Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
18


__ADS_3

Selang dua hari..


Di satu sore yang turun hujan lebat. Hal besar pun terjadi dengan mengubah hidup Aldi.


Ia yang bersemangat mempersiapkan acara kecil-kecil ulang tahun Sifa. Aldi pulang lebih awal dari biasanya. Tak lupa ia sudah membeli beberapa kado spesial untuk putri tercinta.


Mobil sedan dinas miliknya pun terparkir tepat di depan teras rumah dinasnya. Sang supir berlari cepat untuk membantu sang tuan menurunkan kado-kado dari mobil.


Hujan yang turun benar-benar lebat, sehingga suhu sore itu terbilang cukup dingin.


Aldi dengan wajah bahagia berjalan cepat masuk kedalam rumah yang telah di sambut oleh sang ibu yang berada di ruang tengah.


"Aldi?? sudah pulang?? tumben kamu pulang cepat??" seru sang ibu dengan wajah senang menyambut sang anak.


Aldi meraih jemari sang ibu dengan memberi salam.


"Ya, karena hari ini ulang tahun Sifa.. jadi Aldi ingin memberi kejutan"


"Oh? Sifa, ulang tahun hari ini??" tanya sang ibu acuh tak acuh.


"Iya, buk.. hari ini dia genap 8 tahun.. dan itu ada kado yang sudah Aldi siapkan untuk ibu beri pada Sifa"


Wajah ibu terlihat tak suka akan kumpulan kado yang telah di susun rapi oleh sang supir.


"Duh, kamu ini... boros banget Aldi?? kado sebanyak ini untuk Sifa?? kamu itu kelewatan memanjakan dia.. makanya dia jadi nakal gitu" celetuk sang ibu ketus.


Aldi yang mendengarkan hal itu seketika menatap sang ibu dengan tak senang.


"Buk?? kenapa sih?? Sifa kan darah daging Aldi, sudah sewajarnya Aldi membahagiakan Sifa..lagi pun belakang nilai evaluasi ujian Sifa bagus" sahut Aldi jengkel.


Mendengar pembelaan sang anak terhadap cucunya Sifa, ibu Aldi pun hanya bisa mendengus kesal.


"Bikkk!! Biiik!!" seru Aldi memanggil pengasuh Sifa.


Wanita paruh baya itu pun berlari kecil ketika mendengar namanya di panggil oleh sang majikan.


"Ya, Tuan??"


"Ini, tolong tata yang bagus cake Ultah Sifa di piring besar dan taruh di meja makan yaa" ujar Aldi sembari menyerahkan kotak berukuran besar yang ia pegang sedari tadi.


Bibik mengambil dengan hati-hati. Dan tak lama ia pun pergi berlalu untuk menjalankan perintah sang tuan rumah.


"Aldi mau mandi dulu" ujar Aldi dengan meninggalkan sang ibu yang masih terlihat jengkel.

__ADS_1


Namun sang ibu benar-benar kesal pada putranya itu yang lebih mementingkan cucunya dari pada dirinya.


🍃🍃🍃


Tak berselang lama, Aldi yang telah selesai mandi. Terlihat bersiap untuk memberi kejutan pada sang putri yang pasti tengah berada di kamarnya.


Aldi keluar dari kamar. Ia berjalan dengan langkah pasti menuju kamar sang anak. Ketika tiba di pintu kamar sang putri, Aldi melihat jika pintu kamar Sifa tak begitu tertutup.


Perlahan Aldi meriah pedal pintu dan mendorong untuk terbuka. Terlihat ruang kamar itu begitu rapi.


"Sifa??" seru Aldi memanggil nama sang putri lembut.


Namun, tak terdengar suara riang sang putri menyahut.


Arah pandang Aldi mencari sosok gadis kecil yang ia pikir pasti tengah membaca komik doraemon di kursi kesayangannya.


Tapi, tak terlihat sosok gadis itu disana. Aldi pun kian masuk lebih dalam mengitari ruang kamar Sifa.


"Sifa??" Panggil Aldi kembali. Dengan berjalan menuju kamar mandi. Namun ketika pintu terbuka tak ada seorang pun didalam sana.


Kening Aldi mulai terlihat berkerut karena merasa curiga.


"Sifaa??" panggilnya lagi dengan melewati meja belajar Sifa yang terlihat beberapa kertas berserakan di atas sana.


