Doa Sang Mantan

Doa Sang Mantan
41


__ADS_3

Sore itu, setelah berbenah toko galerynya. Sari mengunci pintu toko.


Lisa sudah lebih dahulu pergi karena ada job make up dadakan di rumah tetangganya.


Grepp, tak..tak... bunyi suara pintu besi itu terkunci kuat.


Kunci itu Sari cabut dan ia masukkan kembali kedalam tas miliknya.


Sekilas Sari menatap cuaca yang sedikit mendung.


"Huuufft.. tiap si hitam kinclong selalu aja berujung hujan.." seru Sari dengan berjalan menuju mobil brio yang terparkir tepat si depan galery.


Sari mencari-cari kunci mobil di dalam tasnya dengan asal. Hingga akhirnya ia mendapat kunci yang ia cari. Lalu ia pun mengarahkan remot kunci itu pada mobil Brio.


Pintu mobil terbuka, langkah Sari kian dekat pada pintu mobilnya.


Ketika akan meraih pedal pintu, tanpa di duga sebuah tangan pria menahan pergelangan tangannya.


"Tunggu Sari??" ujar pria bertopi.


Sari terkajut dan seketika mendapatkan sosok pak Bupati kini berada di hadapannya.


Sontak kedua mata Sari melebar kaget ia pun dengan cepat menarik tangannya dari pegangan Aldi.


"Pak??"


Wajah Aldi terlihat gusar.


"Sari, bisakah kamu bertemu dengan Sifa??"


Sari bingung.


"Sifa demam tinggi, dan dia sekarang di rumah sakti" jelas Aldi dengan wajah putus asa.


Sari jelas cemas


"Sifa sakit?"


Aldi mengangguk.


"Tolong, bisakah kamu menjenguk Sifa??" pinta Aldi.


Sari kembali diam, sekilas ingatnya mengingat ucapan Liana dan ibu Aldi.


"Maaf.. pak, seperti saya tidak bisa" tolak Sari.


Aldi kaget.

__ADS_1


"Kenapa??"


Sari hanya tersenyum simpul.


"Sifa bisa sembuh, walau tidak ada saya.. Bapak adalah orang tua Sifa, yang Sifa butuh hanya pelukan dan pujian dari bapak.." Kata Sari.


Aldi terhenyak.


"Saya orang luar, yang hanya menjadi teman Sifa.. saya yakin, Sifa pasti sembuh dengan pelukan hangat bapak.. karena itu yang ia butuhkan selama ini" sambung Sari lagi.


Aldi tak bisa berpikir mendengar ucapan Sari.


"Tapi Sifa meminta kamu menjadi mamanya"


Deg.. Sari mematung.


"Dia meminta berkali-kali untuk menjadikan kamu mamanya.." ujar Aldi menatap lekar wajah Sari yang syok.


"Tapi, itu hanya permintaan anak kecil.. seharusnya bapak bisa menyaring semua permintaan anak.. karena kenyataannya tidak semua permintaan itu harus di turuti.." jawab Sari berpikir jernih.


Aldi terkaget dengan jawaban rasional Sari.


"Biarkan Sifa seperti ini, dia akan belajar menerima kenyataan jika saya adalah orang luar dan bukan mama khayalannya.." timpal Sari.


"Jadi aku harus tega??"


Aldi menyeringai tidak percaya. Bahwa wanita yang berada di hadapannya ini begitu berpendirian.


"Maaf..." ujar Sari sedikit sulit.


"Jika saya terlalu tidak sopan pada anda pak, mungkin ini akan sedikit terdengar tidak menyenangkan.."


Aldi menatap Sari dengan wajah serius.


"Tolong.. jauhkan ibu anda dari Sifa.."


Deg.. Aldi terhenyak.


"Sifa tidak akan sesakit ini jika ibu Anda tidak menyiksa pisikis Sifa secara terus menerus.." ujar Sari dengan wajah serius.


Aldi terdiam tak berkutik. Kenyataannya yang kian membuatnya tertampar keras.


Melihat Aldi yang syok, Sari pun memutuskan untuk pergi.


Ia pun berbalik untuk membuka pintu mobilnya kembali.


Aldi tersadar dari lamunnya. Lalu dengan cepat meraih kunci mobil dari tangan Sari.

__ADS_1


Sari terkaget dengan aksi Aldi yang seketika membuang kunci mobil miliknya itu.


"Pak!!" seru Sari syok melihat Aldi membuang kunci mobilnya dengan sembarang.


Aldi menarik tangan Sari.


"Pak??" Sari menahan lengannya.


Aldi menoleh dengan wajah kejam.


"Silahkan berteriak, jika kamu ingin semua orang tau apa yang sedang saya lakukan.. dan silahkan berteriak agar semua kekacauan muncul dan mencoreng nama baik saya dan kamu..!!" ancam Aldi.


Sari benar-benar tak percaya mendengar ucapan sang Bupati yang sudah diluar kendali.


"Pak??" Sari protes.


Namun Aldi tak peduli, ia menarik paksa Sari menuju mobil yang terparkir tak jauh dari galery Sari.


Sari ingin meminta tolong pun tak mungkin,ia berpikir bisa jadi kehebohan besar jika orang-orang tau jika pria yang menarik paksa dirinya ini adalah orang nomor 1.


Dan akhirnya Sari kini berada di dalam satu mobil yang sama dengan sang Bupati. Terlihat Ajudan Rio membawa laju mobil dengan cepat membelah jala kota menuju rumah sakit.


***


Setiba dirumah sakit, Sari berjalan menuju ruang super VIP itu.


Aldi mengikuti langkah Sari dari belakang. Wajah dinginnya terus melihat gerak gerak Sari yang membelakangi dirinya.


Langkah Sari tepat berhenti di depan pintu kamar super VIP itu.


Jemarinya ragu membuka pedal pintu.


"Untuk kali ini saja.." ujar Aldi dari belakang.


Sari menghela nafas pelan sembari membuka pedal pintu kamar itu.


Kreeek..


Pintu terbuka dan perlahan terlihat Sifa yang sedang berbicara dengan suster senior.


Sifa dan suster senior itu reflek menoleh. Seketika wajah Sifa berubah ceria.


"Mamaaah" serunya bahagia ketika melihat sosok yang sangat ia rindukan kini berada di hadapannya.


Aldi yang berada di luar seketika tersenyum mendengar suara sang putri yang kembali ceria.


Akhirnya obat yang ia butuhkan kini berada di hadapannya.

__ADS_1


Di sudut hatinya ada rasa sedih. Betapa ia benar-benar gagal menjadi orang tua untuk putri satu-satunya itu.


__ADS_2