Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
50


__ADS_3

"Aku tau.." jawab Aldi dengan melahap habis es crem kedalam mulutnya.


"Cinta mu masih ada, tapi rasamu sudah mati.." tukas Aldi tepat dengan menatap Sari.


Sari tercengang dengan ucapan pak Bupati.


"Ba..bagaimana bisa??" gumam batin Sari yang tak percaya dengan ucapan pak Bupati.


Tiba-tiba terdengar suara musik India yang romantis.


Jab se mera dil tera hua


~Karena aku telah kehilangan hatiku padamu


Pucho na mujhko mujhe kya hua


~jangan tanya apa yang terjadi padaku


Ab teri baahon mein jeena mujhe


Warna hai marr jaana


~Sekarang aku harus hidup dalam pelukanmu atau aku akan mati


Seketika keduanya terdiam satu sama lain.


"YAAAAHH, MARI BERKUMPUL PARA MUDA MUDI YANG TENGAH DI MABUK CINTA.." seru pembawa acara yang mengangetkan keduanya.


Keduanya pun menoleh pada panggung utama yang kini berubah gemerlap dengan lampu warna warna.


"Yuk.. yuk.. kita kesana" seru gadis-gadis belia dengan kelompok teman-temannya.


Sari terlihat penasaran.


"Apa kamu mau kesana??"


"Memang bapak mau ke sana?" Sari bertanya balik.


Aldi melihat pada jam tangannya.


"Kenapa? apa kita harus balik??"


"Ah, tidak.. ayo kita kesana" ajak Aldi.


Sari tersenyum. Lalu terlihat Aldi berjalan lebih dahulu dan Sari mengikuti dari belakang.


Lagu india yang di putar begitu mengundang rasa penasaran siapa pun yang mendengar.


banyak muda mudi di sana, mereka terlihat antusias.


Akhirnya Sari dan Aldi masuk kedalam kerumunan itu.


"Memang kamu berani ikut nyatakan cinta??" obrolan dari sisi samping Sari yang terdengar tengah membahas sesuatu.


Sari tanpa sadar menguping.


"Berani, kali ini aku harus bisa nembak.. aku gak mau kalah lagi sama si cewek itu.." sahut seorang gadis muda dengan bersemangat.


Sari mendengar dengan rasa penasaran, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya pada gadis di sampingnya itu.


"Hm, maaf.. ini acara apa yaa??"


Kedua gadis itu menoleh pada Sari.


"Ah, ini mbak, ini acara muda mudi nyatakan cinta" jawab gadis berambut panjang dengan senyum lesung pipit di wajahnya.


"Nyatakan cinta??" ulang Sari heran.


"Iya, mbak.. mbak ada cowok di suka, bisa nembak di sini mbak.. seru mbak.. kalau keterima bakal dapat hadiah loh, tapi kalau di tolak harus di cebur ke itu mbak kolam lele" jelas gadis berbadan kurus dengan rambut cepol ke atas.


"Hah??" seru Sari.


Aldi mendengar suara Sari.


"Ada apa??"


Sari berbalik menatap Aldi yang terlihat penasaran dengan obrolan dirinya dan keduanya gadis itu.


"Ah, bukan apa-apa.." ujar Sari.


Aldi kembali fokus pada panggung utama.


"Wah, mbak cowoknya yaa??" tebak gadis berambut panjang.


"Bukan.. " potong Sari cepat.


"Ikh masa bukan sih mbak, udah mbak pepetin terus, kayaknya cowoknya baik" bisik gadis kurus itu.


"Ya ampun ini anak-anak bau kencur ngomong gak ada sopannya" rutu batin Sari. "pepetin apanya?? ini tuh pak Bupati, orangtua yang harus di hormati!!" pekik batin Sari.


Sari hanya bisa nyegir kuda.


"Yah, tak perlu berlama-lama lagi, langsung saja kita bawa pejuang cinta yang sudah siap berperang untuk kemenangan cintanya.." suara membawa acara yang mengalihkan fokus Sari dan Aldi.


"Pejuang Cinta?? apa maksudnya??" gumam Aldi dengan kening berkenyit.


Tak lama terlihat seorang anak laki-laki tanggung berusia belasan tahun berdiri di atas panggung.


Sang pembawa acara mengiringi anak laki-laki tanggung itu untuk berada di tengah panggung. Seketika sorak dari satu sudut tempat terdengar.


