
Beberapa hari pun berlalu, tanpa di sadari gadis kecil itu kini semakin rutin untuk datang mengunjungi butik galery Sari.
Awalnya Sari merasa tak enak pada Lisa karena kehadiran Sifa. Namun perlahan kehadiran gadis kecil itu cukup menghibur.
Biasanya Sifa akan menghabiskan waktu 1 atau 2 jam di butik galery Sari.
Namun berbeda dengan hari ini, gadis kecil itu hanya lewat dan menyapa Sari sebelum akhirnya pergi untuk mengikuti les privat piano.
"Lo gak risih? Tiap tuh anak datang??"tanya Lisa pada Sari yang tengah merapikan kotak make up yang baru saja di ajak tempur tadi siang.
"Awalnya ia, tapi lama-lama gue rasa biasa aja, lebih ke kasian sih"sahut Sari santai.
"Lagian Sifa gak menganggu kok, dia datang cuma duduk dan ngobrol aja kan, selebihnya dia cuma kerjain PRnya disini"timpal Sari dengan menutup kotak make up itu.
Lisa mengangguk.
"Tapi gue jadi penasaran sama ortu Sifa, apa gak khawatir gitu sama anaknya??"tanya Sari yang tiba-tiba.
Lisa menarik alis.
"Ya kan kayak gue cerita, dari gosip yang gue denger pak Wakil Bupati memang orang yang sangat gila kerja, tuh buktinya aja Sifa bisa bebas gitu.. mungkin karena hal itu istri pak wakil kabur"ujar Lisa.
"Tapi?? Masa iya segitu gila kerjanya?? Kayaknya enggak deh" sahut Sari mengingat wajah sang pak Wakil pada malam itu.
Lisa hanya melihat sekilas pada wajah Sari lalu kembali menatap layar handphonenya yang menerima notif pesan masuk.
Namun Sari terus mencoba meyakinkan diri jika orang tua Sifa pasti tidak seburuk yang di gosipkan.
🍃🍃🍃
Disisi lain terlihat seorang pria yang tengah mengikuti rapat dengan wajah serius. Kerutan di keningnya silih berganti menghiasi dahinya. Masalah demi masalah yang di terima sangar beragam dalam memperbaiki suatu daerah yang cukup luas.
Cakupan masalah yang harus Aldi atasi sangat luas dan besar. Rasanya tidak ada hari tanpa berita pembenahan daerah hingga kepelosok daerah.
"Jadi, pembudidayaan udang pandemen akan sangat berpotensi untuk pemasukan daerah. Daerah pembudidayaa juga sudah di tinjau langsung oleh kadis perikanan dan kelautan" jelas salah satu PNS.
Aldi membaca draf proposal yang berada di tangannya. Ia membaca dengan sangat teliti, tiap perencanaan dan perincian quantity penunjang pembudidayaan udang pandemen ini.
4 miliar adalah dana untuk mengakomodir kegiatan yang bermanfaat untuk petani udang. Nilai yang cukup fantastis, namun itu sebanding dengan hasil yang nantinya akan menjadi aset selamat 5 tahun kedepan.
Aldi menimbang dan berpikir dalam diamnya. Sang PNS terus mengutarakan isi proposal dengan di ikuti layar proyektor yang telah di siapkan. Terlihat contoh atau gambar tambak udang pandemen yang akan di kerjakan selama 3 bulan kedepan.
"Kami memprediksikan jika hasil udang pandemen itu akan mencapai di bulan ke 3, dan setiap panen akan mendapat 6 ton udang pademen dan masa panen itu setiap 3 minggu"
Riuh rendah pun terdengar, para pegawai PNS lain ikut bersemangat.
"Hal ini sudah kami perhitungkan secara kasar. Karena jika hasil panen udang sesuai proposal maka setiap kali panen hasil yang di dapat itu sekitar 160 juta rupiah dengan 9 kotak tambak udang"sambung sang PNS.
Dan respon para anggota rapat juga kian semangat mendengar nominal fantastis tersebut.
"Dan ini akan terus menjadi langkah awal yang bagus untuk daerah kita yang nantinya bakal me jadi daerah penyuplai udang kedaerah-daerah yang lain" sambung PNS tersebut dengan bangga.
Aldi menganggu, ini wacana yang cukup berpotensi bagi daerahnya.
"Bagaimana dengan pekerja?" potong Aldi tiba-tiba.
Suasana seketika hening.
Sang PNS terlihat mencari halaman yang membahas tentang para pekerja.
"Untuk teknisi akan di kirim oleh kementerian sedangkan petani setempat akan di bimbing langsung saat di lapangan"
Aldi menganggu paham.
