Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia
BAB 36. Bermain #1


__ADS_3

Silvya menyeringai, seringai yang begitu menakutkan. Bahkan berhasil membuat Drake dan Geoff bergidik.


" Drake… telpon Ian untuk kesini. Minta ia tinggalkan semua pekerjaan di perusahaan. Bilang saja perintah Q."


Drake mengangguk patuh. Ia langsung menelpon Ian. Padahal saat ini Ian sedang memimpin rapat.


" Ian.. Ke markas sekarang. Perintah Q."


" Tapi aku sedang rapat."


" Kata Q suruh ninggalin semua urusan kantor. Kesini sekarang juga nggak … pake..lama."


" Oke."


Silvya tersenyum. Ia kembali fokus ke layar monitor yang menampilkan Black dan kroco nya.


" Ge… hubungi pihak Tristhy Bar, setelah orang orang ini masuk jangan ada yang boleh masuk lagi. Aku akan menyewanya penuh. Untuk para pelayan, bartender, dan wanita wanita penghibur itu biarkan mereka di dalam."


" Siap Q…."


" Nikmatilah hari mu… pengkhianat!!!!" 


Geoff langsung menghubungi manajer Tristhy Bar. Dan mengatakan maksud Q. Mendengar nama Q mereka tentu saja langsung menyetujuinya. Di negara ini Q memiliki akses penuh terhadap bar yang beroperasi.


" Drake… langsung transfer pembayarannya."


" Ssiaaaap….!!!"


Geoff dan Drake tersenyum. Mereka tidak sabar menunggu malam ini.


Ian memasuki marakas dengan terengah engah.


" Hah… hah...hah… ada...apa…!"


Semua yang ada di dalam menatap Ian heran.


" Kamu habis ngapain. Kok kayak habis ngejar maling gitu." Tanya Q.


"Lah… bukannya suruh cepet dateng ke markas ya. Yaudah aku lari tadi dari halte bis. Mobilku mogok."


Jawaban Ian suksek mengocok perut semua yang ada di situ.


" Oh hello… Seorang Ian… Bisa bisanya mobilnya mogok. Yang bener aja ente…" Ledek Drake.


" Terserah kalau tidak percaya. Terus kenapa aku disuruh cepet cepet ke sini Q. Apakah kau tidak tahu tadi aku ada rapat penting."


" Aku tidak peduli dengan rapat itu kali ini. Nanti malam kita akan berpesta. Aku yakin kau tidak akan melewatkan ini."


" Woooaaah… ada apa memangnya Q?" 


Q, Drake, dan Geoff ketiganya tersenyum penuh misteri. 


" Oh ayolah aku penasaran."


" Pengkhianat berkedok saudara kita sudah pulang. Bukankah kita harus menyambutnya."


" Hahahha benarkan Ge… hahaha sungguh aku sudah tidak sabar menyambut saudaraku itu. Aku akan membuatkannya malam indah tak terlupakan."

__ADS_1


Ian benar benar merasa marah. Terlebih jika benar di balik penyerangan Q adalah si Black itu, maka Ian tidak akan segan segan menyiksanya.


🍀🍀🍀


Tristhy Bar pukul 19.00


Black dan para anak buahnya sudah sampai disana. Mereka duduk di sofa. Seorang pelayan langsung membawakan beberapa botol minuman dan beberapa wanita mulai mendekat.


" Minumlah sepuas kalian. Aku yang akan membayarnya." Ucap Black congkak.


" Black… kalau Q datang bagaimana?"


" Apa kamu masih takut dengan wanita itu hmm?"


" Bukan begitu black… apa kau tidak dengar dengan kabar tentang pria yang bernama Mocito di negara Frost?"


"Aku sudah dengar. Jika kau takut kau boleh pulang."


" Baiklah Black...Sepertinya aku akan pulang saja."


" Terserah saja. Dasar pengecut!"


Pria itu pergi keluar dari bar tersebut. Namun baru saja dia keluar dari pintu, bahunya sudah  dicengkeram oleh seseorang dengan sangat kuat hingga ia meringis kesakitan.


" Auch…. Brengsek… Siapa kalian berani bera….." Pria itu menggantungkan ucapannya saat melihat siapa yang ada dindepnnya.


" Apa kabar… Pablo…." Q menyeringai.


" Q….. Aa...ku…"


Pria yang bernama Pablo sungguh tidak bisa berkata apa apa. Lehernya terasa tercekik saat melihat Q berada di sana. 


" Siap Q…"


Geoff langsung menyeret Pablo ke sebuah ruangan. Di dilempar ke lantai. Tepat di depan Silvya duduk.


Dug…. Argh…..


Silvya menginjak tangan Pablo dan menjambak rambut ikal pria tersebut.


" Tck...tck...tck… Pablo yang baik… sekarang ceritakan apa yang sudah kau perbuat hmmm."