"Ijal..ijla..." sorak riuh anak laki-laki lain memberi semangat pada temannya.


"Oke, nama kamu siapa??"

__ADS_1


"Suprijal.."


"Umur?"


"15 tahun.."


"Waah, masih bau kencur ini.. oke, kamu mau nembak siapa?? yang mana??" celetuk sang pembawa acara.


Seketika suasana lapangan agak hening.


"Disana.. namanya Adinda" tunjuk anak laki-laki itu pada satu sudut lapangan, dan seketika lampu sorot pun ikut mencari.


Tak lama semua pandangan tertuju pada lampu sorot yang tertuju pada seorang anak perempuan tanggung.


"Oke, bawa kesini.." seru pembawa acara.


Seketika lapangan kembali riuh dengan sorak semangat.


"Andinda..adinda.."


Namun tampaknya anak perempua itu malu, sehingga ia tak mau ikut kepanggung lalu crew acara memberi kan aba-aba.


"Cewek mu gak mau, itu gimana??" tanya sang pembawa acara.


Terlihat anak laki-laki itu tak patah semangat, ia dengan cepat meraih mic sang pembawa acara.


Sehingg sang pembaca acara terkaget.


"Adinda.. tolong maafkan ijal.. ijal janji enggak akan selingkuh lagi.." ujar ijal yang mengema seluas lapangan itu.


Para penonton pun bereaksi dengan ucapan anak laki-laki yang masih bau kencur itu.


Aldi dan Sari pun ikut tercengang mendengar ucapan anak kemarin sore ini.


"Selingkuh?? ckckck" decak Sari tak percaya.


"Tolong Andinda, ijal sayang dan cinta sama Andida..tolong maafkan Ijal, ijal janji enggak akan selingkuh lagi"


Namun tak lama terdengar suara teriakan anak perempua dari kejauhan.


"ENGGAK!! SAYA GAK AKAN MAAFIN KAMU, IJAL, DINDA BENCI SAMA KAMU" teriak anak perempuan itu lantang.


seketika gemuruh pun terdengar seiring sorak penonton yang bertepuk tangan mendukung keputusan Adinda.


"Yeeee, di tolak.. di tolak..di tolak" seru para penonton.


Sang pembawa acara meraih mic dari Ijal yang seketika lesu.


"Maaf mas Ijal, kamu belum beruntung.." ujar sang pembawa acara dengan senyum terkembang. Dan tak lama dua orang pria bertubuh besar dan berotot keluar dari belakang panggung lalu menangkat tubuh ijal yang ringan.


Tubuh ijal di bawa ke samping panggung yang terdapat kolam.


"Mau di apain tuh?" tanya Aldi yang gusar.


Tak lama tubuh ijal pun di ceburkan ke kolam besar itu .


Byarrrr..


Seketika seru gemuruh kembali terdengar dengan menertawakan hal lucu itu.


"Yeee, rasain gak ada maaf untuk tukang selingkuh " seru seorang wanita di samping Sari.


Sari dan Aldi reflek menoleh.


Aldi menggelengkan kepala.


"Benar-benar kelewatan" celetuk Aldi gusar. Ini hal yang tidak pantas untuk di lakukan, apa lagi anak laki-laki tadi masih di bawah umur. Sebagai kepala daerah ini harus di tindak acara semacam ini, pikit Aldi yang terpancing sikap seorang pemimpin.


Setelah ijal tercebur, sang pembawa acara kembali menarik perhatian penonton.


"Baik, kita lanjut lagi... oke kali ini siapa yang akan beruntung, kita sambut saja peserta ke dua.. silahkan masuk.."


Musik India kembali di pendengarkan seiring seorang wanita muda berambut panjang yang naik keatas panggung.


Sari terkaget.


"Loh, bukannya itu cewek yang tadi ia bertanya" gumam batin Sari .


Aldi terlihat serius menunggu kejutan berikutnya.


"Oke, namanya siapa mbak??"


"Lastri"


"Umur??"


"20 tahun"


"Ooh, bening nie.. oke mbak mau nembang siapa??" tanya sang pembawa acara bersemangat.


"Mas Aldi.." jawab gadis itu.


Deg..


Aldi terkaget begitu juga Sari yang reflek menoleh pada Aldi.


"Aku??" ulang Aldi dengan menunjuk pada dirinya sendiri.


