Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
48


__ADS_3

"Wedang jahe 2, 2 pop mie dan gorengan" pesan Aldi pada sang ibu yang berada di dalam warungnya.


Sang ibu agak kaget, karena rasanya tidak ada yang akan makan sebanyak itu sekaligus.


Namun pesanan tetap ia penuhi, ia sedikit senang jika ada pelanggan yang memborong dagangannya.


Sari duduk dengan melepaskan jaket Aldi yang berada di atas kepalanya. Dan menaruh begitu saja jaket Aldi pada meja di sampingnya.


"Kamu mau kan wedang jahe??" tanya Aldi pada Sari.


Sari mengangguk dan Aldi duduk di kursi yang berada di hadapan Sari.


"Untung ada warung ini" ujar Aldi.


"Heem" sahut Sari bergumam.


Warung sederhana dan terletak ya cukup bagus jika tidak hujan maka dapat melihat view kebun teh dengan indah.


Ada dua orang pelanggan yang telah lebih dulu berada di sana. Terdengar kedua pelanggan itu tengah mengobrol dengan bahasa daerah yang tak Sari paham.


"Kamu, sudah lama menjadi perias??" tanya Aldi tiba-tiba yang membuka pembicaraan.


Sari sedikit terkaget.


"Hm, iya.. dan ini masuk tahun ke 4"


"Oh..sepertinya dunia perias sedang naik daun"


Sari tersenyum simpul mendengar ucapan Aldi.


Tak di duga sang ibu warung memberikan pesanan Aldi.


"Ini mas, pesanannya.."


Aldi dan Sari sontak menyambut makanan yang di nanti. Keduanya meraih masing-masing 1 cup pop mie dan gelas sedang wedang jahe hangat.


"Makasih, ibu" ujar Sari sopan.


Aldi melirik Sari, sekilas ia mengingat Sifa dengan sopan santu. Sang ibu warung mengangguk dengan senang.


Sari terlihat antusias membuka penutup di atas cup pop mienya itu. Dan ia menaruh semua bumbu kedalam cup mie lalu menutup kembali cup tersebut agar mie sedikit lebih kembang.


Ternyata Aldi juga melakukan hal yang sama.


"Mie memang terbaik di kala hujan" ujar Aldi.


"Iya" sahut Sari setuju.


Aldi tersenyum sembari meriah gelas wedang jahenya. Dan Sari pun melakukan hal yang sama, sehingga keduanya menikmati gelas wedang itu dengan nikmat. Rasa hangat wedang jahe pun seketika menjalar ke dalam rongga mulut lalu turun ke dalam tenggorokan hingga menghangatkan dada.


"Aah.." seru Aldi dan Sari bersama. Aldi sekilas menatap Sari yang tersenyum puas.


"Ini enak banget yaa, gak terlalu pedas rasa jahenya" seru Sari dan Aldi pun seketika menganggu menyetujui pendapat Aldi.


"Jarang ada yang seenak ini.."


" Heem" sahut Sari yang kembali menyerut wedang jahenya untuk kedua kali.


Aldi terus menatap Sari dengan sengaja.


Tak lama, Sari membuka cup pop mienya dan Aldi pun melakukan hal yang sama. Sari terlihat fokus mengaduk pop mienya dengan uap pop mie yang keluar dan aroma mengoda dari pop mie.


Sari tanpa sadar menangkap basah tatapan sang Bupati yang menatap dirinya. Sari terpaku.


Namun dengan santai Aldi tersenyum simpul.


"Ayo dimakan" ujar Aldi dengan santai mererai mie dalam cup.


"Hm, ya" sahut Sari ragu-ragu.


"Kenapa pak Bupati senyum begitu?? apa diwajah gue ada yang aneh??" guman batin Sari sembari menyentuh wajahnya.


Namun tak lama terlihat pak Bupati menyantap pop mie miliknya dengan antusias.


Sari pun ikut akhirnya ikut menyantap pop mie tersebut, satu sendok mie pun masuk kedalam mulutnya.


"Sluuup.."


"Hmm.. enak" decak Sari memberi komentar.


Aldi melirik, lalu lagi-lagi tersenyum kecil melihat reaksi Sari yang seperti putrinya Sifa.


Keduanya menikmati pop mie itu dengan khusyuk dan hujan yang berangsur-angsur mereda. Sungguh tidak ada moment sebaik ini yang pernah Aldi lewatkan.


Sederhana tenang dan syahdu.


Sesekali Aldi memperhatikan ekspresi Sari yang begitu mempesona.