"Baiklah.. saya rasa untuk program tambak udang pandemen ini sudah cukup matang, minggu depan tolong pihak kadis membuat satu rapat kecil untuk para petani udang sebelum pihak kementerian datang berkunjung"
"Baik pak"
"Dan saya lihat di sini, program ini harus segera di lakukan, karena jika berdekatan dengan akhirnya tahun.. bisa-bisa pihak kementerian akan berubah pikiran, jadi jangan memperlambat untuk program yang menguntungkan petani"
"Baik pak" semua anggota rapat menjawab dengan cepat.
"Dadang, tolong kamu pantau dan informasi pada saya tiap hari proses program udang pandemen ini, dan saya akan beri sangsi jika ada satu pihak yang menghambat terlaksana program ini, mengerti!!" tidak Aldi tegas.
"Mengerti pak" jawab seorang PNS yang terbilang sebagai tangan kanan Aldi.
__ADS_1
"Oke, saya rasa rapat hari ini cukup" ujar Aldi dengan mengakhiri rapat yang sudah berjalan hampir 3 jam lamanya.
Para anggota rapat pun terlihat lega dengan selesainya rapat yang membuat beban mereka tambah berat.
Aldi seketika bangun dari bangku rapat dan seorang ajudan datang mendekat dengan membantu bawaan Aldi.
"Apa pak Budi sudah sampai?"tanya Aldi pada ajudannya.
"Belum, pak?"
Aldi merasa heran.
"Coba telfon dan suruh Sifa pulang ke kantor"
"Baik, pak"sahut ajudan Aldi yang seketika mengeluarkan handphonenya.
Aldi berjalan cepat menuju ruang kerjanya kembali. Pikirannya di buat runyam oleh laporan sang Miss Rita guru privat bahasa inggris Sifa, yang memberi kabar jika sudah beberapa hari Sifa tak datang ke tempat les tersebut.
Aldi yang masuk kedalam ruangan kerjanya dengan rasa kesal dan marah pada sang anak. Rasanya ia ingin menyerah dengan kenakalan Sifa yang tidak bisa di atur.
Namun rasa kesalnya itu seketika pudar ketika melihat satu foto yang terletak di meja kerjanya, sebuah foto gadis kecil bersama seorang wanita muda yang terlihat bahagia.
Sesaat ia menatap lama pada foto tersebut dengan wajah nanar. Tersirat kerinduan dan kekecewaan diraut wajah Aldi.
"Kau pergi hanya untuk kebebasan dirimu sendiri dan.. apa kau tak pernah mencintai buah cinta kita??" lirih Aldi dengan kecewa. Lalu seketika ia membuang muka dari foto tersebut.
Tak lama sebuah notifikasi pesan dilayar handphonenya. Aldi membuka layar tersebut dan membacanya sebuah pesan. Tak lama ia membuka aplikasi jadwal kalender di layar handphone. Ia melihat tanggal yang ia butuh kan.
Namun mata Aldi terpaku pada satu tanggal spesial, yang ternyata adalah peringatan hari ulang tahun Sifa ke 8 tahun.
Aldi menghela nafas pelan, ternyata waktu sudah begitu cepat berlalu. Dan tak lama lagi putri satu-satunya itu akan berulang tahun ke 8.
"8 tahun?? Ternyata aku sudah membesarkan Sifa selama 4 tahun sendiri.."gumam batin Aldi.
Sesaat kenangan lama Aldi pun kembali. Bayangan akan saat itu pun seolah kembali terlintas.
Flash Back On
Di satu rumah sederhana, terlihat seorang wanita muda baru saja memberikan pakai kerja sang suami.
Ia terlihat bahagia setiap kali mengerjakan hal sederhana itu.
"Handuk dimana??"
Wanita itu menoleh dengan tersenyum.
"Kamu selalu lupa pak Aldi??" Celetuk sang istri dengan bersegera mengambil handuk baru dari balik lemari. Dan bersegera menuju pintu yang telah terbuka sedikit celah.
Jemari Aldi menunggu handuk tersebut. Namun rupanya sang istri dengan sengaja menahan handuk itu di tangannya.
"Sariii??" Panggil Aldi kembali dengan memanggil nama sang istri.
Namun bukan handuk yang ia terima, Aldi malah merasa jika pintu kamar mandi itu kian terdorong hingga terbuka. Dan sosok sang istri dengan wajah usil menatap dirinya yang tengah polos tanpa sehelai benang.
Kedua mata Aldi terperanjah kaget dengan keusialan sang istri.
"Waw, seksi sekali anda pak Aldi" goda sang istri dengan perlahan masuk kedalam kamar mandi itu dan menutup pintu kamar mandi.
"Sari?? Ka-mu??"
Tetapi sang istri rupanya memang berniat memberi pelajaran untuk suami yang selalu lupa membawa handuk.
"Kita olah raga sebentar ya??" Goda Sari dengan menyentuh tubuh bidang sang suami.
Aldi respon mundur.
"Jangan pagi ini!, aku ada rapat" tolak Aldi dengan menahan serangan sentuhan tangan sang istri.
