang ikh, lo gak mikir diri lo sendiri gimana? malah kalau gue liat hidup lo malah lebih prihatin dari pada itu anak .." tukas Lisa ketus.
"Gitu-gitu si Sifa anak pak Wakil Bupati, coba deh loh pikir.. itu anak pasti beruntung banget laah hidup lebih dari berkecukupan, pasti banyak yang sayang sama dia.. apa aja pasti di beli sama bapaknya yang punya nie daerah, gue rasa yaa.. kali aja tuh bakal ada berhektar-hektar tanah atas nama Sifa" timpal Lisa panjang lebar.
Sari merenung ucapan Lisa.
"Nah, coba lo bandingin sama hidup lo yang cuma bergantung sama hasil make up yang kadang ada kadang gak ada, belum lagi cicilan mobil dan uang sewa toko udah di depan mata, jadi kalau gue nilai yang harus di prihatiinkan itu bukan Sifa.. Tapi hidup lo, Sar"cecar Lisa membuka pikiran Sari.
"Belum lagi ,lo baru aja di tinggal kawin sama calon lo sendiri..nasib lo benar-benar patut di cemaskan Sar"
Jleb... Sari hanya menyeringai getir, cecaran ucapan Lisa memang ada benarnya. Hidup pas-pasan dari hasil make up, di tambah cicilan yang kian tak kelar-kelar sungguh berbanding terbalik dengan Sifa si anak pak Wakil Bupati yang semua terpenuhi.
"Iya ya, harusnya gue mikirin nasib hidup gue ya.."sahut Sari pelan.
"Ta-pi.. gue gak bisa bohong, kalau memang gue cemas dan khawatir sama tuh anak, kayak ada ikatan yang buat pengen meluk dia lama" timpal Sari.
Lisa mendengar dengan memperhatikan ekspesi mimik wajah Sari yang terlihat tulus.
"Hmmm, kalau gue denger lo ngomong begini, lama-lama gue bisa salah paham loh!!"
"Hm??" gumam Sari merespon ucapan Lisa.
"Salah paham gimana??"
Lisa perlahan bangun dari duduknya lalu dengan setengah berbalik ia menatap wajah sahabatnya nya itu.
"Iya..jangan-jangan lo ngarep buat jadi mama sambung Sifa" ucap Lisa dengan berlalu pergi.
__ADS_1
Sari terlonjak kaget mendengar ucapan Lisa yang pergi meninggalkan begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang sama sekali tak pernah ia pikirkan.
"Masa sih??" bisik Sari bergumam.