Bahkan ia jadi terus tersenyum kecil.


"Waah, alhamdulillah jadi kenyang.." seru Sari yang baru saja menghabiskan pop mie miliknya dalam beberapa menit.


Aldi pun begitu, ia baru saja menyerut habis kuah pop mie hingga habis.


"Aaahh..."


Sari melihat dengan ikut tersenyum.


"Memang indomie selera ku" ujar Sari mengucapkan sologan iklan mie itu.


Aldi pun ikut tertawa kecil.


"Bukan kamu, tapi kita.." sela Aldi tersenyum.

__ADS_1


Sari mengangguk setuju.


Dan anggukan itu menjadikan bahan tawa keduanya.


"Ah, tapi kurang telur ceplok" seru Sari sedikit cemberut sembari hendak minum kembali wedanf jahenya.


Aldi terkaget.


"Wah sama!!" sahut Aldi menyetujui selera Sari lalu menubrukkan gelas wedang jahenya pada gelas Sari.


Ting..


Lalu Aldi menyerut wedang jahe itu dengan wajah senang.


Sari terkaget dengan aksi Aldi. Lalu ikut menyerut wedang jahe miliknya.


Dan Sari pun ikut penasaran dengan selera makan pak Bupati.


"Pasti Bapak gak suka pedas???" tanya Sari menantang Aldi.


Aldi mendengar langsung lesu. Sari tersenyum melihat wajah kecewa Aldi.


"Sari juga!!"


Mendengar Sari tak suka pedas, Aldi pun kembali bersemangat.


"Sop bening atau bersantai??" tanya Aldi pada Sari.


"Sop bening!!" sahut Sari, dan lagi Aldi terkaget ketika selera mereka sama.


"Sama" jawab Aldi dengan tawa di wajahnya.


Lalu seketika Sari berpikir pertanyaan apa lagi yang akan di tanya.


Namun Aldi terlihat lebih bersemangat.


"Sayur atau Buah?? 1..2..3" tanya Aldi.


"Buah!!" seru Aldi dan Sari bersamaan dengan tawa di wajah mereka.


Tatapan Aldi kian lekat menatap wajah tawa Sari yang tertuju padanya.


Aldi pun ikut terpesona pada Sari.


Sungguh pertanyaan yang remeh tapi berkesan. Sehingga rasa canggung di antara keduanya pun hilang.


Sari melihat sekitaran dengan wajah berbeda.


"Hmm, syukurlah hujannya udah reda.."


Aldi pun ikut menoleh pada luar warung yang terlihat hujan tak selebat tadi.


"Bapak dan anak tadi kok belum lewat yaa??" tanya Sari. "Maunya tadi kita ajak makan bersama saja yaa, mereka pasti lapar" ujar Sari.


Namun tiba-tiba sang ibu warung mendekati meja Aldi dan Sari.


"Anak kecil sama bapak-bapak?? apa naik sepeda??" tanya ibu itu cepat.


Sari dan Aldi menoleh pada ibu warung.


"Heem, kenapa buk??" tanya Sari polos.


Wajah si ibu pun berubah gusar.


"Haduuuh.. kalian gak kenapa-napa kan? kalian kesini naik apa?"


Aldi mendengar dengan aneh.


"Kenapa buk??" tanya Aldi.


Sari pun ikut bingung melihat reaksi ibu warung yang terlihat gusar.


"Kita kesini naik mobil buk, tapi itu.. lagi mogok" jawab Sari.


"Tuh kan... bener-bener tuh pasti ulah Hantu Bapak dan anak itu lagi.."


Aldi dan Sari kontan berbuah kaget.


"Ha-hantu?" ujar Sari mengidik.


Aldi tidak percaya.


"Mana ada hantu saing bolong" sergah Aldi.


"Mas boleh gak percaya, tapi memang tiap ada yang lewat sini yang pakai mobil pasti adaaaa.. aja kejadian aneh.. dan mobil mas mati total gak ada sebab kan??" ujar sang ibu menebak.


Deg.. Aldi dan Sari terpaku.


"Yaa, tapi terserah deh mas, mbak percaya apa enggak" ujar sang ibu warung berlalu pergi dengan menaruh gorengan di atas meja mereka.


Keduanya saling beradu pandang satu sama lain.


"Kamu juga tadi kasih uang kan sama hantu itu.." ujar Aldi.


Sari terkaget.


"Ya kan saya gak tau kalau itu hantu, pak" sela Sari. "Lagian hantu kok bisa basah, iya kan?" seru Sari mencari pembenaran.