"Masa?? mau nembak pak Bupati??" rutu batin Sari terbengong. "Memang ada yang tau ini pak Bupati??"


"Ooh, mas Aldi.. dimana kah gerangan dirimu berada??" tanya Sang pembaca acara.


Gadis muda itu dengan dengan tepat menunjuk ke arah Aldi dan Sari.

__ADS_1


Lampu sorot pun seketika bergerak kearah posisi Sari dan Aldi.


Sari gusar begitu pula Aldi.


Namun nyatanya lampu sorot itu berpindah lebih Kediri Aldi.


Seketika rasa lega pun menerpa ketika cahaya lampu sorot itu berpindah.


Dan ternyata kini lampu sorot itu berhenti pada seorang pria yang memakai tongkat.


"Yak, target terkunci.. Apa itu mas Aldi benar??" tanya sang pembaca acara pada Lastri. Lastri pun mengangguk.


Aldi dan Sari pun reflek menoleh pada pria itu yang kini menjadi pusat perhatian.


"Oke, mbak Lastri untuk waktu dan tempat saya persilahkan" ujar sang pembawa acara memberikan mic pada Lastri.


Lastri meraih dengan ragu-ragu terlihat ia gugup dengan tangannya yang memeggan rok nya dengan kuat.


"Mas Aldi.. maaf jika Lastri harus memakai cara seperti ini.. Lastri.. Lastri sudah lama menyimpan rasa pada mas.. Lastri jatuh cinta pada mas Aldi, tolong terima cinta tulus Lastri ini"


Seketika para penonton bersorak.


"Terima... terima.. terima"


Sari pun seketika ikut bersorak di samping Aldi.


"Terima..terima.." seru Sari.


"Maaf" ujar pria itu ketika menerima mic nircabel itu.


Seketika para pengunjung terdiam.


"Mas hanya menganggap kamu teman.."


"Waaah..." seru para penonton yang kecewa cinta tulus Lastri di tolak oleh mas Aldi.


Wajah Sari ikutan sedih.


"Apa mas gak bisa liat Lastri sebagai wanita yang pantas untuk mas cintai??" tanya Lastri dari atas panggung.


Sari terteguh.


"Lastri benar-benar mencintai mas, tulus tanpa melihat apa pun kekurangan mas"


Sang Bupati terpaku mendengar ucapan wanita itu seolah mewakili hatinya.


"Maaf Lastri" ujar pria bertongkat lalu pergi dengan menyerahkan mic pada crew acara.


Suasana berubah sedih, ketika melihat cinta Lastri gadis 20 tahun itu di tolak.


Lastri menangis di atas panggung.


Wajah Sari ikut sedih.


"Kasiah sekali"


Aldi menoleh pada wanita yang ada di sampingnya ini.


Seketika backsound pun berubah dengan musik yang mewakili perasaan Lastri, Tera Mera Rhista Hai Kaisa- Asshiqui 2.


Lantas tanpa sengaja Sari menoleh pada Aldi dan tatapan keduanya bertemu.


"Pak??" seru Sari heran.


Namun kedua mata Aldi lekat menatap manik mata Sari


"Kamu?? apa tak melihat aku sebagai seorang pria??" tanya Aldi tanpa sadar.


Deg...


Sari mendengar dengan terpaku.


Seiring dengan musik pengiring yang membuat suasana kian mendukung.


Hum Tere Bin Ab Reh Nahi Sakte


Tere Bina Kya Wajood Mera


Hum Tere Bin Ab Reh Nahi Sakte


Tere Bina Kya Wajood Mera


Tujhse Juda Gar Ho Jaayenge


Toh Khud Se Hi Ho Jaayenge Judaa


Kyunki Tum Hi Ho


Ab Tum Hi Ho


Zindagi Ab Tum Hi Ho


Chain Bhi, Mera Dard Bhi


Meri Aashiqui Ab Tum Hi Ho


Namun tanpa terduga, handphone Aldi bergetar, dan menbuyarkan tatapannya.


Aldi meraih handphonenya di dalam saku celana.


Dan terlihat nomor pemilik mobil menelfon. Aldi menjauh dari kerumunan untuk dapat mendengarkan suara dari telfon tersebut.


Namun Sari masih tak bergeming dari rasa terkagetnya.

__ADS_1


__ADS_2