
Setelah mendapat info bahwa pesawat yang membawa Sari sudah terbang.
Kini Aldi kembali ke hadapan Rio dengan wajah kecewa.
"Pak???" seru Rio yang melihat wajah pak Bupati tidak baik-baik saja.
"Terima kasih ya.." ucap Aldi datar dengan membuka masker dan topi itu. "Kalian kembali lah..saya masih ingin disini" ujar Aldi dengan wajah sendu.."
"Pak!!"
"Saya baik-baik saja Rio.. dan tolong beri tips pada pengawal, mereka sudah repot gara-gara saya" perintah Aldi.
Rio mengangguk pelan.
Tak lama, Rio pun mundur mengikuti perintah sang Bupati. Mobil dinas beserta mobil pengiring juga pergi dari sana.
Selepas Rio pergi, Aldi melepas lencana Bupatinya. Ia menyimpan atribut kedinasan itu untuk bisa bernafas.
Aldi pun mengenakan kembali topi dan masker lalu kembali menuju satu tempat yang mungkin bisa membuat dirinya menghilang untuk sesaat.
Namun ketika ia tengah membenarkan maskernya, sekilas matanya menangkap sosok yang tak asing di matanya.
"Sari!!" bisik Aldi yang spontan berjalan dengan langkah tegas pada arah wanita yang terlihat berdiri dengan koper di sampingnya.
Sari yang ternyata tengah menunggu taksi online pun tanpa sengaja menjatuhkan minum kaleng yang belum ia buka.
Klentang..bunyi minuman kaleng itu jatuh kelantai.
"eh.." seru Sari yang reflek melihat minuman kaleng itu bergelinding sembarangan.
__ADS_1
Langkah Sari terlihat ingin mengejar minuman kaleng itu. Hingga tiba-tiba seseorang langsung memungut minuman kaleng itu dan memegangnya.
Sari pun yang setengah membungkuk pun seketika lega minuman kaleng itu akhirnya berhenti.
"Ter-ma.." ucap Sari tergantung dengan wajah terkejut.
Tatapan ya terpaku pada sosok pria yang terlihat bersedih menatapnya.
Aldi membuka maskernya.
Sari relfek mundur dengan wajah sulit dan langsung berbalik untuk segera pergi.
Namun dengan langkah cepat, Aldi langsung menangkap Sari.
Grep.. Aldi mengunci tubuh Sari didalam pelukannya. Sari mematung ketika lengan Aldi memeluk tubuhnya dari belakang.
"Jangan pergi.." bisik Aldi di sisi telinga Sari.
Sari mematung dengan saliva yang susah untuk ia telan ketika mendengar suara putus asa sang Bupati.
"Kau boleh meminta apa pun dari ku, Sari.." ujar Aldi berat. "Tapi satu hal yang jangan pernah minta dari ku untuk melupakan atau pun merelakan mu, Sari.."
Sari terteguh.
"Tak bisakah kamu bertahan disamping ku?? aku mohon.." pinta Aldi dengan jelas.
Sari membeku ketika mendengar permintaan Aldi yang begitu mengoyahkan pendiriannya.
Aldi kian menegelamkan diri di pundak Sari.
__ADS_1
" Sari... aku, aku tak bisa tanpa mu" ucap Aldi dengan mengeratkan pelukannya.
Bening air mata Sari pun jatuh dengan perasaan perih di hatinya.
"Dan kau harus tau satu hal.." ucap Aldi terdengar jelas. "Ibu sudah memberi restunya.."
Deg...ekspresi wajah Sari berubah terkejut, hingga tanpa sadar pelukan itu tererai.
"A-pa??"
Tatapan Sari terlihat tak percaya ketika mendengar ucapan Aldi.
Namun, Aldi dengan meriah jemari Sari dan ia genggam dengan penuh yakin.
"Ibu, sudah memberi restunya untuk aku menikah denganmu.." jelas Aldi dengan simpul senyum tipis di sudut bibirnya.
Dan lagi, bening air mata Sari pun kembali tumpah tanpa ada satu kata yang bisa ia ungkapkan.
Melihat wajah Sari yang benar-benar syok, Aldi secara naluri membelai kepala Sari lalu perlahan meraihnya untuk ia raih kedalam pelukannya.
"Kau harus percaya, karena aku tak akan berbohong apa pun pada mu" ucap Aldi.
Sari tak menjawab apa pun, ia masih syok dan akhirnya menangis di dalam pelukan sang Bupati.
Mendengar sang kekasih hati menangis. Aldi malah tersenyum puas.
"Jika kau menangis sekuat ini, lalu kenapa kamu punya pikiran untuk meninggalkan aku, Sari??" tanya Aldi.
Namun tak ada satu jawaban yang keluar dari bibir Sari. Gadis muda itu hanya bisa menangis sesak yang tak bisa ia jelaskan.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan pada ibuku, tapi aku bersyukur..dan kau memang layak untuk aku cintai, SariSartika" bisik batin Aldi yang akhirnya lega telah menemukan Sari kembali.