Pablo bergidik ngeri melihat tatapan membunuh Silvya.


" Q… ampun Q… aku bener bener khilaf. Maafkan aku Q… Aku mohon…"


Duagh…..


Silvya menendang dada Pablo hingga tubuh pria itu terjengkang ke belakang. Pria itu lagi lagi meringis kesakitan namun dia tidak berani meneriakkan kata sakit. Pablo cukup tau diri untuk tidak membuat Silvya marah.


Kali ini tubuhnya diraih oleh Ian. Dan dibawa ke hadapan Silvya lagi.


" Sebaiknya kau menjawab setiap perkataan Queen.. Jika kau masih sayang nyawamu." Bisik Ian ditelinga Pablo dengan seringai yang menakutkan.


Pablo benar benar mati kutu saat ini. Dia sudah pasrah akan hidupnya. Berani mengkhianati Q berarti berani untuk mati.


" Ba-baik Q… a-aku akan mengatakan semuanya kepadamu."

__ADS_1


" Baik cepat katakan…. Jika aku puas maka aku akan memberikan kehidupan untukmu."


" Terimakasih Q… terimakasih."


Dugh….kretak... Argh….. Silvya kembali menginjak tangan Pablo dan menekannya kuat sehingga terdengar suara tulang jari yang patah.


" Jangan bermulut besar dulu… cepat katakan semua yang kau ketahui."


" Baik Q … Baik… Semua bermula dari malam kau diserang secara tiba tiba… Malam penyerangan tiba tiba itu, semua telah direncanakan oleh Black. Dia merasa sakit hati dan iri kepadamu. Dia sakit hati karena selama ini kau tidak pernah menganggapnya. Dan dia iri kepadamu karena kau yang ditunjuk ayah sebagai pemimpin wild Eagle."


Duagh….


Geoff meninju wajah pablo hingga keluar darah dari mulutnya. Ian ingin ikut memukul namun dihadang oleh Silvya.


" Ian… tunggu dulu. Jangan lakukan apa apa dulu kepada cecunguk ini. Kita masih belum tahu semua yang terjadi dan apa saja yang sudah black lakukan."


"Huft…. Awas kau brengsek. Jika kau menyembunyikan fakta aku akan menghabisimu."


Ian mundur lalu membiarkan Pablo untuk melanjutkan ceritanya. Pablo kembali duduk bersimpuh dan mengusap darah yang keluar dari mulut dengan punggung tangannya.


" Ssssshhh….. Sebenarnya… Black menyukaimu Q… dia ingin menaklukkan mu dan menjadikanmu kekasihnya."


Geoff mengepalkan tangannya ia ingin kembali meninju mulut pablo. Namun Silvya memegang tangan Geoff dan menggelenglan kepalannya.


" Lanjutkan."


" Dia mulai mencari cara menjatuhkanmu dan berharap kamu akan mengandalkannya. Tapi ternyata semua anggapannya salah dan pada akhirnya dia merencanakan penyerangan. Lalu dia memanfaatkan si tua bodoh Albern untuk menyerang markas saat kau belum juga  ditemukan. Dia juga yang menutup semua akses agar Drake tidak bisa menemukanmu. Setelah markas dikuasainya dia mulai menjual semua barang yang ada di gudang dengan nama Black Shadow."


" Heh… rencana sempurna…. Terus mengenai ganja, kokain, dan yang lainnya yang kau ambil… apakah itu juga perintah Black?"


" Benar Q… dia memintaku menjualnya di negeri ini."


" Brengsek… kalian benar benar telah melanggar aturan. Itu adalah aturan yang ayah tetapkan di organisasi kita. Apa kau masih ingat pablo…."


Pablo menunduk… ia hanya bisa mengangguk.


" Ayah mengatakan… kita memang organisasi gelap, organisasi dunia bawah yang hitam tapi kita tidak boleh merusak generasi negara ini. Sialan… dasar bajingan…"


Dor…..


Silvya mengambil pistol di balik jaket nya dan menembak kepala pablo saat itu juga.


" Seorang pengkhianat tidak pantas hidup. Minta orang membereskan mayatnya."


Drake, Geoff, dan Ian tersenyum. Mereka setuju dengan tindakan Q.


" Mari kita lanjutkan pestanya."


Q beranjak dari duduknya. Memberikan pistolnya kepada Geoff dan Geoff memberikan sebuah sapu tangan untuk Q bisa mengelap tangannya.


" Seharusnya biarkan aku saja tadi yang menghabisinya Q." Rengek Ian.


" Enak saja… Aku kan juga mau bersenang senang."


" Hahahahah." 


Keempat orang itu tertawa bersama. Q berjalan di depan dan 3 pria itu mengikuti di belakangnya. Target utama mereka masih ada di dalam, berarti kesenangan mereka akan berlanjut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2