"Sifa!!" serunya berdesis cemas.


Ia pun dengan cepat memeriksa lemari baju Sifa. Dan ketika lemari itu di buka terlihat wajah Aldi syok ketika mendapati satu tempat baju Sifa hilang, bahkan celengan Ayam kesayangan Sifa pun ikut raib dari tempatnya.


Serangan panik pun menghinggapi Aldi.


"BIBIIIIIKKK!!" panggil Aldi dengan suara yang cukup keras. Sehingga seisi rumah pun terkaget mendengarkan suara Aldi.


Aldi dengan cepat keluar dari kamar Sifa lalu mencari sosok sang pengasuh.


"Bibik?? kemana Sifa?" seru Aldi dengan cepat menghampiri pengasuh paruh baya itu yang terlihat pucat di hadapannya.


"Non?? non dikamarnya tuan" sahut bibik terbatah.


"ENGGAK ADA!!" hardik Aldi marah.


Wajah bibik seketika pucat pasih.


"Ta-tapi.. sedari tadi siang, no-non Sifa di kamar tuan dan makan siang pun di kamar tuan, be-benar tuan.. karena bibik yang ambil piring waktu non sudah siap makan"

__ADS_1


Tak lama terlihat ibu Aldi datang dengan wajah bingung.


"Ada apa Aldi??? kenapa kamu marah-marah begini??" tanya sang ibu.


"Sifa HILANG BUK!!" ucap Aldi emosi.


Sang nenek pun kaget.


"Hilang?? hilang gimana?" seru ibu Aldi heran.


"Gak mungkin hilang, anak nakal itu pasti lagi ngumpet.. ukh dasar gak anak gak mamanya suka bikin masalah"


"IBUK!!" hardik Alfi marah ketika mendengar ucapan tak pantas seorang nenek untuk cucunya.


Ibu Aldi pun kaget, ia tak pernah sekali pun melihat kemarahan Aldi.


"Jika terjadi sesuatu pada Sifa, maka.. jangan salahkan Aldi untuk mengirim ibu ke panti jompo!!" ancaman Aldi dengan wajah serius pada sang ibu.


"Aldi??" seru ibu dengan wajah syok mendengar ancaman sang anak.


"Ka-mu.. kamu??"


"Aldi tau, selama ini ibu selalu menyudutkan Sifa.. selalu menyalahkan Sifa.. Sifa itu anak Aldi buk!! JIKA IBU MERASA TIDAK PUAS SEHARUSNYA IBU MENGATAKAN PADA ALDI, BUKAN PADA SIFA YANG MASIH 8 TAHUN!!" hardik Aldi benar-benar tak bisa membendung emosinya.


Sang ibu terkesiap menerima kemarahan sang anak yang selama ini begitu penurut dan sang menyayangi dirinya.


Sang ibu pun akhirnya menangis sedih.


"Panggil Security, coba liat CCTV!!" perintah Alfi pada Bibik yang sama takutnya dengan sang ibu.


Aldi pun berlalu dengan meninggalkan sang ibu menuju kamarnya.


Rasa gusar dan bersalah kini berkecambuk di dada Aldi. Sungguh ia akan sangat menyesal jika sesuatu terjadi pada Sifa putri satu-satunya.


Ketika Aldi ingin mengambil jaket di wadrobe miliknya, sekilas ia melihat secarik kertas berwarna pink di sela baju kemeja putih ya yang tersusun rapi.


Aldi meraih kertas itu dan membuka lipatan sederhana kertas tersebut.


Aldi melihat dengan menelan saliva terjadinya, membaca tulisan tangan sang anak yang tak begitu rapi.


"Papa.. Sifa pergi untuk mencari mama, tolong Papa izinkan Sifa untuk tinggal bersama mama.. Sifa tau, Sifa anak yang nakal dan selalu membuat Papa dan nenek marah, karena itu.. Sifa berpikir untuk tinggal bersama mama.. Maafkan Sifa, selamanya Sifa akan selalu sayang Papa, I Love you, Papa"


Jemari Aldi bergetar, isi surat itu sudah meluluh lantakkan jiwa dan hati nalurinya. Betapa ia menyesali ketidak peduliannya pada putri satu-satunya itu.

__ADS_1


"Sifa" desis Aldi gusar. Lalu dengan cepat ia pun pergi dengan mencengkram surat terakhir dari sang putri.


__ADS_2