Aldi mengangguk, namun bulu kuduk Sari masih meremang karena takut.


"Sial, malah di kerjain sama hantu.. semoga tuh hantu baik deh, kan tadi udah kasih uang buat anaknya" Sari membatin sembari menyerut wedang jahenya sampai habis.


Hujan pun akhirnya reda.

__ADS_1


"Udah jam berapa pak??" tanya Sari pada Aldi.


Aldi menarik lengan kirinya dan melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Jam setengah 3"


"Hah?" kedua mata Sari terbelalak. "Setengah 3?" serunya gusar.


Aldi mengangguk membenarkan ucapan Sari.


Seketika wajah Sari kecewa.


"Tuhkan, hangus deh tiket pesawat.." celetuk Sari seolah-olah hampir menangis dengan bibir manyun.


Aldi melihat kembali jam tangannya. Ia menatap pasti lalu tersenyum kecil. Aldi sengaja berbohong 30 menit lebih cepat dari jam yang sebenarnya.


Entah mengapa ia masih ingin berlama-lama dengan wanita di hadapannya ini.


"Buk, berapa??" tanya Aldi.


Ibu warung mendekati dengan senyum.


Tak lama dua orang pria terdengar memanggil sang ibu.


"Nur??? kamu enggak ikut ke pasar tembak?" tanya pria itu pada ibu warung.


Ibu warung tersenyum pada Aldi dan Sari sembari menghitung.


"Enggak, aku enggak.. tar malem aja" sahut ibu warung. "Hmm, 35 ribu mas" ujar ibu warung pada Aldi.


"Oh.."


Sari hendak mengeluarkan dompet. Aldi melihat, lalu dengan cepat menahan tangan Sari.


"Jangan, biar saya saja.." ujar Aldi. Sari terkaget.


Ibu warung senyum-senyum.


"Duh mbak, bersyukur yaa punya pacar pengertian gak pelit" celetuk si ibu warung.


Wajah Sari sontak kaget.


"Ah, bu-kan.."


Aldi tersenyum kecil lalu menyerahkan uang berwarna biru pada si ibu.


Si ibu mengambil dengan senyum-senyum malu.


"Semoga langgeng mas dan mbaknya"


"Eh..bukan, buk bukan" sela Sari kelabakan dengan doa sang ibu warung.


Namun tiba-tiba Aldi memberi kode pada Sari untuk tak membantah ucapan ibu warung.


"Tunggu saya ambil uang kembalian" ujar si ibu warung hendak pergi.


"Tunggu!!" seru Aldi menahan. Lalu ia melihat pada Sari. "Kamu mau gorengan?" tanya Aldi pada Sari.


Sari reflek menggeleng.


"Yakin??"


Sari mengangguk.


"Ya sudah buk, kembaliannya ambil saja"


Wajah sang ibu warung langsung berubah sumbringah.


"Waah, makasih ya mas, semoga lancar rejeki ya, langgeng sama mbaknya yaa.." doa sang ibu bertubi-tubi karena senang.


Aldi tersenyum lebar, sedangkan Sari tertunduk gusar merasa tak enak mendengar doa si ibu yang salah alamat.


"Oi, mumpung mas dan mbak masih di sini, apa gak ke pasar rakyat?? rame loh, seru.." ujar si ibu.


"Pasar rakyat?" ulang Aldi penasaran.


"Iya mas, seru dan asyik.."


Aldi melirik Sari.


"Kamu mau pergi??" tanya Aldi pada Sari.


Sari bengong, keningnya berkerut heran.


"Ta-pi.. mobil-nya?" tanya Sari.


"Yaa, orang mobil juga belum hubungi" jawab Aldi santai. " Gimana?" tanya Aldi yang memberikan keputusan pada Sari.


Ibu warung melihat dengan wajah berseri.


"Seru mbak, asyik disana.." ujar ibu warung.


Aldi menatap menunggu jawaban keluar dari bibir pink Sari.


Sari mengigit bibir bawahnya dengan mengoda.


"Hmm.." Sari menimbang ragu.


"Ya kalau kamu gak mau gak papa, kita bisa tunggu di gubuk tadi.


Ting.. seketika ingatan akan dua hantu Bapak dan anak itu pun kembali terbayang.


"Ah, ya oke deh" jawab Sari seketika menyetujui ajakan Aldi ke pasar rakyat dari pada harus menunggu di gubuk hantu tadi.

__ADS_1


__ADS_2