"Ow, pak wakil partai rapatnya kan bisa di tunda" goda Sari lagi dengan kian mendekat pada sang suami yang berjalan mundur.
"Sari??" Seru Aldi.
"Ayo lah pak wakil, bereskan tugas kecil ini setelah itu baru bereskan tugas negara" goda Sari lagi dengan mencoba menahan tawa melihat respon sang suami yang kian terpojok di sisi dinding pancuran shower.
Saliva Aldi terasa susah ia telan karena efek dari sentuhan tangan Sari sudah mengaktifkan saraf kelaki-lakiannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, kerana shower Aldi sendol dengan siku ya.
Braaassss..
Sehingga air itu terus menguyur tubuh Sari hingga basah. Dan mencetak lekuk tubuh sang istri yang berisi.
"Mas??" desah Sari.
Namun tanpa basa basi Aldi langsung mengecup penuh nafsu pada bibir ranum sang istri. Sari tak bisa berkutik.
"Kau harus tanggung jawab sayang" bisik Aldi di antara bibirnya dan bibir Sari. Perlahan jemari Aldi mulai bermain di daerah sensitif sang istri.
"Ssstt... masss"desah Sari yang ikut merintis dengan sentuhan sentuhan tangan Aldi.
"Ayo, kita panaskan pagi ini sebelum rapat" bisik Aldi dengan berusaha menyusuri tubuh sang istri.
Keduanya pun bercumbu dibawah guyuran air shower.
***
Berselang hari.
Di satu sore, Aldi yang baru saja pulang dari urusan partainya. Tiba-tiba terkejut ketika mengetahui berita yang cukup meluluh lantakkan hatinya.
Sang Bibik sang penjaga rumah mengabarkan jika Nyonya rumah sudah tak meninggalkan rumah tersebut dari pagi.
Dan sang Bibik memberikan sebuah surat pada sang majikan. Aldi meraih dengan wajah gusar.
Kedua tanya dengan cepat membuka surat tersebut lalu mengeluarkan isinya dengan terburu.
"Mas?? Kamu mungkin banyak berpikir setelah menerima surat ini..aku juga..banyak berpikir sebelum menulis ini.."
"Malam saat, Sari mendengar semuanya..itu pertama kalinya, dadaku sesak bahkan seluruh hati ku luluh lantak.. Sari selalu berusaha untuk lakukan yang terbaik untuk ibu mas untuk mendapatkan hati juga restu beliau.. walau Sari mencoba bertahan di dalam hinaan, tapi rasanya hari demi hari itu semakin berat.."
"Sari gak salahkan mas sebagai seorang anak, hanya Sari merasa sedih melihat mas terus berusaha menjadi tameng untuk melindungi Sari, dan hal itu membuat Sari terluka.. Karena itu lah, Sari pergi.. semoga mas mau mengerti keputusan Sari dan mas bisa mendapatkan penganti yang lebih baik dari Sari seperti yang ibu mas harapakan.."
"Maaf mas.."
Jemari Aldi bergetar.
"Papa??" suara serak seorang anak kecil pun menyadarkan Aldi.
Terlihat gadis kecil itu baru bangun tidur. Namun tanpa terduga ia berlari dengan wajah sedih memeluk tubuh sang Papa.
Seketika tangisan pecah.
"Papaaa!! Mama manaa??" ujarnya dengan menangis sejadi-jadinya.
"Sifa mau tidur sama mama!!" Suara gadis kecil itu kian parau dengan tagis yang memilukan.
Aldi perlahan turun untuk memeluk tubuh sang anak yang terlihat lelah menangis dengan suara kian serak.
Dan seketika jatuh sebuah surat dari dalam amplop yang ternyata adalah surat perceraian yang sudah di tanda tangani istrinya, Sari.
Flash Back Off
Kini terlihat Aldi termenung di meja kerjanya dengan hela nafas berhembus berat.
Namun tak lama terdengar suara pintu di ketuk sehingga membuyarkan lamun Aldi.
Tok..tok..
"Ya?"
Grek... pintu terbuka dan sosok gadis kecil pun masuk dengan wajah bersalah.
Aldi menatap dengan wajah sendu.
"Sifa??"
Mendengar namanya di panggil, langkah kaki sang gadis kecil kian cepat mendekat pada sang Papa.
Dengan wajah murung ia menatap wajah orang tuanya.
"Maafin Sifa pah" serunya pelan dan merasa bersalah.
__ADS_1
Aldi hanya bisa menghela nafas pelan, ia menatap wajah polos sang putri dengan dalam. Sungguh menyelesaikan tugas negara jauh lebih mudah dari pada menyelesaikan tugas mengurus dan membesarkan seorang anak.
Tanggung jawab yang masih belum bisa sempurna Aldi lakukan ketika membesarkan Sifa seorang diri.